Takdir Allah 25 - Forgive me

1623 Words
Ezra masih kaget, ia dapat mendengar jelas jika suara yang berteriak kepada Aisyah itu adalah seorang pria. Tiba-tiba saja, rasa cemburu terbakar di d**a Ezra, penasaran siapa pria yang masuk ke apartemen Aisyah. Apalagi melihat sikap Aisyah yang langsung menutup pintu ketika suara pria itu semakin terdengar jelas. Sangat jelas jika Aisyah tidak ingin jika Ezra ataupun pria itu bertemu satu sama lain. Tidak ingin tinggal lama, Ezra kembali ke apartemennya dengan wajah terlipat. Dia sangat ingin tahu siapa yang bisa menginap di apartemen gadis yang ia sukai. Tapi, Aisyah bukanlah orang yang membawa sembarangan masuk ke apartemennya, bisa saja itu keluarga atau kakaknya, karena gadis itu pernah bercerita jika ia punya seorang kakak laki-laki. … Aisyah berbalik dan menemukan Abimanyu tepat di belakangnya dengan mengenakan baju kaos dan juga sarung. “Siapa sih?” tanya Abimanyu. Aisyah berjalan mendekat, “Tetangga, Kak.” Abimanyu ber-oh ria, “Kalau gitu kakak tidur ya. Ingat, kalau pekerjaannya nggak banyak. Jangan begadang.” Aisyah mengangguk pelan, mengikuti langkah Abimanyu sampai menghilang dibalik pintu kamar. Aisyah mengelus dadanya yang berdebar-debar, takut jika Abimanyu melihat Ezra tapi sepertinya kakaknya tidak melihat apa-apa. Aisyah melangkah cepat menuju intercom dan berubah cemas ketika Ezra tidak ada lagi di depan pintu. Aisyah mengangkat bahunya acuh lalu ikut masuk ke dalam kamar. Ia mengecek ponselnya dan melihat jika tidak ada pesan dari pria itu. Aisyah mengganti pakaian lalu bersiap tidur. Ketika baru saja hampir terlelep, ponselnya bergetar. Dengan mata tertutup, Aisyah mencari ponselnya dan mengernyit saat cahaya ponsel menerangi wajahnya. Aisyah mengerjabkan mata pelan, berusaha memfokuskan penglihatannya. Kantuknya hilang, ketika menerima pesan itu. Aisyah mengubah posisinya menjadi duduk, mengecek jam di layar ponsel. Tepat jam 1 lewat 15 menit. Ezra Elwyn : Siapa pria yang menginap di apartemenmu? Aisyah mengucek matanya, ia membaca pesan itu berulang kali lalu refleks tersenyum. Aisyah melihat status w******p Ezra online berarti pria itu sedang menunggu balasan pesannya.  Tapi, demi memberi pelajaran kepada Ezra, Aisyah menutup aplikasi itu lalu kembali menutup mata. Aisyah tersenyum membayangkan ekspresi Ezra yang mungkin sedang menatap layar ponselnya, ia terlelap begitu saja, seperti melupaka apa yang terjadi tadi siang. Sementara, Ezra yang sedang berdiri di balkon kamar menunggu pesan balasan dari Aisyah denga separuh jengkel dan gemas. Ketika melihat Aisyah kembali offline, Ezra akhirnya berdecak pelan lalu kembali ke ruang tamu untuk menonton siaran tv karena ia tidak bisa tidur karena membayangkan Aisyah bermalam dengan seorang pria membuat kepalanya berasap. … Ezra menyandarkan tubuhnya di kursi, ia mengerjab-ngerjabkan matanya pelan. tersadar jika ia baru saja tertidur, tepatnya ketiduran dengan tv yang balik menontonnya. Ezra mematikan tv, lalu beranjak ke kamar mandi untuk beres-beres. Apartemennya seperti kapal pecah, baju kotor berserakan dimana-mana, sepatu dan barang-barang lain yang tidak pada tempatnya. Setelah itu, Ezra mengambil ponsel untuk mengecek balasan dari Aisyah tapi sama sekali tidak ada pesan balasan. Ezra bedecak pelan, memperkirakan jam berapa orangtuanya akan sampai di Seoul. Ezra memutuskan untuk makan di luar. Ketika sampai di lobi apartemen, Ezra tidak sengaja melihat seorang pria mengacak rambut Aisyah dan mencubit pipinya gemas. Pria itu lalu masuk ke dalam taxi dan melambai ketika taxi itu menjauh. Selera makan Ezra sukses hilang, ia mengetatkan rangannya dengan tangan terkepal ia berjalan mendekat ke arah Aisyah yang masih tinggal untuk melihat taxi yang sudah menghilang. “Kenapa kau tidak membalas pesanku, Ay?” tanya Ezra dengan suara berat. Aisyah terkejut begitu merasakan Ezra berdiri tepat dibelakangnya. Ia baru saja mengantar Abimanyu pergi ke Busan, kliennya sudah menunggu kakaknya di sana. Aisyah ingin sekali mengabaikan Ezra, tetapi karena pria itu berada di balik badannya ia tidak tau harus berbuat apa. “Memangnya kenapa? Bukankah kau meninggalkanku kemarin? Sekarang, kau datang dan bertanya kepadaku tentang siapa pria yang bersamaku?” tanya Aisyah. Mendengar perkataan Aisyah, tubuhnya seperti baru saja di siram air es. “Tidak bisa menjawab?” Aisyah berbalik menunjuk tepat di d**a Ezra, “...bukankah kau sudah membenciku? Ku pikir dengan menepis tanganku kemarin itu sudah menjadi keputusan finalmu? Bukankah kita sudah kembali menjadi orang asing?” Suara Aisyah berubah serak, baru saja ia bahagia bersama Ezra tetapi harus dihadapkan dengan masalah. Matanya berkaca-kaca seiring dengan tenggorokannya yang tercekat. Aisyah mendongak demi memandang wajah Ezra. Ezra balik menatap mata Aisyah, ia sangat tidak suka jika wanita yang ia sukai bersama dengan pria lain. Jika mereka tidak sedang berada di tempat umum, Ezra akan memeluk Aisyah, atau bahkan menciumnya membuat gadis itu tahu, bahwa ia tidak akan melepaskannya. Ezra menarik Aisyah masuk ke dalam lift, lupakan soal sarapan, ia harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu. Mereka naik melewati lantai apartemen menuju atap.    “Apa lagi?” tanya Aisyah. Aisyah mengatakan kata-kata yang berlawanan dari hatinya. Sikapnya yang dingin juga sengaja ia lakukan agar tidak terlihat sedih di mata Ezra. Ia mati-matian menahan air matanya yang akan keluar. Ezra menghirup napas panjang, sebelum melepaskan tangan lembut Aisyah. Rasanya, ia ingin menggenggap tangan itu terus tetapi ketika Aisyah tidak adanya respon Aisyah membuat Ezra rela melepaskannya. “Ay, aku minta maaf. Aku sangat menyesal, aku seharusnya tidak melakukan itu kepadamu.” Ucap Ezra sungguh-sungguh. “…aku bodoh, Ay. Telah mempercayai ucapan sahabatku yang mengatakan jika orang muslim itu teroris,” Aisyah tiba-tiba menatap Ezra terkejut, spontan membuat Ezra berhenti berbicara. “…itulah yang menyebabkan kemarin aku sangat tidak nyaman melihatmu berbicara dengan dua orang yang memakai penutup kepala itu.” “Kau mengiraku juga seorang teroris?” tanya Aisyah tidak percaya. “Sejujurnya, Iya.” “Apa?!” Ezra menarik lengan Aisyah yang ingin beranjak dari rooftop, “Dengarkan aku dulu.” “Apa lagi yang harus ku dengar, Za? Itu tuduhan paling kejam yang pernah ku dengar. Aku bukan teroris!” “Aku tahu…aku tahu.” Ezra mengepalkan tangannya begitu melihat wajah Aisyah memerah, seperti akan menangis. “…aku awalnya mengira seperti itu. Tapi, setelah menemukan banyak informasi. Aku tahu jika aku salah.” Atap apartemen itu lengang, Aisyah mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Ezra. Di sana terdapat beberapa tanaman dan tempat duduk di beberapa sudut tapi, mereka memilih untuk berdiri tepat di tengah-tengahnya. “Kau tahu, seberapa kecewanya aku? Kau tahu, apa yang ku lakukan saat kau meninggalkanku kemarin! Kau keterlaluan, Za!” Air mata Aisyah menetes, ia memukul d**a Ezra berkali-kali, Dadanya sesak menahan tangis sejak tadi. “Aku tahu, Ay. Aku memang pria berengsek.” Ezra menarik Aisyah ke dalam pelukannya. Memeluk gadis itu erat, seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Aisyah memberontak, masih kesal kepada Ezra yang menuduhnya sebagai seorang teroris. “Aku menyesal, Ay. Aku minta maaf.” Ezra mengulang kata-kata itu berulang kali, hingga pemberontakan Aisyah mereda. “Iya, aku sudah memaafkanmu.” Gumam Aisyah. Suaranya teredam akibat pelukan Ezra membuat kepalanya tengelam di d**a pria itu. “…tapi aku tidak akan menyesal karena menciummu kemarin. Itu adalah moment terindah yang pernah ku rasakan.” Bisik Ezra. Aisyah sukses melepaskan pelukan mereka, menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. Belum lima menit Aisyah memaafkannya dan sudah memulai perkara baru. Aisyah mencubit perut Ezra gemas. Seketika ia mengingat saat mereka melakukannya, membuat kedua pipi Aisyah merona merah. Ezra yang melihatnya langsung mencubit pipinya pelan. “Sekarang, jawab pertanyaanku. Siapa pria yang bermalam di apartemenmu.” Tanya Ezra dengan suara berat. Aisyah tertawa kecil, “Bagaimana jika itu kekasihku?” “Aku akan membunuhnya.” Jawab Ezra tanpa berpikir. “…tadi malam aku tidur dipelukan,” Cup. Aisyah melebarkan mata ketika Ezra mencium hidungnya, “Jangan pernah macam-macam denganku, Ay! Aku selalu serius dengan perkataanku apalgi menyangkut orang yang ku sayang!” “…tadi malam, aku makan berdua dengan,” Kata-kata Aisyah kembali terhenti ketika Ezra menarik tubuhnya dan wajah pria itu hanya beberapa senti dari wajahnya. Ketika Aisyah ingin mundur, tangan Ezra sigap menahan gerakan Aisyah. “Bagaimana jika dia tunakanku?” Ezra menipiskan bibirnya, menatap Aisyah serius. “Katakan sejujurnya, atau aku akan menciummu lagi bahkan atau tanpa persetujuanmu.” “Oke…oke! Pria itu, kakakku. Kakak kandungku, puas?” Aisyah lega ketika Ezra melepaskannya, ia mundur satu langkah. “Kau tidak pernah menceritakan kakakmu akan datang?” tanya Ezra, duduk di salah satu kursi. Aisyah mengikuti Ezra untuk duduk, “Aku juga baru tahu kalau kakakku datang semalam. Aku tidak membaca pesannya, dia menungguku di bandara selama lima jam.” “Bagaimana bisa?” tanya Ezra. Aisyah menyandarkan punggungnya di kursi, menatap langit yang terlihat mendung. Sebenarnya cuaca sedang panas, tetapi karena di awal musim dingin, cahaya matahari tidak begitu panas. “Aku menangis sampai ketiduran di lantai,” Ekspresi Ezra berubah, “Maafkan aku.” “Itu salahku, aku harus mengubah kebiasaanku yang selalu ketiduran saat menangis.” Ucap Aisyah. Ezra membayangkan jika Aisyah menangis berjam-jam dan tertidur di lantai yang keras. Seharusnya kemarin ia tidak pergi begitu saja dan tetap berada di sisi Aisyah bagaimanapun keadaannya. “Bagaimana keadaanmu sekarang?” Aisyah menatap Ezra, “Aku tentunya sudah baik-baik saja.” “Kenapa kau tidak membalas pesanku semalam?” tanya Ezra. “Sudah ngantuk,” jawab Aisyah sekenanya. Ezra tersenyum masam, “Aku menunggu semalaman, tega sekali!” “Siapa suruh!” Ezra mengejek Ezra menggunakan lidahnya membuat pria itu gemas. “Ay.” Panggil Ezra. Aisyah hanya menjawab dengan gumaman, ia sedang membalas pesan Abimanyu yang mengabari jika ia sudah sampai di Busan. “Sedang apa?” Ezra pindah duduk tepat di samping Aisyah. Aisyah tertawa kecil, membuat Ezra semakin penasaran dan tidak tahan untuk mengintip layar ponsel Aisyah. “Membalas pesan kakakku.” Ezra diam saja, dia ikut membaca balasan pesan yang dilakukan oleh Aisyah dan kakaknya. Aisyah merasakan deru napas hangat Ezra yang menerpa lehernya. Membuatnya menghentikan tidak fokus membalas pesan Abimanyu. “Kenapa? Tidak percaya kalau dia benar-benar kakakku?” tanya Aisyah. Ezra menjauhkan kepalanya, memasukkan kedua tangannya di saku celana. “Tidak, aku hanya penasaran apa yang kalian berdua bahas.” Aisyah menatap Ezra curiga tapi di akhiri dengan tawa kecil ketika mendengar suara perut Ezra berbunyi. “Sepertinya ada beruang lapar.” Ejek Aisyah. Ezra bediri, lalu menutup matanya pelan. Kenapa perutnya harus berbunyi di saat seperti ini? Kewibaan dan kemaskulinannya hilang di depan gadis yang sedang menertawakannya puas. “Ayo, makan.” Ajak Aisyah lalu berjalan mendahului Ezra. Mereka tiba di restoran yang tidak jauh dari apartemen lima belas menit kemudian, hanya dengan berjalan kaki. Mereka memesan makanan yang tidak terlalu berat untuk sarapan. “Ay.” Panggil Ezra. Aisyah lagi-lagi menjawab dengan gumaman, ia sibuk dengan wafel dan juga cokelat panasnya. Dua makanan itu sangat lezat jika dipadukan untuk sarapan. “Ay.” Aisyah mendongak, menemukan Ezra sedang tersenyum memandangnya. “Apa? Jangan memandangku seperti itu.” Aisyah kembali sibuk mengiris wafel lalu memasukkannya ke dalam mulut. “Aisyah,” Ezra memanggil namanya dengan lengkap, membuat Aisyah balas menatap pria itu sembari menaikkan alis dengan ekspresi betanya. Tatapan mata Ezra sangat serius, seperti pria itu baru saja memutuskan sesuatu. “Ceritakan aku lebih banyak tentang dirimu, keluargamu dan agamamu.” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD