Seminggu kemudian
Riska membuka bagasi mobil dan memasukkan dua tas travel kecil. Walaupun hanya dua hari tak banyak barang yang ia bawa, hanya baju ganti dan selimut.
Setelah selesai, ia duduk di barisan belakang supir sementara Hendi di samping ayahnya.
Ardi mulai melajukan mobil kijang Innova nya memasuki jalan tol dan mengambil rute ke arah Bogor. Walaupun melalui jalan tol, tetap saja mereka terjebak macet seperti hari-hari biasa.
Ardi memajukan keberangkatan mereka di hari sabtu karena libur sekolah, sehingga mempunyai waktu banyak untuk menghabiskan liburannya kali ini bersama kedua anaknya.
Riska meraih tote bag yang ia taruh di samping untuk mengambil handphone karena tak sabar memberitahu keberangkatannya pada Erin dan Dewi.
'Tring'
Sesuatu jatuh dari tasnya. Zippo milik Ryan.
Riska memungut dan mencermati sambil tersenyum sendiri. Ia teringat ketika terakhir kali bertemu dengan Ryan yang tak sengaja mendekapnya karena terdorong. Hangat tubuh dan aroma wangi parfum Ryan masih bisa ia ingat dengan baik. Walau tak berlanjut ke tahap perkenalan, itu sudah membuatnya bahagia. Setidaknya ada beberapa kenangan yang ia jalin bersama pria pemilik nama Ryan Saputra.
Riska memasukkan Zippo itu kedalam tas lagi dan melanjutkan pandangannya melihat kaca jendela mobil. Berulang kali ia menguap karena kurang tidur membaca ulang novel favorit karya Aldinov tadi malam, novelis tampan yang pernah membuat hatinya berdebar kencang beberapa tahun yang lalu. Pria yang mempunyai tatapan teduh dan suara yang lembut. Pria yang ia idolakan sebelum mengenal Ryan.
❤️❤️❤️
"Riska--Riska."
Riska membuka matanya pelan. Ia tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Matanya terlalu berat. Kantuknya masih menyerang dan ingin melanjutkan tidurnya lagi.
"Riska.." suara pria itu kembali memanggilnya.
"Ry--Ryan..?" ucapnya pelan dan kembali membuka mata lagi.
"Riska bangun, kita sudah sampai."
"Hah?!" Riska kaget. Ia mengucek kedua mata dan melihat Ardi menoleh dari balik kemudi.
Riska menggeliat sambil membusungkan d**a, "Kita sudah nyampe, Pa?" tanya Riska, melihat sekeliling melalui jendela mobil. "Kok kayaknya jauh banget."
Ardi membuka pintu garasi. "Sukabumi." jawabnya.
Riska terkejut mendengar Ardi bukan membawanya ke Bogor, melainkan Sukabumi. Tempat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya untuk berlibur, hanya melintasinya saja.
"Ayo bangun, bawa masuk tasmu."
Riska bangun dan turun dari mobil dengan langkah gontai, badannya lemah karena perutnya sudah keroncongan.
"Bukannya tujuan kita ke Bogor? Kok bisa nyampe disini, Pa?" tanyanya lagi sembari mengambil dua tas lalu menentengnya.
Ardi berjalan mengiringinya, "Villa di Bogor sudah penuh semua, ini Papa dapat rekomendasi dari teman." Ia mengarah menuju villa nomor dua dari kiri.
“Gak lama lagi mereka juga sampai.”
Ardi berhenti melangkah lalu membuka villa dengan kunci yang baru saja ia terima dari penjaga villa saat memasuki gerbang tadi.
Ia menoleh kebelakang, "Hendi, tolong bantu Papa."
"Siap, Pa," sahut Hendi mengangkat tas ransel lalu membawa masuk ke kamar di lantai bawah.
Riska menaiki tangga. Tiba di atas ada dua kamar, dia memilih kamar yang berada di sebelah kanan dari tangga.
Ia merebahkan tubuh di atas ranjang empuk berlapis sprei berwarna putih polos begitu tiba dalam kamar yang berukuran sedang.
"Aaah...nyamannya," ucapnya bicara sendiri, memandang langit-langit.
'Kruuk kruuk'
Riska memegang perutnya yang berbunyi. Ia melihat arloji sudah menunjukkan jam satu siang. Sudah melewati jam makan siangnya kali ini.
Udara sejuk yang masuk melalui celah jendela membuat perutnya makin keroncongan. Kali ini ia tak ingin berdiam diri, harus mengisi ususnya dengan sebuah makanan yang bisa mengenyangkan. Setidaknya tak berbunyi lagi seperti tadi.
Riska bangkit dan beranjak dari kamar setelah melapisi kaos dengan cardigan. Dibawah, Ardi dan Hendi sudah bersiap mengajaknya ke rumah makan yang letaknya tak jauh dari villa, hanya berjarak 200 meter.
Melihat lalu lintas sedikit macet dan jarak yang terbilang masih dekat, menjadi alasan mereka tak menaiki mobil untuk pergi kesana, cukup berjalan kaki.
Riska berdecak kagum begitu tiba di rumah makan khas masakan Sunda yang dinding dan lantai yang hanya memakai kayu di padu dengan bambu. Cara menyantap makanan pun bergaya lesehan, tidak menggunakan kursi alias duduk dilantai. Selama 18 tahun ini ia tak pernah mengunjungi rumah makan sejenis itu, hanya sebuah restoran kecil atau rumah makan biasa.
Setelah Ardi memesan makanan, tak sampai dua puluh menit sang pelayan datang membawa beberapa lauk pauk dan dua bakul nasi yang uapnya menari-nari di udara.
Aroma nasi yang beraroma pandan, menggugah selera mereka untuk menghabiskan hidangan di depan mereka. Tak terkecuali Riska yang sangat menggemari ikan bakar dan semangkuk sayur asem.
Riska tersenyum lebar dan bersiap menyantap, "Hari ini lupakan diet."
❤❤❤
Setelah makan dan kembali ke villa, Riska mengulangi merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Baginya hal yang paling ia sukai selain membaca novel karya Aldinov adalah berbaring dan..tentu saja tidur.
Kali ini Riska tak ingin melewati masa liburnya dengan tidur saja, ini adalah libur terakhir sebelum ujian tiba. Tahun ini ia harus bisa memasuki sebuah perguruan tinggi bergengsi di Jakarta sesuai jurusan yang ia minati, Broadcasting.
Riska merogoh saku celana dan mengambil ponsel. Ia memeriksa beberapa pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk. Beberapa pesan ia hapus begitu saja tanpa terlebih dahulu membacanya, karena ia tahu pengirim itu pria-pria yang sudah berulang kali ia tolak cintanya. Kecuali satu nomor yang ia beri nama My secret admirer. Seorang pria yang setiap tahun mengirimi buket mawar jingga tiap hari ulang tahunnya selama 3 tahun terakhir ini.
My secret admirer itu hanya beberapa kali dalam seminggu mengirim pesan. Hanya menulis sebuah sapaan saja seperti ; Good morning, Riska, Happy weekend, Goodnite dan lain-lainnya. Riska tak keberatan menerima pesan seperti itu karena disamping ia tak tahu pasti wajah My secret admirer, pria itu tak mengganggunya. Tidak seperti beberapa pria lain.
Riska menulis sebuah pesan yang ia peruntukkan pada dua sahabatnya. Setelah lama berkirim pesan ia melirik ke arah jam dinding, tak terasa waktu sudah memasuki sore hari. Ia menyudahi dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang berada di luar kamar, tepatnya pada ruangan yang mengapit dua kamar tersebut.
Senyum Riska mengembang, melihat bathtub disana. Ia menyalakan kran air hangat ke dalam bathtub lalu memberinya bubble bath. Setelahnya, ia menceburkan diri, meluruskan kedua kaki sambil bersandar pada ujung bathtub.
Matanya terpejam dan sekilas bayangan Ryan memenuhi pikirannya sekarang. Jantungnya berdebar kencang teringat kejadian saat Ryan mendekapnya di toko buku. Seandainya saja mereka terjatuh dan posisi ia yang berada diatas tubuh Ryan, bisa saja terjadi adegan kissing yang tak disengaja.
Ya, kissing. Walaupun usianya sudah memasuki 18 tahun dan duduk di kelas 3 SMK, Riska belum pernah sama sekali berpacaran seperti yang dilakukan dua sahabat atau teman sebayanya. Memang tak ada yang mempercayai kecuali Erin dan Dewi.
Diwarisi wajah cantik dan tubuh tinggi semampai, tidak akan ada yang mempercayai jika ia jomblo. Belum lagi beberapa anak cowok STM menembaknya via SMS atau langsung, walau akhirnya mereka harus menelan kekecewaan setelah tahu kebohongan Riska yang mengaku telah mempunyai kekasih.
Mengaku mempunyai pacar memang jurus ampuh untuk menolak mereka, walau beberapa tak peduli dan terus mengganggunya hingga saat ini.
Berbeda dengan Ryan, pria tampan dan dingin. Gayanya sudah memikat Riska semenjak tahun lalu, sejak kelas 2, tepatnya ketika sering menaiki angkot yang sama walau terkadang pria itu menaiki motor ninja-nya yang terlihat lebih gagah dan menawan.
Riska bangkit dari bathtub, ia merasa udara semakin dingin dan airnya juga tak terasa hangat lagi. Ia memakai kimono handuk dan menggulung rambutnya yang basah dengan handuk kecil lalu keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamarnya.
Riska duduk mengeringkan rambutnya dengan cara mengusap-usap. Setelah rambutnya setengah kering, dia mengenakan baju kaos merah dilapisi cardigan dan celana jeans hitam.
Riska berjalan menuju lantai bawah. Ia melihat Ardi sedang menelpon sementara Hendi menonton film kesukaannya, Tom and Jerry. Tak ingin masa liburnya hanya berkutat di dalam villa saja, ia pun keluar dari villa walau hanya untuk sekedar menghirup udara sejuk ataupun mengelilingi sekeliling area villa.
Riska berjalan pelan memutari beberapa villa di sekitarnya, hanya ada dua tipe bangunan. Berlantai satu dan dua, bedanya yang berlantai satu seperti bangunan rumah tipe 45, tak seperti villa berlantai dua.
Villa yang berdesain klasik dan berjarak dua puluh meter antar villa lainnya itu hanya dibatasi dengan tanaman dan bunga saja, tanpa pagar.
Disana juga terdapat kolam renang kecil dan taman bunga beserta dua ayunan, yang letaknya ada di seberang bangunan villa yang ia huni.
Walaupun hari ini weekend dan hari libur, tak banyak tamu yang menyewa. Hanya terlihat tiga villa saja yang dihuni itu pun terlihat dari kendaraan yang parkir di depannya.
Riska menatap langit yang kelam, hari terlalu gelap untuk ukuran jam empat sore. Ia meyakini tak lama lagi hujan akan turun dan bisa dipastikan udara akan semakin dingin lebih dari yang ia rasakan sekarang.
Ia menarik kekanan dan kiri cardigan hingga membuat memeluk dirinya sendiri.
Tak lama dari kejauhan, Riska melihat sebuah mobil sedan merah berhenti di depan villa mereka. Seorang wanita turun.
Tingginya semampai, rambut sebahu dan melekat kacamata hitam di atas rambutnya. Ia memakai midi dress berwarna hitam kombi putih yang sangat cocok di tubuh langsingnya.
Mobil sedan merah itu mundur dan parkir tepat di sebelah villanya.
Yang membuat Riska kaget, Ardi menyambut wanita dengan ramah.
"Apa itu teman yang Papa bilang tadi?" ia bicara sendiri. Mengamati gerak gerik mereka dari jauh lalu Ardi melambaikan tangan ke arahnya. Meminta untuk mendekati.
Riska berlari kecil ke arah mereka. Pandangannya tertuju pada wanita cantik yang berdiri dekat Ardi yang tersenyum padanya.
Nafas Riska sedikit terengah-engah, "Ada apa, Pa?"
"Kenalin. Ini Tante Jane," ucap Ardi, menunjuk Jane. Ia tak menambahkan 'ini teman Papa', membuat Riska sedikit penasaran hubungan yang terjalin antara mereka berdua.
Riska tersenyum sambil menyodorkan tangan. "Aku Riska. Salam kenal, Tante," ucapnya. Tangan mereka saling bergenggaman dan wanita itu juga memberitahu namanya.
"Aku Jane, " balasnya, "Ternyata sesuai dugaanku. Anakmu cantik, Mas."
Riska tertunduk, bukannya ini pertama kali seseorang memujinya tapi wanita yang ada di depannya juga tak kalah cantik dan aroma tubuhnya wangi parfum mahal. Sudah pasti ia bukan dari kalangan wanita biasa semacam ibu rumah tangga melainkan wanita karier, itu yang terpikir di otak nya sekarang.
"Kamu kelas berapa?" tanya Jane.
Riska melepas genggamannya. "Kelas tiga, Tante," jawabnya, melihat Jane terkejut.
"Berarti kamu sama dong dengan Ryan?" seru Jane.
"Ryan?" Riska terkejut mendengar nama Ryan disebut. Nama pria yang sudah memenuhi hatinya selama dua tahun ini.
Jane melambaikan tangan ke arah mobil di villa sebelah, memanggil seseorang.
Tak lama turunlah seorang pria bertubuh tinggi tegap dari dalam mobil.
Riska tak bisa melihat dengan jelas karena langit semakin gelap dan pria itu mengenakan topi hitam, kedua matanya tersembunyi dari balik bayangan topinya.
Pria itu berjalan mendekati mereka, dan Riska kenal betul cara berjalannya.
Riska menggigit bibir bawahnya. "Jangan bilang dia Ryan Saputra.." ia bergumam pelan berharap tak ada seorang pun mendengarnya.
'Deg..deg..deg..deg..'
Laju jantung Riska berdetak cepat seiring langkah pria itu yang semakin mendekat.
"Oh my God.."
Jantungnya seakan berhenti kali ini, melihat pria itu di depannya sekarang.
Jane menarik tangannya dan menyodorkan ke Riska, "Ini Ryan. Anak Tante."
Riska terdiam, memandang pria mirip aktor dari Korea itu. Ternyata ia memang Ryan. Ryan Saputra, bukan Ryan lainnya.
"Hai, ketemu lagi," sapa Ryan, membuyarkan lamunan Riska. Tangannya menjulur ke depan.
"Eh? Oh iya. Aku Riska. Riska Anggraeni." Riska gelagapan membalas uluran tangannya. Perasaannya campur aduk sekarang, antara senang, kaget dan penasaran.
Jane dan Ardi sedikit terheran.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Jane, menunjuk mereka saling bergantian.
Tatapan Ryan lekat ke arah Riska, "Ya, Ma. Bukankah seperti itu, Riska?"
Mendengar Ryan memanggil namanya membuat ia seperti melayang ke awan. Dalam dua tahun baru kali ini namanya disebut oleh Ryan. Seakan Dewa cinta sedang mendukungnya hari ini.
"Ya--ya, Tante," ucapnya lagi.
Ryan melepaskan genggamannya, ia juga menyalami Ardi dan Hendi.
"Maaf aku tinggal dulu. Aku harus bawa tas ke dalam kamar," pamit Ryan menunjuk mobil dengan telunjuknya ke arah belakang.
Ardi mengangguk, "Silahkan, Yan."
Ryan menuju mobil lagi, mengambil beberapa tas dari bagasi.
Jane juga pamit, ia sempat mencubit pipi Riska karena gemas. "Nanti kita lanjut lagi, Ok?!" Ia menunjuk Ryan, "Aku harus bantu dia dulu," ucapnya lalu melambaikan tangan pada mereka bertiga.