BAB 9 - Sirop Merah

1646 Words
Peristiwa beberapa hari yang lalu di sanggar tari tidak mungkin bisa begitu saja dia lupakan, Clarinta tidak suka dengan sikap Bramad. Tidak mungkin baginya untuk mengenal laki-laki itu lebih jauh, berteman saja dia nggak mau, apalagi berfikiran untuk mengenal lebih jauh dan menjadi istrinya? “Ooh ... tidak! Tidak, tidak! Aku harus menghentikan perjodohan ini!" batinnya kesal. Dari kejauhan begitu melihat kehadiran Clarinta di depannya, Bram pun tersenyum nakal sambil menatap ke arah gadis itu, tajam. "Pucuk dicinta ulampun tiba! Kamu nggak akan bisa lari lagi kali ini, Cla-rin-ta! Aku pasti akan memilikimu !" batinnya senang. "Kay, kemari, Nak! Temui tamu istimewamu malam ini." Suara Bu Ratnaduhita membuatnya tidak bisa lari dari hadapan mereka. Mau tidak mau Clarinta harus menuruti dan mengikuti perintah ibunya. Gadis itu lalu duduk di antara ayah dan ibunya. Kedua keluarga tersebut lalu saling berkenalan satu sama lain. Setelah acara perkenalan keluarga dan ramah tamah di antara mereka berjalan dengan baik, akhirnya Om Yusuf, Pamannya Bram mulai angkat bicara. "Kami sangat senang sekali mengetahui bahwa keluarga kami diterima dengan baik di sini dan tujuan kami datang ke sini adalah selain berkenalan dengan keluarga besar Pak Maulana, kami juga ingin perkenalan antara keluarga ini tidak hanya berakhir sampai di sini saja, tapi bisa melangkah ke jenjang berikutnya, yaitu persatuan dua keluarga besar melalui sebuah pernikahan. Kami bermaksud melamar Clarinta untuk Bram, anak kami." Semua yang mendengar ucapan Om Yusuf, tersenyum senang, termasuk Bram yang senyam senyum terus sedari tadi sambil memperhatikan Clarinta yang mulai salah tingkah di depannya. Gadis itu hanya tertunduk lemas mendengar keinginan keluarga Bachtiar untuk menikahkan dirinya dengan putra mereka yang menyebalkan. “Kenapa hal ini terjadi padaku? Kenapa harus Bramad yang jadi anaknya Bu Sasikirana? Ini tidak adil!” rutuknya dalam hati, tangannya pun mengepal. "Oooh tidak! Jangan sampai ini terjadi, Tuhan. Berilah hamba kekuatan untuk menolak semua perjodohan ini. Hamba tidak sudi,” batinnya lagi. “Aku nggak mau jadi calon istrinya! Apa yang harus aku bilang ke mereka? Sedangkan Ayah dan Ibu tampak bahagia mendengarnya? Haruskah kukorbankan diriku sendiri demi seorang Bramad yang tidak bermoral seperti itu? Laki-laki yang telah melukai perasaanku!” Hati Clarinta galau, segala macam perasaan bercampur menjadi satu, membuat dadanya sesak. “Mengapa selalu saja perempuan yang harus berkorban untuk segalanya, untuk kebahagiaan keluarganya, sebagai hadiah, sebagai alat penukar. Dari dulu hingga sekarang nggak pernah berubah! Perempuanlah yang selalu harus berkorban, tapi sekarang ini bukan jaman Siti Nurbaya! Aku nggak mau! Aku menentang perjodohan ini!" batin gadis itu geram. Saat semua keluarga besar sudah menyetujui perjodohan Bram dan Clarinta, awalnya gadis itu hanya bisa terdunduk lemas. Namun, tiba-tiba dia mendongakkan kepala dan berkata dengan suaranya yang tegas, "Ayah, Ibu, Bu Sasikirana dan semua keluarga yang hadir di sini. Apa boleh saya mengutarakan pendapat?" "Apa yang mau kamu katakan, Kay? Katakanlah!" "Iya, Kay. Kami ingin mendengar pendapat kamu. Apa yang ingin kamu katakan?" Sasikirana ikut menimpali ucapan Ratnaduhita. "Tanpa mengurangi rasa hormatku pada kalian semua, dengan berat hati saya katakan, kalau saya menolak perjodohan ini!” Semua orang yang ada di ruangan itu terhenyak. “Saat ini, saya tidak ingin menikah! Saya masih ingin meneruskan kuliah dan saya juga masih ingin bebas!” ujarnya dengan suara yang bergetar, “saya belum ingin terikat dengan siapapun. Saya harap kalian semua bisa mengerti. Saya benar-benar minta maaf, saya minta maaf sedalam-dalamnya karena saya tidak bisa memenuhi keinginan kalian semua. Maaf!" ucapnya lagi sambil mengatupkan kedua tangan di depan dad4 dan segera angkat kaki dari hadapan mereka semua, sementara semua yang hadir di sana hanya bisa terdiam mendengar ucapan gadis itu, terlebih Bu Ratnaduhita dan Pak Maulana. "Kay!" Ratnaduhita berteriak memanggil dan hendak mengejar putrinya. Namun, tiba-tiba Bram menghentikan langkahnya. "Tidak usah, Bu. Nggak apa-apa, saya bisa mengerti apa yang dirasakan sama Clarinta. Saya juga nggak maksa, mungkin dia masih perlu waktu untuk mempertimbangkannya, nggak papa ... saya bisa mengerti." Ucapan Bram yang lembut, membuat perempuan tua itu semakin merasa malu dengan sikap putrinya tadi, terlebih lagi terhadap Sasikirana yang sepertinya menaruh harapan besar ke Clarinta, sementara anggota keluarga yang lain hanya bisa terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. *** "Bram, kamu ini aneh.” Suara Sasikirana mulai terdengar lagi saat mereka berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke rumah, “kemaren kamu mengiba dengan amat sangat agar segera dinikahkan sama Clarinta, tapi sekarang kenapa kamu malah mundur dan menyerah seperti ini?" "Apa yang harus aku lakukan, Bu? Kalau dia nggak mau nikah sama aku, masa aku harus maksa? Bisa-bisa nanti dia marah dan benci sama aku jadinya, nggak asyik, ‘kan?” sahut Bram santai, “mungkin dia punya pertimbangan tersendiri," lanjutnya lagi sambil berkata dalam hati, "Tapi tenang saja, Bu. Janitra Bramantyo, anakmu ini tidak akan tinggal diam, selama ini nggak ada satu perempuan pun yang tidak bertekuk lutut dihadapanku! Lihat saja nanti, aku akan buat perhitungan dengannya! Dia pasti pasti akan menyetujui perjodohan ini," batinnya senang sambil memperhatikan jalanan luar melalui kaca jendela mobil. *** Sementara itu di rumah Clarinta. Seluruh keluarga besar Maulana benar-benar sedih dan malu dengan apa yang baru saja diperbuat oleh Clarinta. "Kay! Apa yang kamu buat barusan? Hah! Perbuatanmu ini benar-benar memalukan! Apa kamu nggak mikir bagaimana perasaan Bu Sasikirana? Bagaimana juga perasaan Bram?" tanya Ratnaduhita geram sambil memegang kedua lengan putrinya ini. "Lalu apa Ibu juga nggak memikirkan bagaimana perasaanku? Ini bukan jaman Siti Nurbaya, Bu! Aku nggak mau dijodohkan!" "Kalau kamu memang nggak mau dijodohkan, kenapa kamu ngasih harapan itu ke kami? Kenapa kamu mau ketemu sama keluarga mereka? Kalau akhirnya kamu menampar muka mereka di depan kami semua? Kenapa, Kay? Kenapa? Kamu benar-benar memalukan!" Suara Ratnaduhita terdengar begitu tinggi, menggelegar. Clarinta pun hanya bisa terdiam dan bergidik ngeri, tidak pernah ibunya marah sehebat ini. Selama ini, perempuan paruh baya itu selalu lembut dan penuh kasih sayang sama keempat anaknya, tapi kali ini emosinya memuncak. Clarinta sendiri jadi takut melihat amarah ibunya, sedari tadi gadis itu hanya terdiam dan tidak memberikan jawaban apapun atas pertanyaan ibunya. Dia tidak mungkin bisa mengatakan ke ibunya kalau hatinya telah terluka oleh Bram. Bagaimana dulu Bram meremehkan dia dan menganggapnya sebagai perempuan murahan. Clarinta masih ingat bagaimana wajah laki-laki itu yang menyeringai menjijikkan saat itu. "Kenapa kamu diam saja, Kay! Kamu harus minta maaf sama mereka, sama keluarga Bachtiar! Dan berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa sama Ayahmu setelah kejadian ini!" Sesaat Clarinta tersentak, dirinya baru teringat kalau ayahnya saat ini dalam keadaan sakit. Apa saja bisa terjadi, gadis itu jadi gelisah, dirinya bingung, apa yang harus dia perbuat? *** Di hotel ... Clarinta masih terkulai lemas di bawah siraman air shower yang menghujaninya bertubi-tubi sambil mengingat-ingat semua peristiwa yang terjadi sejak bertemu dengan Janitra Bramantyo. Dia tidak percaya kalau semalam dirinya bisa terlena begitu saja dalam pelukan laki-laki menyebalkan itu. Rasanya ada yang tidak beres dengan kejadian semalam. Tiba-tiba Clarinta teringat sesuatu, semalam dia bersama Sonya dan Zakira. Gadis itu mendongak ke atas, disekanya airmata yang membasahi kedua pipi. "Kuncinya ada di Zakira dan Sonya, mereka saksi kunci utama!" batinnya geram. *** Clarinta masih ingat peristiwa semalam setelah selesai menari di sebuah acara, saat itu dia ingin sekali bergegas pulang ke rumah, karena kemarin ayahnya masuk rumah sakit. Darah tingginya kembali naik, jadi hari ini dia ingin sekali menemani sang ayah. Namun, ketika hendak berlalu dari tempat itu, tiba-tiba Zakira menyeret lengannya dan mengajaknya menuju ke meja. "Hei hei hei, mau kemana? Kamu ‘kan belum makan!" "Aku harus cepat-cepat pulang, Za! Ayahku masuk rumah sakit dari kemarin, aku ingin menemaninya saat ini," sahutnya sambil berusaha melepaskan diri dari Zakira. "Eiittss, nggak bisa wece! Ye kudu makarena dulu, makanan di sindang beuhh top markotop! Endang markondang-kondaaang, endes endolita! Gilingan wece!" repet Sonya seketika sambil mendekati mereka berdua. "Sonya, aku lagi nggak pengin makan, aku ingin pulang! Ayahku pasti lagi nunggu aku. Aku mohon pleaseee, aku harus pulang. Tolong, biarkan aku pergi!" "Yaa udah deh! Minangan dulu deh wece! Ini minuman menyehatkan mix fruit com-bi-na-ti-on! Make yo-ur body strong inaf wece! Yuk cuuzz!" Sonya bergegas menyodorkan sebuah gelas berisi minuman seperti sirop berwarna merah ke arahnya. Sesaat Clarinta melirik ke arah Sonya dan Zakira sambil menerima gelas berisi sirop merah itu. "Kalo abis minum ini, aku boleh pulang, ‘kan?" pintanya dengan mengiba sambil menatap ke arah kedua temannya. "Dasar pere! Lambreta, ih! Bikin soraya perucha aja deh wece!" "Apan tuh soraya perucha? Bintang film?" sela Zakira yang kadang juga nggak tahu bahasa alay-nya Sonya. "Ih tintaa! Sadis deh wece, geje banget deh ye! Soraya perucha itu adalah sto–mek–ek alias sa-kit pe–rut, yuuk cuss sweety ye nggak bakalan metong kalau minum ini kok! I promise, aku janji!" Akhirnya Clarinta bergegas meminum habis minuman sirop merah yang disodorkan oleh Sonya tadi. "Gimana? Gilingan ‘kan wece?" tanya Sonya sambil mengambil gelas kosong itu. "Aku pulang dulu yaa …." "Sutralah! Terserah ye, titi dj ya wece!" Clarinta segera turun dari kursi dan segera meninggalkan Sonya dan Zakira menuju ke pintu utama ballroom. Namun, belum juga sampai di pintu, baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba kepalanya sakit, pusing yang amat sangat. Entah mengapa tiba-tiba saja pandangannya gelap, hitam pekat. Gadis itu merasa tidak bisa melihat apapun dan sebelum dia sempat jatuh terkulai ke lantai, Sonya yang saat itu sudah berjalan ke arahnya bareng Zakira bergegas memegangnya dari belakang, hingga akhirnya Clarinta jatuh pingsan seketika itu juga. *** "Aku harus mencari tahu apa yang terjadi semalam! Yang aku ingat hanya sampai itu saja! Terakhir aku ingat malam itu aku minum sirop merah yang dikasih sama Sonya, aku harus tanya sama dia!" Bergegas Clarinta segera mematikan shower dan diambilnya handuk yang sudah tersedia di sana. Tak lama kemudian gadis itu segera mengenakan kaos, celana jeans dan sepatu kets sambil menyambar tasnya yang teronggok kemudian berlalu dari kamar maut tersebut. Tujuannya yang pertama kali adalah Mutya, Clarinta merasa harus menceritakan semua ini ke sahabat dekatnya, paling tidak untuk mengurangi beban derita yang sedari tadi menghimpit dadanya yang terasa sesak dan nyeri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD