Hari ini minggu kedua Riska merayakan weekend sendiri. Biasanya ia menghabiskan weekend bersama ayah dan adiknya, Hendi, walau sekedar pergi ke Mall atau berlibur ke tempat pariwisata. Tapi kali ini ia hanya mengunjungi toko buku terdekat, untuk membeli novel favoritnya.
Riska mengendarai motor menuju toko buku. Lalu lintas memang sedikit macet karena hari ini adalah hari libur, hari dimana gadis sebayanya hangout bersama sahabat atau kekasih. Tapi tidak dengan dirinya.
Bukan ia tak mempunyai sahabat, Erin dan Dewi adalah sahabat terbaiknya sejak SMP, bahkan mereka bertemu kembali pada SMK yang sama. Tidak hanya itu, mereka bertiga mengidolakan novelis yang sama juga, novelis tampan dan ternama. Karena itulah ia menyambangi toko buku karena akan membeli sebuah novel terbaru karya Aldinov, novelis idolanya.
Tak sampai lima belas menit, ia sudah tiba di sebuah toko buku yang tak terlalu besar tempatnya, hanya satu lantai.
Setelah memarkir motor, Riska bergegas masuk dengan perasaan campur aduk, tak sabar. Ia berjalan menuju rak yang bertuliskan 'Novel' dan mengamati seksama novel terbaru. Tangannya meraih novel bergenre romantis lalu membaca bagian sampul novel. Riska tersenyum kegirangan karena itu adalah novel terbaru karya Aldinov. Novel yang sudah lama ia nantikan perilisannya.
Alasan Riska menyukai novelis Aldinov adalah disamping isi novelnya yang membuat hati semua gadis melting, ia juga misterius.
Ya, Aldinov tidak pernah mengungkap jati dirinya di depan publik. Ia selalu memakai masker untuk menutupi ketampanannya. Dengan tubuh tinggi 177 centimeter, berat badan yang ideal dan rambut yang berwarna coklat, Aldinov lovers (nama fanbase Aldinov) menebak idola mereka adalah pria tampan yang sempurna. Walau tak ada seorangpun yang pernah melihat Aldi dalam keadaan tak memakai masker.
Setelah mendapatkan novel favoritnya, Riska menggenggam erat novel itu dan membawanya menuju kasir.
'Brukk'
Novel yang dipegangnya terjatuh. Ia menyenggol seseorang.
"Sorry," ucapnya sambil membungkukkan badan mengambil novel yang terjatuh di bawah kaki dan sebuah buku Desain interior.
Riska menyodorkan buku itu pada pemiliknya dan terkejut. "Ka-kamu --" ia menunjuk, mulutnya ternganga.
Pemilik buku itu menyambutnya dari tangan Riska sambil tersenyum. "Hai, ketemu lagi," sapanya. Pria itu tak lain adalah Ryan saputra. Idolanya setelah Aldinov.
Melihat Ryan, ia jadi teringat sesuatu dan spontan merogoh kedua saku celana jeans-nya, "Mana ya?" gumamnya, mencari sesuatu. Ia juga membuka sling bag-nya tapi tidak menemukan barang yang dia cari. "Kok gak ada sih? Perasaan tadi aku bawa deh." Gumamnya lagi. Mengulang merogoh isi dalam tas.
Ryan yang melihat Riska mencari sesuatu, menjadi penasaran. "Bawa apa?" Tanyanya sambil mengintip isi tas Riska.
"Korek api mu." Jawab Riska, sebelah tangannya mengubek-ubek tas lagi.
Ryan tersenyum dan teringat telah meninggalkan Zippo itu di toko Riska beberapa hari yang lalu. "Buatmu saja, aku sudah beli yang baru kok," sahut Ryan lalu kembali mendekati kasir.
Riska menutup tas lalu mengekori Ryan menuju kasir. Setelah membayar, ia bergegas mengejar Ryan yang sudah berada di pintu keluar, "Hei tunggu--" panggilnya.
Ryan tak menoleh, di telinganya sudah tertutup dengan sepasang earphone.
Riska menarik ujung kaos belakangnya dan spontan Ryan berhenti melangkah.
"Ada apa lagi?" tanya Ryan, menoleh kebelakang melihat Riska menyodorkan korek api miliknya.
"Ini. Aku taruh di dalam dompet koin tadi. Ambilah." ucapnya lagi.
Ryan mencabut kedua earphone lalu mendekati wajah Riska.
'Deg...deg..deg..'
Riska mendongak. Jantungnya berdebar kencang melihat Ryan sangat dekat dengannya sekarang, sama seperti di angkot beberapa saat yang lalu. Hanya berjarak sejengkal saja.
"Sudah kubilang ambil aja buat kamu, Aku sudah gak pakai itu lagi," tolak Ryan lagi.
Wajah Riska merah padam, melihat jelas wajah Ryan terlalu dekat dengannya. Hidungnya yang mancung, pupil matanya kecoklatan serta wangi parfum yang melekat di kaos putihnya.
"Aduh!" Tubuh Riska terdorong dan menubruk Ryan setelah seorang anak kecil tak sengaja menyenggolnya.
Korek api itu terjatuh dari tangannya.
'Deg...deg..deg..'
Jantungnya kembali berdebar kencang melebihi tadi. Seperti bom atom yang sewaktu-waktu akan meledak di dekatnya. Tapi ucapan dan dekapan tangan Ryan membuatnya tersadar, dan tak boleh terlena.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Ryan pelan, melepas dekapan yang tak disengaja.
Riska mengangkat wajah menatap Ryan yang menanti jawabannya dari tadi. "Eh? Oh ya. Aku baik-baik aja kok!" Riska gelagapan. Ia mundur dua langkah. Pandangannya melihat kebawah lalu mengambil Zippo dan memberi ke Ryan lagi.
Ryan mendorong pelan sodoran tangannya. "Ambil aja buat kamu. Anggap aja itu kenang-kenangan dari aku," tolak Ryan lagi.
"Aku mau pulang dulu. Bye.." Ryan berbalik dan meninggalkan Riska yang terdiam menuju parkiran.
"Eh? Hei tunggu--" Riska berlari kecil mengejar Ryan yang sudah menunggangi motor ninja-nya.
Ryan melambaikan tangan lalu mengedipkan sebelah matanya. "Bye, Cantik," pamitnya, setelah mengenakan helm dan berlalu dari sana.
Pandangan Riska mengikuti bayang Ryan yang perlahan menghilang ditelan padatnya kendaraan. Tanpa sadar wajahnya bersemu merah dan senyumnya mengembang. Ia mencoba mengibaskan wajah dengan kedua telapak tangannya walau saat ini cuaca sedang mendung. "Oh my God, He's so hot!" gumamnya.
❤❤❤
Riska menyeka wajahnya dengan handuk kecil setelah memakai masker sebagai rutinitasnya dimalam minggu.
Ia bergegas keluar dari kamar setelah mendengar suara mobil masuk garasi. Menyibak gorden dan melihat Ardi turun dari mobil.
Riska membuka pintu utama, membiarkan Ardi masuk sembari tersenyum dan mengangkat sebuah bungkusan plastik. "Papa bawa martabak!" ia memberi kejutan karena tahu kedua anaknya sangat menyukai martabak keju sejak kecil.
Riska mengambil dari tangannya lalu menaruh di atas meja sofa. "Papa tau aja kalau aku lagi pengen makan ini," serunya lalu berjalan ke arah dapur membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin dan dua gelas kosong. Menaruhnya di samping martabak yang sudah terbuka dan mengepulkan uap hangat.
Ardi menyandarkan punggung, memencet remote dan mencari channel yang sedang menayangkan sebuah FTV.
Riska yang mengambil sepotong martabak terheran ayahnya yang tak pernah menonton sinetron atau sejenisnya tiba-tiba tertarik. Belum lagi seminggu terakhir ini sikapnya berbeda. Penampilannya terlihat lebih rapi, sering terlambat pulang dan senyum sendiri tanpa sebab. Ia menduga jika Ardi sedang fase puber kedua dan bisa jadi seorang wanita berhasil mengisi hatinya yang telah kosong selama lima tahun ini.
"Papa, lagi jatuh cinta ya?" tebak Riska, mengunyah pelan martabak dalam mulutnya. Pandangannya serius menatap Ardi yang khusyu menonton FTV.
Ardi menoleh tak lama tertawa kecil. "Ha ha ha ha. Kamu bisa aja, Ris," ia tak menjawab 'Ya' atau 'Tidak'. Jawabannya menggantung.
"Papa.."
Riska dan Ardi menoleh ke arah pintu melihat anak cowok berumur 10 tahun berlari ke arah mereka. Ia duduk dipangkuan Ardi, mengambil sepotong martabak dan memakannya. "Kapan kita jalan-jalan lagi, Pa?" tanyanya memelas.
Ardi mengambil selembar tissue dan menyeka kedua tangannya lalu memeluk Hendi. "Hmm..oke. Kita jalan-jalan kemana?" tanyanya minta pendapat.
Riska menggaruk kepala, "Kemana ya?" sambil berpikir.
Hendi meneguk segelas air milik Ardi. "Ke Bogor saja, Pa?" pintanya sambil mengambil sepotong martabak lagi.
Riska mengerutkan dahi, "Eh? Bogor?"
Ardi berpikir sebentar lalu mengangguk. Sudah tiga bulan lamanya tidak mengunjungi kota hujan, dan membuatnya merindukan hawa sejuk kota itu. "Oke deal, minggu depan kita kesana," ujarnya, menoleh bergantian ke arah Riska dan Hendi.
"Hore asik!" teriak Hendi meloncat kegirangan sambil mengangkat kedua tangannya seperti melakukan selebrasi kemenangan.