Takdir Allah 29 - Ezra Mom 2

1566 Words
Aisyah menarik selimut menutupi kepalanya, ia tertidur sangat pulas dan merasa sangat nyaman. Ketika ingin kembali begelung ditempat tidur, Aisyah teringat jika Tante Elina meninap di apartemennya. Dengan mata setengah tertutup ia  kembali membuka selimut yang menutupi kepalanya. Melihat tepat di sampingnya dan tidak menemukan tante Elina. Aisyah mengumpulkan kesadaran lalu memutuskan untuk bangun. Ia ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Terdengar suara memasak dari dapur, Aisyah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, baju kaos tipis dan celana panjang. Ia menggulung rambut dan membiarkan anak rambut jatuh di sisi wajahnya. “Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Elina. Aisyah menutup pintu kamar, “Sangat baik tante, ku rasa rasa keramnya sudah pergi.” “Syukurlah kalau begitu,” ucap Elina pelan. Aisyah berdiri tidak jauh dari Mama Ezra. “Tante, ada yang bisa kubantu?” Elina bepikir sebentar lalu menjawab. “Hm…sebaiknya kau duduk saja.” “Tapi, dari tadi malam Aisyah sudah ngerepotin tante.” Bujuk Aisyah. Elina menatap Aisyah galak, mengacungkan sendok yang sedang ia pegang ke arah gadis itu. Aisyah mundur satu langkah, tante Elina terlihat seperti Bundanya jika sedang tidak ingin diganggu. “Duduk,” Aisyah akhirnya menyerah, ia melangkah menjauh dari dapur. Tetapi tidak duduk di ruang tamu, melainkan ke arah pintu. Aisyah menyalakan intercom, membuka pengaturan untuk mengganti sandi apartemennya. beberapa menit kemudian Aisyah sukses melakukannya. Ia menuruti saran yang diberikan tante Elina semalam. Aisyah kembali ke dapur, ia mengamati tante Elina memasak. Wanita itu sangat gesit dalam mengiris bahan makanan dan memasukkannya ke dalam panci. Tante Elina memiliki tinggi kurang lebih sama sepertinya, wajahnya tampak keibuan dengan tubuh berisi. Pakaian yang ia pakai sangat sederhana, hanya dress yang terlihat ibu-ibu pada umumnya. “Makannya sudah hampir siap. Kalau kamu mau bantu, boleh tata mejanya. Mau makan di mana?” tanya Elina. “Makan di ruang tamu saja tante.” Jawab Aisyah lalu beranjak mengambil peralatan makan. “Nah, tante tinggal dulu buat antar ini ke Ezra, ya.” Ucap Elina sembari mengambil nampan. Aisyah berbalik, “Kenapa Ezranya nggak di suruh datang sekalian makan sama-sama tante?” “Jangan, nanti dia kebiasaan masuk ke apartemen kamu. Makannya di pisah aja, walaupun ada Mama juga harus di pisah.” Ucap Elina lalu keluar mengantar makanan kepada Ezra. Aisyah selesai menata meja keluar untuk melihat tante Elina, ketika membuka pintu ia melihat Ezra sedang berbicara dengan Mamanya. Wajah Ezra terihat terlipat begitu, Elina ingin menutup pintu. Ketika pandangan mereka betemu, Ezra tersenyum bertanya tanpa suara bagaimana keadaannya. Aisyah menjawab ia sudah baikan, mereka saling bertukar senyum sampai tante Elina mendorong paksa Ezra masuk ke dalam apartemen lalu menutup pintunya. Aisyah tertawa kecil melihat mereka. “Aisyah, ayo masuk.” Ajak tante Elina. Aisyah mengangguk lalu mengikuti Elina masuk ke dalam apartemen. Mereka lalu duduk di depan tv, bersiap makan. Aisyah memindah-midahkan chanel tv yang cocok di tonton, ia memilih drama keluarga yang cukup ringan dan lucu. Elina memasak sup kubis dengan ikan dan memanggang daging sapi. Aisyah menambahkan kimchi dan juga beberapa jenis saos yang cocok dimakan dengan daging sapi. “Wah, supnya segar sekali.” Aisyah takjub dengan sup kubis buatan tante Elina. “Benarkah? Tante belum sempat coba tadi.” Elina menyeruput kuah sup dan matanya membulat. “…benar-benar enak.” Aisyah tersenyum, “Bagaimana tante membuatnya?” “Tante hanya mencampur bahan-bahan yang tersedia di kulkas, tidak sangka bakal seenak ini.” Elina mengambil lebih banyak dan memakannya. “…maaf tante sepertinya menghabiskan persediaan bulanan yang ada di dalam kulkas.” “Nggak apa-apa, Tan. Malah Aisyah yang ngerepotin tante. Harus masak pagi-pagi, padahal biasanya jam segini Aisyah baru makan buah aja, sarapannya pesan makanan jadi.” Terang Aisyah. Elina meletakkan sendoknya, “Jangan kebiasaan makan makanan jadi, ya walaupun memang enak dan dari restoran. Kamu bisa buat sendiri dan lebih hemat juga, karena lebih enak masakan sendiri, sekalian belajar masak juga.” “Iya, tante.” Mereka melanjutkan makan dengan tenang, Aisyah mengunyah sembari menonton tv. Ia menikmati drama pagi yang di tayangkan, sangat menghibur dan cocok di tonton saat sarapan seperti ini. “Kamu sudah lama tinggal di sini?” tanya Elina. Aisyah mengangguk, “Sejak kuliah, mungkin sudah 7 atau 8 tahun. Saya juga sempat bekerja tiga tahun lalu memutuskan untuk mengundurkan diri.” “Kerja dimana?” “Di salah satu perusahaan hiburan yang cukup terkenal, Ezra sepertinya juga baru bekerja sama dengan perusahaan tempat saya bekerja dulu.” Jawab Aisyah. Elina memperhatikan Aisyah, gadis itu tampak sangat sederhana. Selama di dalam apartemen Aisyah, ia hanya menemukan sedikit barang-barang dengan brand ternama. Itupun tidak banyak dan bukan dalam bentuk koleksi. Dari dandanannya Aisyah juga tidak terlalu memperdulikan jika ia keluar dengan tanpa polesan make up, buktinya tadi dia percaya diri bertemu dengan Ezra hanya memakai baju rumahan dan rambut diikat seadanya.   “Tante tidak tahu urusan perusahaan, itu urusan Ezra sama Papanya. Kamu betah tinggal disini?” Elina menambah porsi sup Aisyah yang sudah habis. “Hm…sebenarnya tidak terlalu, Tante. Biaya hidup di sini cukup mahal, walaupun gaji bulanan saya bisa memenuhinya, apalagi tinggal di kota besar seperti ini yang harus mengeluarkan biaya lebih.” “…apalagi saya bekerja di perusahaan hiburan yang tentunya fashion antar pegawai sangat diperhatikan. Memakai pakaian yang tidak bagus sedikit saja, bisa jadi bahan pembicaraan. Jadi, harus pintar-pintar atur keuangan.” Nah, kan. Aisyah memang cocok untuk Ezra. Kapan lagi dapat gadis seperti dia di jaman sekarang, sederhana, mandiri dan juga tidak boros dalam berbelanja, ucap Elina dalam hati. “Oh iya, tante lihat ada Al-Qur’an di dalam kamar, kamu muslim?” tanya Elina hati-hati. Aisyah terkejut lalu mengangguk, “Iya tante saya muslim.” “Nah, tante semakin yakin kalau kamu harus menjaga sedikit jarak dengan Ezra. Tante juga tahu kalau kalian saling suka, maka dari itu, tante sarankan kalian jangan ketemu di apartemen, mau itu apartemen kamu atau Ezra. Ketemuannya di luar aja, di kafe lebih enak. Kalau di dalam apartemen, kan mana kamu tahu kalau Ezra bisa ngapa-ngapain kamu tanpa ada yang bisa bantu.” Terang Elina. Aisyah melebarkan mata, tersenyum canggung. Kenapa tante Elina lebih mencemaskannya dari pada Ezra. Bahkan sampai mengatakan hal itu. “Makasih tante, saya bakal ingat nasehat tante.” Ucap Aisyah. Elina mengangguk, ia beranjak akan membersihkan piring kotor. Tapi, Aisyah menghalanginya, “Karena tante sudah masak, sekarang bagian Aisyah buat cuci piring. Boleh ya?” Elina tertawa kecil, “Baiklah. Kalau begitu tante siap-siap dulu, setelah ini tante harus kembali ke hotel. Takut suami tante di ambil orang korea, nanti tante pulang ke London jadi janda.” Ucap Elina dengan nada becanda. Aisyah tertawa lepas, sejenak mengkhawatirkan keram perutnya tetapi bersyukur saat sama sekali tidak merasakan nyeri. Ia selesai mencuci piring bersamaan dengan  Elina keluar dari kamar. Aisyah memperhatikan tante Elina, wanita paruh baya itu masih terlihat segar di usianya sekarang. Ia tahu jika tante Elina memakai pakaian yang tidak murah, bahkan bisa jadi dengan edisi terabatas tapi itu sama sekali tidak tampak karena pembawaannya yang keibuan. Aisyah menyampaikan rasa terimakasihnya karena Tante Elina mau merawatnya sebelum mereka berpisah. Ternyata Ezra yang mengantar tante Elina pulang, Aisyah melambaikan tangan dan melihat mereka sampai hilang di dalam lift. … Ezra menekan tombol lift, ia melirik Mamanya yang tampak sangat senang. Jarang sekali Mamanya tampak seperti ini jika bukan mendapat berita bahagia. Ezra masih memperhatikan Mamanya yang tersenyum-senyum sendiri bahkan ketika mereka ada di dalam mobil. “Ma,” Elina hanya menjawab panggilan Ezra dengan gumaman, ia sedang asyik membayangkan Aisyah dan Ezra kelak bersama. Ya, walaupun ia tahu kalau perjalanan mereka masih panjang atau kemungkinan mereka tidak di takdirkan untuk besama, tapi tidak ada salahnya ia membayangkan duluan, bukan? “Mama kenapa sih? Dari tadi senyum-senyum terus?” Elina tidak menjawab pertanyaan  Ezra, malah balik bertanya. “Umur kamu berapa sekarang?” Ezra mengerutkan kening, “28 tahun, Ma.” “Nah, sudah pas untuk menikah.” Ucapan Elina sukses membuat Ezra terkejut dan mengerem mendadak membuat Elina memberi pukulan keras di lengannya. “Hati-hati, Za! Papa kamu bisa jadi Duda!” ucap Elina spontan. Ezra berdecak, “Iya, Ma! Ezra juga belum nikah, belum mau mati.” “Ya udah, nikah sekarang aja.” Ucap Elina sembari tersenyum. Ezra menepuk keningnnya, “Mau nikah sama siapa, Ma? Belum ada calonnya.” “Itu, ada Aisyah.” “Memangnya Aisyah mau sama Ezra?” tanya Ezra. Elina mengangkat bahu, “Nggak kali, kamu kan suka masuk keluar lobang.” Rasanya Ezra mau melemparkan tubuhnya keluar dari jendela, Mamanya kalau berbicara sangat menusuk pas di jantung. “Astaga, Ma!” Ezra gemas. Elina menoleh, “Kenapa? Kan Mama nggak bohong. Kamu ada rencana melamar Aisyah?” Ezra menggeleng, “Belum kepikiran sampai di situ, Ma.” “Jangan keburu Aisyah di ambil orang baru mau kamu lamar. Udah telat! Memangnya yang selama ini kamu cari bertahun-tahun apa Za? Udah ketemu?” tanya Elina. Ezra menggeleng, “Belum, Ma. Tapi mungkin Ezra sudah dapat titik untuk memulai.” “Nanti, Mama yang bilangin sama Papa kamu. Pekerjaan di luar negeri nggak usah kamu yang kerjain. Biar kamu fokus.” Ucap Elina pelan. Ezra juga sudah meminta itu kepada Papanya, tapi sampai sekarang belum ada respond an syurkurlah Mama mau membujuk Papa. “Makasih, Ma.” Elina mengangguk pelan, “Sama-sama. Jadi, kapan kamu lamar Aisyah?” “Aduh, Ma. Belum tahu, nggak ada rencana kesana.” Jawab Ezra gemas. “Harus ada, Za. Kamu itu sudah berumur, siapa yang mau kalau kamu udah umur 30 tahun. Ada sih, tapi Mama ngak mau kalau kamu bawa perempuan sembarangan, apalagi tiba-tiba pulang bawa anak hasil hubungan yang benar.” Ucap Elina tegas. “Astaga, Ma. Ezra selalu bermain aman. Nggak akan kecolongan apalagi bisa hamilin orang.” “Oke, Mama berhenti. Kayaknya kamu sudah mau melempar Mama dari jendela mobil.” Ezra diam, ia tidak menanggapi ucapan Elina. Merasa benar-benar kalah jika beradu argumen dengan wanita yang melahirkannya ini. Heran, kenapa jika hanya ada mereka berdua, Mamanya menjadi sangat cerewet seperti ini. “Aduh, Za. Mama membayangkan, apa Aisyah mau ya sama kamu? Sudah tidak terhitung wanita yang sudah kamu tiduri, apalagi ciuman? Mungkin puluhan. Di bandingkan Aisyah yang tidak pernah melakukannya, mungkin ciuman pernah tapi tidak sebanyak kamu.” Elina berbicara sendiri. “Enak banget kalau kamu bisa dapat Aisyah.” Elina menggelengkan kepalanya pelan, “…apalagi kualitas itu kamu sudah menurun. Sedangkan Aisyah masih fresh…” Ezra terperangah untuk kesekian kali karena ucapan Elina. Ia menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Rasanya Ezra ingin mengubah haluan ke arah laut terdekat dan menenggelamkan diri…  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD