Ezra merenungkan ucapan Mamanya, ia sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen. Dia baru saja mengantar orangtuanya pulang ke London, mereka hanya datang untuk peresmian perusahaan sekaligus betemu dengan kolega serta pemegang saham.
Ezra menghirup napas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Ia sama sekali belum memikirkan untuk menikah selama ini. Namun, setelah Elina menyinggung tentang hal itu kemarin, ia tidak pernah berhenti memikirkannya.
Bukan hanya itu yang Ezra pikirkan, tetapi ucapan terakhir sebelum Elina berangkat.
“Kamu tahukan kalau Aisyah orang muslim?” bisik Elina.
Ezra mengangguk, “Iya Ma, Ezra tahu.”
“Nah, sebaiknya kamu tidak terlalu banyak melakukan skinship dengannya. Walaupun Aisyah belum memakai jilbab tapi tetap saja, dia mungkin tidak melarangmu karena tidak enak, tapi sebaiknya kamu yang menjaga dia.”
Elina tersenyum lembut dan mengelus lengan Ezra setelah mengucapkan hal itu. Setelah itu, Elina dan Robert berjalan menjauh untuk segera naik pesawat. Ezra kembali menghela napas.
Sesampainya di apartemen, Ezra langsung masuk kamar dan duduk di depan meja kerjanya. Ezra menatap layar komputer cukup lama sampai jari-jemarinya menekan tombol untuk mencari informasi tentang orang muslim.
Ezra mengerutkan kening ketika artikel di halaman pertama hanya menyebutkan tentang sekelompok teroris yang meledakkan beberapa bangunan di kawasan Amerika dan sebagainya.
Di halaman kedua, Ezra menemukan hal lain. Tetapi, itu bukan jawaban yang ia cari. Artikel itu menuliskan tentang perjuangan Israel dalam memerangi orang muslim di Palestina. Ezra menutupnya dan berlanjut mencari artikel lain.
Dari sekian banyak blog atau artikel yang ia buka hanya ada dua yang menuliskan tentang kebaikan menjadi orang muslim. Artikel itu singkat, hanya menuliskan arah kiblat umat muslim yang akan berbeda-beda dari setiap tempat karena arah kiblat itu ke Arab Saudi tepatnya di Mekkah yang mengarah ke sebuah kubus bewarna hitam yang Ezra tidak tahu apa itu.
“Mencari di internet memang tidak pernah banyak membantu,” gumam Ezra.
Sementara di artikel lain hanya mengutip tentang puasa, yang selalu di jalankan umat muslim selama satu bulan lamanya. Ada beberapa hal di dalamnya yang juga tidak dipahami oleh Ezra.
Ezra menutup artikel itu dengan perasaan tidak puas. Ia tidak menyerah, Ezra kembali membuka saluran youtube dan mendapatkan banyak video yang mengatakan tentang suara Adzan, Ezra menekan video itu dan seketika terdengar suara yang pernah ia dengar sebelumnya.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar… Asyhadu allaa illaaha illallaah… Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah…Hayya 'alashshalaah…Hayya 'alalfalaah...Allaahu Akbar, Allaahu Akbar...Laa ilaaha illallaah.
“Sepertinya aku pernah mendegar ini,” gumam Ezra tanpa sadar.
Tiba-tiba matanya membulat, ia akhirnya mengingat dimana ia pernah mendenar suara seperti ini. Itu, saat ia berada di Malta, kemungkinan ia melintas saat adzan dan berhasil mendengar suaranya walaupun sangat kecil.
“Ah, ternyata suara ini yang ia dengar dulu.”
Ezra melebarkan matanya saat mendengar suaranya yang seperti menusuk jantungnya. Suara itu membuat jantungnya bedebar kencang, seperti seolah-olah terpanggil. Ia dapat mendengar jika ada beberapa kalimat yang diulang dua kali dan ada juga yang tidak diulang sama sekali.
Ezra merasakan kehilangan ketika suara adzan yang ia dengarkan itu selesai. Karena masih penasaran, Ezra kembali memutarnya untuk kedua kali. Tetapi, saat mendengarnya untuk kedua kali, rasanya berbeda. Ezra menutup matanya, merasa tenang dan damai ketika mendengarnya.
“Suara ini ajaib? Sebenarnya ini apa?” gumam Ezra.
Ezra membuka halaman lain, lalu mengetik di google. Beberapa artikel muncul, artikel itu menulis tentang Adzan. Dalam Islam, shalat merupakan ibadah yang wajib dan telah ditetapkan waktu pelaksanaannya. Untuk mengetahui waktu shalat, Allah SWT mensyariatkan adzan sebagai tanda waktu masuk shalat.
Dalam hadist shahih Abu Dawud disebut Rasulullah SAW bersabda, "Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai yang diberi amanah, maka Allah memberi petunjuk kepada para imam dan memberi ampunan untuk para muadzin."
Adapun hukum adzan, para ulama memiliki selisih pendapat tentangnya. Sebagian ulama mengatakan jika adzan adalah sunnah muakkad, namun pendapat lebih kuat mengatakan adzan hukumnya fardu kifayah. Imam An Nawawi mengatakan," Adzan dan iqamah disyariatkan berdasarkan nash-nash syariat dan Ijma'. Dan tidak disyariatkan (adzan dan iqamah ini) pada selain shalat lima waktu, tidak ada perselisihan (dalam masalah ini)."
Anjuran mengumandangkan adzan dan iqamah bagi laki-laki dilakukan dengan suara keras. Bagi muslimah, adzan dan iqamah boleh dilakukan hanya untuk dirinya dan muslimah lainnya yang berada di tempat shalat khusus wanita.
Ezra dapat memahami dengan cepat tujuan dari adzan dan beberapa hal lain yang juga di jelasan di dalam artikel itu. Ezra menutup artikel itu lalu mencari hal lain. Ia mencari kata masjid di laman pencarian.
“Oh! Bukannya ini tempat Aisyah berhenti saat itu?”
Ezra memandang gambar masjid itu dengan seksama, ia merasa tempat itu nyaman dan sejuk bahkan ketika melihatnya di dalam gambar. Itu mirip tempat yang di datangi Aisyah saat mereka jalan-jalan kemarin.
Selanjutnya, Ezra mencari tentang bersentuhan. Ezra tertarik dan membuka artikel paling atas, keningnya berkerut membaca isi artikel itu karena banyak sekali peraturan di dalamnya.
Di dalam artikel itu, bukan hanya bersentuhan yang di larang keras, bahkan menatap seorang perempuan pun di larang, berduaan, dan masih banyak lagi. Ezra ragu apakah ini memang peraturan dari agama itu sendiri atau orang yang menulis artikel itu yang menambah-nambahkannya.
Setahunya, islam mengajarkan perbuatan baik kepada sesama. Bagaimana mau berbuat baik jika memandang orang lain pun dilarang? Ezra menutup artikel itu karena isinya tidak meyakinkan.
Bosan, Ezra memutuskan untuk menghubungi Aisyah melalui sambunga video. Ia menunggu dan akhirnya tersenyum ketika Aisyah mengangkat panggilannya di dering ke empat.
“Halo, Za.” Sapa Aisyah.
Aisyah tampak berada di dalam supermarket. Di belakangnya terdapat rak-rak berisi berbagai macam benda.
“Eh, kamu lagi repot ya? Nanti aja, aku hubungi lagi.”
Aisyah menggeleng, “Udah selesai kok. Lagi belanja bulanan, persediaan cemilanku habis sama sekalian belanja bahan dapur. Ini udah mau jalan ke kasir. Kenapa?” tanya Aisyah.
“Nggak apa-apa sebenarnya.” Ezra mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Aisyah. “…kangen mau liat kamu aja.”
Ezra spontan mengucapkan itu, padahal memang sedikit rindu. Aisyah tertawa kecil, ia terlihat mengantri sembari tetap memperhatikan Ezra di layar ponsel.
“Tante sama Om sudah pulang?” tanya Aisyah.
Ezra mengangguk, “Sudah, beberapa jam lalu. Sekarang mungkin lagi transit atau masih mengudara.”
“Semoga mereka sampai dengan selamat di London.”
Kamera Aisyah bergoyang sebelum beberapa menit kemudian menampilkan wajah gadis itu kembali. Ezra hanya memperhatikannya dari layar ponsel, sepertinya antrian Aisyah bergerak.
“Mau aku jemput?” tanya Ezra.
Aisyah tersenyum lalu menggeleng, “Aku bareng Rere, dia juga lagi belanja. Kebetulan ketemu di sini, jadi bisa pulang bareng.”
Mereka mengobrol sampai Aisyah sampai di antriannya. Gadis itu tidak memutuskan sambungan dan tetap mengobrol dengan Ezra. Walaupun di tempat ramai, sepertinya Aisyah bisa mendengarkan suaranya dengan jelas. Mungkin gadis itu memakai earpods.
…
Aisyah mengangkat barang belanjaannya ke dalam bagasi Rere. Ini pertama kalinya mereka bertemu sejak ia mengundurkan diri dari perusahaan. Aisyah masuk dan duduk tepat di samping kursi pengemudi.
“Kau terlihat lebih bahagia,” tegur Rere.
Aisyah menatap Rere heran, “Dari kemarin kan aku bahagia,”
“Iya, tapi tidak pernah sebahagia ini. Apakah resign sebahagia itu?” tanya Rere.
Aisyah mengangkat kedua alisnya, “Salah satunya, karena sudah bebas dari kerjaan kantor,”
“…dan ada Ezra tentunya.” Sambung Rere, memotong ucapan Aisyah.
Aisyah mencubit bahu Rere, membuat perempuan itu mengaduh. “Aku nggak deket banget sih sama dia. Tapi, dia pernah nyatain persaaannya ke aku.”
“Really? Kenapa nggak di terima?” tanya Rere, ia memelankan laju mobilnya karena tertarikd engan cerita Aisyah.
Aisyah mendelik, “Waktu itu waktunya nggak pas. Jadi, kayaknya dia juga udah lupain itu. Sekarang mungkin kami hanya sekedar teman,”
“Ah, sayang banget. Kapan lagi dating sama orang asing? Mana Ezra ganteng, hot terus kaya? Nggak ada kurangnya.” Ucap Rere semangat.
Aisyah tiba-tiba langsung di hantam kenyataan, “Ada, kami beda agama. Satu kekurangan yang nggak akan pernah bisa terpenuhi kecuali dia pindah agama.”
Rere mengangguk pelan, ucapan Aisyah memang benar. Tidak ada yang bisa mengalahkan agama, terkadang ada pasangan yang menikah dengan agama yang berbeda tetapi tentunya Aisyah atau keluarganya tidak menginginkan itu terjadi.
Mereka asyik membahas hal lain sampai ketika Rere mengantar Aisyah sampai di depan Apartemennya. Aisyah mengucapkan banyak terimakasih dan melambai ke arah Rere ketika gadis itu putar balik menuju apartemennya.
“Alhamdulillah,” ucap Aisyah ketika berhasil membereskan apartemennya yang beberapa hari sempat kacau.
Aisyah juga sudah selesai merapikan kulkas dan menyusun stok makanan di lemari. Selain itu, seharian ia juga membersihkan apartemen sehingga lupa kalau hari ini adalah hari keberangkatan orangtua Ezra.
Ketika ingin beristirahat, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari Ezra,
Ezra Elywn : Ay, besok boleh ketemuan di café?
Aisyah membaca pesan itu berulang kali lalu membalasnya.
Aisyah : Boleh, jam berapa?
Ezra Elwyn : Aku kabari besok lagi, tapi perkiraan siang atau sore.
Aisyah tidak lagi melihat ponselnya, ia jatuh tertidur dengan masih memegang ponsel. Gadis itu bahkan belum memakai selimut dan memperbaiki posisi tidurnya. Namun, rasa lelah karena seharian membersihkan apartemen membuatnya langsung tertidur.