Ezra meninju dinding ketika pintu apartemennya tertutup. Perasaannya campur aduk, antara bahagia, menyesal, emosi dan sedih. Ezra duduk di depan pintu, kejadian barusan terulang terus seperti kaset rusak di kepalanya.
Ezra menghembuskan napas panjang, kembali membuka pintu apartemennya dan berjalan tergesa ke apartemen Aisyah. Tapi, gerakannya terhenti saat akan memencet bel, Ezra menurunkan tangannya yang akan memencet bel. Ia kembali ke dalam apartemennya duduk seperti semula.
Ezra mengetatkan rahangnya, ia emosi sekali. Tangan kanannya terluka cukup parah sesudah memukul dinding. Ezra membiarkan darah dari tangannya menetes, rasa sakit ditangannya tidak sebanding dengan apa yang di arasakan.
“Berengsek! Kenapa juga aku harus terpengaruh kata-kata Jeff!” Ezra mengumpat.
Ingin rasanya ia masuk ke apartemen Aisyah, menjelaskan kepapa ia bersikap seperti itu. Tetapi, sikapnya barusan seperti seorang pria berengsek. Meninggalkan Aisyah setelah menepis tangan gadis yang ia cintai.
Ezra mengambil ponsel dari saku celananya ketika merasakan benda pipih itu bergetar. Ketika melihat nama Jeff muncul di layar, Ezra melempar ponselnya hingga hancur berkepiping-keping.
Ezra membuka dasinya lalu melemparnya ke sembarang tempat, ia memutuskan untuk membersihkan diri. Ezra berdiri di bawah shower, membiarkan tubuhnya di siram air dingin.
Buku-buku jarinya memutih, Ezra membiarkan jarinya perih terkena air dingin. Ia sudah satu jam berdiri dan tidak bergerak dari tempat itu. Wajahnya memucat karena terlalu lama berada di bawah pancuran air.
Ezra, kau laki-laki berengsek! Gumamnya dalam hati.
Hati dan pikirannya saling bertolak belakang, logikanya mengatakan ia harus menjauhi Aisyah tetapi hatinya mengatakan ia harus meminta maaf kepada gadis itu.
Ezra menyudahi kegiatan mandinya, ia keluar dari kamar mandi. Tubuhnya menggigil saat berjalan menuju lemari pakaian. Ezra memakai baju kaos dan celana pendek lalu berbaring di atas tempat tidur.
Kepalanya pening karena belum makan sejak tadi siang. Sementara sekarang sudah hampir malam, Ezra menghabiskan waktunya dengan melamun. Andai saja, kejadian ini tidak terjadi, ia sangat senang membayangkan saat ia mencium Aisyah.
Bibir gadis itu sangat kenyal dan lembut, belum lagi rasa chery yang membuatnya sangat suka berlama-lama mengulum bibir Aisyah. Ezra menghentikan pikirannya sebelum terlalu jauh membayangkan, ia sangat miris dengan kondisinya sekarang.
Setelah berjam-jam, menyesal. Ezra akhirnya mencari informasi lebih jauh tentang agama yang dikatakan Aisyah. Setelah membaca informasi yang jauh tenggelam di bawah, ia menemukan bahwa agama itu ternyata sangat baik, tapi itu tidak lagi berguna karena sikapnya pada Aisyah sudah sangat keterlaluan.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Ezra kepada dirinya sendiri.
Ezra membaringkan tubuhnya di tempat tidur, ia menambil ponselnya lalu memainkannya di atas tempat tidur. Ezra membuka media sosialnya, aplikasi yang sangat jarang ia buka, di sana ia terkejut melihat nama Aisyah tertera di notifikasi menyukai foto yang baru saja ia perbarui.
Ezra membuka akun i********: milik Aisyah, gadis itu memiliki seribu lebih foto yang manyoritas hanya menampakkan bentuk-bentuk kue keju dan gelas coklat.
Ezra hanya menemukan beberapa foto Aisyah, yang paling baru adalah saat mereka pertama kali pergi bersama. Ezra membuka foto yang hanya menampilkan semburat senja yang berwarna jingga.
Thanks for make me happy, today…
Ezra diam-diam tersenyum membaca foto itu, ia tidak menyangka jika Aisyah akan menulis seperti itu di media sosialnya. Foto itu mendapat ribuan like dan beberapa komentar.
Kening Ezra berkerut ketika ia membaca beberapa komentar yang membuatnya tidak suka, seperti :
Erwin96_ : Kapan kembali ke Indonesia? Aku bersedia melamarmu..
Fauzan01 : Alhamdulillah, semoga kamu sehat selalu di sana, Dek.
Ezra menutup kolom komentar, perutnya berbunyi, protes karena tidak diisi sejak tadi siang. Ezra meletakkan ponselnya di atas tempat tidur lalu beranjak menuju dapur. Ezra hanya membuat mie lengkap dengan nasi instan, dengan kimchi yang diberikan Aisyah beberapa hari yang lalu untuk lauk.
Selera makan Ezra menghilang ketika mengingat Aisyah, bukan karena ia membenci gadis itu melainkan kebalikannya, ia membenci dirinya sendiri. Ezra menghabiskan makanannya dalam diam sembari menonton siaran tv.
Ezra mengumpat dalam hati, ketika melihat adegan ciuman yang sedang tayang di saluran tv. Ia segera mematikannya lalu menaruh iring kotor di pantry. Ezra kembali ke kamar dengan perasaan lebih buruk dari sebelumnya.
Ezra memeriksa aplikasi whatsappnya, ia menekan nama Aisyah dan sukses mengerutkan kening ketika melihat gadis itu tidak membuka aplikasi itu sejak terakhir berkomunikasi dengannya.
“Mungkin dia sedang tidak ingin memegang ponsel.” Tebak Ezra masih berpikiran positif.
Jujur saja, Ezra sangat khawatir dengan keadaan Aisyah. Ia meninggalkan gadis itu dalam keadaan menangis, lihat seberapa berengseknya dia sekarang. Mungkin Aisyah sudah sangat membencinya.
Sedang memperhatikan ponsel, tiba-tiba nama Ayahnya masuk dari panggilan telepon.
“Hallo, Dad.” Sapa Ezra.
“Kamu dari mana saja, Nak? Ayah dari tadi menghubungimu tetapi ponselmu tidak aktif.”
Ezra tersadar jika ponsel yang selama ini ia gunakan sudah hancur berkeping-keping dan lupa memindahkan nomornya ke ponsel yang lain.
“Ponsel Ezra hilang, Dad. Ada apa?” tanya Ezra mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Daddy dan Mom akan berangkat sekarang dari Inggris untuk peresmian perusahaan. Apakah kau bisa menjemput kami besok?” tanya Robert.
Ezra tersadar jika peresmian perusahaannya itu dua hari lagi. Ezra membayangkan dua hari kedepan ia akan sibuk. Ezra setuju menjemput orangtuanya di airpot. Mungkin akan sampai siang atau mendekati malam, mengingat perjalanannya butuh waktu berjam-jam.
Ezra kembali meletakkan ponselnya setelah mengakhiri panggilan. Sekarang, ia tidak tahu harus melakukan apa. Aisyah masih terus berputar dibenaknya.
…
Aisyah bangun ketika hampir magrib, ia merasakan seluruh badannya sakit karena tertidur di lantai. Kebiasaan buruk yang ia harus hilangkan, ketika menangis dan kelelahan, ia pasti akan tertidur di manapun ia berada.
Aisyah bangun lalu membersihkan diri, ia merendam dirinya di dalam bathup selama dua puluh menit. Aisyah merasa lebih baik setelah berendam air hangat, walaupun perasaannya masih kacau.
Kisah cintanya selalu tragis, ia tidak perlu menangisinya lebih lama. Aisyah mengambil air wudhu, melakukan shalat magrib. Ia tahu, dosanya sudah menumpuk, apalagi kejadian tadi siang yang membuat Aisyah merasa dirinya munafik.
Lagi-lagi Aisyah hanya bisa kembali pada Allah, mengadu kepadanya dengan rasa menyesal yang lebih besar dari pada sebelumnya. Walaupun seperti itu, Aisyah belum bisa memantapkan hati untuk sepenuhnya menutup auratnya.
“Ya, Allah… maafkan hamba yang masih jauh dari jalanmu.” Gumam Aisyah.
Aisyah melipat mukenahnya, lalu menundukkan kepala, merenung. Berkali-kali, Aisyah menghela napas dan mengusap wajahnya kasar. Di antara rasa penyesalan itu, ada juga sedikit rasa senang.
Padahal ia baru saja menunaikan ibadah, tapi pikirannya sudah pergi kemana-mana. Aisyah mengambil ponselnya yang tergeletak di ujung tempat tidur. Ternyata ponselnya mati akibat kehabisan daya.
Asiyah meninggalkan ponselnya yang sedang mengisi ulang daya, berjalan ke dapur. Ketika melihat cheesecake yang sama sekali belum tersentuh, ia membuka lalu memotongnya beberapa bagian.
Cheesecake itu ia letakkan dipiring, sebagian ia simpan di kulkas. Aisyah membawanya untuk menonton drama, baginya kejadian tadi siang sudah cukup untuk ditangisi, walaupun harus menangis tetapi hatinya terasa ringan setelah menyampaikannya kepada Ezra.
Ya, beginilah dia. Jika, Ezra akan menjauhinya, itu mungkin yang terbaik. Walaupun saling menyukai, mereka tidak akan bisa bersatu jika berbeda pemahaman apalagi, keyakinan.
Aisyah masuk ke dalam kamar ketika sudah hampir masuk waktu isya, ia menyalakan ponselnya dan terkejut melihat banyak sekali panggilan berasal dari kakaknya, Abimanyu.
“Assalamualaikum, Kak.” Sapa Aisyah segera setelah memencet tombol terima saat Abimanyu menghubunginya lagi.
“Waalaikumsalam, Aisyah. Astagfirullah, kamu dari mana saja? Kakak hubungi dari tadi nomor kamu tidak aktif!”
Aisyah bingung, “Daya ponsel Aisyah baru penuh kak,”
“Jemput kakak di Incheon, kakak sudah menunggu lima jam di bandara.” Suara Abimanyu terdengar sangat kesal.
“Hah? Kakak di Korea?” tanya Aisyah.
“Astagifirullah, Aisyah! Kamu nggak baca chat kakak? Bukannya udah kakak kasih tau dari dua hari yang lalu, kalau kakak mau ke Korea tadi pagi?”
Aisyah mengecek ponselnya, pesan Abimanyu sudah tenggelam di bawah akibat begitu banyak pesan lain yang masuk.
“Maafin, Aisyah kak. Sekarang, Aisyah jemput di Bandara. Kakak, jangan kemana-mana.”
Aisyah mengganti pakaiannya dengan cepat. Setelah memutuskan sambungan, ia segera turun ke lobi apartemen dengan tergesa-gesa. Beruntung ia mendapatkan taksi dengan cepat, satu jam kemudian, Aisyah berhasil pulang dengan Abimanyu duduk di sampingnya.
“Aisyah minta maaf, Kak. Pesan kakak tenggelam, Aisyah juga jarang baca pesan.” Ucap Aisyah memulai pembicaraan.
Abimanyu menghela napas panjang, “Iya dek, nggak apa-apa. Kakak malah khawatir kalau terjadi sesuatu sama kamu. Cariin hotel deket-deket kota dong, Dek.”
Aisyah tertawa kecil, “Kakak, nggak mau terus ke apartemenku? Ada kamar kosong, lumayan sering di pakai Rere juga.”
“Kakak nginap nggak apa-apa? Nanti teman kamu mau nginap, gimana?” tanya Abimanyu.
Aisyah menggeleng pelan, “Nggak ada rencana nginap lagi kak. Kakak ke apartemenku aja, sekalian liat-liat. Ini pertama kali kakak ke sini juga setelah aku pindah apartemen.”
“Boleh, kakak juga sudah capek banget. Ribet lagi kalau ke hotel.” Jawab Abimanyu menerima tawaran Aisyah.
“Ngomong-ngomong, kenapa kakak ke Korea?” tanya Aisyah.
Mereka sudah dekat dengan apartemen Aisyah ketika ia bertanya.
“Wah, kamu tinggal di sini, dek? Ada pekerjaan di Busan, besok. Mereka minta kerja sama rancangan kakak untuk pembangunan restoran.” Jawab Abimanyu.
“Ku pikir kakak lagi liburan, kenapa nggak ajak Ayah sama Bunda sekalian?” tanya Aisyah.
Abimanyu tertawa pelan, “Kakak mana kepikiran mau ajak Ayah sama Bunda, kan kakak mau kerja.”
Aiysah melirik Abimanyu tajam, ia menyelesaikan proses transaksi dengan supir taksi. Mereka naik lift menuju lantai empat, ketika sampai di lorong menuju apartemennya, Aisyah melirik pintu kamar Ezra sekilas lalu mengalihkan pandangan. Tanpa sadar, pemilik apartemen yang baru saja dilihat oleh Aisyah itu membuka pintu di saat Aisyah masuk ke dalam apartemennya.
Ezra sekilas melihat banyangan orang lain masuk ke apartemen Aisyah sebelum gadis itu menyusul lalu menutup pintu.
“Aprtemen kamu bagus, dek.” Puji Abimanyu.
Aisyah tersenyum sekilas, ia melihat Abimanyu tengah mengistirahatkan tubuhnya di sofa.
“Kakak mau makan apa? Makanan Indoensia atau korea?” tanya Aisyah.
Abimanyu membuka mata, ia melirik adiknya yang sedang beridiri tidak jauh darinya. Abimanyu berpikir, perutnya lapar dan mungkin seleranya tidak akan cocok dengan makanan korea.
“Ada makanan Indonesia?” Abimanyu balik bertanya yang langsung di jawab Aisyah dengan anggukan kepala.
“Kalau gitu, kakak pesan makanan Indonesia saja. Menunya teserah kamu. Mana kamar yang kakak bisa tempati?” tanya Abimanyu.
Aisyah menunjuk kamar tamu dengan dagunya, kakaknya langsung menghilang dibalik pintu. Sementara Aisyah memesan di restoran Indonesia yang sudah menjadi langganannya.
Setengah jam kemudian pesanannya datang, Aisyah dengan cepat langsung menyiapkan makanan di atas meja. Mereka akan makan di ruang tamu, sementara Abimanyu sibuk mengatur kamera ponsel, rencananya mereka akan melakukan panggilan video dengan orangtua mereka.
Mereka berbincang hangat sembari makan malam, suasana apartemen Aisyah berubah hangat seketika. Ruang tamu itu penuh canda tawa, kesedihannya benar-benar terobati dengan keberadaan keluarganya.
Tiba-tiba ponsel Aisyah berbunyi, ternyata itu panggilan dari mantan atasannya. Aisyah menjawab panggilan dengan cepat, ruang tamu itu berubah hening ketika ia menerima panggilan.
Abimanyu menatap Aisyah takzim, bangga kepada adiknya yang lancar berbahasa Hangeul. Lima menit kemudian, Aisyah mengakhiri panggilannya dan menatap bingung ke arah Abimanyu.
“Kenapa kak?” tanya Aisyah.
Abimanyu tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya.
“Dari siapa, dek?” tanya Ayahnya.
Aisyah mengalihkan pandangan ke layar ponsel Abimanyu yang menampilkan wajah kedua orangtuanya.
“Atasan kantor, Yah. Tanya berkas kerjaan.” Jawab Aisyah.
Setengah jam kemdian makanan yang berada di atas meja habis tanpa tersisa, panggilan video juga sudah berakhir karena kedua orangtuanya kedatangan tamu.
“Kakak, masuk kamar aja. Istirahat, biar Aisyah yang cuci piring.” Ucap Aisyah.
Abimanyu setuju dengan saran adiknya, tenaganya memang sudah benar-benar terkuras. Kepalanya pusing bukan main, ia selama ini menghindari pesawat tetapi akhirnya kalah karena mau tidak mau harus bekerja dan kliennya kali ini berasal dari luar negeri.
Bel apartemen Aisyah berbunyi saat gadis itu selesai mencuci piring. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, Aisyah mengelap tangannya hingga kering lalu berjalan menuju pintu.
Bel itu berbunyi lagi, tapi herannya, Aisyah tidak bisa melihat siapapun dari intercom.
“Siapa, Aisyah?” teriak Abimanyu bertanya.
Aisyah diam, tidak menjawab pertanyaan kakaknya, entah tiba-tiba perasaannya berubah tidak enak. Bel itu berbunyi lagi lalu kamera intercom tiba-tiba gelap dan akhirnya menampakkan orang yang sama saat mengantarkannya paket makanan tadi.
Aisyah melebarkan mata lalu buru-buru membuka pintu. “Maaf, tadi uangnya lebih. Permisi.”
Aisyah buru-buru menghela napas panjang, lega. Ia mengira ada orang yang akan mengerjainya lagi untuk kesekian kali. Ternyata orang yang mengantarkan paket makanan itu sedang mengikat tali sepatu sembari memencet bel.
Aisyah menutup pintu lalu masuk ke dalam, tapi tiba-tiba bel apartemennya kembali terbuka.
“Siapa lagi, Aisyah? Kakak mau tidur!” teriak Abimanyu.
Aisyah berbalik menuju pintu, “Aisyah nggak tau kak. Tadi pengantar paket makanan! Sekarang, baru Aisyah mau cek siapa yang datang.”
“Ezra!” ucapnya kaget mengucapkan nama pria yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya.
Aisyah ragu membuka pintu apartemennya, lalu suara bel kembali berbunyi. Tidak ingin membuat kakaknya terganggu, Aisyah terpaksa membuka pintu. Pria itu berada tepat di depan pintu ketika terbuka. Mereka bertatapan sesaat, lalu Aisyah memutuskan untuk mengalihkan pandangan.
“Apa?” tanya Aisyah dingin.
Ezra terdiam mendengar nada bicara Aisyah, “Aku mau minta maaf.”
“Jangan khawatir, aku sudah memaafkanmu. Sekarang, bukan waktu yang tepat untuk berbicara! Aku harus masuk.” Ucap Aisyah.
Aisyah diam-diam melirik ke belakang, berharap Abimanyu tidak keluar dari kamar.
“Tapi, Ay. Aku mau menjelaskan semuanya,”
Aisyah menipiskan bibirnya, “Aku tahu, Za. Tapi, jangan sekarang. Aku sedang,”
Mata Aisyah melebar ketika mendengar suara langkah terdengar mendekati mereka. “Siapa lagi, Aisyah? Orangnya sudah pulang?”
Suara teriakan Abimanyu terdengar keras, itu mengagetkan mereka berdua. Ezra mengerutkan kening dan menatap Aisyah dengan tatapan bertanya. Ketika merasakan Abimanyu semakin dekat, Aisyah refleks menutup pintu dan meninggalkan Ezra sendiri di depan pintu dengan ekspresi syok.