Takdir Allah 21 - Pounding

2114 Words
Setelah dari Gyeongbokgung Palace, Aisyah dan Ezra menuju halte bus. Mereka memutuskan untuk naik bus untuk sampai ke tempat selanjutnya. Cheonggyecheon Stream, sungai yang juga banyak dikunjungi oleh turis lokal maupun internasional. “Aisyah, kamu duduk saja. Biar aku yang berdiri.” Bisik Ezra. Aisyah mengangguk lalu mengambil tempat duduk di satu-sautnya bangku yang tersisa. Ternayta cukup banyak orang yang naik bus. Ezra sendiri sudah berdiri tidak jauh dari tempat Aisyah duduk. Mereka tidak jadi naik mobil karena lupa mengisi bensin dan ketika ingin pergi dari Istana tadi, bensin di mobil Ezra hampir habis. Karena tidak ingin membuat Aisyah menunggu, ia memutuskan untuk menaiki alat transportasi umum dan Aisyah memilih naik bus. Aisyah melirik Ezra yang sedang berdiri. Dia tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat wajah Ezra yang juga sedang menatapnya. Mereka saling melempar senyum dengan jantung yang berdebar. Tidak mau lebih gila lagi, Aisyah memilih mengalihkan pandangan lalu mengeluarkan ponselnya dan bermain game, walaupun pikirannya fokus memikirkan pria yang sedang menatapnya dari arah belakang. Beberapa menit kemudian, satu pesan masuk ke ponselnya. Ezra Elwyn : Kapan kita turun? Aisyah : Di halte depan, lalu naik bus 1 kali lagi. Aisyah memutar tubuhnya kembali menghadap Ezra, pria itu mengangguk pelan dan menyuruhnya berhati-hati karena sedang memegang ponsel saat bus sedang penuh. Aisyah mengangkat tangannya membentuk tanda oke dengan jemarinya. Penumpang yang turun di halte bus itu cukup banyak, membuat Aisyah juga agak kesulitan keluar. Ezra yang menyadari hal itu langsung menggapai tangan Aisyah. Aisyah hampir menghempaskan tangan yang baru saja memegangnya ketika menyadari itu adalah Ezra, ia menempelkan dompetnya alat pembayaran otomatis yang ada di dekat supir bus dua kali lalu turun dengan tangan yang masih bertautan dengan tangan Ezra. Setelah keluar dari bus, Ezra membawa Aisyah menepi di halte bus. Aisyah berinisiatif mengeluarkan air mineral yang sebelumnya siapkan sebelum berangkat. Ia juga mengeluarkan kotak bekal kecil berisi kimbab yang ia buat sendiri. “Tanganku kotor dan aku tidak bisa menggunakan sumpit.” Ucap Ezra ketika Aisyah memberikan kotak bekal itu kepadanya. Aisyah lalu tertawa kecil, ia mengambil satu buah kimbab untuk menyuapi Ezra. “Eh,” Ezra membuka mulutnya lalu mengunyahnya perlahan, sedikit kaget karena perbuatan Aisyah. Keadaan halte itu sepi, hanya ada satu orang siswa yang tampak sibuk sendiri dengan ponsel yang ia bawa. Setelah itu, Aisyah mengambil kimbab untuk dirinya. “Enak, dimana kau membelinya?” tanya Ezra. “Aku membuatnya sendiri.” Jawab Aisyah lalu kembali menyuapi Ezra. Pria itu sukarela membuka mulutnya lebar-lebar ketika diberikan oleh Aisyah. Mereka makan untuk mengisi energi yang terkuras karena berjalan-jalan. Ketika suapan ketiga bus yang akan mengantar mereka ke taman sudah datang. Aisyah memberikan air mineral baru kepada Ezra yang langsung dihabiskan pria itu. Ia meminum air mineral miliknya, menutup kembali kotak bekalnya lalu dimasukkan ke dalam tas. “Ternyata kau membawa banyak persiapan. Segitu senangnya akan jalan denganku?” goda Ezra. Aisyah menatap Ezra galak, “Tidak, aku hanya membuatnya untuk bejaga-jaga tidak diberi makan olehmu. Jadi, aku bisa makan bekalku.” Ezra tertawa lepas, ia mengacak rambut Aisyah gemas. Mereka naik ke dalam bus dan terkejut begitu bus itu sangat padat. Bahkan tidak ada tempat duduk kosong, dan rata-rata penumpang yang baru naik akan berdiri. “Penumpang bis ini sangat padat, kamu jangan jauh-jauh dari aku, oke.” Bisik Ezra. Aisyah mengangguk. Jantung Aisyah berdebar-debar untuk kesekian kalinya, apalagi saat kedua tangan Ezra memegang pagar pembatas saat ia sedang naik di bus. Menghalangi jika ada seseorang yang akan menyerobot antrian naik. Aisyah merasa seperti dipeluk Ezra dari belakang, apalagi sesaat punggungnya menempel di d**a Ezra. Ketika bus berangkat, mereka harus memegang besi yang ada di bus dan pegangan yang berada di atas kepala mereka. Posisi Ezra berada tepat di belakang Aisyah. Mereka memilih berdiri di bagian belakang bus yang tadi masih memiliki ruang yang cukup luas untuk mereka berdua. Namun, keadaan berubah saat bus berhenti di halte berikutnya. Penumpang sangat padat sehingga membuat mereka berdiri sangat berdekatan. Ezra berinisiatif untuk mengganti posisinya untuk bediri di depan Aisyah, untuk melindungi gadis itu agar tidak didesak-desak oleh penumpang lain. Namun, posisi Ezra harus bergeser karena ada banyak penumpang lagi yang masuk, sehingga Aisyah harus mundur sampai punggungnya menempel di jendela bus sebelah kiri. Aisyah tahu, ini bukan saatnya untuk berdebar-debar seperti ini, tapi ia tidak bisa mengontrol debaran jantungnya saat tubuh Ezra sudah dekat sekali dengannya, hingga jika Aisyah bergerak sedikit saja, dadanya pasti mengenai perut Ezra. ‘Astaga. Jika seperti ini, aku lebih memilih naik mobil seperti tadi.’ Gumam Aisyah dalam hati. Aisyah bahkan bisa mencium aroma tubuh Ezra. Walaupun sudah berkeliling seharian dan sudah hilang akibat bercampur dengan keringat, Aisyah masih dapat mencium aroma parfurm Ezra. Aisyah perlahan mengangkat kepalanya dan matanya langsung tertuju kepada dagu Ezra. Aisyah menelan ludah saat melihat rambut tipis yang sudah dicukur. Ternyata perkataan Rere benar, dagu Ezra seksi. Aisyah yang terlalu memperhatikan Ezra dan mendendorkan pegangannya, sehingga saat bus tiba-tiba berhenti, wajah Aisyah langsung menghantam d**a Ezra, setelah itu kepalanya sedikit menghantam kaca akibat pantulan gerakan bus yang berhenti. “Kamu nggak apa-apa, Aisyah?” tanya Ezra yang khawatir langsung memegang sisi kanan kepala Aisyah. “Kepalaku, kehantam kaca sama d**a kamu.” Aisyah mengusap bagian belakang kepalanya yang sedikit sakit. Ezra terkekeh, “Ya, sudah. Aku pegangin kepala kamu, biar pas bus berhenti nanti tangan aku yang lindungin kepala kamu.” Aisyah melihat kanan kirinya, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak begitu memperhatikan mereka. Aisyah menatap Ezra, sepertinya ada yang salah dengan Ezra, ya? “Boleh, ya? Dari pada kamu terhantuk empat kali?” bisik Ezra pelan lalu benar-benar memposisikan tangannya di bagian belakang kepala Aisyah. Akhirnya, Aisyah mengangguk setuju. Bus kembali berjalan, Aisyah menarik ponselnya dari saku. Sementara pikirannya terus memikirkan tangan Ezra yang memegang kepalanya. Jika dilihat dari depan posisi mereka seperti dua orang yang sedang berpelukan. “Kita turun di halte berikutnya.” Ucap Aisyah. Ezra sendiri sudah sangat gugup sejak tadi. Ini pertama kalinya ia naik bus, dia hanya pernah melihatnya dari siara tv dan baru hari ini menaikinya. Belum lagi, ia menaikinya  bersama Aisyah. Ini pertama kalinya ia melakukan ini kepada seorang wanita. Sebelum ini, dia dekat wanita hanya karena bertemu di kelab atau saat one night stand. Bersama Aisyah membuatnya seperti menjadi orang yang berbeda, gadis ini sangat menarik perhatiannya. Ezra memperhatikan wajah Aisyah yang tampak sedikit memerah. Pipi gadis itu sangat membuatnya gemas, membuatnya ingin mencubit tetapi sejak tadi ia tahan karena takut jika terlalu berani. Apalagi mereka baru saja dekat setelah satu bulan jarang bertemu. … Setelah puas mengelilingi Cheonggyecheon Stream dengan berjalan kaki, mereka berdua beristirahat di sebuah café. Ezra sendiri hanya memesan coffe, sementara Aisyah memesan Hot chocolate and cheese cake. Matahari sudah tenggelam saat mereka masuk ke café itu. Aisyah merasakan ponselnya bergetar pelan, ia memeriksanya dan ternyata itu pemberitahuan waktu shalat. Ia segera sadar jika ia tidak melaksanakan shalat ashar karena terlalu asyik berkeliling. Beruntung café yang mereka masuki, menyediakan mushollah kecil-kecilan karena pemiliknya adalah orang islam, dari yang Aisyah dapatkan di keterangan café. “Za, aku permisi ke toilet sebentar.” Ucap Aisyah. “Aku boleh titip dompet sama jam tangan?” “Yup. Silahkan.” Aisyah membawa serta tasnya, lalu menghilang saat berbelok menuju bagian café yang lain. Ezra masih bingung, kenapa Aisyah selalu membawa tasnya saat ingin pergi? Malah gadis itu menitipkan dompet beserta jam tangan kepadanya. ‘Sebenarnya apa isi tas itu? Apakah sangat penting sehingga Aisyah membawanya kemana-mana?’ gumam Ezra dalam hati. Lima belas menit kemudian Aisyah kembali dengan keadaan wajah yang terlihat lebih segar. Wajah gadis itu terlihat kembali cerah setelah seharian berkeliling. Aisyah segera meminum cokelat panasnya yang sudah berubah hangat dengan kue yang ia pesan. “Makasih, sudah dijagain.” Ucap Aisyah. “Sama-sama. Lagipula, sudah keharusa untuk melindungi seorang gadis cantik sepertimu.” Balas Ezra. Aisyah tertawa, “Maksudku untuk dompet dan jam tanganku.” Ezra refleks mencubit kedua pipi Aisyah, membuat gadis itu terkejut. “Aduh, dari tadi pagi aku gemas banget sama kamu. Akhirnya bisa nyubit juga.” Ucap Ezra lalu terkekeh pelan. “…tapi, pipi kamu malah tambah merah.” Aisyah berdehem pelan, ia besyukur karena musik di café ini cukup keras. Jika tidak, Ezra pasti akan mendengar suara detak jantungnya yang berdebar tidak karuan setelah apa yang dilakukan pria itu. Aisyah mengelus pipinya pelan, “Sakit, Za! Kamu nyubitnya kekencengan makanya merah.” “Jangan nuduh, sudah merah sejak tadi. Cubitanku hanya sedikit dan tidak sesakit itu.” Ucap Ezra membela diri. “Aduh, kenapa wajah kamu jadi merah semua.” Aisyah hanya menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Ia benar-benar malu dan salah tingkah, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang pria, apalagi saat jalan-jalan seperti ini. Biasanya, pria yang mendekatinya akan mengajaknya makan di restoran mewah, lengkap dengan rayuan pria itu. Tetapi, Ezra tidak. Ia seperti benar-benar melakukan kencan yang selama ini ia inginkan. … Ezra meminum kopinya di atas meja, tubuhnya panas dingin apalagi sejak mencubit kedua pipi Aisyah. Rasanya bahkan masih tertinggal di ibu jari dan telunjuknya. Jantung Ezra berdebar kencang, padahal hanya mencubit pipi Aisyah dan rasanya sudah dasyat seperti ini. Rasanya seperti tersetrum saat menyentuh pipi kenyal gadis itu. Ezra benar-benar merasakan kasmaran seperti anak usia belasan tahun padahal usianya sudah dua puluhan. Ezra menatap Aisyah yang melihatnya masih dengan kedua tangan menutupi wajah, hanya mata gadis itu yang kelihatan. Sikap Aisyah juga membuatnya takjub hari ini, mereka hampir tidak sama sekali menggunakan uang untuk berbelanja jika bukan membayar parkir atau membeli makanan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan acara jalan-jalan mereka. Dulu, saat bersama mantan-mantan kekasihnya, sehari akan menghabiskan ratusan ribu dollar hanya untuk makan dan berbelanja. Tebakannya benar, Aisyah adalah gadis baik-baik. Bahkan mereka harus berdebat untuk membayar makanan yang tidak seberapa untuk Ezra. Ezra sangat bisa membayar makanan yang mereka pesan, tetapi ia tidak bisa mengalahkan Aisyah. Bahkan, jika Aisyah memintanya untuk membelikan mobil sekarang juga, ia pasti mengabulkannya. Tapi, untuk makanan yang tidak sampai 20 dollar pun mereka harus berdebat.   Karena terlalu lelah, mereka akhirnya naik taxi menuju Myoendong Night market. “Mobilmu, bagaimana?” tanya Aisyah. Ezra yang sedang menyandarkan tubuhnya di kursi sembari melihat pemandangan kota Seoul saat malam, memalingkan wajahnya ke arah Aisyah. “Aku akan menuruh orang untuk mengambilnya, besok.” Jawab Ezra. Aisyah tersenyum, “Apa kau sudah lelah? Aku ragu kau bisa berjalan lagi.” “Belum. Tidak terasa lelah jika sedang bersamamu.” Jawab Ezra jujur. Aisyah hanya menanggapi ucapan Ezra dengan decakan, lalu menggelengkan kepala pelan. Dua puluh menit kemudian mereka sampai, sedikit terlambat karena lalu lintas cukup padat karena waktu makan malam dan waktu pulang kantor. “Kau sudah pernah ke tempat ini?” tanya Ezra. “Pernah, tapi tidak sering. Mungkin dua atau tiga kali setahun, saat ada waktu kosong aku akan beristirahat.” Jawab Aisyah. Mereka mulai mencicipi banyak makanan, yang pertama Aisyah coba saos sate, dengan campuran daging, sosis dan sayuran. Sementara Ezra memakan makanan berat dengan campuran, udang, cumi dan kerang. “Apakah enak?” Ezra langsung menyuapi Aisyah, untuk mencoba makanan itu. “Eh, jangan, Za. Sendoknya kan cuma satu.” Ucap Aisyah menolak. Ezra tetap kekeh, “Aku bukan penggila higenis sampai jijik kalau sendoknya sudah di pake orang lain. Memangnya kamu penyakitan?” “Ya, nggak. Tapi, kan…” “Aaaaa.” Aisyah akhirnya memakan nasi yang sudah di campur dengan kerang dan cumi. Ia melebarkan mata, ternyata makanan yang dipesan Ezra sangat enak. Aisyah juga memesan makanan yang sama. Ia melirik Ezra yang masih asyik menatap makanannya. Aisyah melirik sendok yang sedang dipegang Ezra. Ia merasa ciuman secara tidak langsung, karena telah memakai sendok yang sama dengan pria itu dan Ezra benar-benar tidak mempermasalahkannya. “Aisyah, kamu tahu yang mereka makan itu apa?” tanya Ezra yang sedang melihat beberapa orang yang tidak jauh dari meja tempat mereka makan. Aisyah melirik, segera tahu apa yang mereka makan. Orang-orang yang dilihat oleh Ezra sedang memanggang daging dan memakannya dengan daun setelah di celup saus. “Itu bossam (perut babi yang diiris baru direbus) dimakan dengan daun selada atau daun perilla. Sedangkan yang di atas panggangan itu, sepertinya samgyeopsal (perut babi yang dipanggang) dimakan dengan saus, hampir sama dengan bossam.” Jawab Aisyah. “Mereka terlihat sangat lahap memakannya, apakah itu enak?” “Kata temanku itu sangat enak, tapi aku tidak pernah memakannya.” Aisyah menghabiskan jus apel yang telah ia pesan. “Kenapa?” Aisyah menatap Ezra, “Aku tidak makan babi, Za. Kau ingin mencobanya?” “Tadinya mau, tapi karena kau tidak memakannya, tidak jadi.” Jawab Ezra. “Nah, sekarang kita kemana lagi?” Suasana di sekitar mereka sangat ramai, banyak orang berjalan sendiri, bersama teman atau kekasih mereka. Para penjual dipenuhi oleh pelanggan yang sedang antri. Satu persatu mencari meja kosong ketika sudah mendapatkan pesanan. “Jalan-jalan sebentar baru pulang?” Ezra setuju, “Oke.” Aisyah berdiri dari mejanya, ia membawa bekas makanan kotor ke tempat yang sudah di sediakan. Di tengah jalan, Aisyah berhenti di salah satu gerai untuk membeli tornado potato. Ia membeli dua dan memberikan satu lagi kepada Ezra. “Aku baru liat kentang goreng begini.” Ezra tertawa, merasa kentang goreng yang ia pegang sangat unik. Sebelum benar-benar pergi dari tempat itu, Aisyah membeli beberapa makanan lagi, salah satunya Boong-uh-ppang (roti ikan emas berisi ice cream) sementara Ezra membeli fish cake, makanan kesuakaan pria itu. Mereka duduk berdampingan di sebuah taman, menghabiskan makanan mereka. Mereka sibuk dengan pikiran dan gemuruh suara hati masing-masing. Mereka sama-sama berdebar. Sesekali mereka berdua saling melempar senyum salah tingkah. Aisyah benar-benar merasa kembali ke masa pertama kalinya jatuh cinta, perasaan berdebar-debar yang sama. Bersamanya, Ezra juga merasakan hal yang sama, inilah yang ia rasakan ketika pertama kali saat menyukai seorang gadis untuk pertama kali.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD