Pagi itu Janitra Bramantyo sedang menimbang-nimbang antara menghubungi Sonya atau tidak, tiba-tiba pintu kantornya diketuk dari arah luar.
"Boleh aku masuk, Boss?" sapa Theo dari balik pintu sambil menyembulkan kepalanya di antara celah pintu yang terbuka.
Bram pun mendongak sambil mengetuk-ngetuk penanya di meja seraya berkata, "Masuklah!"
"Apa sudah kamu baca berkas proyek jalan tol yang akan kita buat di Sumatera ? Siang nanti kita ada meeting sama Pak Menteri. Aku yakin kita bisa menang tender lagi, Boss!" ujar Theo penuh semangat sambil duduk di kursi yang ada di depan meja kerja sang Boss, sementara Bram sendiri bukannya menjawab pertanyaan Theo, laki-laki itu malah menutupi wajahnya gusar dengan kedua tangan.
"Ampun dah! Kenapa aku bisa sampai lupa? Siang nanti aku ada meeting sama Pak Menteri! Dan aku belum siap apa-apa! Huuffttt Clarinta, Clarinta! Kenapa kamu bikin aku jadi lupa sama semuanya?" batin Bram cemas.
Karena bagaimanapun juga Janitra Bramantyo sudah mengincar proyek ini cukup lama. Induk perusahaan yang diwariskan mendiang ayahnya yang bernama 'Rajawali Group' mempunyai beberapa anak usaha, selain perusahaan batubara, Bram juga focus di bisnis kontraktor yang sesuai dengan bidang study yang diambilnya di kampus dulu, yaitu Tehnik Sipil. Bram berhasil mencapai predikat c*m laude ketika lulus dari sana.
"Ada masalah, Boss?" pertanyaan Theo membuatnya tersentak.
"Theo, kamu bisa bantu aku?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir Bram sambil menatap orang kepercayaannya itu.
"Of course! Apa sih yang nggak sih buat kamu, Boss!"
"Good! That's my man! Sekarang, sementara aku pelajari semua berkasmu yang untuk Pak Menteri. Tolong kamu telpon ...." Sesaat Bram terdiam sejenak, lalu menyebut satu nama. "Sonya!"
Theo tersentak kaget hingga kedua bola matanya mendelik dan nyaris saja keluar. "Sonyaa? Perempuan jadi-jadian itu, Boss? Kamu ...?"
"Eiit! Jangan mikir yang macem-macem! Aku nggak seperti itu, Theo! Nggak! Nggak nggak!" Bram tahu kemana arah pembicaraan Theo. Bekas teman kuliahnya ini pasti mengira dia akan memesan kupu-kupu malam lagi dari Sonya.
"Aku tahu, kamu pasti ngiranya ke arah sana! Tapi bukan! Denger baik-baik ya! Tolong bilang sama dia kalau aku ingin ketemu dengan Cla-rin-ta atau Kay, dancernya! Ingat yaa Clarinta! Gadis yang semalam, ingat? Aku mau minta maaf sama dia. Aku ingin memperbaiki hubungan, yaa … paling nggak biar dia nggak marah lagi sama aku, karena aku sudah ngira dia yang nggak nggak."
"Ooh gitu, bilang dong! Oke deh, Boss! Aku pasti akan nelpon dia!" sahut Theo sambil menaruh jemari tangannya di ujung alis mata seperti memberikan penghormatan.
"Jangan lupa segera kabari aku yaaa! Sekarang pergi sana!"
Bram bergegas mengambil berkas-berkas yang sedari tadi ada di atas meja kerja dan mulai membaca dan meneliti satu per satu, sementara Theo segera berlalu meninggalkan pria itu.
***
Sore hari, di sanggar tari group yang dimanajeri Sonya, Clarinta tampak serius mempelajari gerakan-gerakan baru yang baru saja diajari oleh sang koreografer. Setelah sesi latihan tari mereka selesai, bergegas gadis itu menghampiri Zakira, teman dancer-nya yang saat itu sudah bersiap-siap hendak pergi.
"Za, makasih yaa high heel-nya. Nih, aku kembalikan!" Clarinta menyodorkan high heel warna merah itu ke gadis yang mengenakan sepatu … yang harganya jutaan rupiah.
"You're welcome, Honey. Aku dengar semalam ada keributan ya gara-gara high heel ini?" ujarnya sambil menunjuk ke sepatu warna merah itu.
"Yaaa biasa! Salah paham sedikit. Kok kamu tau?" tanya Clarinta penuh selidik.
"Sorry, Kay. Seharusnya semalem aku nggak minjemin kamu high heel ini, karena sebenarnya sepatu anong pinagsasabi mo sambil memeluk Zakira erat. Gadis itu malah bingung diperlakukan seperti itu oleh teman dancer-nya ini.
"Ada apa ini? Kamu kenapa sih?"
"Za, kamu pasti tau ‘kan buat apa kamu minjemin high heel merahmu ini ke orang itu? Kamu tahu high heel merahmu ini juga yang bikin aku bentrok semalem,"
"Iyaa aku tau banget, makanya aku tadi bilang maaf, karena seharusnya aku pinjamin ke orang lain bukan ke kamu, aku lupa, sorry …."
"Ya ampuun, Za! Dari semalem aku mikirin soal ini terus, aku kira kamulah orangnya," sela Clarinta senang sambil memegang bahu gadis itu dengan harapan dia mau terus terang padanya.
"Aku …? Hmm nggak level! Kalo cuma semalem gitu doang, rugi! Mending kayak aku ini, cari yang settle, enak, ‘kan?" Sesaat Clarinta terperangah begitu mendengar jawaban Zakira barusan, karena dia benar-benar nggak nyangka kalau temannya yang satu ini ternyata termasuk barisan penjaja cinta.
"Jadi kamu ...?"
"Iyaa, emang kamu nggak tahu? Kayaknya sudah bukan rahasia umum lagi deh!" sahut gadis yang mengenakan celana jeans belel dan kaos ketat itu santai.
"Zakira, aku turut prihatin, jujur aku sedih. Apalagi denger jawabanmu barusan yang terasa begitu enteng buat kamu, rasanya nggak ada perasaan takut sama sekali dibalik ucapanmu. Itu sebuah dosa besar, Za!" Clarinta berusaha menyadarkan Zakira.
"Apa? Dosa? Kamu bilang dosa, Kay?” sahut Zakira sinis dengan ekspresi wajahnya yang skeptis, “asal kamu tahu, dari kecil aku sudah bergelimang dengan dosa! Ayahku pemabok, ibuku penjudi dan aku pe-- ...."
"Clarinta Ramaniya!" ucapan Zakira langsung terhenti begitu suara Sonya—manajer mereka—menggelegar di ruang latihan sanggar tari, memanggil nama Kay secara lengkap.
"Hallo honey bunny winny bitty! Ternyata ye masih di sindang wece, cucok dah! Pucuk dicinta ulam pun tiba, hmm sutra lah," teriak Sonya dengan bahasa alay-nya yang merepet begitu sudah dekat dengan mereka.
"Aku cabut dulu ya, Kay!" sela Zakira sambil ngeloyor pergi.
"Za! Aku belum selesai!"
"Gampang! Next time masih banyak waktu!" teriak gadis itu dari kejauhan dan bergegas ngeloyor pergi menuju ke pintu utama sanggar tari tersebut, sementara Sonya mulai berjalan gontai menuju ke arahnya.
"Ada apa sih?" Nada suara Clarinta terdengar ketus di telinga Sonya begitu pinky boy itu ada di dekatnya.
"Iiih wece suaranya sadis, mirip kayak Mak Lampir, tinta deh!" sahut Sonya dengan nada manja sambil mengedarkan tatapannya ke sekeliling sanggar tari itu yang mulai lengang, hanya ada beberapa dancer yang masih nongkrong di sana.
"Iya deh, sorry dori mori, Sonya sayang. Ada apa panggil-panggil aku?"
"Noh ada lekong wece! Doski pengin ketemu ama ye, doi di--..." sahut Sonya sambil menunjuk ke arah pintu utama, tepat pada saat itu Janitra Bramantyo sudah memasuki sanggar tari tersebut sambil berjalan ke arah mereka berdua dengan senyum mautnya.
"Yee, udah nongol aja nih sih Mister!" teriak Sonya.
Bram hanya tersenyum kecil sementara beberapa penari yang masih tersisa di sana langsung hanyut pada pandangan pertama begitu melihat pesona laki-laki yang mengenakan setelan kemeja dan celana kain dengan warna senada, biru saat memasuki sanggar tari mereka. Meskipun tubuhnya hanya dibalut oleh kemeja dengan lengan panjang yang ditekuk hingga ke siku, ketampanan wajahnya tidaklah berkurang.
Garis keturunan Eropa atau ras kaukasia jelas tersirat di wajahnya yang tampan—hidung mancung, alis tebal, rambut gondrong warna coklat kemerah-merahan dan bibir tipis warna merah muda—saat pria muda itu membuka kaca hitam yang bertengger di hidung.
"Bram-mad!" gumam Clarinta kesal.
Clarinta menggumamkan nama itu begitu melihat Bram berjalan ke arahnya. Hati dan tangannya masih sakit, akibat perlakuan laki-laki itu kemarin, gadis itu enggan bertemu dengannya.
Tanpa berkata apa-apa lagi Clarinta bergegas menuju ke travel bag-nya yang berwarna hijau tosca yang ditaruhnya di dekat jendela, sementara Bram yang sudah hampir sampai di tempat Clarinta berdiri tadi segera berbalik arah dan mengikuti langkah gadis itu. Secepat kilat Clarinta segera berkemas-kemas, merapikan semua barang bawaannya.
"Clarinta!" teriak Bram dari arah belakang dengan penuh harap. Namun, gadis itu bergeming, dia tampak sibuk dan masih asyik dengan barang bawaannya yang dimasukkan ke dalam travel bag.
"Aku, aku ... aku mau minta maaf soal semalam," ucapnya setelah jeda beberapa saat.
Namun, Clarinta tetap tidak peduli. "Maafmu sudah aku terima, permisi!" sahutnya ketus sambil berlalu meninggalkan Bram begitu saja. Laki-laki itu pun tidak tinggal diam dan segera mengejarnya.
"Kalau maafku sudah kamu terima, apa kita nggak bisa ngobrol sebentar? Sekedar berkenalan mungkin? Aku hanya ingin menyelesaikan kesalahpahaman di antara kita." Bram terus saja mengikuti langkah Clarinta yang sengaja dipercepat, karena gadis itu masih kesal dan tidak ingin berurusan dengan laki-laki ini lagi.
Cukup sudah insiden semalam, tepat pada saat itu tiba-tiba Alva muncul dari balik pintu sambil memperhatikan Clarinta yang berjalan tergesa-gesa, diikuti oleh seorang laki-laki yang asing baginya.
"Kay!"
Alva melambaikan tangan ke arah Clarinta sambil memanggil namanya. Gadis itu pun tersenyum begitu dilihatnya Alvaro Naruna—laki-laki yang dipacarinya selama setahun setengah ini—sudah ada di sana sambil berlari kecil menuju ke arah gadis itu, sementara Bram segera menghentikan langkahnya begitu dilihatnya Clarinta mendekati seorang laki-laki yang memanggil namanya. Sonya pun segera menghampiri Bram sambil memperhatikan pasangan sejoli itu dari tempatnya berdiri.
"Siapa dia?" tanya Bram saat Sonya sudah berada di sampingnya. Entah mengapa, rasanya ada desiran aneh di hatinya ketika Clarinta mendekati pria tersebut dengan senyum manisnya yang belum pernah dilihat sebelumnya.
"Doi itu hubby-nya, Mister!"
"Husband? Suami maksudmu?" tanya Bram penuh selidik.
"Bukan! Ney ney ney mereka masih pacaran kok wece, aturan tadi Mister itu tunggu dulu di luar sampai aqiqa kasih kode ke situ, kalau udah begindang eeuhh agak susyeh ngedeketinnya," repet Sonya seperti mercon bantingan.
Sementara itu ketika Clarinta sudah berada di dekat pacarnya, Alva jadi penasaran dengan laki-laki yang berjalan membuntuti gadis ini barusan, sepertinya laki-laki itu ada maksud tertentu.
"Siapa dia, Kay?"
"Siapa?” balas Clarinta bingung, “bukan siapa-siapa!” sahutnya ketus saat Alva memberikan kode ke arah Bram dengan dagunya yang naik ke atas. “Ayo pulang!" Clarinta bergegas keluar dan menghampiri motor Alva yang bertengger di halaman parkir.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, Kay!" tanya Alva lagi sambil mengekor di belakang gadis itu.
"Dia bukan siapa-siapa! Kurang jelas jawabanku?" Clarinta yang kesal membentaknya dengan nada marah, membuat beberapa orang yang melintas di area parkir menoleh ke arah mereka dengan tatapan penasaran.
Gadis itu jadi tidak nyaman dan canggung, sesaat keduanya saling diam. Dia pun menyesal karena telah membentak pacarnya di depan orang banyak.
"Maaf, aku capek, lebih baik aku pulang sendiri …."
Clarinta segera berlalu dari hadapan Alva sambil menunduk. Laki-laki itu berusaha mencegah dan berteriak memanggil namanya. Namun, dia bergeming hingga tak disadarinya nyaris hampir menabrak Theo dan Mirza yang saat itu sedang bersandar di mobil Jaguar hitam milik Bram.
"Maaf!"
Hanya itu kata yang terlontar dari bibir mungilnya kemudian ngeloyor pergi menuju angkot yang kebetulan lewat di sana. Theo dan Mirza jadi penasaran dengan sikap Clarinta yang berbeda tidak seperti kemarin, sementara dari kejauhan, Alva hanya bisa menatapnya dengan tatapan pilu, tidak biasanya gadis itu bersikap seperti ini. Biasanya dia selalu menceritakan dengan riang apa saja yang dilaluinya hari itu ketika tidak bersama dengannya. Alva merasa ada yang aneh dalam diri kekasihnya kali ini.