“Sentuhan kamu berbeda, Gendis.” Bagas mengamati. “Saat aku menyentuhnya, aku merasa ditolak.” “Mungkin karena kasta kamu, Mas Bagas,” bisik Gendis. “Mantra ini mungkin hanya mengizinkan orang yang tidak memiliki ikatan kasta murni untuk menyentuhnya.” Bagas menggeleng. “Tidak, aku sudah mencoba membawa Abdi Dalem lain ke sini, bahkan Karto juga sudah pernah, tapi mereka semua merasakan sakit. Hanya kamu, Gendis. Hanya kamu yang nggak terluka.” Bagas memegang tangan Gendis, matanya penuh harap. “Karto benar, kamu adalah ancaman spiritual bagi Ndalem Suryawinata, dan itu yang kita butuhkan. Kamu memiliki darah yang berbeda, darah yang diwariskan oleh nenekmu. Darah yang tidak tunduk pada Ndalem Suryawinata.” “Lalu apa yang harus aku lakukan?” Gendis menatap Bagas. “Kamu harus membukany

