Sekitar pukul 9 pagi persis setelah selesai mata kuliah pertama, Clarinta bergegas mengajak Mutya ke kantin kampus, perutnya sudah berbunyi terus sedari tadi di kelas. Cak Bejo—penjual soto ayam di kantin yang jadi penjual favouritenya—langsung tau apa yang harus dia lakukan begitu gadis cantik itu menghampiri gerobak sotonya.
"Cak! Biasa ya! Yang special!"
"Beres! Segera laksanakan, Tuan Putri," sahut Cak Bejo penuh semangat.
Clarinta lalu menghampiri sahabatnya yang sudah ambil tempat duluan di pojok kantin, tempat favourite mereka berdua kalau nongkrong di sana, karena dari tempat itu, mereka berdua bisa mengedarkan pandangan ke seluruh area kantin yang luas. Selain gerobak soto Cak Bejo, kantin itu juga diisi oleh beberapa gerobak yang lain, seperti gerobak Es Doger, bakso, siomay batagor, juga makanan-makanan yang lain yang disuka mahasiswa. Sementara bangku-bangku yang disediakan untuk para mahasiswa tampak berbaris rapi di tengah ruangan.
"Kamu nggak makan?" tanya Clarinta sambil menaruh tas ransel dan beberapa buku materi yang tebal di kursi yang kosong, sedangkan gadis yang duduk di depannya tampak sibuk membaca sebuah novel. Sahabatnya yang satu ini memang seorang kutu buku, maka tak heran kalau kedua bola matanya harus disambung dengan kacamata yang sedikit tebal.
"Aku udah sarapan! Emang kamu nggak sarapan?"
"Pagi ini aku kesiangan bangunnya tadi, untung Ibu langsung bangunin aku di saat yang tepat, jadi aku nggak telat waktu kamu datang, tapi yaitu jadi nggak sempet sarapan," sahut Clarinta sambil menoleh ke arah Cak Bejo yang datang menghampiri mereka sambil membawa semangkok soto ayam plus ceker lunak kesukaan gadis itu dan es teh jeruk nipis yang bikin rasa hausnya lenyap seketika.
"Thank you, Cak! Cak Bejo emang tau banget kesukaanku!" Clarinta mengacungkan kedua jempolnya ke arah pria setengah baya itu yang selalu menyeringai lebar bila mendapat pujian dari para mahasiswa, khususnya mahasiswi alias mahasiswa putri.
"Ya iyalah, pembeli setia! Kalo sampe nggak hafal, itu namanya keterlaluan! Cak, bikinin aku es jeruk manis yaa, tapi yang kuning lho jeruknya, awas kalo nggak kuning!'' sela Mutya sambil meringis.
"Siap, Tuan Putri! Segera laksanakan! Sotonya nggak sekalian?" Mutya menggeleng sambil nyengir di depannya. Cak Bejo pun berlalu dari hadapan dua mahluk cantik yang kadang bikin dirinya ke-ge-er-an, sementara Clarinta mulai menikmati soto ayam kesukaannya, sambil ngobrol soal kejadian semalam.
"Mut, kira-kira yang dimaksud si Bramad itu siapa, ya?"
"Bramad? Siapa itu Bramad?" Mutya yang heran dan nggak ngerti maksud sahabatnya ini, malah balik bertanya sambil memberi tanda pembatas buku di novel yang dibacanya.
Clarinta memutar kedua bola matanya sambil menyesap es teh jeruk nipis sedikit. "Bram-mad! Honey! Mr. Bram, si pria menyebalkan semalem," sahutnya sambil menikmati minuman itu lagi, tepat pada saat itu Cak Bejo menghampiri mereka dengan es jeruk manis yang warna kuningnya menggoda selera.
"Makasih, Cak! Cak Bejo memang pantas diandalkan!" Laki-laki setengah baya itu cuma tersenyum simpul begitu mendengar pujian Mutya dan segera berlalu meninggalkan mereka. "Udah deh, Kay. Insting Sherlock Holmes-mu itu nggak usah beraksi lagi! Ini nih gara-gara suka baca novel detektif, jadi sukanya ngurusin urusannya orang lain, pleasee deeh!" sahutnya sambil mengaduk-aduk isi gelas yang berada di depannya.
"Bukan gitu, Mut-- ...."
"Udah deh, Kay!” sela Mutya cepat. “Lupain aja soal yang semalem, lagian nggak ada hubungannya ‘kan sama kamu?"
"Kamu lupa yaaa? Nih!" Clarinta menunjukkan bekas cengkraman tangan Bram di lengannya yang masih membekas merah, "sakitnya itu masih terasa sampe sekarang! Aku harus buat perhitungan sama dia! Dan lagi, aku jadi pengin tahu, penasaran deh, siapa sih cewek yang dimaksud sama Sonya dan Bramad semalam? Clue-nya ‘kan penari dan high heel warna merah!"
"Padahal yang bawa high heel merah ‘kan cuma ...."
"Zakira!" Mereka berdua kompak menyebut nama Zakira bersamaan.
"Tapi masa iya sih, Kay? Zakira ‘kan udah kaya, tinggalnya aja di apartemen, punya mobil lagi!" ucap Mutya sambil menyesap es jeruk manisnya yang tinggal separuh.
"Tapi kamu nggak tau ‘kan di mana kedua orang tuanya tinggal? Kalo kita main ke sana, kita nggak pernah ‘kan ketemu sama ortunya?" jelas Clarinta sambil mengelap bibir mungilnya dengan sehelai tissue makan, lalu menyesap es teh jeruk nipis yang hampir habis.
"Iya juga sih ... eehh, Kay! Lihat tuu!"
Tiba-tiba Mutya memberikan kode ke Clarinta untuk melihat ke arah pintu kantin dengan matanya.
Gadis itu pun menoleh ke arah yang dimaksud sahabatnya. Dilihatnya seorang pria muda sedang berdiri di depan pintu kantin sambil menenteng tas ransel warna hitam abu-abu di bahu kanan. Kemeja kotak-kotak warna biru dibiarkannya terbuka sehingga kaos oblong warna putih yang dikenakannya terlihat, membuat dirinya semakin mempesona di depan gadis itu.
Clarinta memang begitu memuja pria ini, meskipun dia bukan yang pertama, tapi perhatian, kasih sayang dan kecerdasannya, mampu membuat hati gadis itu meleleh bagaikan mentega yang dipanaskan di atas kompor. Alvaro Naruna menatapnya dari kejauhan, gadis itu segera melambaikan tangan dan mengajaknya untuk ikut bergabung.
"Mut, jangan cerita soal semalem sama Alva yaa. Aku mohon."
"Emang kenapa?"
"Udah nurut aja!"
"Selamat pagi, sarapan kok nggak ngajak-ngajak sih?" sapa Alva begitu tiba di dekat meja mereka dan menghempaskan tubuhnya di kursi yang berada di dekat Clarinta.
"Sorry, tadi perutku udah keroncongan, jadi buru-buru ke sini!"
"Never mind, lagian aku udah sarapan kok. Oh ya, gimana semalem? Sukses acaranya?"
"Lancar, semuanya beres!"
"Trus semalem kamu pulang sama siapa? Sorry banget, Kay. Semalem aku nggak bisa jemput kamu, mendadak adikku sakit panas, jadi aku harus nemenin Ibu berobat ke dokter," sahut Alva sambil meremas tangan perempuannya lembut.
"Nggak apa-apa, ‘kan ada Mutya! Semalem aku pulang sama dia, terus gimana adikmu? Udah baik, ‘kan? Nggak apa-apa, ‘kan?"
"Nggak apa-apa, ternyata bisa rawat jalan, tadinya Ibu panik kalau sampai harus diopname."
"Kay …," sela Mutya.
"Eh iyaa, sampai lupa, ada apa, Mut?"
"Aku keluar dulu, ya. Aku mau masuk kelas. Kamu masih lama ‘kan ngobrolnya?" tanya Mutya sambil berdiri.
"Udah kok, aku udah selesai. Aku juga mau ke kelas. Kamu juga, ‘kan, Al?" Clarinta pun berdiri hendak mengikuti sahabatnya. Namun, tiba-tiba Alva memegang lengannya, menahan langkah gadis itu.
"Kamu masih ada waktu, ‘kan? Aku pengin ngobrol sama kamu, penting!" pinta Alva penuh harap. Melihat keseriusan di wajah pria yang membuatnya nggak bisa berpaling ke cowok lain, membuat gadis itu mengiakan, kemudian duduk lagi di sebelahnya, sementara Mutya bergegas meninggalkan mereka berdua dan berlari menuju ke kelas.
"Memang ada masalah yang serius?" tanya Clarinta penasaran setelah tinggal mereka berdua di kantin itu, karena sebagian mahasiswa yang lain sudah menyebar ke kelas mereka masing-masing, area kantin mulai terlihat lengang, hanya ada beberapa mahasiswa yang nongkong di sana.
"Iyaaa, bahkan sangat serius!" sahut pria itu sambil menghela napas dalam. Lama mereka berdiam diri, Alva sepertinya menyimpan sebuah berita yang ingin disampaikan ke gadis pujaan hatinya ini. Dari raut wajahnya, sepertinya ada sebuah hal yang sangat serius yang ingin dibicarakan, Clarinta berusaha bersabar untuk menanti.
"Kay, sudah berapa lama kita pacaran?" Alva mulai memecah keheningan yang tercipta di antara mereka.
"Kurang lebih setahun setengah. Iya betul, satu setengah tahun, kenapa?" Gadis itu jadi semakin penasaran.
"Aku ingin kita menikah!"
Clarinta mendelik, bola matanya yang lebar tampak membulat. "Apa? Menikah?" Permintaan Alva benar-benar mengagetkannya, ibarat tersambar petir di siang bolong.
"Ssttt! Jangan keras-keras, nanti semua orang dengar." Alva menutup bibir mungil gadisnya dengan jemari tangan.
"Ya abis, kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu. Kita ‘kan belum lama pacaran," bisik Clarinta sambil membuka tangan pacarnya yang menutupi bibir.
"Tapi aku serius, Kay. Aku ingin melamar kamu, nikah sama kamu dan ngajak kamu ke London, karena aku dapat beasiswa untuk kuliah di Oxford, London!" bisik Alva lirih sambil membenarkan kacamata minusnya yang sedikit melorot ke bawah.
"Oh yaa? Selamat yaa, Sayang!"
Tanpa pikir panjang lagi bergegas dipeluknya laki-laki itu yang memang diakui oleh semua orang mempunyai otak yang paling encer di kampus, bahkan banyak orang menyebutnya sebagai professor.
Clarinta memang ingin sepintar Alva, maka tak heran kalau gadis itu segera menerima sang pujaan hati, menjadi pacarnya. Tanpa malu-malu segera diciumnya kedua pipi laki-laki itu, tak digubrisnya tatapan Cak Bejo yang memandang mereka berdua sambil senyum-senyum sendiri dan tersipu malu dari balik gerobak sotonya.
"Aku seneng dengernya! Kamu memang pantas ngedapetinnya, Sayang! I’m proud of you! Aku sangat bangga sama kamu, Sayang," ujar Clarinta tulus dengan kedua manik matanya yang berbinar terang.
Alvaro Naruna menyeringai lebar. "Lalu ... kamu mau ‘kan nemani aku di sana? Kita akan ukir sejarah kita berdua dan membangun dunia kecil kita di kota tua itu,” sahutnya penuh semangat. “Kita akan membuka lembaran baru kita di sana, Sayang. Coba kamu bayangkan, selama di sana kita akan menyusuri sepanjang sungai Thames yang sangat terkenal dengan jembatan Menara London-nya, lalu makan malam di dekat Big Ben dan jalan-jalan berdua ke tempat-tempat sejarah lainnya seperti istana Buckingham, Taman Greenwich dan tempat sejarah yang lain yang merupakan sejarah kota London, sesuai dengan mata kuliahmu, Sejarah. Bagaimana?"
Mendengar tempat-tempat sejarah yang disebut oleh Alva, membuat gadis itu merinding, karena dari dulu dia ingin sekali keliling benua biru Eropa sebagai pilihan benua pertama yang ingin dikunjunginya selain benua yang lain, kalau ada kesempatan untuk berkunjung ke sana. Itulah mengapa Clarinta mengambil fakultas Sejarah sebagai bidang studi pilihannya. Dan kesempatan itu kali ini sudah ada di depan mata.
"Iyaa sih aku suka sekali sama Sejarah, tapi-- ...."
"Kamu bisa mutasi, Sayang,” sela Alva cepat, “semuanya bisa diatur, kamu nggak usah khawatir, banyak kok mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di sana berdua sebagai pasangan suami istri setelah mereka menikah, bahkan melahirkan anak-anak mereka di sana. Oleh karena itu aku ingin kamu menemaniku di sana, bagaimana? Kamu mau ‘kan, Sayang?"
Alva sangat berharap banyak dengan jawaban gadis yang dicintainya ini, tapi Clarinta masih terlihat ragu-ragu dan gelisah, karena itu artinya dirinya harus meninggalkan semuanya di sini, terutama meninggalkan kedua orang tua dan keluarganya.
"Baiklah, akan aku pikirkan, karena ini keputusan yang sangat sulit, Al. Kamu bisa ngerti, 'kan?" Alva mengangguk sedih, "dalam waktu dekat aku akan kasih jawabannya. Nggak papa, ‘kan?"
Alva hanya bisa tersenyum tipis sambil menatap gadisnya penuh cinta. Laki-laki itu sangat berharap Clarinta bisa memberikan kepastian yang nyata untuknya, terlebih untuk masa depan mereka berdua, masa depan yang selalu diimpi-impikan olehnya yaitu bersatu dalam suatu ikatan pernikahan.
***
Sementara itu di tempat lain, di kantor Janitra Bramantyo. Tampak Bram sedang bersandar di kursi kerja sambil memejamkan mata, tumpukan berkas-berkas yang harus segera ditanda tanganinya tidak disentuhnya sama sekali.
Laki-laki itu terlihat begitu serius memikirkan sesuatu, terlihat dari kerut-kerut di dahinya yang lebar. Insiden semalam di ballroom hotel, saat bertengkar dengan Clarinta dan saat melihat gadis itu menari di depannya dengan lekukan tubuhnya yang lemah gemulai, datang silih berganti dalam benaknya.
Entah mengapa, bayangan gadis itu selalu menghantuinya seharian ini.
Biasanya Bram tidak begitu peduli dengan penari manapun yang ikut menghibur di setiap event yang diselenggarakannya, tapi semalam gadis jutek itu benar-benar mampu menyihirnya.
Daya magisnya memang sungguh luar biasa, tak sedetik pun matanya berkedip memandang sang penari. Rasanya sudah cukup lama hatinya tidak merasa seperti ini, perasaan mendamba membuatnya tidak waras. Namun, saat gadis itu masuk ke ballroom lagi dengan high heel merah setelah acara usai, pesona Clarinta di matanya langsung runtuh seketika.
"Ternyata dia perempuan murahan, sama seperti yang lain," batinnya malam itu sambil menikmati minumannya. Namun, setelah insiden pertengkaran mereka yang berujung salah paham, Bram malah menghela napas lega.
"Nggak salah memang pilihanku," batinnya senang. "Tapi bagaimana aku bisa dekat dengannya? Apalagi semalam dia kelihatan sangat marah dengan perlakuanku. Apa yang harus aku lakukan?" batinnya gusar sambil mengusap wajah dengan kedua tangan.
Sesaat kemudian laki-laki itu membuka mata dan menatap ke benda pipih warna silver, yang berbentuk persegi panjang tergeletak di atas meja. Dipegangnya ponsel itu sambil diputar bolak-balik ke atas ke bawah, tiba-tiba Bram teringat pada satu nama.
"Sonya!"