BAB 8 - Janji Masa Lalu

1890 Words
Bram benar-benar sangat geram akan perlakuan Clarinta di sanggar tari tadi. Malam itu, tujuannya cuma satu, pulang ke rumah dan berendam di bathup jacuzzi di kamar mandi, tempat favourite untuk merenung. Masih teringat kembali ucapan Clarinta yang begitu pedas di telinga ‘Nggak! Ingat ya dan catat dalam benakmu baik-baik, maafmu aku terima, tapi aku nggak mau jadi temanmu! Anggap saja kita nggak pernah ketemu!’ Bram mengepalkan tangan dan memukulnya ke air hingga percikkannya terciprat ke atas. ‘Lalu kamu mau apa? Mau mukul aku? Pukul!’ Bram kembali mengepalkan tangannya dengan keras lalu menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathup jacuzzi. "Baru kali ini aku ditolak oleh seorang perempuan, berani benar dia membentakku seperti itu tadi, kalau dia bukan perempuan, sudah aku hajar dia!" batinnya geram. Bram sangat kesal dengan perlakuan Clarinta yang mempermalukan dia di depan teman-teman gadis itu di sanggar tari tadi. Untuk meredakan amarahnya, laki-laki itu berdiam diri di dalam bathup jaquzi yang berisi air panas, air panas mampu membuat tubuhnya rilex dan nyaman. Selesai mandi, laki-laki itu bergegas menuju ke dapur, aroma kopi di malam hari menggugah seleranya untuk mengkonsumsinya malam ini. "Bram, kamu sudah pulang?" Tiba-tiba Sasikirana muncul di pintu dapur dengan senyumnya yang mengembang. "Sudah dari tadi, Bu. Ada apa?" sahut Bram sambil menyesap sedikit kopi hitamnya dan duduk di kursi yang ada di depan meja cabinet dapur. "Ibu punya kabar bagus buat kamu," ujar Sasikirana sambil duduk di sebelahnya. "Kabar apa?" Dari raut muka ibunya sebenarnya Bram sudah bisa menebak kabar apa yang akan disampaikan oleh sang ibu, yang selalu tidak jauh-jauh dari urusan perempuan. Laki-laki itu sangat yakin kalo ibunya pasti akan menjodohkan dia lagi dengan gadis pilihannya. "Kamu tahu, beberapa hari yang lalu, ibu ketemu sama sahabat ayahmu di rumah sakit. Ibu juga sudah sempat main ke rumah mereka. Keluarga mereka itu sebenarnya sudah sangat dekat sekali dengan keluarga kita, hanya saja kami harus berpisah lalu lost contact, ketika mereka pindah ke Papua, tapi sekarang Ibu bisa ketemu lagi sama mereka," ujar Sasikirana penuh semangat. "Oh ya? Baguslah kalau begitu, aku senang kalo Ibu bisa ketemu dengan teman-teman lama, paling tidak Ibu bisa bernostalgia dengan mereka," sahut Bram sambil menghibur sang ibu yang kadang masih sering menangis kalau teringat mendiang ayahnya. "Bukan hanya nostalgia, tapi Ibu ingin membina hubungan keluarga yang lebih dekat lagi dengan mereka." "Maksud, Ibu?" Sebenarnya Bram sudah mulai mengerti kemana arah pembicaraan ibunya, tapi dibiarkan perempuan paruh baya itu memberi penjelasan lebih jauh lagi. "Maksud Ibu, Ibu ingin menjodohkan kamu dengan salah satu anak perempuan mereka. Ya bukan langsung menikah, kalian ‘kan bisa saling mengenal terlebih dulu satu sama lain. Ibu yakin kalian berdua pasti cocok!" sahut Sasikirana sambil membelai rambut putranya yang sedikit gondrong—nyaris menyentuh bahu—dengan lembut. "Hmm … siapa namanya?" "Namanya Cla-rin-ta! Clarinta Ramaniya!" "Ugghhrrffr!" Bram pun tersedak ketika kembali menyesap kopinya yang tinggal separuh, begitu mendengar nama yang disebutkan sang ibu. "Bram? Kamu kenapa? Kamu nggak papa?" tanya Sasikirana panik sambil mengelus-elus punggung putranya. Bram hanya menggeleng sambil mengatur napas perlahan lalu diambilnya botol air putih yang selalu tersedia di atas meja. Dituangkan air itu ke gelas dan segera diminumnya perlahan. "Kamu nggak papa, ‘kan?" "Nggak papa, Bu. Everything is fine, siapa tadi namanya?" "Clarinta! Clarinta Ramaniya Maulana! Nama ayahnya Maulana, sahabat ayahmu, tapi Ibu belum sempat ketemu sama anaknya. Menurut Ratna, ibunya, kegiatan putrinya di luar kampus cukup menyita waktu, dia itu pekerja keras, sama seperti kamu. Oh iya, Ibu punya fotonya!" Bergegas Sasikirana mengeluarkan foto gadis itu yang disimpannya di dalam majalah yang dibawanya sedari tadi, "nah ini dia fotonya! Coba kamu lihat, cantikkan?" Bram segera melihat foto Clarinta yang dibawa ibunya, matanya yang bulat, bibir yang mungil dengan hidung mancung, memang merupakan satu kesatuan yang mampu memunculkan pesona kecantikan yang luar biasa. Apalagi dengan rambutnya yang hitam dan ikal mayang yang dibiarkan terurai semakin menambah nilai plus di wajah gadis itu. Dia memang Clarinta Ramaniya, perempuan yang pertama kali telah membentak dirinya. Bram tersenyum nakal sambil memperhatikan foto itu, pucuk dicinta ulam pun tiba. "Bagaimana menurutmu?" tanya perempuan tua itu penasaran, karena biasanya Bram selalu memiliki kriteria tersendiri dalam menilai seorang perempuan. Sasikirana sudah hafal bagaimana sifat putranya, karena dari sekian banyak perempuan yang sudah dicoba dijodohkan padanya, Bram selalu bisa saja berkelit dan menolak dengan halus. "Kapan ibu akan melamarnya?" Sasikirana kaget hingga kedua bolamatanya mendelik begitu mendengar ucapan putra sulungnya ini. "Apa? Apa ibu nggak salah dengar?" Bram menggeleng dengan senyum mautnya, "Nggak, Bu. Aku serius, aku pikir di usiaku yang sudah hampir kepala 3 ini, aku memang harus mulai serius berfikir untuk mencari pendamping hidup dan aku yakin pilihan Ibu pasti nggak salah, aku yakin itu! Aku mau, Bu. Jadi kapan Ibu akan melamarnya?" "Tapi ... apa kamu nggak perlu untuk kenalan terlebih dulu sama dia? Untuk saling dekat supaya kalian bisa saling kenal satu sama lain?" Sasikirana malah sedikit bingung dengan tingkah putranya karena biasanya Bram lah yang selalu memberikan alasan seperti itu. "Ibu, kenapa harus dipersulit? Setelah kami menikah, kami bisa saling kenal, ‘kan? Ibu sendiri ‘kan yang bilang seperti itu?" "Iyaa, tapi ini apa kamu benar-benar--..." "Aku serius, Bu!” sela Bram, “bahkan aku sangat serius hingga 1000%! Nikahkan aku dengan gadis itu segera, okay?" pinta Bram dengan tatapan mengiba. Sasikirana yang masih bingung hanya bisa mengangguk begitu ditatap seperti itu oleh putranya, tatapannya seperti tatapan seorang anak kecil yang merengek meminta sesuatu pada ibunya. *** Beberapa hari kemudian, setelah disepakati hari pertemuan kedua belah keluarga antara keluarga Bram dan keluarga Clarinta, tampak di rumah sederhana itu semua orang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut keluarga besar Bachtiar. Dan saat semua orang sedang sibuk, Clarinta malah termangu di kamar, ingatannya kembali menerawang ketika sang ibu mencoba mengajaknya ngobrol agak serius. Tidak biasanya ibu seperti ini. "Kay, boleh Ibu minta sesuatu darimu?" "Kalo aku bisa, kenapa nggak? Memangnya ada apa, Bu?" tanya Clarinta sambil duduk di tepi ranjang di sebelah perempuan paruh baya itu. "Ibu ingin kamu menolong salah satu teman Ibu. Mungkin ini berat buatmu, tapi Ibu yakin lambat laun kamu bisa memahaminya," sahut Ratnaduhita sambil memegang tangan putrinya lembut. "Apa maksud, Ibu?" "Kay, dulu ayahmu pernah saling berjanji dengan sahabatnya untuk saling menikahkan anak mereka kelak kalau kalian sudah dewasa,” ujarnya lagi sambil membelai rambut sang anak. “Dan beberapa hari yang lalu, kami bertemu dengannya, tapi sayang sahabat ayahmu sudah meninggal, yang ada hanya istrinya." "Jadi maksud ibu, ibu ingin menjodohkan aku dengan anaknya?" sela Clarinta yang sudah bisa membaca arah tujuan pembicaraan ibunya. "Kay, ini bukan semata-mata soal perjodohan, Nak. Tapi juga penepatan sebuah janji yang dulu pernah dibuat oleh ayahmu dan lagi kami nggak memintamu untuk segera menikah dengannya, kalian bisa saling berkenalan terlebih dahulu--…" "Ibu! Apa ibu lupa?” sela Clarinta cepat, “aku ‘kan sudah mengikat janji dengan Alva," ucapnya dengan nada memelas. "Ibu tahu, Sayang. Tapi kalian berdua baru pacaran, ‘kan? Kalian ‘kan belum saling terikat sebuah tali pertunangan atau pernikahan dan lagi Ibu nggak maksa kamu harus langsung menikah dengannya. Ini semua Ibu serahkan ke kamu, bisa jadi pertimbanganmu, Kay. Dan lagi apa kamu percaya kalau Alva di sana juga setia sama kamu?" "Ibu! Kenapa Ibu ngomong seperti itu? Apa Ibu nggak ingin aku bahagia?" "Ibu sangat ingin melihat kamu bahagia, Nak. Tapi apa nggak bisa sekali ini saja kamu turuti permintaan kami? Kami nggak memintamu untuk menikah, kami hanya memintamu untuk mengenal pemuda ini lebih jauh lagi, hal ini tentunya bisa menjadi bahan pertimbanganmu, Kay. Apalagi dia memiliki trauma terhadap perempuan." Clarinta terperanjat begitu mendengar ucapan ibunya "Maksud, Ibu?" "Menurut Sasikirana, ibunya. Sebenarnya anaknya itu sudah menikah, tapi mereka sudah bercerai 3 tahun yang lalu dan selama itu nggak ada seorang perempuan pun yang bisa mengisi kekosongan hatinya. Sasikirana takut trauma anaknya dengan seorang perempuan akan berlanjut berkepanjangan dan membuatnya tidak menikah lagi." "Memangnya apa yang membuat mereka bercerai?" "Dia memergoki istrinya sedang berhubungan layaknya suami istri dengan laki-laki lain di rumah mereka, di kamar mereka berdua, Kay." "Oooh …." Clarinta terperangah kaget, kedua bola matanya yang bulat itupun terbelalak tidak percaya. "Sejak itulah, dia jadi dingin sama perempuan. Sasikirana khawatir anaknya nggak tertarik lagi sama perempuan. Untuk itulah sahabat Ibu itu berusaha menjodohkan putranya dengan gadis manapun." Sejenak ibu dan anak ini hanya terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. Clarinta benar-benar tidak mengira kalau ayah dan ibunya akan meminta sesuatu yang cukup berat yang harus dilakukannya. Lama ada jeda di antara mereka hingga akhirnya Clarinta angkat bicara, "Baiklah Bu. Aku akan mencoba mengenalnya, paling nggak mungkin aku bisa membantunya untuk mencintai seorang perempuan lagi." "Oh, Kay. Mulia sekali hatimu, terima kasih, Sayang!" Ratnaduhita segera memeluk putrinya ini erat. *** "Kak Kay, apa Kakak sudah siap?" Lamunan Clarinta segera lenyap seketika itu juga begitu mendengar suara Nadine—adiknya—yang menyeruak masuk ke dalam kamar. "Apa mereka sudah datang, Din?" "Belum, tapi kurang lebih 15 menit lagi mereka akan sampai," sahut Nadine sambil menghampiri Clarinta yang masih terduduk di tepi ranjang dengan piyama kesukaannya. "Apa 15 menit? Ayo, Nadine! Bantu aku dandan! Ayooo!" Nadine pun bergegas membantu kakaknya berdandan, berganti baju yang sudah dipilihkan ibunya untuk acara ini. Sampai akhirnya ketika semua siap, keluarga besar Bachtiar akhirnya datang ke rumah keluarga Maulana yang sederhana dan asri dengan halaman yang tidak begitu luas. Namun, mampu memberikan kehangatan bagi siapa saja yang berkunjung ke sana. Saat itu hanya beberapa anggota keluarga Bachtiar yang datang, seperti Bu Sasikirana, Bram, Nabilla—adik kandung Bram dan Om Yusuf—paman Bram dari pihak ayahnya, sementara dari keluarga besar Maulana, ada Pak Maulana dan Bu Ratnaduhita juga Hilman. Setelah saling memberi salam dan berkenalan satu sama lain dengan keluarga Maulana, Bram mencoba menunggu dengan sabar kehadiran Clarinta sambil mengedarkan tatapannya ke ruang tamu yang begitu sederhana, tidak seperti ruang tamu di rumah ibunya yang serba wah dengan sofa-sofa besar dan lemari-lemari kaca yang berisi koleksi accessories dari berbagai negara yang terhampar di sana. Sementara di rumah keluarga Maulana yang ada hanya sofa-sofa kecil dengan hiasan foto-foto keluarga yang menempel di dinding dan rangkaian bunga segar yang menghiasi meja tamu. Rumah itu memang kecil dan sederhana, tapi entah mengapa Bram langsung merasa betah untuk berlama-lama di sana, karena selain penghuninya yang ramah, rumah ini sepertinya juga menyambutnya dengan baik. Sementara Hilman—kakak kandung Clarinta—sebenarnya sudah tahu siapa yang akan datang ke rumah mereka. Namun, dia enggan menceritakannya ke sang adik. Hilman berharap hal ini bisa menjadi surprise buat gadis itu, karena memang jodoh nggak akan kemana. Tak lama kemudian akhirnya Clarinta masuk ke ruang tamu bersama kedua adiknya, Nadine dan Rosalind untuk bertemu dengan keluarga Bram. Di sana keluarga besarnya sudah berkumpul, menyambut sang tamu dan dilihatnya ada seorang perempuan paruh baya dengan rambut abu-abu dan kulit putih pucatnya duduk di sebelah sang ibu. Clarinta teringat ucapan ibunya kalau istri sahabat ayahnya itu bukan perempuan lokal, melainkan dari luar negeri. "Itu pasti Bu Sasikirana," batinnya, kemudian di sebelah perempuan bule itu ada seorang pria setengah baya, seorang wanita muda yang sedang mengandung dan Bramad! Sejenak Clarinta berdiam diri di tempatnya. “Tunggu-tunggu, sepertinya ada yang aneh? Kenapa Bramad ada di sini? Apa laki-laki yang dimaksud Ibu itu adalah Bramad? Jadi ... ya Tuhan! Bramad anak Bu Sasikirana? Bodoh sekali aku!” batin Clarinta kesal “kenapa aku nggak nanya siapa nama laki-laki itu sama Ibu? Apa aku harus mengenal Bramad lebih jauh? Ooh tidak!" Clarinta mengutuk dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD