BAB 10 - Saksi Kunci

1985 Words
"Apa kamu yakin, kamu telah melakukannya?" Itulah kata pertama Mutya begitu mendengar cerita Clarinta yang tragis semalam saat mendapati dirinya di sebuah hotel bareng Bram. "Aku nggak tahu, Mut. Aku nggak sadar, aku sendiri nggak merasa melakukan itu semua,” sahut Clarinta sambil menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur di kamar Mutya yang luasnya sama persis seperti kamarnya sendiri di rumah. Pagi itu Clarinta sengaja tidak pulang terlebih dulu. Namun, mampir ke rumah Mutya, untungnya hari ini hari Minggu, gadis itu tidak perlu bolos kuliah, “aku nggak ingat apa-apa, Mut. Aku bener-bener nggak tau apa yang terjadi tadi malam! Kenapa bisa begitu, ya?" Sesaat ada jeda di antara mereka, kedua gadis itu termenung dengan pikiran mereka masing-masing. “Mut, apa bener, yang dibilang orang-orang?” “Soal apaan?” sela Mutya penasaran. “Itu … katanya kalau lagi gituan, yang bagian bawah sini sakit, ‘kan?” Mutya pun mengangguk membenarkan pernyataan sahabatnya ini dan bertanya, “Lalu … kamu sendiri sakit nggak?” Clarinta menggeleng cepat, “tapi semua baju lepas, ‘kan?” tanyanya heran. “Iya lepas semua! Tapi anehnya dalemannya nggak, apa aku make lagi?” Clarinta jadi semakin bingung, “dan anehnya lagi, kata Bramad semalam aku sangat menikmati semua sentuhannya, hiii!” Gadis itu bergidik dengan ekspresi wajahnya yang jijik dan tidak suka, “Mut, apa semalam aku mabuk, ya?” “Bisa jadi, Kay!” sela Mutya, “apalagi semalam, kamu bilang kalau kamu dikasih minum sama Sonya dan Zakira, ‘kan? Jadi ada baiknya kalau kita tanyakan hal ini sama mereka berdua. Paling nggak mereka bisa ngasih jawaban kenapa tiba-tiba kamu bisa sama Bram!" Tanpa menunggu lama kedua gadis itu sudah tiba di apartemen Zakira. Namun, di area parkir basement, Clarinta tidak melihat mobil Zakira yang berwarna merah terparkir di sana, karena biasanya dia bisa segera mengenali mobil teman dancer-nya itu dari warnanya yang mencolok yang berjejer di antara mobil-mobil dengan warna klasik. "Sepertinya Zakira nggak ada di apartemen, Mut!" Clarinta menunjuk deretan mobil yang berjejer dan terparkir di sana. "Masa sih? Tapi nggak ada salahnya kita coba! Ayook, kita lihat ke atas!" Benar apa yang Clarinta duga, begitu tiba di depan pintu apartemen Zakira, gadis itu tidak menampakkan batang hidungnya, meskipun Mutya sudah berusaha berulang kali memencet bel di depan pintu apartemen. Clarinta segera memutar otak untuk segera pindah dari sana dan menuju ke sanggar tari, di mana Zakira biasanya juga sering menari, karena berulang kali di telpon, ponselnya pun tidak aktif. Sesampainya di sanggar tari, Clarinta segera mencari Zakira atau Sonya, siapa tau dia bisa menemukan kedua orang itu yang menjadi saksi utama untuk peristiwa semalam, tapi lagi-lagi aneh, gadis itu tidak bisa menemukan siapapun di sana. Mereka berdua seperti hilang lenyap ditelan bumi. Saat itu Clarinta sudah hampir putus asa, tapi begitu salah satu teman dancer-nya memberikan saran untuk mendatangi rumah Sonya, harapannya muncul kembali. Setelah mendapat informasi di mana rumah Sonya, Clarinta dan Mutya bergegas mengunjungi rumah pinky boy itu. Saat itu hari sudah siang, matahari sudah naik di atas kepala, teriknya membuat kulit terasa sakit bila tersengat. Namun, kedua gadis itu tetap bertekad untuk mencari Sonya, meskipun sinar matahari begitu menyengat kulit mereka yang terpapar secara langsung, karena menggunakan motor. Hingga akhirnya mereka berdua sudah tiba di rumah Sonya, setelah bertanya ke beberapa orang. Sonya yang sudah tahu kedatangan Clarinta terlihat tenang-tenang saja, seperti tidak ada suatu masalah apapun di antara mereka. "Tumben siang-siang bolong gini ye kemindang ke rumsye aqiqa wece! What's going on?" tanya Sonya sambil membawakan sebotol air putih dengan dua gelas kaca beling untuk tamunya itu yang ditaruhnya di atas meja tamu. “Sorry ya, Sist! Cuma air putih! It’s okay lah yaa, yang penting ‘kan minum!” ujarnya sambil menghempaskan tubuhnya di sofa mini yang ada di ruang tamu itu. Clarinta hanya mengulas senyum seraya berkata, "Sonya, aku ke sini mau nanya sama kamu. Tolong kamu ingat baik-baik dan jawab terus terang, karena aku yakin cuma kamu yang bisa jawab semua teka-teki ini," ujarnya lalu menghabiskan seluruh isi gelas yang berisi air putih dingin, “sorry, aku haus! Di luar panas banget!” Mutya pun tersenyum dan melakukan hal yang sama—menghabiskan seluruh air putih yang disuguhkan buatnya. “Mau lagi? Aqiqa tuangin lagi ya,” sahut Sonya sambil mengisi lagi kedua gelas yang kosong itu sampai penuh, “ye ini lhoo! p****g beliung deh wece! Ngomong aja sampe diputer-puter. To the point aja, Say! Emang ye mau ngomong soal apose?" Sonya pura pura bingung dan tidak tahu menahu. "Soal semalam, tolong bilang ke aku, Sonya. Apa yang terjadi padaku semalam? Kenapa tiba-tiba aku nggak ingat apa-apa? Aku nggak ingat sama sekali! Anehnya lagi kenapa tiba-tiba aku ada di dalam sebuah kamar sama Bram di hotel? Karena yang aku ingat, semalam itu terakhir kali aku minum es sirop merah yang kamu berikan untukku. Iya, ‘kan?" "Aduh, wece! Ye gemindang deeh! Semalem itu ‘kan ye mau pulang, trus pas itu ada Mister Bram. Mister Bram itu nawarin ye tumpangan untuk pulang, trus ye mau. Ya sutra, aqiqa cuma taunya sampai situ aja, yang lain mana gue tau wece! Emangnya apose wece? Tapi bentar-bentar ye sekamar ama Mister Bram di hotel? Ciyus? Uuhh co cweet! Emangnya kalian berdua ngapain aja di sana?" repet Sonya penasaran, padahal pada kenyataannya Sonya tau banget apa yang terjadi pada Clarinta semalam. "Kalau Clarinta tanya sama kamu, nggak usah libatkan dirimu lebih jauh! Serahkan semuanya ke aku, biar aku yang urus semuanya!" Sonya masih teringat pesan Bram semalam. Dia tidak mungkin berkhianat sama Bram yang telah membantunya begitu banyak, tapi Sonya juga kasihan sama Clarinta. Perempuan KW ini jadi gamang, apa yang harus dia lakukan? Menceritakan semuanya ke Clarinta atau tetap tutup mulut demi Bram? Sonya ingat bagaimana peristiwa malam itu setelah Clarinta meminum sirop merah yang diberikannya. *** Malam itu, Clarinta segera turun dari kursi dan bergegas meninggalkan Sonya dan Zakira menuju ke pintu utama ballroom. Namun, belum juga sampai di pintu, baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba gadis itu merasakan pusing yang amat sangat dan pandangan di depannya hitam pekat. Clarinta merasa tidak bisa melihat apapun dan sebelum dia sempat jatuh terkulai ke lantai, Sonya yang saat itu sudah berjalan ke arahnya bareng Zakira, langsung memegangnya dari belakang hingga akhirnya dia pun pingsan seketika itu juga. Zakira dan Sonya segera membawa Clarinta ke luar dari ballroom tersebut, untungnya area ballroom sudah mulai lengang, hanya ada beberapa orang di sana, mereka pun tampak tidak peduli dan tidak tahu kalau ada orang yang pingsan. Kedua perempuan itu lalu memapah Clarinta menuju ke lift, orang-orang yang lalu-lalang di sana juga tidak ada yang memperhatikan gadis itu yang tiba-tiba pingsan dan tidak sadarkan diri. "Kamu kasih berapa sih dosisnya? Kok dia langsung pingsan gini?" tanya Zakira heran setelah mereka berada di dalam lift. "Double fungsyen wece!" sahut Sonya sambil memencet nomer 5 pada tombol lift. "Gila kamu! Kamu kasih dia double? Bisa-bisa nggak bangun entar lho!" hardik Zakira panik. "Bangun, doski bakal bangun, Neng. Tenang aja wece, tu pere kagak nape-nape, cuma pingsan. Besok pagi juga bangun, yuuuk cuuzz!" Begitu pintu lift terbuka, Sonya dan Zakira kembali memapah gadis itu menuju ke sebuah kamar yang mereka tuju. Setelah tiba di depan pintu kamar nomer 505, Sonya segera memencet bel pintu kamar hotel tersebut dan tak berapa lama kemudian munculah seorang pria dari dalam kamar hotel dan laki laki itu adalah Bram yang menyeringai senang, begitu melihat Sonya membawa Clarinta. "Boss, ni pere mau ditaruh di menong? Berat bingit niii!" tanya Sonya dengan napasnya yang ngos-ngosan saat Bram muncul di depan pintu kamar hotel. "Mari sini aku bantu!" Bram bergegas mengambil alih lalu menggendong Clarinta dengan kedua tangannya yang kekar. "Uuuh strong in-naf bingiiit deeh weceee!" Sonya mengikuti Bram masuk ke dalam kamar hotel diikuti oleh Zakira yang mengekor mereka di belakang setelah menutup pintu kamar hotel itu, kemudian perlahan laki-laki itu membaringkan tubuhnya yang lemas dan tidak berdaya di tempat tidur. Dilepasnya sepatu kets yang membalut kaki gadis itu yang jenjang. "Tu pere mau diapain sih, Boss? Kagak mau di-- ..." Sonya jadi penasaran dengan rencana Bram yang masih rahasia buatnya. "Belum saatnya, Sonya ... aku cuma mau kasih pelajaran aja ke dia saja, sekarang lepas semua bajunya!" "Ye si Boss geje deeh wece! Tintaa aah, katanya nggak mau diapa-apain, kok pake lepas baju segala? Maluku wece, tintaa deeh si Boss!" Bram yang tidak menggubris ucapan Sonya, segera mengeluarkan segepok uang yang ada di dalam sebuah amplop berwarna coklat. "Nih uang buat kalian berdua! Aku harap itu cukup buat kalian!" "Uuuh kalo ini, sih gilingan deh si Bosss! Si Boss tahu aja yang aqiqa mau. Aqiqa suka berbisnis dengan si Boss," kedua bola mata Sonya yang belok pun terbelalak lebar begitu melihat lembaran uang berwarna merah yang melambai-lambai di depan matanya, begitu pula Zakira yang tanpa terasa menelan ludahnya sendiri. "Tapi jangan lupa, sebelum kalian pergi, lucuti semua bajunya! Aku pergi dulu, kalau kalian mau pulang, jangan lupa tutup pintu rapat-rapat, mengerti!" "Siap, Boss! Segera laksanakan!" Bram pun menggangguk puas sambil melirik ke Clarinta yang tertidur pulas di ranjang dan segera berlalu meninggalkan Sonya dan Zakira. Sepeninggal Bram, Sonya bergegas menyuruh Zakira untuk melepaskan semua baju yang dikenakan Clarinta satu per satu. "Sonya, kalau Clarinta sampai marah sama kita gara-gara hal ini, bisa berabe kita!" ujar Zakira sambil membuka selimut yang membungkus kasur tersebut kemudian diletakkan di atas tubuh gadis itu, sehingga hanya kepalanya saja yang terlihat, lalu dilepasnya baju Clarinta satu per satu, mulai dari kaos dan celana jeans. "Udah yang penting kita dapet duit wece! Pokoknya endang markondang kondaang daah!" "Dapet duit sih dapet duit, tapi aku kasihan sama dia. Aku takut kalau nanti itu si Boss Bram itu ngapa-ngapain dia, kasihan, ‘kan? Si Kay ‘kan masih perawan!" "Don't worry wece! Itu Mister cinta berat ama ni pere, aku punya piling kalo tu lekong kagak bakal ngapa-ngapain dese, percaya deh!" "Pokoknya kalau ada apa-apa sama Clarinta, kamu lho yang kudu tanggung jawab, Sonya!" "Ye enak di elu kagak enak di gue dong! Modus ! Elu juga kudu tanggung jawab, elu ‘kan juga mau dokunya!" Zakira hanya memutar kedua bola matanya seraya berkata, "Iya deh iya! Kita berdua! Trus ini bagian daleman juga kudu dicopot?" tanya Zakira sambil merapikan baju Clarinta dan ditaruhnya di atas kursi di sebelah tempat tidur. "Udah kagak usah! Bagian daleman biarin aja deh, ntar tambah tegang tuu si Boss. Udah buruaan ciiin, kita langsung capcuz dari sini yuk!" "Iyaa deeh! Aduh sorry ya, Kay … kalau kamu, kita manfaatin untuk kesenangan kita. Maaf bangeeet, kamu marah ya? Tonjok aja itu Mr. Bram, yaaa ... see you honey!" Zakira membelai wajah Clarinta yang sudah tertidur pulas, lalu segera keluar dari kamar hotel tersebut sambil ketawa cekikikan dan berlalu dari sana. *** "Kamu benar-benar nggak tahu yang terjadi semalam, Sonya?" Sonya tersentak dari lamunannya saat Clarinta menguncang-guncang lengannya. Gadis itu bener-bener penasaran, dia merasa kalau Sonya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Yaaa, aampyuun, Kay! Apa perlu aqiqa sumpah pocong demi ye?" "Sudahlah, Kay. Mau ngotot seperti apa mungkin memang Sonya nggak tahu jawabannya,” sela Mutya cemas, “lebih baik kita pulang saja, gimana?" Clarinta akhirnya menyetujui saran Mutya dan hanya bisa pasrah, kemudian berlalu meninggalkan rumah Sonya, tapi dalam hatinya masih belum bisa 100% percaya pada pinky boy itu, karena sepertinya Sonya menyembunyikan sesuatu darinya, tapi bagaimana cara mengungkapnya? Sepanjang perjalanan, Clarinta mencoba berfikir keras tentang bagaimana nasibnya yang akan membawanya nanti, sampai-sampai dering telpon di ponselnya pun tidak terdengar sama sekali. "Kay! Ponselmu bunyi tu! Kay!" Mutya bergegas menyadarkan lamunan gadis itu sambil menghentikan motornya di tepi jalan, karena ponsel sahabatnya berdering terus sedari tadi. Clarinta yang kaget dan baru menyadari ponselnya berdering segera mengambil ponsel itu dari dalam tas dan di sana tertera nama sang ibu. Clarinta panik dan segera mengangkat telpon. Dalam tangisnya, Ratnaduhita memberi kabar kalau ayahnya saat ini sedang kritis! Sesaat dunia Clarinta seperti berhenti berputar. Gadis itu hanya bisa terpaku, tubuhnya tidak bisa bergerak sedikitpun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD