BAB 6 - SEBUAH PERMINTAAN

1437 Words
"Besok ada sesi foto untuk ritual pertunangan," ujar Bagas, suaranya terdengar rendah hingga nyaris berbisik, seolah dia sedang berbagi rahasia yang sangat pribadi. "Biasanya ada juru rias khusus dari keraton, tapi... mereka semua sama saja. Kaku. Mereka hanya mengikuti pakem, tanpa jiwa. Aku butuh sesuatu yang lain. Aku butuh... sentuhan yang berbeda. Sentuhan yang bisa membuatku terlihat... bukan seperti bangsawan yang terjebak, tapi... seperti diriku sendiri." Laki-laki itu mengangkat wajahnya, menatap langsung ke mata Gendis, seperti ada permohonan di sana, sebuah kerentanan yang membuat gadis itu terkesiap. "Malam ini, setelah semua orang tidur, datanglah ke kamarku lagi. Nanti aku belikan alat rias yang kamu butuhkan, kamu tinggal sebut saja apa saja itu." Gendis merasa jantungnya berhenti berdetak. Dia tidak salah dengar. "Aku akan menyiapkan segalanya," lanjut Bagas, suaranya semakin pelan. Namun, penuh ketegasan. "Nggak ada yang akan tahu. Hanya kita berdua." Laki-laki itu lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, tatapannya mengunci mata Gendis. "Kamu mau ‘kan merias wajahku… secara rahasia?" Gendis terdiam, jantungnya berdetak kencang, menggila, memukuli tulang rusuknya seolah ingin melarikan diri. Pertanyaan itu, diucapkan dengan nada rendah yang nyaris seperti bisikan, terasa seperti perintah yang tidak bisa ditolak sekaligus jebakan yang mematikan. Matanya tampak membulat, menatap Bagas yang masih duduk di peti kayu, tatapannya mengunci, seolah dia sedang menunggu jawaban atas sebuah takdir. “Rahasia? Merias Bagas Narendra? Di Ndalem ini?” Otaknya berteriak. “Ini gila, Gendis! Karena ini pelanggaran paling fatal terhadap semua aturan yang tidak tertulis yang Gusti Kanjeng Endah Suryawinata tekankan!” batinnya berteriak. Ancaman "tanpa ampun" kembali terngiang di benaknya, dingin dan menusuk, tapi kuas di tangannya, aroma melati yang familiar dari kotak itu, getaran kebanggaan yang tidak bisa dia sangkal, karena hal itu adalah jiwanya, nafasnya. "Gusti..." Gendis akhirnya menemukan suaranya, parau. Gadis itu menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanian. "Itu... itu terlalu berbahaya, Gusti." Bagas menghela napas, sebuah gestur kelelahan yang kini Gendis kenali dengan baik. "Bahaya bagaimana?" tanyanya heran, suaranya tetap tenang, tetapi ada desakan di sana. "Kamu hanya merias. Aku hanya ingin terlihat... lain. Nggak ada yang akan tahu, semua orang sudah tidur. Kita akan melakukannya di kamarku, nggak ada saksi." "Tapi... Gusti Putri Endah..." Gendis mencoba beralasan, suaranya hampir tidak terdengar. "Ibuku?" Bagas tersenyum sinis, senyum yang tidak sampai ke mata. "Ibuku hanya peduli pada pakem dan tradisi. Dia nggak akan peduli bagaimana aku terlihat, asalkan aku menjalankan tugas. Tapi aku... aku butuh ini, Gendis. Aku butuh merasa seperti diriku sendiri, setidaknya untuk satu malam." Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, tatapannya memohon. "Kamu mau ‘kan menolongku?" Melihat tatapan seorang pria yang tercekik oleh takdirnya sendiri, Gendis merasakan sesuatu di hatinya. Rasa iba yang bercampur dengan kegembiraan yang terlarang. Ini adalah kesempatannya untuk menjadi dirinya sendiri, bahkan jika hanya dalam kegelapan dan rahasia. "Tapi saya... saya nggak punya perlengkapan yang lengkap, Gusti," Gendis mencoba memberi alasan lagi, lebih pada dirinya sendiri daripada ke Bagas. “Seperti yang aku bilang tadi, aku akan menyediakannya. Apapun yang kamu butuhkan." Gendis menunduk, menatap kuas di tangannya, diremasnya gagang kayu itu. Jati dirinya telah memanggilnya. Seni memanggilnya. "Tapi risikonya terlalu besar, Gusti," bisiknya lagi, masih ragu. "Risiko untuk siapa? Untukmu atau untukku?" Bagas bertanya balik, ada sedikit tantangan di matanya. "Aku yang minta, kalau ada yang tahu, aku yang akan bertanggung jawab penuh. Kamu hanya pelayan yang menjalankan perintah tuannya." Gendis mengangkat kepalanya, menatap Bagas. Ada kejujuran yang telanjang di matanya. Pria ini adalah seorang bangsawan, tetapi dia juga memohon dan permohonan itu entah mengapa terasa begitu tulus. "Baiklah, Gusti," Gendis akhirnya menyerah, suaranya nyaris tidak terdengar. "Saya akan melakukannya." Sebuah napas lega keluar dari bibir Bagas, sangat halus. Dia mengangguk pelan. "Terima kasih, Gendis." Laki-laki itu lalu bangkit, mengambil kuas dari tangan Gendis dan meletakkannya kembali ke dalam kotak. "Simpan ini baik-baik. Malam ini, setelah tengah malam. Kamu tahu kamarku, ‘kan?" "Nggih, Gusti," jawab Gendis, masih merasa linglung. "Bagus! Jangan sampai ada yang melihatmu." Bagas memberinya tatapan terakhir, tatapan yang kini penuh harapan. Lalu, dia berbalik dan melangkah keluar dari gudang, meninggalkan Gendis sendirian dengan kotak yang berisi jati dirinya yang terlarang. Gendis menunggu beberapa saat, memastikan Bagas benar-benar pergi dari sana. Lalu, dengan tangan gemetar, ditutupnya kotak itu, membungkus kembali dengan kain sutra yang mulai menguning, dan menyembunyikannya di balik tumpukan kain lurik lagi. Jantungnya masih berdebar, tetapi kini bukan hanya karena takut, melainkan karena gejolak gairah artistik yang sudah lama mati, kini hidup kembali. “Aku akan meriasnya,” batinnya senang, “aku akan merias seorang bangsawan. Secara rahasia.” Malam itu hari terasa sangat panjang bagi Gendis. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan. Di biliknya yang sempit, dia berusaha tidur, tetapi pikirannya terus berputar. Bagaimana dia bisa menyelinap? Bagaimana kalau ada yang melihatnya? Bagaimana kalau Gusti Kanjeng Putri Endah Suryawinata mengetahui? Rasa bersalah mulai mencengkeramnya, tetapi di sisi lain, bayangan kuas di tangan, kanvas wajah Bagas yang menanti sentuhannya, terus memanggil. Semua ini bukan hanya tentang Bagas, tapi tentang dirinya, tentang Gendis, sang juru rias, yang tidak bisa hidup tanpa seni. Hingga akhirnya tepat setelah jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam, Gendis bangkit dari ranjang. Gadis itu mengenakan kebaya sederhana yang paling gelap, memastikan tidak ada suara yang dia timbulkan. Dia mulai berjalan mengendap-endap di koridor Ndalem yang gelap gulita. Setiap bayangan, setiap derit kayu, terasa seperti mata yang mengawasi. Gendis melewati pendopo belakang, tempat dia melihat Bagas dimarahi oleh Gusti Endah. Sebuah rasa iba kembali muncul. Pria ini, sekuat dan seberkuasa apapun dia, ternyata juga mencari pelarian. Lalu dia masuk ke dalam rumah utama dan naik ke lantai atas, akhirnya tiba di pintu kamar Bagas, dengan hati-hati, diketuknya pintu itu. Pintu pun terbuka sepersekian detik, Bagas sudah berdiri di sana, hanya mengenakan sarung batik. "Masuk," bisiknya, suaranya rendah dan serak. Gendis segera masuk, jantungnya berdebar tidak karuan. Pintu tertutup di belakang, mengunci mereka berdua dalam keheningan yang intim dan berbahaya. Kamar Bagas malam itu hanya diterangi oleh satu lampu minyak kecil, menciptakan suasana temaram yang misterius. Aroma cendana dan tembakau halus kembali menyergap indranya. "Sudah siap?" tanya Bagas sambil menunjuk ke sebuah kursi di depan cermin besar lalu memberikan sebuah kotak rias yang Gendis perlukan. Kedua bola mata Gendis berbinar terang saat melihat kotak rias tersebut. Diletakkan kotak rias itu di atas meja, tangannya tampak gemetar saat dia mulai mengeluarkan kuas dan palet. Ini adalah momen yang sudah lama dia rindukan. "Kenapa kamu setuju, Gendis?" tanya Bagas, suaranya pelan, sambil duduk di kursi, menghadap ke cermin. Gendis berhenti sejenak, menatap bayangan Bagas di cermin. "Saya... saya nggak bisa menolak, Gusti," jawabnya jujur. "Bukan hanya karena Gusti yang meminta, tapi karena... saya merindukan momen seperti ini, merias. Rasanya... seperti saya hidup lagi." Bagas mengangguk, tatapannya di cermin bertemu dengan tatapan Gendis. "Aku mengerti," gumamnya. "Aku juga... kadang merindukan hal yang sama. Merasa hidup." Gendis mulai bekerja. Pertama-tama dia membersihkan wajah Bagas dengan cairan pembersih ringan yang diraciknya sendiri, mengoleskan pelembab yang aromanya menenangkan. Setiap sentuhan tangannya terasa lebih leluasa dan percaya diri, karena ini adalah keahliannya, dunianya. "Apa yang kamu lakukan sekarang?" tanya Bagas sambil memejamkan mata. "Saya membersihkan dan melembabkan kulit, Gusti," jawab Gendis, suaranya kini lebih tenang, fokus pada pekerjaan. "Agar kanvasnya siap, sehingga riasannya bisa menempel sempurna." "Kanvas?" Bagas membuka matanya sedikit, menatap Gendis melalui cermin. "Kamu menyebut wajahku kanvas?" Gendis tersenyum tipis. "Bagi saya, setiap wajah adalah kanvas, Gusti. Setiap orang punya cerita dan tugas saya adalah membantu menceritakan cerita itu dengan warna dan garis." Bagas terdiam, lalu menutup matanya lagi seraya berkata, "Menarik." Gendis mulai mengaplikasikan foundation yang sangat ringan, hanya untuk meratakan warna kulit Bagas dan menyamarkan sedikit lingkaran hitam di bawah matanya. Tangannya bergerak lembut, cekatan dan membaurkan dengan sempurna. "Kamu terlihat sangat... fokus," ujar Bagas, suaranya kini terdengar lebih rileks. "Ini adalah jiwa saya, Gusti," bisik Gendis lirih. "Saya nggak bisa melakukan hal ini tanpa fokus dan sepenuh hati." Bagas mengangguk. "Itu yang kurasakan juga saat kamu memijatku. Ada sesuatu yang beda, seperti ada... hati di dalamnya." ujar Bagas sambil mengambil napas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. "Mereka semua... orang-orang di Ndalem... mereka hanya melakukan tugas, tanpa hati. Terjebak dalam rutinitas. Dalam pakem, bahkan, aku pun begitu." Gendis berhenti sejenak, kuas bedak masih melayang di atas wajah Bagas. Dia menatap bayangan Bagas di cermin. Ada kesedihan yang mendalam di balik kata-kata itu. "Gusti ingin terlihat seperti apa?" tanya Gendis, mencoba mengubah fokus pembicaraan ke hal yang lebih 'profesional'. Bagas membuka mata, menatap Gendis lagi di cermin. Tatapannya gelap, lalu berkata, "Aku ingin terlihat... bebas, Gendis. Aku ingin terlihat seperti aku bisa memilih. Bukan seperti boneka yang dipakaikan baju dan disuruh tersenyum di depan kamera." Gendis merasakan hatinya terenyuh. Bebas, sebuah kata yang begitu sederhana, tetapi begitu berat diucapkan oleh seorang pewaris Ndalem.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD