Merasa jika Aisyah agak lama, Ezra keluar dari mobil lalu mengikuti arah kemana tadi Aisyah berjalan menuju bangunan yang cukup besar itu. Ketika masuk, Ezra melihat taman kecil dengan pohon rindang, terlihat nyaman untuk beristirahat.
Ezra terus berjalan, ia mencari kamar kecil. Mungkin bangunan ini memilikinya karena Aisyah pergi cukup lama mungkin untuk melakukan hal yang sama. Setelah berjalan cukup jauh, Ezra menemukan toilet.
Ezra mencuci tangan di wastafel, terdapat beberapa pria juga masuk ke dalam bilik toilet pria, mereka rata-rata membersihkan anggota tubuh mereka di depan sebuah air yang mengalir. Ezra mengabaikannya karena tidak mengerti.
“Excuse me, Sir. Tapi, anda harus melepas alas kaki anda sebelum naik.” Tegur seorang pria paruh baya kepada Ezra.
Ezra refleks berhenti melangkah, ia sedang melihat-lihat bangunan itu. Ia langsung melepas sepatunya dan melanjutkan berkeliling. Ezra mengamati pria paruh baya yang menegurnya, orang itu memakai pakaian yang terlihat seperti jubah panjang hingga mata kaki.
Dengan menggunakan topi bulat di sekeliling kepala dan juga membawa kain tebal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, mirip karpet tapi berukuran kecil. Pria paruh baya itu lantas tersenyum saat di amati oleh Ezra.
“Sepertinya kau seorang tamu dan tidak mengetahui tentang tempat ini. Apa kau sedang mencari sesuatu atau seseorang?” tanya pria itu.
“Saya sedang mencari teman saya yang tadi pergi ke arah tempat ini, tapi sepertinya saya tidak menemukannya.” Jawab Ezra.
Pria itu tersenyum, “Perkenalkan nama saya, Ali.”
Ezra menerima uluran tangan pria itu dengan sopan, “Ezra.”
Perawakan Ezra yang sangat kental dengan pria khas eropa membuat pria itu tahu, jika Ezra tidak mengetahui apapun tentang bangunan ini dan mungkin ini pertama kalinya Ezra datang ke tempat ini.
Tiba-tiba ponsel Ezra berbunyi, nama Aisyah berkedip-kedip di layar ponselnya.
“Kamu dimana, Za? Aku udah di mobil tapi kamu nggak ada di dalam.” Tanya Aisyah.
Ezra tersenyum sejenak kepada pria yang sedang mengajaknya berbicara lalu menjauhkan ponselnya. “Permisi, Pak. Teman saya ternyata sudah ada di depan.” Ucap Ezra lalu pergi dari tempat itu.
“Aku cari kamu di dalam. Ternyata sudah di depan.” Ucap Ezra begitu mendapati Aisyah berdiri di dekat mobilnya.
Ezra segera membuka mobil lalu masuk ke dalam. Ia melirik tas yang Aisyah bawa, cukup besar. Namun, urung menanyakan apa isinya karena tidak sopan.
“Kamu ngapain di sana?” tanya Aisyah kaget ketika sudah berada di dalam mobil.
Ezra yang sedang memasang seatbelt menoleh, “Cariin kamu, takut ada apa-apa. Ternyata kamu sudah duluan di sini.”
“Aku bukan dari situ, Za. Tapi, bagian yang di depannya. Tadi kamu ngapain aja pas masuk di sana?” tanya Aisyah penasaran.
“Eh, di sapa sama bapak-bapak, tapi dia pake baju aneh.” Jawab Ezra sembari mengemudikan mobilnya di jalan raya.
Aisyah tertawa kecil, “Aneh bagaimana?”
“Pokoknya aneh, ini pertama kali aku melihatnya.” Jawab Ezra.
Aisyah yang bingung pun hanya mengerutkan kening, ia masih penasaran tetapi karena Ezra fokus menyetir ia tidak mengatakan apapun. Aisyah juga bersykur karena Ezra tidak menanyakan hal macam-macam kepadanya.
Tetapi, jika pria itu bertanya, Aisyah akan menjawab dengan jujur. Ia tidak akan lagi menyembunyikan agama yang ia anut. Padahal, Aisyah sudah menyiapkan diri jika Ezra akan bertanya tetapi, pria itu hanya diam dan fokus menyetir.
Setengah jam kemudian, mereka sampai di Gyeongbokgung Palace. Mereka membayar 3 ribu won untuk satu orang agar bisa masuk ke tempat wisata itu. Ezra gentian membayarkan tiket Aisyah.
Mereka disambut oleh salah satu staf yang sudah menjelaskan dan memberikan mereka selembar kertas sebagai petunjuk arah. Saat mereka tiba, bersamaan dengan sebuah pertunjukan.
“Nah, ini pihak istana sedang melakukan upacara penggantian penjaga Istana.” Ucap salah satu orang staf.
Aisyah dengan senang hati menerjemahkan apa yang dikatakan staf itu agar Ezra mengerti. Sejak tadi, mereka terus berbicara dengan Bahasa Indonesia. Jika bisa dengan Bahasa sendiri, kenapa harus menggunakan Bahasa inggris, yah, walaupun memang mereka berdua menguasai keduanya.
“Istana Gyeongbok menyimpan banyak sejarah. Dimana pada saat masa lalu, banyak terjadi perang dan membuat istana ini sering dihancurkan oleh musuh. Bangunan Istana Gyeongbok mulai didirikan oleh seorang arsitek bernama Jeong do jeon pada tahun 1394. Istana ini kemudian hancur pada saat invasi Jepang ke Korea tahun 1592-1598 dan dibangun kembali selama tahun 1860-an. Pada tahun 1895, Raja Gojong meninggalkan istana Gyeongbok bersama seluruh keluarganya sehingga membuat Gyeongbokgung menjadi kosong tidak berpenghuni.
Pada tahun 1911, Istana Gyeongbok kembali dihancurkan oleh pemerintahan Jepang yang sedang menjajah Korea. Akan tetapi tidak semuanya hancur, ada 10 bangunan utama, dan membangun Bangunan Pemerintahan Utama Jepang untuk gubernur jenderal Korea di depan Ruangan Tahta. Akan tetapi kemudian arkeolog berhasil merenovasi bangunan dan dibuat kembali seperti asalnya dan selesai pada tahun 2009.”
Aisyah mengangguk pelan, ia kembali menerjemahakan satu-persatu dari kalimat tour guide yang sedang mengatar mereka berkeliling.
“Bangunan yang digunkaan untuk hunian keluarga kerajaan ini memiliki luas 410.000 meter2. Didalamnya terdapat 330 buah komplek bangunan dengan 5.792 kamar. Bangunan utama terdiri dari Istana Gyeongbok termasuk Geunjeongjeon. Ada juga ruangan lain, yaitu Ruangan Tahta Raja dan Paviliun Gyeonghoeru yang memiliki kolam bunga teratai.”
Terang staf itu, setelah berkeliling mereka singgah di sebuah tempat kecil yang cukup ramai. Beberapa orang keluar dari ruangan itu dengan memakai hanbok, pakaian tradisional korea.
Ketika di antar masuk ke tempat itu, tubuh Aisyah tidak sengaja di dorong oleh seseorang dan mengakibatkan ia hampir terjatuh tetapi Ezra refleks menarik tangannya.
Ezra hampir saja mengeluarkan protesnya untuk berhati-hati ketika orang yang mendorong Aisyah itu buru-buru meminta maaf. Aisyah hanya menarik napas lega karena tidak jadi terjatuh.
“Terimakasih. Untung kau menarikku, jika tidak. Aku akan menjatuhkan semua manekin yang ada di tempat ini.” Ucap Aisyah.
Mereka masing-masing memakai pakaian tradisional itu. Mereka sesekali berfoto, mengabadikan momen saat memakai pakaian itu di tempat-tempat yang terlihat bagus.
Pasangan paruh baya menawarkan untuk memotret mereka bedua yang langsung diterima dengan senang hati. Mereka berdiri di depan sebuah pintu lalu berdiri dengan berdekatan.
Ezra memberanikan diri untuk merangkul bahu Aisyah. Seketika gadis itu menoleh penuh tanda tanya kepada Ezra tetapi pandangan laki-laki itu fokus ke depan.
“Silahkan ganti pose.” Ucap seorang yang membantu mengambil foto mereka berdua.
Karena canggung, mereka kembali dalam posisi berdiri dan tersenyum. Teman orang yang sedang mengambil gambar mereka berseru gemas, lalu menuju ke arsah mereka berdiri. Mengarahkan beberapa pose yang manis dan romantis.
“Kalian manis sekali, sedang honeymoon? Semoga setelah ini kalian makin mengenal satu sama lain, karena sekarang masih canggung dan kaku.” Ucap pria paruh baya itu setelah memberikan ponsel milik Ezra, lalu menggandeng pasangannya menjauh dari mereka.
Sementara Ezra hanya bingung, tidak mengerti apa yang mereka katakan. Aisyah hanya menanggapinya dengan menepuk keningnya pelan, kenapa dari kemarin orang-orang selalu mengiranya sudah menikah dengan Ezra?
“Apa yang mereka katakan?” tanya Ezra setelah memeriksa foto.
Aisyah mengerucutkan bibir, “Mereka mengatakan kau terlalu tinggi jadi fotonya tidak terlalu bagus.” Jawabnya lalu menjauh menuju sebuah gerai yang menjual minuman.
Beberapa saat kemudian, Ezra sadar jika yang diaktakan Aisyah hanya bohong. Ia mengejar gadis itu lalu menarik rambutnya pelan, mendahuluinya menuju gerai minuman.
“Hei! Curang!”
Aisyah balas mengejar Ezra, menggelitik pria itu tepat di pingganggnya. Lalu kemudian mereka pecah dalam tawa karena saling membalas satu sama lain. Ini adalah salah satu kejadian yang membuat mereka semakin dekat dan akrab, semakin tertarik satu sama lain.