Setelah puluhan tahun lamanya mereka berpisah, akhirnya hari ini Ratnaduhita dan Sasikirana bisa bertemu kembali. Masih tergambar dengan jelas dalam benak perempuan tua itu puluhan tahun yang lalu ketika mereka sekeluarga harus pindah ke Papua karena suaminya, Maulana mendapat tugas di sana. Saat itu Hilman baru berusia 2 bulan sedangkan Sasikirana yang sudah lama menikah dengan Bachtiar belum dikaruniai anak juga.
"Ayah, Ayah ingat ini siapa?"
Ratnaduhita mencoba mengingatkan suaminya akan sosok Sasikirana yang kali ini sudah duduk di sebelah Maulana. Dengan seksama dan cukup lama laki-laki tua itu memperhatikan Sasikirana. Sejak stroke berat yang menimpa organ tubuhnya yang sebelah kiri beberapa tahun yang lalu, hingga menyebabkan kelumpuhan di kaki kiri, ingatan Maulana pun mulai menurun.
"Sa-si-ki-ra-na ... is–tri ... Bach-ti-ar ...." Tiba-tiba terdengar suara Maulana yang terbata-bata dan terdengar lamat-lamat di telinga.
"Iyaa betul, Sasikirana istrinya Bachtiar, sahabatmu."
Ratnaduhita mencoba memperjelas suara suaminya yang saat ini agak cedal sedikit karena stroke, sehingga selalu lebih memilih banyak diam, ketimbang berkata-kata, sementara Sasikirana tersenyum bahagia karena bisa ketemu lagi sama sahabat mendiang suaminya.
"Oh yaa, bagaimana kabar Bachtiar?" Mendengar pertanyaan Ratnaduhita barusan, tak terasa air matanya mulai keluar tanpa permisi membasahi pipi. Ratnaduhita yang melihat hal ini bergegas menghampiri istri sahabat suaminya itu dan menyuruh Hilman untuk mengawasi sang ayah, "Ada apa, Sas? Apa yang terjadi?"
"Bachtiar, dia … dia sudah meninggal dua tahun yang lalu karena penyakit jantungnya yang disembunyikannya selama ini," sahutnya disela-sela isak tangis, Ratnaduhita jadi ikutan sedih.
"Aku turut berduka cita, Sas. Yang sabar yaa, mungkin itu yang terbaik untuk dia, lalu anakmu? Kalau nggak salah waktu kami berangkat ke Papua dulu, kamu sedang hamil tujuh bulan, ‘kan? Oh iya, kenalkan dulu ini Hilman, kamu ingat … waktu kami ke Papua, dia baru berusia 2 bulan." Hilman yang saat itu sedang duduk di sebelah ayahnya segera berdiri dan memberikan salamnya ke Sasikirana.
"Yaaa ampun! Sudah besar sekali ya, mukanya persis seperti ayahnya, seperti Maulana waktu muda. Lalu ke sini, siapa yang sakit?"
"Cuma kontrol rutin sama fisioterapi untuk Maulana. Dia sudah lama kena stroke. Kamu sendiri ngapain ke sini?"
"Aku biasa juga, medical check up, kebiasaan rutin ...."
"Sendirian aja atau sama anak?" sela Ratnaduhita penasaran. Sasikirana bergegas menunjuk ke kursi yang ada di sebrang mereka, tampak Nabilla sedang asyik dengan tablet dan earphone yang terpasang di telinga.
"Itu anakku, namanya Nabilla. Ayo aku kenalin kamu ke dia." Sasikirana bergegas menggandeng tangan sahabat lamanya lalu berjalan mendekati putrinya yang masih asyik surfing melalui tablet. "Nabilla ...." Nabilla sedikit terkejut ketika tangannya disentuh oleh sang ibu. Perempuan muda itu lalu mendongak dan dilihatnya sang ibu sedang berdiri bersama seorang perempuan yang tidak dia kenal. Nabilla pun tersenyum sambil menatap mereka berdua. "Nabilla, kenalkan ini Tante Ratna, suaminya adalah sahabat dekat ayahmu sejak SMA."
Nabilla yang saat itu sedang hamil besar berusaha berdiri untuk menyapa teman lama orang tuanya, tapi Ratnaduhita segera menghentikannya seraya berkata, "Nggak usah berdiri, nggak apa-apa, kamu duduk saja."
"Salam, Tante ...."
"Wajahnya persis seperti Bachtiar yaa!" Sasikirana mengangguk membenarkan dan duduk di sisi sebelah kiri Nabilla, sedangkan Ratnaduhita duduk di sebelah kanan. "Sudah berapa bulan ini?" tanyanya sambil mengelus-elus perut buncit putri sahabatnya itu.
"Jalan lima bulan, Tante." Entah mengapa Nabilla langsung merasa nyaman dengan perempuan tua yang baru dikenalnya ini.
"Jadi ini bayi yang kamu kandung dulu ketika kami ke Papua?" tanya Ratnaduhita penasaran.
"Bukan, bukan dia, Rat. Masih ada lagi kakaknya, laki-laki, anakku ‘kan dua. Nabilla dan kakak laki-lakinya namanya Bram, anakmu sendiri cuma satu? Si Hilman aja?"
Ratnaduhita menggeleng sambil tertawa kecil, seraya berkata, "Nggak! Anakku empat, Sas. Waktu Hilman berusia 8 tahun, adiknya lahir, perempuan lalu beruntun setelah itu."
"Jadi kamu punya anak perempuan?" Sasikirana merasa senang dan penuh semangat begitu mendengar sahabatnya punya anak perempuan.
"Iyaa, adiknya Hilman yang pertama namanya Clarinta, usianya baru 21 tahun, saat ini sudah hampir skripsi, lalu Nadine 19 tahun dan yang paling kecil masih kelas 2 SMA namanya Rosalind."
"Mereka pasti cantik-cantik yaa, sama seperti kamu."
"Alhamdulilah, kami bersyukur punya mereka. Apalagi selain cantik, anak-anak perempuanku juga mandiri. Mereka bukan anak yang manja, apalagi dengan kondisi ayahnya yang seperti saat ini, mereka nggak ngeluh, aku bangga sama mereka," sahut Ratnaduhita bangga.
"Rasanya aku ingin sekali ketemu sama anak-anakmu."
"Mainlah ke rumah, kami tunggu dengan senang hati. Oh iya, berapa nomer telponmu?"
Akhirnya setelah bertukar alamat dan nomer telfon tiba-tiba terdengar nama Sasikirana Bachtiar disebut melalui mikrofon rumah sakit.
"Itu pasti hasil lab–ku sudah keluar, aku masuk dulu yaa."
"Silahkan! Aku juga akan mengantar Maulana, sampai ketemu nanti yaa.”
***
Walaupun setiap pagi Clarinta selalu mendapat kiriman bunga dari JB alias Bramad, gadis itu tidak pernah menggubrisnya sama sekali. Rangkaian bunga segar itu hanya menjadi penghias rumah atau kamar kedua adiknya, karena perhatiannya kali ini hanya satu yaitu Alvaro Naruna—sang pacar.
"Apa nggak ada jawaban yang lain yang bisa aku dengar, Kay?" Dengan menahan sesak di d**a, Clarinta menggeleng lemah, ketika Alva menanti jawabannya.
"Aku belum siap, Al. Aku belum bisa menjadi seorang istri, aku nggak ingin mengecewakanmu dan lagi aku belum bisa meninggalkan ayahku saat ini, kamu tahu ‘kan bagaimana kondisinya?"
"Tapi hatimu masih untukku, ‘kan?"
"Yaa tentu saja! Hatiku akan selalu untukmu, Sayang. Aku nggak akan membiarkan orang lain mengambilnya, aku akan menjaga sepenuhnya, cuma buat kamu, aku akan selalu menunggumu." Diraihnya tangan Alva lalu dikecupnya perlahan dengan mesra, sesaat kemudian Alva merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Mereka pun menangis bersama malam itu, seakan-akan enggan dipisahkan satu sama lain.
"Kamu tau, aku selalu takut kehilanganmu, Kay. Aku ingin sekali menjadikanmu sebagai milikku selamanya."
"Aku juga punya perasaan yang sama, Al. Rasanya berat berpisah denganmu saat ini."
"Kamu akan selalu menunggu aku ‘kan, Kay?"
"Aku akan selalu menunggumu, aku janji. Aku akan selalu setia sama kamu." Perlahan Alva melepaskan pelukannya lalu dibelainya wajah cantik itu yang selalu mengisi hari-hari dan mimpi-mimpinya selama ini dan hari ini adalah hari terakhir Alva bisa melihat kekasihnya secara langsung.
"Kamu janji akan selalu balas semua email, WA yang aku kirim?"
"Aku janji, kenapa nggak video call sekalian? Atau zoom, skype mungkin? Kita ‘kan bisa chat langsung via video online."
Alva tertawa kecil seraya berkata, "Aku pasti akan selalu kangen masa-masa indah bersamamu, Kay," ujarnya sambil menatap wajah cantik yang kadang terlihat ketus atau jutek kalau lagi marah. Sesaat kemudian Alva mencium kedua pipi pacarnya, gadis itu hanya bisa pasrah tapi begitu bibir laki-laki itu hendak menyentuh bibirnya yang mungil, Clarinta pun mengelak, "Kenapa ...?"
"Aku malu …."
Clarinta merasa risih, karena di tempat umum seperti ini memadu kasih berdua dengan sang pacar, meskipun resto yang dipilih oleh Alva sedikit remang-remang, tapi gadis itu tetap saja merasa sungkan untuk beradegan mesra di sana. Untungnya Alva bisa mengerti perasaan Clarinta, bagi laki-laki itu dengan memeluk, memegang dan mencium pipi gadisnya saja, itu sudah cukup baginya karena Clarinta itu jinak-jinak merpati. Kadang dia bisa begitu mesra tapi kadang pula bisa sangat judes. Alva sudah bisa membaca karakter pacarnya itu, oleh karena itu malam ini dia tidak ingin memaksa gadisnya itu untuk berbuat lebih, yang pasti dia sudah merasa yakin kalau Clarinta akan menantinya hingga dia pulang menimba ilmu di London, Inggris.
***
Tiga hari setelah kepergian Alva dari sisinya atau selama satu minggu kiriman bunga dari Bramad yang tidak kunjung berhenti, Clarinta mulai merasa kesepian. Sore itu dia baru saja selesai latihan koreo di sanggar tari, sebagian teman-temannya sudah pulang, tapi masih tersisa beberapa penari yang masih asyik memperdalam gerakan tarian yang baru.
Dari kejauhan Clarinta hanya bisa memperhatikan mereka sambil duduk berselonjor di lantai, sedangkan tubuhnya sengaja disandarkan ke dinding yang tidak berlapiskan cermin besar, seperti dinding yang ada di sebrang sana. Gadis itu lalu mendengarkan lagu kesukaan melalui earphone di ponsel sambil memejamkan mata, untuk istirahat sebentar. Latihan koreo kali ini benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Beberapa saat kemudian semua penat yang terasa selama seharian ini berangsur-angsur hilang perlahan-lahan.
Namun, tanpa dia sadari, dari kejauhan di pintu masuk, tampak seorang laki-laki dengan pakaian semi formalnya—setelan kemeja dan celana kain—mulai memasuki sanggar tari tersebut dan bertanya tentang keberadaan Clarinta pada salah satu dancer yang masih ada di sana. Setelah tahu keberadaan Clarinta, Bram bergegas menghampirinya. Setibanya di sana dilihatnya gadis itu sedang memejamkan mata sambil mendengarkan lagu dari earphone di ponsel, sementara salah satu tangannya memegang ponsel, sedangkan tangan yang lain dibiarkannya terkulai lemah.
Dengan rambut hitamnya yang dikucir ekor kuda dan wajah yang basah penuh dengan sisa-sisa peluh setelah selesai menari, tidak mengurangi kecantikan alami yang terpancar dari wajahnya. Apalagi dengan balutan kaos dan celana senam selutut yang membalut tubuhnya yang padat plus sepatu kets warna putih membuat gadis itu semakin mempesona di mata Bram. Lama laki-laki itu memandangi wajah Clarinta sambil berdiri, ada keinginan untuk membangunkannya, tapi hatinya ragu. Bram lalu jongkok di depan gadis itu dan perlahan-lahan dilepasnya kedua earphone dari telinga sang gadis. Sesaat Clarinta kaget dan membuka matanya, dlilihatnya di depannya kali ini ada Bramad si pria menyebalkan.
"Mau apa kamu?" Clarinta jadi naik pitam begitu Bram berada persis di depannya.
"Aku cuma mau membangunkanmu dan mengatakan kalau hari sudah mulai malam, apa kamu nggak pulang?"
"Terserah aku! Aku mau pulang atau nggak itu bukan urusanmu!" Clarinta bergegas berdiri kemudian segera mengemasi barang-barang bawaannya, Bram pun ikut berdiri.
"Iyaaa ... itu memang bukan urusanku, tapi kalau sekedar mengingatkan, apa itu salah?"
"Kamu nggak usah mencampuri kehidupanku, karena aku juga nggak ingin mencampuri kehidupan pribadi kamu! Ngerti? Dan satu lagi nggak usah pake kirim-kirim bunga lagi ke rumahku! Asal kamu tau, aku nggak suka!" hardiknya dengan nada marah.
"Aku hanya ingin minta maaf sama kamu, itu saja. Apa salah dengan mengirimkan bunga sebagai tanda permintaan maaf ? Aku ingin meluruskan yang salah di antara kita."
"Nggak ada yang perlu diluruskan!"
"Kamu bilang kalau kamu sudah menerima maafku, itu tandanya kamu sudah bisa menerima aku jadi temanmu, ‘kan?"
"Nggak! Ingat ya dan catat dalam benakmu baik-baik, maafmu aku terima, tapi aku nggak mau jadi temanmu! Anggap saja kita nggak pernah ketemu!" bentak Clarinta lantang sambil menjinjing tasnya dan hendak berlalu ke arah pintu.
Namun, baru selangkah, Bram segera menyambar tangan gadis itu. Clarinta kaget dan menoleh ke arahnya, laki-laki tinggi semampai itu menatapnya dengan tatapan marah yang belum pernah dilihatnya selama ini, sementara beberapa dancer yang lain masih bertahan di sana hanya bisa berbisik-bisik sambil memperhatikan mereka berdua. Namun, keduanya seperti tidak peduli dengan keadaan di sekitar mereka.
"Kamu tau, selama ini aku belum pernah dibentak oleh perempuan manapun! Baru kamu yang melakukannya!" bentak Bram dengan nada marah, rahangnya mengeras, tangannya pun mengepal.
"Lalu kamu mau apa? Mau mukul aku? Pukul!" Clarinta malah semakin menantang laki-laki itu dengan menyodorkan pipinya untuk ditampar atau dipukul. “Ayoo, pukul! Pukul!”
"Huh! Sombong sekali sih kamu! Aku sudah berusaha datang secara baik-baik untuk meminta maaf sama kamu, tapi kamu selalu menghindar! Apa kamu kira kamu ini gadis yang paling cantik? Hah?” ejek Bram sambil menahan amarahnya, “kamu kira aku akan mengiba padamu? Asal kamu tau saja ya, diluar sana banyak perempuan yang menunggu kehadiranku! Dan aku nggak terima perlakuanmu ini! Tunggu pembalasanku!" hardik Bram dengan nada tinggi
"Masa bodoh! Aku nggak takut!" balas Clarinta lagi dengan nada suaranya yang semakin keras. Mendengar ucapan gadis itu, Bram semakin murka dan menunjukkan amarahnya hingga tangannya pun naik ke atas seperti hendak menampar Clarinta. Namun, segera diurungkannya.
"Aarrhhggg!"
Bram mencoba mengeluarkan amarah dari dalam dadanya dengan berteriak cukup keras, kemudian segera berlalu dari hadapan gadis itu tanpa melihat ke arahnya sedikitpun. Clarinta yang saat itu sudah pasrah menerima tamparannya, merasa lega karena akhirnya laki-laki menyebalkan itu sudah pergi meninggalkan sanggar tari. Clarinta sangat berharap, mulai hari ini Bram akan menghilang dari kehidupannya selama-lamanya.