Takdir Allah 26 - Hospital

1682 Words
Aisyah meletakkan gelas cokelatnya. Menatap ke arah Ezra, mendengar perkataan perkataan pria itu seperti mimpi. Asiyah hanya merespon perkataan Ezra dengan tersenyum kecil. “Aku serius.” Ezra meyakinkan Aisyah. “Benarkah?” Aisyah masih tidak percaya, tapi saat melihat keseriusan di mata Ezra. Aisyah akhirnya berpikir mulai membertitahu pria ini dari mana. “Hm…Aku punya kakak, yang kamu lihat tadi. Namanya, Abimanyu seorang arsitek yang punya banyak deadline. Terus, kalau Ibu aku, biasa saja sih, sorang ibu rumah tangga. Sedangkan Ayah aku, seorang pensiunan PNS yang sekarang lebih suka ngurus tanaman berdua sama Bunda.” Aisyah mulai bercerita. “Eh, pensiunan? Sepertinya Ayahmu terlihat lebih muda.” Aisyah tersenyum kecil, “Ayah pensiun lebih awal karena ingin menikmati masa tuanya bersama Bunda di rumah. Sebenarnya karena mereka saat itu ingin menimang cucu, tapi ada kecelakaan ang menyebabkan semua rencana itu hancur berantakan.” “Kecelakaan apa?” tanya Ezra. “Kakak iparku, meninggal dalam kecelakaan persawat bersama anak kakakku yang masih di dalam kandungan.” terang Aisyah. Ketika menceritakan itu, hati Aisyah terasa berat. Mengingat perjuangan kakaknya yang sangat berat hingga bisa seperti sekarang. Butuh bertahun-tahun bagi keluarganya untuk memulihkan mental Abimanyu. “Aku turut berduka cita.” “Terimakasih, tapi itu sudah berlalu. Sekarang kakakku sudah lebih baik, dan trauma itu dapat teratasi perlahan-lahan.” Terang Aisyah lalu meminum cokelat panasnya. “Lalu, kenapa bisa kamu ada di Korea? Memang ingin bekerja disini?” tanya Ezra lagi. “Aku awalnya melanjutkan kuliah di sini, iseng-iseng melamar pekerjaan. Mungkin sebuah keberuntungan aku bisa langsung di terima dan bekerja selama kurang lebih tiga tahun.” Jawab Aisyah. Ezra mengangguk pelan, “Setelah ini, apa tujuanmu berikutnya? Apa ingin mencari pekerjaan lagi?” “Entahlah, aku tidak berpikir untuk berkerja sekarang. Mungkin aku akan menikmati waktu luangku, atau mungkin aku akan kembali ke Indonesia.” Aisyah memikirkan tentang kembali ke negaranya, itu terdengar menarik. Sebelumnya, ia masih belum berpikir untuk apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ketika Ezra bertanya, ia langsung saja menjawab. Padahal, sebelumnya memikirkan untuk pulang pun tidak pernah. “…masa sewa apartemen yang kutempat hanya tersisa empat bulan. Karena aku tidak bekerja, mungkin pilihan untuk pulang ke Indonesia adalah yang terbaik.” Ezra setuju dengan ucapan Aisyah, daripada tinggal di sini dan menghabiskan tabungan, lebih baik dia pulang bersama dengan keluarganya di Indonesia. Lagipula Aisyah juga tidak punya siapa-siapa di sini, selain teman-teman kantornya. Ezra tidak bisa membayangkan jika ada kejadian buruk yang menimpa Aisyah dan tidak ada siapapun yang menolongnya. Ia juga berencana meninggalkan korea dua bulan lagi. Mungkin ke Australia, jika saja pencariannya selama bertahun-tahun ini tidak ada hasil, Ezra akan pulang untuk kembali mengelola perusahaan. “Ayah sama Bunda kamu, orangnya bagaimana?” tanya Ezra, mengalihkan pembicaraan dan tidak ingin membayangkan saat mereka akan berpisah karena berbeda negara tujuan. “Hm…Ayah sama Bunda orang yang sangat baik. Mereka orangtua yang sangat penyayang, pengertian dan selalu mendukung apapun yang anak-anaknya lakukan asal yang dilakukan adalah hal yang positif. Mereka juga bisa menempatkan diri sebagai sahabat dan orangtua jika terjadi masalah pada aku ataupun kakakku.” Terang Aisyah. “…mereka adalah orangtua terbaik dan aku sangat bersyukur lahir dari orangtua yang saling melengkapi satu sama lain.” “Ayah lebih bijaksana, beliau tidak pernah menuntut kami akan bersekolah atau bekerja seperti apa yang dia inginkan. Beruntungnya, beliau memberi kepercayaan penuh kepadaku untuk kuliah dan bekerja di luar negeri. Sedangkan Bunda, lebih cerewet dari Ayah, beliau lebih sering khawatir dan yang paling susah memberiku ijin saat ingin bersekolah di tempat yang jauh, yah mungkin karena aku akan perempuan. Sedangkan kakakku berkuliah di tempat yang sangat dekat dari rumah.” Terang Aisyah. “Alhamdulillah, setelah bekerja dan bisa menghasilkan, aku bisa mengirim separuh dari penghasilanku kepada Ayah dan Bunda, walaupun mereka masih ada gaji pensiunan. Tetap saja, itu bukti jika aku berhasil dan tidak mengecewakan mereka. Yah, walaupun aku melanggar beberapa pesan mereka, tentang bergaul bebas.” Aisyah melirik ekspresi Ezra ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Tapi, pria itu tidak bereaksi sesuai yang ia harapkan. Ah, memangnya mau Ezra bereaksi seperti apa? Bahkan kami tidak ada hubungan apapun, kecuali…sekedar teman. Ucap Aisyah dalam hati. “Are you drink? Maksudku alkohol?” tanya Ezra dengan suara pelan. Aisyah mengangguk, “Yes, sejak kuliah mungkin tapi aku berhenti belum lama ini.” “Kenapa? Baru saja aku berpikir untuk mengajakmu ke kelab. Have fun.” Aisyah memperbaiki anak rambutnya yang keluar dari telinga. “Aku sudah memutuskan untuk berhenti dan tidak akan pernah meminumnya lagi seumur hidupku.” Aisyah menghirup napas panjang, itu dosa lain yang tidak pernah ia bisa tarik kembali. Alkohol sudah masuk menjadi daging di dalam tubuhnya, tanggung jawab yang harus ia tanggung selamanya. “…selain karena aku tidak mau lagi meminumnya. Alkohol juga sangat terlarang untukku, bahkan setetes. Tapi, aku sudah melanggarnya dan minuman itu menjadi pelengkap saat makan untukku selama bertahun-tahun.” Aisyah kembali memesan, kali ini ia memesan jus alpukat. Aisyah melihat tatapan bertanya dari ekspresi Ezra. Meminta ia menjelaskan hanya dengan pandangan mata. “Alkohol sangat dilarang bagi umat muslim. Terlarang karena efek dan akibatnya sangat merusak. Mulai dari tindakan kejahatan, seperti p*********n ataupun pembunuhan bisa saja terjadi saat sedang dalam pengaruh alkohol. Selain itu, s*x bebas juga sangat terlarang.” Lanjut Aisyah menjelaskan. “Are you having s*x?” “Menurutmu?” tanya Aisyah. Ezra berpikir, “Menurutku tidak,” “Kau yakin? Kenapa berpikir seperti itu? Aku sudah hidup di sini dengan pergaulan yang sangat bebas, aku sebulan beberapa kali ke kelab malam.” Aisyah memancing. Aisyah menunggu jawaban Ezra, dia ingin melihat apakah Ezra benar-benar bisa melihatnya dengan baik atau tidak. Aisyah meminum jus alpukatnya sembari menatap Ezra. “Tetap, tidak. Kamu bukan wanita seperti itu.” Jawab Ezra yakin. Aisyah tersenyum lebar, “Benar. Aku tidak pernah melakukannya. Bagiku, itu sangat spesial, aku tidak akan pernah memberikan itu kepada seseorang yang hanya akan menjadi suamiku. What about you?” “Ofcourse, I do.” Ezra menjawab dengan pelan, malu kepada Aisyah. “…sudah tidak terhitung jumlahnya. Mungkin aku memulainya saat berada di sekolah menegah atas.” “Wah!” Walaupun itu sudah seperti tebakan Aisyah sebelumnya tetapi tetap saja ia kaget. Factor utamanya ada di perbedaan budaya yang sangat jauh, budaya barat tentunya tidak lagi menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tabu. Berbeda dengan budaya timur, terlebih Indonesia yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. “Do you want try it with me?” tawar Ezra dengan menaik turunkan kedua alisnya. Aisyah menjitak kepala Ezra, membuat pria itu meringis sembari mengelus kepalanya. “Ah, Aku hanya bercanda, Ay! Sakit.” Ezra masih mengelus kepalanya. “Makanya jangan bicara sembarangan!” Aisyah menghabiskan jus alpukatnya lalu beranjak berjalan keluar restoran. Ezra menyusul Aisyah setelah menyelesaikan proses pembayaran. Ezra menarik peran rambut Aisyah yang sedang di kuncir kuda. Aisyah hanya menatap Ezra dengan tatapan galak, menyuruh pria itu melepaskan rambutnya. Ezra menarik Aisyah, masuk ke dalam rangkulannya. “Aku bahagia sudah berbaikan denganmu.” Aisyah hanya tersenyum, ia juga lega sudah berbaikan dengan Ezra. Seolah beban berat baru saja terangkat dari hatinya. Di sisi lain, ia memikirkan hal lain. Sepertinya mereka akan berpisah sebentar lagi. … Ezra besiap untuk menjemput kedua orangtuanya, ia sudah berpakaian cukup rapih untuk ke bandara. Tadi, ia sudah janjian agar pergi bersama Aisyah, gadis itu ingin ke sebuah mall, dan Ezra mengajaknya untuk berangkat bersama. Mereka membuka pintu bersamaan dengan ponsel masing-masing di telinga mereka. Aisyah mengakhiri panggilan, memasukkan benda pipih itu ke dalam tas kecil yang ia bawa. Ezra melakukan hal yang sama, mereka berdua saling melempar senyum. Ezra melihat Aisyah memakai celana panjang kain dengan baju longgar di padukan dengan sepatu tanpa hak. Membuat gadis itu tampak lebih menggemaskan. Sementara Ezra memakai celana jeans dan baju polo lengkap dengan jam tangan dan sepatu. Ketika di tengah jalan, merkea dikagetkan dengan banyaknya orang yang berdemo di jalan sehingga membuat macet. Aisyah yang juga pertama kali melihat itu juga terkejut. “Aduh, padahal tinggal satu persimpangan lagi.” Keluh Aisyah. Ezra memelankan kecepatan mobil, sementara Aisyah menurunkan kaca mobil. Kebetulan ada seorang polisi yang berdiri di pinggir jalan. Aisyah mengeluarkan kepalanya. “Permisi, apa yang terjadi?” tanya Aisyah. Polisi itu tersenyum, “Sedang ada unjuk rasa. Anda tidak bisa meneruskan perjalanan, karena para pengunjuk rasa memblokir total jalanan. Anda bisa mengambil alternative untuk mengambil jalan ke bandara.” Terang polisi itu. Aisyah berterimakasih lalu menyuruh Ezra untuk kembali jalan karena mereka mengakibatkan antrian kendaraan lebih panjang dari arah belakang. Ia menjelaskan situasinya kepada Ezra. “Jadi, bagaimana? Atau kau mau ikut ke Bandara?” tanya Ezra. Aisyah bimbang, ia tidak ingin pergi ke bandara. Apalagi bertemu dengan keluarga Ezra. Tapi, ia juga tidak bisa sampai ke tempat tujuannya. Sementara, Ezra sudah terburu-buru ke bandara karena orangtuanya sudah  tiba. “Bagaimana kalau kau turunkan aku dipinggir jalan? Aku akan pulang naik taksi.” Aisyah memberi saran. Ezra menoleh ke arah Aisyah lalu menatap pemandangan sekeliling. “Kau gila? Aku tidak akan pernah menurunkanmu.” “Tapi,” “Ikut aku ke bandara. Kedua orangtuaku tidak menggigit.” Ujar Ezra lalu menambah kecepatan. Di luar ekspektasi Aisyah, kedua orang tua Ezra menyambutnya dengan baik. Mereka berkenalan sebentar lalu naik ke mobil Ezra, Ezra dan papanya berbicang sedikit tentang perusahaan ketika dalam perjalanan pulang. Sementara Ibunya, terlelap di bahu Ayah Ezra sebagai sandaran. Sebenarnya, Aisyah sempat tidak percaya diri saat betemu mereka. Apalagi sejak ia tahu jika keluarga Ezra merupakan keluarga yang sangat terpandang karena memiliki perusahaan dimana-mana, keluarga Elwyn termasuk dalam jejeran pengusaha sukses di dunia. Orangtua Ezra memutuskan untuk menginap di hotel, mereka berpisah karena kedua orangtua Ezra ingin beristirahat karena pengaruh jetlag. Perbedaan waktu antara Inggris dan Korea sangat kontras. Aisyah dan Ezra memutuskan untuk makan siang di restoran yang berada di dalam hotel. Perasaan Aisyah tiba-tiba tidak enak, ia merasa perutnya keram. Mungkin siklus bulanannya sudah dekat, wajahnya pucat berubah pucat karena merasa pusing dan juga keram. Ezra melihat perubahan ekspresi Aisyah, “Hey, are you okay?” Aisyah hanya menjawab pertanyaan dengan gumaman, kepalanya semakin pening. Pesanan mereka datang dengan cepat, Aisyah mencoba makanan dan melahapnya sedikit demi sedikit. Ezra memegang tangan Aisyah, merasakan jika tangan gadis itu dingin dan berkeringat. Pandangan Aisyah sudah tidak fokus, tetapi ia masih bisa menahannya. Sesaat ia meraskaan kehadian seseorang di meja mereka. “Wah, sepertinya kau sudah berubah selera. Setelah putus dengan Dae-Ho, sekarang kau menggoda pria asing, huh!” Aisyah mengerutkan keningnya, sepertinya ia mengena sosok wanita yang barusaja menghampiri mejanya. “Apakah dompet pria ini lebih tebal? Ternyata kau sudah menjadi p*****r. Kenapa? Gila karena putus dari Dae-Ho yang kaya itu?” ejek wanita itu. Sementara Ezra menatap mereka berdua dengan tidak mengerti, wanita itu berbicara dengan Bahasa korea. Aisyah mencoba mengingat siapa wanita ini tetapi, ia lupa. “Hubungi aku jika, kau sudah bosan dengannya. Layananku lebih hot dari dia, bisa kujamin. Hubungi aku, sexy.” Ucap wanita itu sebelum pergi meninggalkan meja merea. Besamaan dengan kepergian wanita itu, Aisyah kehilangan kesadarannya. Ezra buru-buru mengangkat tubuh Aisyah, membawa gadis itu ke rumah sakit karena wajahnya sudah sangat pucat.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD