“Bodoh! Gendis, bodoh!” teriak batinnya, memaki dirinya sendiri. “Kenapa kamu bisa lupa diri, Gendis? Ini Ndalem Suryawinata! Dia itu Raden Mas Bagas Narendra! Dan kamu... kamu itu cuma abdi dalem! Kamu cuma pembantu! Sadar!” batinnya terus mengingatkan.
Dirasakan lagi pipinya kembali memanas, bukan hanya karena sentuhan itu, tapi karena rasa malu dan panik yang menjalar. Dia harus segera pergi, sebelum Bagas mengatakan sesuatu, sebelum dia sendiri melakukan kesalahan yang lebih besar.
"Saya rasa tugas saya sudah selesai untuk malam ini, Gusti," ujar Gendis, berusaha keras membuat suaranya terdengar normal, meskipun ada getaran halus yang tidak bisa disembunyikan.
Gadis itu membungkuk dalam-dalam, tanpa berani lagi menatap mata Bagas, baik secara langsung maupun di cermin. "Saya mohon izin untuk kembali ke bilik saya."
Bagas menghela napas, sangat pelan, nyaris tidak terdengar. "Baiklah," gumamnya, suaranya kembali datar, seperti perisai yang kembali terpasang. "Terima kasih, Gendis."
Gendis tidak menunggu lebih lama, bergegas dia berbalik, melangkah cepat menuju pintu, tangannya gemetar saat memegang gagang pintu ukiran mahoni. Dibukanya pintu itu dan keluar dari sana, lalu menutupnya perlahan, seolah takut suara dentumannya akan memecah keheningan dan menarik perhatian seluruh Ndalem.
Di koridor yang sepi, Gendis bersandar pada dinding, memejamkan mata sesaat, berusaha mengatur detak jantungnya yang masih tidak karuan sambil memegang dadanya yang bulat dan padat. Aroma cendana dan tembakau halus dari kamar Bagas masih menempel di indranya, terasa begitu nyata dan berbahaya.
“Apa yang baru saja terjadi?” tanyanya pada dirinya sendiri. Gadis itu masih tidak percaya. “Sentuhan itu terasa begitu nyata, seperti ada sengatan listrik, tapi rasanya itu nggak mungkin. Aku ini hanya pelayan, sedangkan dia bangsawan,” gumamnya dalam hati. “Ada tembok kasta yang memisahkan kami berdua. Tembok yang tidak bisa ditembus.”
Gendis menghela napas panjang, berulang kali, mencoba menenangkan dirinya sendiri sambil kembali berjalan menuju tangga dan menuruni anak tangga itu ke lantai satu.
Gendis teringat peringatan Mbah Kismo. "Jangan pernah tunjukkan keahlian yang tidak pada tempatnya." Dan, lebih penting lagi, "Jaga sikap, jaga bicara. Jangan banyak tanya, jangan banyak komentar." Tapi sekarang, dia bahkan hampir melanggar aturan tidak tertulis yang paling fundamental yaitu batas antara tuan dan pelayan, antara bangsawan dan rakyat jelata.
"Gendis!"
Suara itu! Tajam dan dingin, menusuk hingga ke tulang. Gendis tersentak kaget dan menghentikan langkahnya. Mbah Kismo berdiri di ujung koridor, matanya menyipit penuh selidik.
Di sampingnya, berdiri seorang wanita yang Gendis kenali dari lukisan-lukisan di pendopo utama yang berada di dalam rumah yaitu Gusti Kanjeng Putri Endah Suryawinata. Matriarki Ndalem Suryawinata. Wanita yang Yu Painah katakan sangat keras, yang semua keputusan ada di tangannya.
Jantung Gendis kembali berdebar kencang, kali ini bukan karena percikan listrik, melainkan karena ketakutan murni. Gadis itu segera membungkuk dalam sambil berjalan menghampiri mereka.
"Nggih, Mbah," jawab Gendis, suaranya terdengar gemetar.
"Kenapa kamu masih di sini? Bukannya aku sudah bilang, kembali ke bilikmu setelah tugasmu selesai!" ujar Mbah Kismo tegas, nada suaranya terdengar lebih keras dari biasanya.
"Maaf, Mbah," Gendis tergagap. "Saya... baru saja selesai memijat dan keluar dari kamar Gusti Bagas."
Mata Endah Suryawinata yang tajam menatapnya, menusuk seperti jarum es. Wanita itu mengenakan kebaya sutra berwarna ungu tua, rambutnya disanggul tinggi dengan hiasan permata yang berkilauan melingkar di lehernya. Wajahnya tampak anggun, tetapi tanpa senyum atau kehangatan sedikit pun. Setiap lekuk di wajahnya seolah diukir oleh ketegasan dan otoritas.
"Kamu abdi dalem baru itu, ya?" tanya Endah, suaranya rendah, tetapi memancarkan kekuatan yang tidak terbantahkan. Tidak ada basa-basi, hanya pertanyaan langsung yang menuntut jawaban.
"Nggih, Gusti Putri," jawab Gendis, masih membungkuk rendah, takut menatap wajahnya.
"Mbah Kismo tadi bilang kalau kamu yang akan melayani Bagas untuk prosesi besok," lanjut Endah sambil melangkah mendekat, membuat Gendis merasakan aura dingin yang memancar dari wanita itu. "Apa yang sudah kamu lakukan di sana?"
Gendis menelan ludah. Pertanyaan itu terdengar begitu mengintimidasi. "Saya... saya hanya membantu Gusti Bagas menyiapkan busananya dan memijatnya, Gusti Putri. Sesuai instruksi Mbah Kismo."
Endah berhenti tepat di depan Gendis. Aroma melati kering dan kemenyan yang pekat tiba-tiba terasa begitu menyesakkan. "Mbah Kismo hanya mengutusmu untuk melayani, Gendis. Bukan untuk... melampaui batas."
Mata Gendis terangkat sedikit, melirik ke arah Endah. Dilihatnya tatapan yang penuh perhitungan, seolah Endah bisa melihat menembus dirinya, melihat percikan listrik yang baru saja terjadi. Rasa dingin mulai menjalar di punggung Gendis.
"Saya tidak melampaui batas, Gusti Putri," Gendis berbisik, berusaha meyakinkan. "Saya hanya melakukan tugas saya."
"Benarkah?" Endah mengangkat alisnya, gerakan kecil itu terasa seperti cambuk. "Di Ndalem ini, Gendis, setiap sentuhan ada maknanya. Setiap tatapan ada artinya dan setiap orang, punya tempatnya sendiri."
Endah lalu mengalihkan tatapannya ke Mbah Kismo. "Mbah, kamu sudah menjelaskan padanya ‘kan tentang aturan-aturan di sini? Terutama aturan yang tidak tertulis?"
Mbah Kismo segera mengangguk. "Sudah, Gusti Putri. Saya sudah jelaskan semuanya ke Gendis."
Endah kembali menatap Gendis, kini matanya menyipit. "Aku dengar kamu punya tangan dingin untuk merias. Itu keahlian yang bagus, tapi di sini, keahlianmu itu harus kamu simpan dalam-dalam. Apa kamu paham?"
Gendis hanya bisa mengangguk lemah, merasakan darahnya mendidih, tetapi dia mati-matian menahannya. Bagaimana Gusti Putri bisa tahu tentang hal ini? Mbah Kismo pasti sudah menceritakannya.
"Nggih, paham, Gusti Putri," jawab Gendis masih terus menunduk.
"Asal kamu tahu, pernikahan Bagas ini bukan hanya menyatukan dua insan, Gendis," Endah melanjutkan, suaranya kini terdengar lebih tegas, mengukir setiap kata.
"Pernikahan ini menyatukan dua garis darah. Dua nama besar. Garis keturunan Suryawinata harus tetap murni, bersih dari segala noda, karena itu adalah amanah leluhur yang tidak bisa diganggu gugat. Dan semua yang ada di Ndalem ini, termasuk kamu, harus mendukung kemurnian itu. Apa pun yang mengancamnya, akan disingkirkan. Tanpa ampun," ujarnya lugas.
Kata-kata itu, "tanpa ampun," menggema di telinga Gendis. Itu bukan sekadar peringatan, tapi sebuah ancaman yang terasa begitu nyata dan dingin.
"Saya mengerti, Gusti Putri," Gendis mengulang, suaranya nyaris tidak terdengar. Dia merasa seperti boneka yang bisa dibuang kapan saja.
"Bagus kalau kamu mengerti." Endah mengambil jeda, membiarkan keheningan yang berat itu menyelimuti mereka. "Tanganmu itu… harus bersih dari pikiran-pikiran yang tidak seharusnya. Bersih dari ambisi ataupun hasrat yang melanggar batas. Mengerti?"
Gendis merasakan air matanya mulai mendesak di ujung kelopak mata, ingin menetes, tetapi ditahannya mati-matian. Rasa marah dan takut bercampur menjadi satu. Dia hanya ingin membayar hutang ayahnya dan menyelamatkan ibunya, tidak pernah punya ambisi untuk melampaui batas kasta. Tapi kenapa setiap orang di Ndalem ini seolah menuduhnya?
"Nggih, Gusti Putri. Saya akan menjaga diri dan tugas saya," janji Gendis, mencoba terdengar setulus mungkin.
Endah menatapnya sekali lagi, tatapan yang begitu dalam sehingga Gendis merasa jiwanya ikut terkuak. Kemudian, Endah berbalik dan melangkah pergi meninggalkannya, diikuti oleh Mbah Kismo yang melirik Gendis dengan pandangan yang sulit diartikan, apakah itu sebuah simpati atau peringatan terakhir? Gendis tidak tahu.
Gendis tetap membungkuk sampai kedua sosok itu menghilang di balik tikungan koridor. Barulah dia menegakkan tubuh, menghela napas yang tertahan di d**a sambil menghapus air mata yang akhirnya menetes di pipi dengan ujung kain kebayanya.
Kakinya terasa lemas. Dia bersandar ke dinding yang dingin, mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi. Endah Suryawinata adalah tembok yang jauh lebih tinggi dan kokoh daripada gerbang Ndalem itu sendiri.
Dia adalah personifikasi dari sistem kasta yang menindas, seorang matriarki yang akan melakukan apa saja untuk menjaga kemurnian darah dan tradisi keluarganya.
“Ini bukan hanya soal hutang lagi,” pikir Gendis sedih, “ini soal nyawa, mungkin nyawaku.”
Gendis bergegas kembali ke biliknya sendiri, ingin sekali dia mengunci diri di sana, dan tidak melakukan apa pun yang bisa menarik perhatian lagi. Dipercepat langkahnya melewati lorong-lorong yang kini terasa lebih gelap dan menakutkan.
Saat dia melewati area pendopo belakang yang terbuka didengarnya suara-suara di area pendopo. Suara yang lebih keras dari bisikan abdi dalem, tetapi tidak sampai berteriak. Gendis pun mengintip dari balik tiang ukiran.
Di sana, di tengah pendopo yang luas, di bawah cahaya temaram lampu gantung, berdiri Bagas Narendra dan di depannya, dengan punggung menghadap ke arah Gendis tampak Endah Suryawinata. Mereka berdua sedang membicarakan sesuatu atau lebih tepatnya, Endah sedang berbicara, dan Bagas mendengarkan, dengan rahang yang mengeras.