Takdir Allah 22 - Tell the truth or not?

1673 Words
Aisyah senyum-senyum sendiri ketika melihat foto-foto yang dikirimkan Ezra melalui ponselnya. Tadi sepulang dari Myeongdong, Ezra memberikan foto-foto dari ponselnya. Ezra memiliki banyak foto mereka dan bahkan memiliki foto Aisyah lebih banyak daripada dirinya sendiri. Aisyah memandang foto itu lalu kembali tersenyum sampai kedua pipinya sakit. Ezra menunggu taxi untuk membawa mereka ke tempat dimana mobilnya berada lengkap dengan membawa bahan bakar. Aisyah sangat senang sebenarnya, ia tidak tahu kenapa Ezra susah-susah naik di bus padahal punya mobil mewah seperti ini hanya karena tidak ingin membuatnya lama menunggu sendiri di sini. Aisyah merasa, Ezra tidak ingin dia menunggu dan pria itu juga tidak rela berdesakan di bus. Itu termasuk perhatian kecil dari Ezra yang menyentuh hati Aisyah, membuatnya semakin jatuh ke dalam pesona Ezra. “Ah, aku bisa-bisa gila.” Gumam Aisyah. Di kamarnya, Aisyah membersihkan diri, shalat lalu beristirahat di tempat tidur dengan pakaian yang lebih nyaman. Ia menyalakan tv untuk menonton drama, walaupun tubuhnya lelah tetapi matanya tidak kunjung mengantuk. Satu hal lain yang membuat Aisyah terpesona kepada Ezra, pria itu sangat baik dan mudah berkomunikasi. Pria itu tidak pernah membuatnya canggung karena tingkah lakunya, bahkan Aisyah merasa nyaman dan aman saat sedang bersama Ezra. Ezra juga sepertinya sangat sayang kepada keluarganya, satu poin lain yang jarang di dapatkan dari pria lain yang tak acuh kepada keluarganya dan lebih mementingkan diri sendiri. Ezra juga tidak tanggung-tanggung saat mengeluarkan uang, salah satu hal yang Aisyah sangat hargai dari seorang pria. Sayangnya, ada satu kekurangan dari pria itu. Satu hal yang sangat fatal dan dapat membuat kelebihan yang lainnya tidak bisa terhitung untuk Aisyah. Mereka berbeda keyakinan. Kenyataan itu menjadi pukulan berat untuk Aisyah, walaupun saling menyukai mereka tidak akan bisa bersama jika tidak memiliki keyakinan yang sama.   “Ah! Apa yang harus kulakukan.” Saat ini, Aisyah sudah tidak ingin bermain-main lagi dalam berhubungan. Di umurnya yang tidak lagi bisa di bilang muda, ia ingin serius dan langsung memiliki suami. Jika saja mereka satu keyakinan, Ezra pasti akan menjadi imam dan calon suami yang sangat Aiysah inginkan. Aisyah membayangkan jika mereka melakukan ibadah bersama, pasti itu salah satu surga yang diberikan Allah untuknya di dunia. Aisyah kembali membuka ponselnya, ia membuka i********: lalu mengetikkan nama Ezra di kolom pencarian. Aisyah tersenyum melihat ia berhasil mendapatkan i********: milik pria itu. Aisyah mulai melihat isinya, sebagian besar adalah foto Ezra bersama keluarganya. Di sana hanya terdapat 15 foto, lima foto lain menampilkan dirinya yang sedang berolahraga, dan sebagian foto pantai dan sebuah tempat yang mungkin sudah Ezra kunjungi. Aisyah melihat foto yang lain, tidak ada foto saat Ezra berselfie atau sedang memamerkan kekayaaan. Sepertinya Ezra bukan tipe orang yang suka  pamer. Saat sedang melihat-lihat, ternyata Ezra baru memperbaharui sebuah foto. Di foto itu terlihat jelas seorang perempuan yang sedang berdiri di tengah keramaian. Aisyah mengenali foto itu, perempuan yang berada di dalam foto itu adalah dirinya. Aisyah membaca tulisan di bawah foto yang juga sangat menarik baginya. 2234 likes Ezra Sulwyn Someday, I will be by your side and hold your hand… Aisyah mengigit bibirnya pelan, sebagian hatinya senang tetapi ia tidak ingin terlalu percaya diri jika maksud dari tujuan Ezra menulis itu benar-benar untuknya. …   Intensitas pertemuan Aisyah dan Ezra meningkat, bahkan hampi tiap hari mereka pergi bersama. Aisyah yang memang sudah tidak bekerja lagi memiliki banyak waktu kosong. Sementara Ezra yang memang hanya sedang mengawasi peresmian gedung perusahaan juga sudah memiliki banyak waktu. Aisyah tidak tahu harus menggambarkan apa arti dari kedekatan mereka ini. Aisyah nyaman saat bersama dengan Ezra, bisa dibilang mereka sedang pendekatan, atau masuk zona nyaman yang sama sekali tanpa status. Mereka sudah sama-sama dewasa, jadi tidak perlu lagi ada katakan cinta seperti anak remaja.  “Aisyah!” Suara Ezra membuatnya tersadar dari lamunan. Ezra tersenyum kepada Aisyah, menghampiri gadis itu yang sedang duduk di sebuah sudut kafe sembari mengetik di Macbook. Aisyah menghabiskan waktunya dengan menulis novel, ini adalah pekerjaan sampingan Aisyah yang dia lakukan sejak masih sekolah. Sekarang novelnya sudah ada lima buah di toko buku, semuanya ia buat saat sebelum bekerja. Jadi, sudah tiga tahun lebih ia tidak menulis kembali. Sekarang, ia memulainya kembali untuk menghabiskan waktu. Ezra terlihat lebih rapih setelah memotong rambutnya menjadi lebih pendek. Tiba-tiba, perhatian Aisyah berubah ke arah rahang Ezra. Pria itu tidak pernah mencukur bersih dagunya sejak kejadian Aisyah menegur pria itu. Jika di pikir-pikir lagi, Aisyah malu karena keplosan mengatakan itu. Untungnya, Ezra menganggap hal itu lucu dan tidak menjauhinya. Hari ini, mereka tidak pergi kemana pun karena peresmian perusahaan Ezra sudah di depan mata. Ezra hanya akan ke supermarket untuk menemani Aisyah belanja bulanan. “Za. Boleh kamu keluar duluan. Aku merapikan barang-barangku dulu.” Aisyah mematikan macbooknya. “Eh, nggak usah. Kita sama-sama keluar saja.” Aduh, gimana ya? Padahal Aisyah ingin sedikit memakai bedak dan lipstick agar terlihat lebih segar. Berjam-jam di kafe membuat wajahnya sedikit berminyak dan lipstiknya hilang akibat makan dan minum. Padahal dulu, saat bersama mantan kekasihnya. Ia sering melakukannya, tapi entah kenapa di depan Ezra, ia menjadi segan dan menjaga sikap di depan pria itu. Mantannya bahkan bertanya, apakah lipstick ada rasanya? Karena bisa merasakannya saat mereka berciuman. Yah, Aisyah memang sudah seketerlaluan itu, ia sudah sampai melakukan skinship yang sudah jauh melewati batas tetapi ia measih menjaga keperawanannya sampai sekarang. Mau tidak mau, Aisyah mengambil bedaknya lalu mengoleskannya sedikit di wajahnya lalu berikutnya mewarnai bibirnya dengan lipstick tepat di depan Ezra. Ezra yang menyadari apa yang dilakukan Aisyah, melirik ke luar jendela dengan salah tingkah. Seharusnya mengikuti saran Aisyah untuk keluar duluan, tadi. Tak ada yang berbicara sampai mereka masuk ke dalam mobil menuju supermarket. Aisyah benar-benar kehabisan stok barang, bahkan kulkasnya kosong akibat tidak pernah berbelanja. Setelah resign ia jarang sekali pergi ke supermarket dan lebih sering makan makanan pesan antar. Satu troli sudah penuh dengan  bahan makanan, Aisyah melihat catatan barang di ponsel. Hana tinggal beberapa lagi hampir lengkap. Mereka berbelok ke sebuah rak yang berisi pembalut wanita, Aisyah tidak tahu apa reaksi Ezra karena ia hanya berjalan dan mengambil dua bungkus pembalut lalu buru-buru berjalan keluar dari rak itu. Ketika sampai di kasir, Aisyah melihat seorang perempuan yang sedang hamil juga mendorong trolinya ke arah mereka. Aisyah dengan senang hati memberikan antriannya kepada wanita hamil itu. “Eh, kamu nggak takut sama dia. Ay?” tanya Ezra. Ay, panggilan baru Ezra untuk Aisyah karena lidahnya masih terbelit saat memanggil nama gadis itu. “Hah? Takut kenapa? Masa takut sama orang hamil, Za? Ada-ada aja.” Jawab Aisyah lalu tersnyum kecil. Ezra mengerutkan kening karena perkataan Aisyah, kemudian memperhatikan wanita yang mendahului mereka itu dengan seksama. Aisyah melirik Ezra, tampak pria itu sedang serius menatap ke depan. “Za. Kamu bisa tolong antrikan belanjaanku ya. Aku bantu wanita itu dulu.” Ezra melebarkan mata, ia tidak berhasil menggapai tangan Aisyah sebelum gadis itu pergi membantu wanita hamil yang mengambil antrian mereka. Sebenarnya, Ezra tidak pusing dengan itu tetapi, Aisyah tampak terlalu baik kepada wanita itu. Padahal wanita yang ia tolong itu memakai penutup kepala, seperti yang dikatakan Jeff mereka bisa saja seorang teroris yang menyamar. Setelah selesai, Ezra menuju tempat parkir. Ia mendapati Aisyah sedang berbincang-bincang dengan wanita itu. Ezra menatapnya tajam, sedikit gelisah karena Aisyah sangat dekat dengan wanita itu. “Pacar kamu kelihatannya tidak suka sama saya, dari tadi dia menatap saya seperti itu.” Bisik wanita itu kepada Aisyah. Aisyah langsung berbalik kepada Ezra dan menyuruhnya untuk ke mobil terlebih dahulu dan tanpa diulang, pria itu langsung mengikuti perkataannya. “Dia bukan pacar saya, Mbak. Maaf kalau tatapan teman saya mengganggu, dia sebenarnya orang baik.” Ucap Aisyah, ia juga sedikit bingung atas sikap Ezra yang terlihat sangat defensif. “Iya, sekali lagi terimakasih telah menolong saya.” Ucap wanita itu lalu masuk ke dalam mobilnya. Aisyah sendiri berjalan mencari mobil Ezra. “Makan di tempat biasa atau cari yang lain?” tanya Aisyah mengakhiri keheningan dari mereka. “Di tempat lain aja, cari menu baru yang bukan seafood.” Aisyah mengangguk lalu memikirkan sejenak tempat makan yang bisa mereka kunjungi. “Mau coba makanan khas Indonesia?” “Boleh.” Ezra mengangguk pelan. Ia segera mengrahkan mobil sesuai petunjuk arah dari Aisyah. Setibanya di sana, Aisyah dan Ezra langsung memesan. Ada label halal di luar restoran, Aisyah jug sering mengunjungi restoran ini jika sedang ingin makan makanan Indonesia. Aisyah langsung masuk ke dalam restoran, ia mengatakan kepada Ezra jika ia ingin ke toilet tapi sebenarnya ingin melaksanakan shalat magrib. Di restoran itu juga meyediakan mushalla kecil karena pemiliknya juga orang islam. … “Aisyah…” panggil seseorang. Aisyah menoleh saat mendengar orang memanggil namanya. “Wah, ternyata benar-benar kamu. Sudah lama kita nggak ketemu, sudah ada gandengan baru ternyata.” Aisyah tersenyum kecil. “Terakhir kita ketemu pas kamu bersama dengan Dae-Ho, bukan?” Aisyah memaki dalam hati, kenapa juga harus mengungkit nama yang sudah ia lupakan itu. Sementara Ezra sibuk mencicipi coto Makassar yang ia pesan khusus untuk Ezra. Naya adalah salah satu temannya, mereka tidak sengaja bertemu saat shalat bersama di salah satu masjid di Seoul. Sekarang benar-benar saat yang tidak tepat untuk bertemu dengan Naya, karena ia belum siap menceritakan keyakinannya kepada Ezra. Ia sudah menebak-nebak sikap Ezra yang tadi sangat defensive kepadanya, itu kemungkinan karena ia menolong wanita yang memakai jilbab. “Eh, kamu makan di sini juga, Nay?” “Iya, tapi udah mau pulang. Hati-hati, ya Aisyah. Jangan sampai  apa yang terjadi antara kamu dan Dae-Ho terulang, aku tidak mau kamu masuk tv nasional untuk kedua kalinya.” Ucap Naya. Aisyah ingin sekali mengusir Naya agar cepat-cepat pulang, tapi gadis itu mengamati Ezra. Seolah-olah mengulitinya, Naya merupakan salah satu teman yang sangat  selektif memilih teman, termasuk teman dari temannya. “Oh Iya, kenalin in, Ezra. Ezra ini Naya.”  Ezra hanya tersenyum, “Saya, Ezra. Maaf tangan saya kotor.” Naya hanya menatap Aisyah dengan tatapan bertanya, ia juga tidak mengulurkan tangan karena memutuskan untuk tidak lagi menyentuh lawan jenis karena jelas berdosa. “Iya, nggak apa-apa. Aku duluan, Aisyah. Permisi.” Aisyah mengangguk, lebih bagus lagi jika Naya buru-buru pergi. Ia merasa sangat canggung setelah kepergian Naya, entah kenapa kecanggungan mereka kembali setelah cair saat di mobil tadi. “Udah, Ay. Makan, makannya mulai dingin. Selesai makan kita langsung pulang.” Ezra menghabiskan makannnya. Kali ini, giliran Aisyah yang membayar makanan, setelah belanjaannya di bayarkan oleh Ezra. Aturan saling bayar ini tercipta secara kebetulan setelah mereka semakin intens bertemu. Aisyah merasakan sikap Ezra sedikit berubah pendiam, setelah bertemu kedua perempuan tadi. Aisyah merasa jka ia harus menyiapkan penjelasan panjang ketika nanti Ezra betanya, apalagi saat mengingat pernyataan Ezra saat akan membantu wanita hamil tadi tentang rasa takut yang ditanyakan pria itu.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD