BAB 2 - High Heel Merah

1501 Words
"Kamu jangan percaya begitu saja, Kay!" bisik Mutya sambil berjalan ke arah pria yang bernama Janitra Bramantyo. "Tenang saja, Muty. Aku cuma penasaran aja, apa sih maunya para pria ini?" bisik Clarinta sambil terus berjalan ke arah laki-laki asing itu. "Bram, kenalkan ini ... ooh maaf, aku malah belum sempat kenalan sama mereka." Mirza jadi canggung, sementara si pria asing itu bergegas berdiri begitu Clarinta berdiri di depannya. "Perfect! Sempurna! Kamu sudah siap?" "Siap! Siap! Siap apanya? Dari tadi kalian bilang soal siap, memangnya aku harus bersiap soal apa? Kenapa kalian suka berteka-teki dari tadi? Aku nggak kenal sama kalian!" sahut Clarinta ketus. "Lho bukannya manager-mu sudah memberitahumu untuk ...." "Untuk apa?" sela Mutya cepat. Laki-laki itu menyeringai lebar hingga menampilkan barisan giginya yang putih. "Oooh I see, mungkin kurang! Oke … never mind, nggak masalah! Berapa yang kamu minta? Sebutkan saja, nanti aku tulis dalam lembar cek ini, karena kebetulan aku nggak bawa uang tunai," ujarnya santai sambil mengeluarkan sebuah buku cek dari dalam tas kecil yang tergeletak di atas meja dan mulai bersiap hendak menulis. "Untuk apa itu semua? Aku semakin nggak ngerti arah pembicaraan kalian!" sahut Clarinta ketus. "Heey, rileks! Santai ... kami sudah mendapatkan profil yang tepat, penari dan high heel warna merah!" goda Bram sambil mengerlingkan sebelah mata padanya. "High heel warna merah?" bathinnya dalam hati, Clarinta pun teringat insiden di ruang ganti tadi, ketika hak high heel-nya patah jadi dua setelah selesai pertunjukkan. *** "Aduuuuh, kenapa jadi patah gini? Huffttt! Masa aku harus pake sandal jepit? Mana masih ada acara makan-makan lagi!" Clarinta menggerutu, kesal dengan dirinya sendiri setelah mendapati hak high heel yang dikenakannya setelah menari tadi patah jadi dua, dan waktu berangkat tadi, dia lupa membawa sepatu cadangan. "Kenapa, Kay? Ouuww high heel-mu patah yaa, hahahaha ... kasihan," ejek Zakira, salah satu teman group dancer-nya. "He he he … senang yaaa lihat temennya menderita!" sahutnya dengan nada cemberut. "Tenang-tenang! Aku punya solusinya, nih pakai punyaku dulu! Ukuran sepatumu 39, ‘kan? Sama kayak punyaku, nih!" Zakira menyodorkan high heel warna merah ke arahnya. "Lalu kamu ...?" "Tenang! Aku ‘kan selalu bawa ban serep! Hehehe ... ada kok, aku selalu bawa cadangan di mobil, santai ajaa lagi!" "Terima kasih ya, Za! Besok aku kembaliin!" "Santai aja, Kay ...." Zakira kemudian berlalu dari hadapannya. *** "Ada apa dengan high heel warna merah yang aku pakai ini?" tanya Clarinta dalam hati. "Jadi berapa ... hah? Mikirnya lama amat, dari tadi kamu belum jawab pertanyaanku!” Suara Bram terdengar sinis sambil melirik ke arah gadis itu dengan senyum mautnya. "Maaf, kamu salah orang! Ayo Muty, kita pergi dari sini!" Bergegas digeretnya tangan Mutia, sahabatnya dan berbalik berjalan menjauh dari si pria asing yang sangat merendahkan harga dirinya, tapi baru saja hendak melangkah, tiba-tiba saja lengannya ditarik oleh seseorang. Gadis itu pun menoleh ke belakang, dilihatnya laki-laki itu sedang mencengkram lengan kanannya dengan sangat keras. "Kamu nggak bisa pergi begitu saja dari sini, Nona! Aku sudah membayarmu mahal untuk semua ini! Kamu harus melayani para tamuku, seperti yang tertulis, sesuai dengan perjanjian kontrak yang ada!" bisik Bram sinis persis di telinganya, dengan nada sedikit berat dan kesal. Clarinta bisa merasakan hembusan nafasnya yang mengandung ancaman. "Hei! Kamu apakan temanku!" Mutya membentak dengan nada marah dan berusaha melepas cengkraman si pria menyebalkan itu. "Nggak usah ikut campur! Atau aku akan semakin menyakiti temanmu ini!" Laki-laki itu juga membentak dengan nada marah hingga matanya melotot dan rahangnya pun mengeras, sementara Clarinta sendiri semakin merasa jijik dengan pria ini. Bisa-bisanya laki-laki ini mengira kalo dia adalah salah satu pemuas para pria berduit yang kesepian? Memangnya predikat seorang dancer harus dikaitkan dengan profesi seperti itu? Begitu rendah dan hinakah predikat seorang dancer di mata masyarakat? Sesaat dirinya bergidik ngeri. "Lepaskan tanganku! Atau aku akan manggil security untuk menangkapmu! Dan lagi, satu yang pasti … anda itu salah alamat, Bung!" Clarinta juga ikut membentak dengan nada ketus dan berusaha memberontak, melepaskan cengkraman tangan laki-laki yang sangat menyebalkan dan keras kepala ini. "Silahkan kalau kamu mau manggil security, karena bagaimanapun juga aku nggak salah dalam hal ini, Nona! Tapi-- ..." Belum juga Bram menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba muncul Sonya, manajer tari Clarinta dari pintu utama ballroom sambil melambai-lambaikan tangan ke arah mereka. "Yuuhuuuu! Darling, good evening everybody!" teriak Sonya riang dari kejauhan, mereka berempat pun menoleh ke sumber suara yang mengusik percakapan mereka yang seru tadi. Sonya, si perempuan KW alias pinky boy, berjalan tergopoh-gopoh menghampiri mereka dengan dandanannya yang sedikit menor dan glamour. Mau apa Sonya ke sini? batinnya kesal. "Aqiqa belum terlambat datang, ‘kan? Apa kabar Mr. Bram!" sapa Sonya dengan senyumnya yang manis begitu tiba di depan mereka. Bram pun mengangguk dan membalas sapaan perempuan KW itu sambil melepaskan cengkraman tangannya di lengan Clarinta. Gadis itu bisa merasakan lengannya panas dan nyeri hingga ada warna merah tergambar jelas jejak cengkraman tangan si pria menyebalkan ini. "Mr. Bram, my lady sudah menunggu di lobby saat ini." Sonya seperti bisa membaca peristiwa yang baru saja terjadi antara Clarinta dan Bram. "Lhooo ... bukannya clue yang kamu berikan ke Theo itu penari dan high heel warna merah?" sahut Bram sambil menunjuk ke sekujur tubuh Clarinta dari atas ke bawah. "Iyaa tadinya seperti itu mister, tapi I change it! Aqiqa ganti bok! Hehehehe ...." Sonya pun terkekeh menyadari kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. "Mr. Bram, kenalkan ini adalah Clarinta Ramaniya atau panggil dia dengan sebutan Kay, penari kesayanganku, tapi sayang bukan dia orangnya!" Sonya mengelus wajah gadis itu yang cemberut terus sedari tadi dengan senyum manisnya. Namun, Clarinta segera menepis tangan Sonya dan menjauhkan wajahnya dari tangan si manager yang memang terkenal sebagai cowok feminim yang melambai. "Sonya! Beraninya kamu!" "Kay, Sayang. Maafkan aqiqa yee, suwer aqiqa nggak bermaksud seperti itu, Sayang! Dan lagi kenapa juga kamu pake high heel merah?" sahut Sonya sambil menunjuk ke high heel yang dipakainya. "High heel-ku patah, puas! Ayo Muty, lebih baik kita segera pergi dari sini!" Gadis itu segera angkat kaki dari sana diikuti oleh Mutya yang mengekor di belakang. "Nonaaa ...!" teriak Bram lantang yang bermaksud hendak menghentikan langkahnya, tapi langsung dicegah oleh Sonya. "Sudah! Biarin! Diana emang orangnya begindang, dia itu emang orangnya begitu! Sukanya merekah mulu! Ma-rah ma-rah, judesnya minta ampyuuunnn diana itu, wece!" sela Sonya sambil memperhatikan Clarinta dan Mutya yang pergi menjauh dari mereka dan menghilang di balik pintu utama ballroom. "Oh yaa? Tapi aku belum minta maaf sama dia, karena ternyata aku salah orang, coba kalau kamu nggak datang tadi--" "Wuuu! Bisa-bisa perang Bharatayudha daaah!” sela Sonya lagi dengan mimik wajahnya yang menunjukkan ekspresi orang ketakutan. Bram sendiri hanya bisa terheran-heran. “Sudah soal itu mah gampang, serahin aja ama aqiqa wece! Trus mana ni cukongnya yang mau diservice?" Sonya celingak-celinguk ke sekeliling ruangan ballroom tersebut sambil menyapu tatapannya ke seluruh penjuru ruangan demi mencari tamu spesialnya malam ini. "Lebih baik kamu tunggu di lobby aja yaa, nanti cukongnya nyusul ke sana, oke?" "Ya udah kalo gitu capcusss giiih, Boss! Aku tunggu di lobby yaa, tapi jangan lama-lama lhooo, bisa metong aqiqa!" "Oke sippp bereees!" *** Sementara itu di luar, di parkiran motor, Clarinta sudah tiba di sana bareng Mutya. Lengan kanannya masih terasa nyeri dan bekas merah itu masih membekas di sana. "Kenapa? Masih sakit ya?" Mutya seolah-olah mampu membaca apa yang ada di benak sahabatnya ini. Clarinta mengangguk sambil memperhatikan tanda bekas merah itu seraya berkata, "Iya sedikit, enak aja dia ngira kalau aku ini cewek panggilan! Emangnya semua dancer seperti itu! Coba tadi kalau nggak ada Sonya, udah aku banting itu orang!" ujarnya geram. "Iyaa percaya-percaya yang udah pake ban hitam! Ayook deh kita pulang, tapi bentar-bentar, motormu gimana?" "Aku titipin di bengkel, besok aja ngambilnya! Udah aah, yuk capcus, badanku pegel semua nii! Capek! Udah pengin tidur!" "Okeee, Bosss! Siaappp! Segera meluncuurrr!" Mutya lalu menyalakan mesin motor dan bergegas meninggalkan tempat tersebut bareng Clarinta hingga menghilang di kegelapan malam. *** Sesampainya di rumah, rumahnya sudah sepi, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Kalau tengah malam seperti ini, seluruh penghuni rumah sudah nyaman berada di kamarnya masing-masing dengan kesibukkan mereka dan Clarinta tidak ingin mengganggu. Sudah menjadi kebiasaan setiap ada event job di luar, gadis itu selalu membawa kunci cadangan, sehingga dirinya bisa keluar dan masuk sesuka hati, seperti yang berlaku malam ini. Tak lama kemudian gadis itu bergegas mandi. Rasa penat dan lelah rasanya segera menghilang setelah mandi air hangat. Setelah semua acara ritual mandinya selesai, dia pun bersiap-siap untuk tidur. Direbahkan tubuhnya di tempat tidur di kamarnya yang kecil dan hangat, Clarinta teringat kembali peristiwa di ballroom hotel sambil menatap langit-langit kamar yang bernuansa pink. Cengkraman tangan si pria menyebalkan yang bernama Bram masih terasa nyeri di lengan. Diraba dan dilihatnya warna merah bekas jari laki-laki itu masih membekas dengan jelas di sana. "Akan selalu aku ingat wajah laki-laki menyebalkan itu yang sudah merendahkan harga diriku! Suatu saat aku harus bisa membalas rasa sakitku ini, tunggu pembalasanku, Mr. Bramad!" Clarinta benar-benar geram dan kesal, hatinya terasa tercabik-cabik dan tidak terima oleh perlakuan kasar laki-laki itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD