He's Perfect

1166 Words
Riska berbaring di atas ranjang, menggigit bibir bawahnya mengingat Ryan berada di area yang sama. Terlebih lagi pria itu adalah anak dari kawan ayahnya. Tapi yang membuatnya terheran adalah ayahnya tak pernah bercerita tentang Jane dan Ryan. Pikirannya menjadi bercabang dan menduga hal yang tidak-tidak, membayangkan ayahnya seorang duda dan Jane adalah janda. Riska menggeleng berulangkali. "Gak. Itu gak mungkin! Pasti papa cuma berteman aja sama tante itu," ia meyakini dirinya sendiri, walau membutuhkan sebuah penjelasan dari Ardi. "Riska..," Ardi memanggilnya dari luar. "Ayo keluar, Tante Jane ngajak kita makan malam disana." "What?!" Riska spontan bangkit dari ranjang dan bergegas berlari ke arah meja rias. Menyisiri rambutnya yang panjang sepunggung dan memberi sedikit bedak bayi pada wajahnya. "Iya, Pa," balasnya, antusias. Setelah selesai, ia melangkah keluar kamar dan berlari kecil menuruni tangga. Ardi dan Hendi sudah menunggunya dibawah. "Ayo," ajak Ardi. Tiba di villa sebelah, setengah meja makan persegi yang berisi enam kursi itu dipenuhi dengan aneka lauk pauk makanan khas Sunda. Riska menerka jika mereka pasti membelinya di tempat yang sama pada tempat mereka kunjungi tadi. "Duduk sini, Ris," pinta Jane, menunjuk kursi di sebelahnya. Riska mengangguk dan duduk sesuai pinta Jane. Ryan yang baru saja menutup pintu, mengambil posisi duduk tepat di depannya. 'Deg...deg..deg..' "Calm, Ris. Kamu harus santai.." Riska berusaha untuk setenang mungkin didepan Ryan yang tersenyum sejak duduk di depannya. Tapi pria itu menatap dengan tatapan menggoda dan.. berhasil ! Ryan berhasil membuat tertunduk dan wajahnya bersemu merah. Jane menyentuh tangan Riska. "Ini Ryan yang siapin semua," ucap Jane. "Dia bela-belain antri satu jam buat ajak kalian makan disini." "Ma…," celetuk Ryan. Jane melirik Ryan. "Itu benar kan, Yan?! Rencana Mama kan kita berlima makan disana tapi kamu ngotot makan disini aja," Jane berganti melirik  Riska. "Tau gak alasan Ryan makan disini?" Riska menggeleng,  tak tahu banyak mengenai pria tampan di depannya. "Dia suka kita makan begini biar kayak keluarga cemara. Itu loh..sinetron di tv," tambah Jane, sekilas melirik ke arah Ardi. "Ma, Riska itu pasti gak tau sinetron. Tapi sukanya sama novel," timpal Ryan. Jane terkejut. Tangannya menyodori sepiring berisi ayam ke arah Ardi. "Masa sih, Ris? Kamu suka novel genre apa? Siapa penulis favorit kamu?" "Ma, nanyanya nanti saja deh. Sekarang kita makan dulu, Oke?" celetuk Ryan lagi. Jane tertawa kecil lalu mengangguk berulang kali, "Oke, oke. Nanti kamu cerita ke aku ya, Ris." pinta Jane, kedua tangannya menuang nasi ke piring. Riska tersenyum kecut, setengah mengangguk, "Iya, Tante." ❤❤❤ Riska membantu Jane mencuci piring dan merapikan meja makan. Sepanjang mereka bekerja Jane tiada henti menceritakan Ryan yang berbeda dengan pria seumuran dengannya.  Tak pernah sekalipun ia melihat Ryan jalan bersama seorang gadis baik itu sebagai kawan atau kekasih. Selalu dua kawannya yang yang bernama Leo dan Tomy yang setia menemani sejak kelas 1 SMA. Terkadang Jane takut Ryan akan menjadi seorang gay, seperti kebanyakkan yang terjadi pada pria jaman sekarang. Beberapa anak klien Jane sudah ia kenalkan pada Ryan, tapi Ryan selalu menolak dengan seribu satu alasan. Entah itu terlalu cantik, cerewet, anak orang kaya, agresif dan yang lainnya. Membuat malu saat berjumpa dengan orang tua nya lagi. "Mungkin dia belum dapat cewek yang nyaman, Tante," sahut Riska. Ia tak menduga jika apa yang Jane katakan adalah fakta dari pria yang ia idamkan selama ini. Pikirnya, Ryan adalah seorang sedikit playboy, itu karena Ryan pernah mengedipkan matanya saat di toko buku. Dan kini sepertinya Riska harus bersorak gembira. Karena mengetahui jika Ryan sama seperti dirinya.  Jomblo ! Setelah selesai, Riska keluar villa menuju taman dan duduk disana. Ia mengeluarkan handphone dari saku celana dan mengecek pesan masuk baik SMS atau pesan pada aplikasi. Hanya sebuah pesan dari 'My secret admirer' yang berisikan 'Goodnite, Ris.' Tak ada yang lain. "Siapa? Pacarmu?" Riska menoleh kebelakang, melihat Ryan mengejutkannya dari belakang. "Bukan. Bukan siapa-siapa. Cuma teman aja," menampik ucapan Ryan lalu memasukkannya lagi kedalam saku. Ryan duduk disamping sambil bersandar dan mendongak menatap langit. "Cuacanya cerah..," ucapnya santai sambil menghirup nafas dalam-dalam. Riska menoleh dan mendongak. Gelap, tak berbintang, seperti hujan benar-benar akan turun pada malam ini. Angin pun berhembus dingin, membuat ia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. 'Tiin tiin..' Mereka spontan menoleh kebelakang melihat Jane mengeluarkan kepala dari jendela mobil yang melambaikan tangan dan setengah berteriak, "Kami pergi dulu ya?! Bye.." Ryan membalas lambaiannya, "Hati-hati." Sahutnya, Pandangannya tak lepas melihat mobil itu terus berjalan memasuki jalan raya dan menghilang. Ryan kembali duduk,  mengambil sebungkus rokok lalu menyulut sebatang dan menghisapnya pelan. Riska terheran. Pikirnya saat itu Ryan membelikan rokok untuk kawannya ternyata tidak, "Sejak kapan kamu merokok?" Tanyanya yang penasaran. Ryan menyentil ujung rokok untuk membuang abunya ke bawah. "SMP," jawabnya singkat. Ia mengangkat rokok ke atas, sejajar wajahnya. "Ini teman setiaku." Riska mengerutkan dahi. "Eh? Temen?" 'Tes..tes' Riska menengadahkan tangannya ke atas. Basah.  Gerimis ! Tak lama hujan turun deras dalam hitungan detik. Ryan menarik tangan Riska. "Ayo kita masuk kedalam!"  Tubuh Riska terbawa tarikan tangan Ryan yang membawanya ke villa Jane. Mereka berlari tapi sudah kepalang basah.  Tiba di teras, Riska teringat jika Ardi memegang kunci villanya dan kali ini sepertinya ia harus mengeringkan baju secara langsung di tubuhnya.  Ryan  melepaskan genggamannya, ia membuka pintu lalu berlari kecil menuju kamar mandi. Tak lama Ia kembali dan membawa dua handuk kecil.  Ryan melemparnya ke arah Riska, "Pakailah."  Riska menangkap. "Thanks," ucapnya, langsung mengusap rambut dan wajahnya. Ryan melepas kaos yang basah dan mengusap wajahnya dengan handuk sambil berjalan ke arah sofa. "Oh my God!" Riska memekik dalam hati melihat d**a bidang, otot bisep dan perut Ryan yang sixpack. Oh Tuhan, dia sempurna! Wajah Riska memerah, ia tidak mau imajinasi liarnya  berkeliaran. Karena kini ia hanya berdua dengan Ryan. Dan Ia juga tak mau iblis menghasutnya menjadi w*************a setelah melihat tubuh Ryan yang sempurna dan berhasil membuat dirinya menggigit bibir bawahnya sendiri. Sekilas terbayang jika mereka berpelukan dalam keadaan Ryan topless seperti itu. Hangat dan menggairahkan. Bagaimana ia tidak berimajinasi liar ? Satu ruangan di malam yang dingin bersama pria yang sudah lama menjadi idaman hatinya. Terlebih lagi pria itu dalam keadaan topless !  Semua gadis normal pasti berpikir hal yang sama. Berpelukan dan berakhir dengan sebuah kissing. Tapi sayangnya itu hanya bayangan yang dilakukan oleh sepasang kekasih dan ia dan Ryan bukan sepasang kekasih ! Ryan menepuk sofa disampingnya, "Duduklah. Sampai kapan kamu berdiri seperti itu?" pintanya, melihat Riska hanya terdiam sejak tadi. Riska tertegun, entah sejak kapan ia menampakkan kekagumannya pada Ryan, seharusnya menutupi bukan memperlihatkan. "Eh? Oh ya." ia duduk di samping Ryan dan melanjutkan mengusap rambutnya yang basah. Ryan menggeser pantatnya, mendekati lalu merebut handuk, "Bukan begitu caranya, itu bakalan lama keringnya." Kali ini ia yang mengusap-usap rambut Riska. Awalnya usapan itu lembut tapi lama-lama Ryan mengusapnya menjadi berantakan hingga rambut Riska menutupi wajahnya. Penampilan Riska menyerupai Nyi Lampir, salah satu pemeran pada drama kolosal. Ryan tertawa terbahak-bahak melihat Riska hanya terdiam menjadi korban keusilannya. Ia memang mengakui gadis itu tetap cantik walau dalam keadaan rambut berantakan. "Ha..ha..ha..ha.." Ryan tertawa keras dan hampir menutupi derasnya suara hujan di luar. Riska mengibaskan rambut ke belakang dan memicingkan mata menatap kesal. Tapi tatapannya tak menghentikan tawa Ryan yang semakin menjadi-jadi.  Riska bersiap untuk mencubit perut Ryan, "Kamu iseng aja, Yan--" 'Bruuk' Riska terjatuh diatas tubuh Ryan. Seandainya Ryan tak menghindar, ia pasti tak menindih tubuh topless Ryan yang membuat detak jantungnya kembali berdebar kencang. Kedua buah dadanya terasa sakit beradu dengan d**a Ryan yang bidang. Dan wajah perlahan memerah seperti udang rebus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD