Mereka menonton bersama setelah Aisyah minum obat dan juga memakan sepiring nasi goreng buatan Ezra. Aisyah merasa lebih baik setelah minum obat, rasa pening di kepalanya mulai berkurang.
Dua jam kemdian, Ezra pamit untuk kembali ke apartemennya. Aisyah masih duduk di ruang tamu setelah kepergian Ezra. Bersyukur ada pria itu yang menolongnya. Aisyah juga bertanya tentang seorang wanita yang menghampiri mereka.
Walaupun sudah di ceritakan Ezra, Aisyah tidak bisa mengenali wanita itu. Tebakannya mungkin itu salah satu teman Dae-Ho, yang menuduhnya sudah mendapat pasangan baru yang lebih tampan dan kaya.
Ezra memang memiliki keduanya, tapi mereka bukan pasangan kekasih. Entahlah, hubungan mereka sekarang ini apa? Saling menyukai tapi tanpa status? Mungkin itu lebih cocok.
Tetapi, Aisyah sudah tidak ingin bermain-main dalam berhubungan. Ia tidak ingin berakhir seperti kisah cintanya yang terakhir kali. Itu sangat menyeramkan walaupun tidak begitu membuatnya trauma.
Aisyah seharunys beristirahat, tetapi ia berbaring di sofa sembari memainkan ponsel. Drama yang sedang tayang di tv hanya sebagai suara agar ruang tamunya tidak terlalu sepi.
“Halo, Kak.”
Aisyah menjawab panggilan dari Abimanyu yang tiba-tiba muncul di layar ponselnya.
“Eh, kok suara kamu serak dek? Lagi sakit?” tanya Abimanyu ketika mendengar suara Aisyah yang terasa berbeda.
Aisyah takjub dengan telinga kakaknya yang sangat peka.
“Lagi flu, kak. Biasa awal musim dingin.” Jawab Aisyah berbohong.
Ia tidak ingin Abimanyu tahu kalau dia baru saja keluar dari rumah sakit. Aisyah juga belum memberitahu jika ia sudah mengundurkan diri dari tempatnya bekerja.
“Baiklah, kamu harus jaga kesehatan. Sebenarnya, kakak mau kasih kabar kalau kakak pulang ke Indonesia besok pagi. Kerjaan kakak sudah selesai tadi siang.” Terang Abimanyu.
“Eh, nggak mau jalan-jalan dulu kak? Biar Aisyah temani?” tawar Aisyah.
Abimanyu diam sebentar, “Mau sih, tapi kerjaan kakak masih banyak dan kyaknya nggak keburu kalau jalan-jalan dulu. Kapan-kapan aja kalau udah ada waktu luang.”
“Yah, padahal lumayan bisa beliin Ayah sama Bunda oleh-oleh juga.” Aisyah mengerucutkan bibirnya.
Aisyah dapat mendengar jelas suara Abimanyu tertawa pelan, “Tiap bulan kamu kirim Ayah sama Bunda barang-barang, dek. Itu semua udah cukup, malah banyak yang nggak ke pake.”
“Kakak kan bisa bawa makanan atau apa gitu,” Aisyah masih membujuk Abimanyu untuk berjalan-jalan bersama.
“Lain kali ya, dek. Kakak, bener-bener lagi banyak kerjaan.”
Aisyah menghela napas panjang ketika kakaknya benar-benar tidak bisa. Mereka tidak pernah lagi menghabiskan waktu berdua sejak kepindahannya ke Korea untuk melanjutkan pendidikan.
“Atau pas di Indonesia aja, kamu yang pulang. Mau kemanapun, kakak turutin deh.” Tawar Abimanyu, mencoba agar adiknya tidak kecewa.
“Janji, ya! Harus kemanapun, loh.”
Suara Aisyah terdengar sedikit merajuk, Abimanyu mengiyakan permintaan Aisyah. Mereka berbincang sebentar tentang pekerjaan Abimanyu lalu kembali ke pembahasan awal.
“Kak, besok mau aku antar di bandara?” tanya Aisyah.
“Sepertinya, nggak usah dek. Kakak naik taksi aja, penerbangan jam 5 pagi. Kamu istiahat aja supaya cepat sembuh.” Tolak Abimanyu.
“Baiklah, kak.”
Aisyah menyerah, membiarkan kakaknya pulang sendiri. Lagipula ia memang hanya berbasa-basi, beruntung Abimanyu menolak semua tawarannya. Bisa-bisa ia pingsan saat bersama kakaknya lalu akan di tarik pulang ke Indonesia.
Abimanyu memutuskan sambungan beberapa menit kemudian, Aisyah kembali memainkan ponselnya. Ia sama sekali belum mengantuk, apalagi wangi parfum Ezra masih tercium membuatnya betah berbaring di sofa.
Ini juga karena pengaruh karena terlalu lama tidur siang. Mungkin karena efek penghilang rasa sakit yang diberikan kepadanya saat di rumah sakit. Aisyah mulai mengantuk, ia akhirnya masuk ke dalam kamar. Setelah menyikat gigi dan membersihkan wajah, ia berbaring di tempat tidur.
Saat memperbaiki posisi bantalnya, satu pesan masuk ke ponselnya.
Ezra Sulwyn : Kenapa belum tidur?
Me : Baru mau tidur, tadi masih belum ngantuk.
Ezra Sulwyn : Ya, sudah. Good night, Ay. Ah, iya. Aku tadi lupa mengatakan jika besok mungkin aku tidak bisa menemanimu, karena besok hari peresmian perusahaan, aku hampir mengajakmu jika saja kau tidak sakit. Tapi, jangan khawatir, ponselku akan selalu aktif, hubungi aku jika terjadi sesuatu denganmu.
Me : Tenang saja, aku lebih baik. Good night.
Aisyah mematikan ponselnya lalu disimpan di atas nakas. Kebiasaan yang selalu ia lakukan jika tidak lupa atau ketiduran. Walaupun hanya selepe namun, efeknya untuk kesehatan tidak main-main.
…
Aisyah bangun jam empat subuh, ia berjalan kepayahan ke dalam kamar mandi. Keram perutnya kembali, kali ini lebih sakit dari pada sebelumnya. Aisyah berlama-lama di kamar mandi, ia duduk di lantai, keringat dingin becucuran dari kenignnya.
Aisyah tidak bergerak dari kamar mandi sampai pagi. Dua jam kemudian Aisyah masih di posisi yang sama, takut bergerak karena keram perutnya baru saja mereda.
Aisyah tidak pernah mengalami keram ini selama dua tahun terakhir, dulu saat berkuliah ia sering mengalami keram seperti ini di awal siklus bulanan. Ia juga sudah memeriksakannya beberapa kali dan selalu mendapatkan hasil normal, dokter mengatakan ini wajar. Tapi, menurut perasaan Aisyah sakitnya tidak wajar.
Ia samar-samar mendengar suara bel apartemennya berbunyi, itu mungkin Ezra tetapi ia tidak bisa membuka pintu karena ada tenaga untuk bediri. Beberapa menit kemudian bel itu berhenti berbunyi, pertanda jika Ezra sudah pergi.
Aisyah memutuskan untuk meminum oba pereda rasa sakit, tanpa air ia menelannya dengan susah payah. Ia duduk menunggu obat itu bekerja, setengah jam kemdian, Aisyah bisa berdiri walaupun tenaganya terkuras.
Ia membersihkan diri lalu berpakaian, setelah itu Aisyah memesan makanan pesan antar. ia tidak kuat memasak, dengan sabar, Aisyah menunggu makanannya sampai sembari duduk di depan tv.
“Alhamdulillah,” ucapnya refleks ketika mendengar bel berbunyi.
Aisyah bergegas membuka pintu dan menerima makanannya dengan senang. Ia memesan sup rumput laut, udang tumis dan berbagai makanan lainnya.
Keram perutnya pun tidak kembali lagi. Aisyah bersyukur, bisa melewati hari itu dengan tenang. Selama seharian, ia hanya menerima panggilan dari Abimanyu yang mengabarkan jika ia sudah tiba di rumah dengan selamat.
Sedangkan, Ezra belum pernah menguhubunginya. Mungkin pria itu sangat sibuk dengan peresmiaan perusahaan miliknya bersama keluarga mereka. Ketika sudah melewati waktu magrib, Aisyah memtuskan tidur di ruang tamu.
“Astagfirullah,” rintih Aisyah ketika keram perutnya kembali.
Ia terbangun karena suara bel, ia bangun dengan susah payah. Lalu membuka pintu tanpa melihat siapa yang datang. Ketika pintu terbuka, ia nyaris jatuh karena kehilangan keseimbangan.
Ezra refleks menangkap tubuh Aisyah, pria itu terkejut merasa badan Aisyah sangat lemas.
“Ma, help me.” Teriak Ezra kepada Mamanya yang kebetulan ikut karena penasaran untuk melihat tempat tinggalnya.
“Astaga! Bukankah dia gadis yang ikut menjemput di bandara kemarin? Dia kenapa?” tanya Elina.
Ezra menggendong Aisyah masuk dan membaringkan gadis itu di atas sofa.
“Makasih, Za. Maaf merepotkan.” Bisik Aisyah.
Aisyah melihat ruang tamunya yang cukup berantakan, akibat piring kotor yang sama sekali belum ia pindahkan ke dapur setelah makan siang. Aisyah terkejut ketika melihat bercak darah di lengan Ezra. Ia buru-buru ingin meraihnya tetapi Ezra mundur, membuat usaha Aisyah sia-sia.
Ezra melebarkan matanya ketika melihat darah di lenan kirinya, Elina yang melihat itu menatap Ezra dan Aisyah begantian lalu tersenyum lembut. Elina menyuruh Ezra untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
“…tapi, Ma!”
Elina menggeleng tegas, membuat Ezra mau tidak mau keluar dari apartemen Aisyah. Sementara mata Aisyah bekaca-kaca, ia tidak tahu harus melakukan apa.
Elina buru-buru jongkok di sisi Aisyah, membelai lembut kepala gadis itu. Membuat Aisyah terisak, kelembutan Mama Ezra membuatnya rindu ibunya.
“Ssshh…tidak apa-apa, Nak. Ayo, tente bantu ke kamar mandi.”
Elina memapah Aisyah, meninggalkan noda darah di atas sofa. Aisyah sungguh tidak tahu, bahwa mentruasinya akan selancar ini. Biasanya pembalut yang ia pakai bertahan sampai malam.
“Kamu selalu minum ini?” tanya Elina mengangkat botol obat pereda rasa sakit di tangannya.
Aisyah menggeleng, “Baru tadi pagi, tante. Aku ngak bisa tahan, jadi minum itu.”
“Ini nggak baik buat kesehatan, Aisyah. Keram perutmu akan menjadi awal penyakit lain kalau kamu sering mengkonsumsinya.” Elina meletakkan botol obat itu di atas nakas.
Elina membantu Aisyah berbaring di tempat tidur, ia tidak tega melihat wajah Aisyah yang sangat pucat. Astaga, dia juga pernah mengalami hal ini dulu. Sudah lama sekali, tapi masih membekas di ingatatannya.
Lima tahun sebelum, ia memiliki Ezra. Elina harus di operasi karena ada kista di rahimnya. Gejalanya sama persis dengan yang dialami Aisyah, tetapi ia berharap jika gadis yang disukai oleh anaknya ini tidak mengalami hal yang sama.
Elina duduk di tepi ranjang, mengelus rambut Aisyah dengan sayang.
“Kamu tidur dulu, tante buatin makan malam dulu.”
Aisyah menahan lengan Mama Ezra, “Jangan tante, Aisyah sudah ngrepotin dari tadi.”
“Terus kamu mau makan apa? Sup sisa tadi siang? Atau makanan dingin yang sudah berjam-jam ada di luar?”
Aisyah terdiam¸ merasa seperti Ibunya yang memarahinya. Ia tidak berani menatap wajah Mama Ezra. Perlahan-lahan, Aisyah terisak, ia sangat terharu karena diperdulikan oleh orang yang bahkan baru bertemu dengannya satu hari yang lalu.
“Aduh, kok malah nangis.”
Elina memeluk Aisyah penuh kasih sayang, Elina sangat menginginkan seorang putri. Sayang, Ezra tidak bisa memiliki adik lagi. Ketika bertemu Aisyah saat di bandara, Elina sangat senang, tapi tidak bisa berbicara banyak karena jetlag.
“Sabar ya, nanti sakitnya pasti hilang.” Ucap Elina sembari mengelelus-elus perut Aisyah.
Merasa nyaman, Aisyah jatuh terlelap. Elina meninggalkan kamar Aisyah dengan hati-hati, lalu menghubungi Ezra yang ternyata tidak ke apartemennya melainkan hanya menunggu di depan pintu.
“Kenapa kamu tahu sandi apartemen, Aisyah?” tanya Elina galak.
Ezra salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “…supaya kalau ada keadaan darurat seperti ini. Aku bisa cepat datang,”
“Jangan banyak alasan, Za? Sudah berapa kali kamu masuk ke apartemen Aisyah?”
“Baru beberapa kali, Mam. Aku juga nggak ngapa-ngapain.” Ucap Ezra berbohong, karena ia sudah pernah mencium gadis itu di sini.
Elina menggeleng tegas, “Walaupun untuk kepentingan darurat, tetap tidak boleh. Mama akan menyuruh Aisyah untuk menggantinya agar kamu tidak bebas masuk ke rumah perempuan sembarangan.”
“Aisyah, teman aku, Mam.” Bantah Ezra.
“Ck, dasar anak ini!” Elina memukul punggung Ezra.
Elina mulai memasak, ia mengulung lengan bajunya lalu mencuci tangan. “Rumah yang bisa kamu masuki dengan bebas hanya rumah kamu sendiri yang kamu tempati sama istri kamu, nanti.”
“Kalau begitu, akan kujadikan Aisyah istriku.” Ucap Ezra percaya diri.
Elina bertolak pinggang sembari memegang sendok kayu. “Setuju. Kamu harus menjadikan Aisyah menantu, Mama. Kalau bukan Aisyah, mama tidak akan ijinkan kamu menikah. Titik.”
“Ma?”
Elina menoleh, “Apa? Mama suka Aisyah dari pandangan pertama.”
“Eh, memang mama laki-laki.”
“Dasar anak nakal. Memangnya Cuma pria yang bisa jatuh cinta pandangan pertama? Dalam mencari menantu yang bagus juga perlu, Za. Sudah, mama cuma mau Aisyah.” Elina kembali fokus memasak.
Ketika Ezra tidak memberi tanggapan apapun, Elina kembali berbicara.
“Jangan bilang kamu cuma bercanda, Za?” tanya Elina dengan mata tajam.
Ezra refleks menggeleng.
“Nah, awas kamu kalau mainin Aisyah, dari awal Mama tahu kalau kamu tertarik sama gadis itu.” Elina melanjutkan perkataannya.
“Umurmu sudah tua, Za. Jangan sampai lumutan, nanti ngak laku.”
Ezra refleks menutup bagian bawah perutnya dengan kedua tangan begitu di tunjuk Elina dengan sendok yang baru saja digunakan untuk mengaduk air mendidih. Ezra benar-benar mati kutu jika berhadapan dengan Mamanya.
…
Aisyah makan di kamarnya, sementara Ezra di suruh pulang oleh Elina. Benar-benar pulang, karena Elina memastikan Ezra masuk ke apartemennya dan tidak keluar, membiarkannya malam ini mengurus Aisyah.
Ezra pasrah, memberikan kepercayaan penuh kepada Mamanya, semoga saja Aisyah tidak terganggu. Padahal mereka baru bertemu dua kali dan mungkin situasi ini sangat canggung untuk Aisyah.
Aisyah bangun dari tempat tidur, ia bersandar di kepala tempat tidur di sangga dengan bantal. Elina membantu Aisyah dengan sigap, membuat Aisyah merasa semakin tidak enak hati.
“Makasih banyak, tante. Maaf, Aisyah merepotkan.” Ucap Aisyah pelan.
Ajaib, keram perutnya sudah membaik. Bahkan tidak ada tanda-tanda akan kembali. Aisyah memakan bubur buatan tante Elina, ia melebarkan mata.
“Kenapa? Bubunya ngak enak ya? Sini, tante buatin yang baru.” Ucap Elina menarik mangkuk yang dipegang Aisyah.
Aisyah menahan mangkuknya, “Eh, nggak tante. Buburnya enak banget, aku kaget karena bubur ini mirip sama yang dibuatin Ezra kemarin.”
“Eh? Kemarin? Ezra di sini juga kemarin?” tanya Elina.
Aisyah keceplosan, ia mengalihkan tatapannya lalu menyendok bubur perlahan-lahan.
“Jawab pertanyaan tante, Aisyah.”
Aisyah mau tidak mau mengangguk pelan, ia becerita jujur kepada Tante Elina bahwa sehabis mengantar mereka ke hotel ia masuk rumah sakit dan mengakibatkan Ezra membuatkannya makan malam.
“Tante sih, nggak masalah kamu suruh-suruh Ezra. Memang dia suka masak, tante yang ajari dari kecil. Tapi, Aisyah…” Elina menghentikan ucapannya, mengambil mangkuk bubur Aisyah yang telah habis, menggantinya dengan segelas air putih. “…kamu itu perempuan dan Ezra itu laki-laki. Kalian ada di hormon yang sangat pas di masa muda kalian. Kamu mengertikan, maksud tante?”
Aisyah mengangguk pelan.
“Nah, nanti kalau sudah sehat. Kamu ganti password apartemen kamu, biar Ezra nggak bisa masuk dengan bebas. Walaupun kamu tinggal di korea, yang mayoritas sepasang kekasih tinggal bersama, kamu harus tetap menjaga budaya kamu.” Elina tersenyum hangat.
“Iya, tante. Nanti, Aisyah ganti.” Jawabnya juga dengan mengembangkan senyum.
Mereka bercerita banyak, saat Aisyah menawari bermalam di apartemennya. Tante Elina menerima dengan senang hati, katanya ingin merasakan punya putri dan keinginannya terkabul dengan adanya Aisyah.
Tante Elina ikut berbaring di samping Aisyah, tiba-tiba, Aisyah memeluk. “Kenapa?”
“Kangen bunda,” ucap Aisyah serak.
Rindu Aisyah sediki terobati dengan adanya Mama Erza. Apalagi di saat sedang tidak enak badan seperti ini, ia ingin bermanja-manja dengan Ibunya.
“Kenapa nggak telpon aja?” tawar Elina.
Aisyah menggeleng, “Udah tengah malam. Nanti, bunda bisa tau kalau Aisyah sakit.”
Elina terkekeh, “Ya sudah, besok aja atau pas kamu sudah sehat. Sekarang, tidur. Supaya besok lebih enakan.”
“Wah, tante merasa seperti punya putri betulan.” Elina mengelus pelan rambut Aisyah.
Aisyah tersenyum, ia merasa sangat nyaman dengan belaian Tante Elina. Sekejap kemudian ia jatuh terlelap. Elina memperbaiki posisi tidur Aisyah lalu ikut memejamkan mata.
Sementara, Ezra mondar-mandir dari apartemennya dengan Aisyah. Ingin memencet bel tetapi takut di marahi oleh Mamanya. Akhirnya, ia menyerah lalu kembali masuk ke dalam apartemennya untuk beristirahat.
Tiba-tiba, Ezra mengingat percakapan bersama Mamanya tadi. Apa tadi ucapan Mama serius, ya?