berlomba-lomba untuk menerapkan apa yang mereka
pahami. Selain itu, seorang bebas sampai tidak terbatas,
dan pintu ijtihad tetap terbuka sampai tidak ada batasnya,
karena pintu ijtihad adalah akal dan menutup pintu
ijtihad yakni menutup akal dan itu berarti akan
membawa kematian baginya. Islam tidak menerima
orang-orang yang mati akalnya atau menga-lami
kemunduran; Islam pada hakikatnya memperlakukan
manusia dari sisi akal dan hati.
"Adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa
yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang
untukmu, dan Allah meng-hendaki untuk membenarkan
yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan
orang-orang kafir. " (QS. al-Anfal: 7)
Orang-orang Islam karena kekafiran mereka dan
kebutuhan mereka serta situasi ekonomi yang
memburuk, mereka ingin bertemu dengan pasukan yang
tidak bersenjata; mereka ingin bertemu dengan kafilah
yang kaya, bukan pasukan yang bersenjata; mereka
membutuhkan harta untuk menyebarkan dakwah. Namun
Allah SWT menginginkan mereka dengan keadaan
seperti itu agar mereka berhadapan dengan pasukan kafir
163
dan agar mereka mampu memutus tali kekuatan orang-
orang kafir sehingga kebenaran akan menang.
Keluarlah orang-orang Muslim dalam peperangan Badar
dengan membayangkan bahwa mereka akan
mendapatkan keuntungan dan kesenangan dengan
banyak mengambil ganimah. Namun Allah SWT
menginginkan terjadinya peperangan yang berat, di mana
itu berakibat pada jatuhnya tokoh-tokoh kaum kafir
Mekah sebagai korban darinya dan agar Madinah dapat
menahan penderitaan dan kefakiran yang dialaminya.
Seharusnya pengikut Islam tidak membayangkan untuk
mengambil keuntungan tetapi ia justru harus memberi
kepadanya.
Nabi mengetahui sebagai pemimpin pasukan ia harus
mengingatkan pasukannya bahwa mereka akan menemui
kesulitan dan penderitaan, dan bukan masalah sepele
seperti yang mereka bayangkan. Nabi bermusyawarah
dengan sahabat-sahabat. Beliau berbincang-bincang
dengan Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, dan
Miqdad bin Amr. Lalu mereka semua sepakat untuk
terus melakukan peperangan apa pun hasilnya dan apa
pun pengorbanan yang harus dilakukan.
Kemudian Rasulullah saw berkata: "Wahai para sahabat,
tunjukkanlah diri kalian." Rasulullah saw
mengisyaratkan kepada kaum Anshar. Rasulullah saw
khawatir jika mereka memahami bahwa baiat yang
terjadi di antara mereka yang berisi agar mereka
164
melindungi beliau jika beliau diserang di Madinah saja,
dan memang pasal-pasal dari baiat itu mendukung hal
itu. Tidakkah mereka mengatakan kepada beliau: "Ya
Rasulullah, kami tidak akan bertanggung jawab
kepadamu sehingga engkau sampai di negeri kami. Jika
engkau sampai di negeri kami, maka kami akan
bertanggung jawab untuk melindungimu."
Mayoritas pasukan terdiri dari orang-prang Anshar,
maka Rasulullah saw ingin mengetahui keputusan
mayoritas tentara sebelum dimulainya peperangan.
Kaum Anshar mengetahui bahwa Rasul saw ingin
mengetahui pendapat kaum Anshar. Oleh karena itu,
Sa’ad bin ’Auf berkata: "Demi Allah, seakan-akan
engkau menginginkan kami ya Rasulullah." Nabi
menjawab, "benar." Kemudian kaum Anshar
menyatakan apa yang mereka rasakan.
Mendengar pernyataan kaum Anshar itu hilanglah
kekhawatiran dan ketakutan Nabi, bahkan beliau
bergembira dan wajahnya berseri-seri. Rasulullah saw
telah mendidik mereka berdasarkan Islam dan Islam
tidak mengenal pasal-pasal perjanjian namun ia justru
tenggelam dalam esensinya dan kedalamannya yang
jauh. Kaum Anshar meyakinkan Nabi bahwa mereka
benar-benar beriman kepadanya, mencintainya dan akan
mendengarkan apa saja yang beliau katakan serta akan
benar-benar menaati beliau.
165
Sa'ad bin Mu'ad berkata: "Ya Rasulullah, lakukanlah apa
yang engkau inginkan dan kami akan bersamamu. Demi
Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya
engkau membelah lautan lalu engkau menyelam di
dalamnya niscaya kami akan menyelam bersamamu dan
tidak ada seseorang pun di antara kami yang akan
meninggalkanmu." Demikianlah keteguhan kaum
Anshar. Kalimat tersebut menetapkan peperangan paling
penting dan paling berbahaya dalam sejarah Islam.
Perasaan kaum Anshar dan Muhajirin dalam pasukan
Rasul saw sangat berbeda dengan perasaan Nabi Musa
ketika mereka mengatakan kepadanya, "pergilah engkau
wahai Musa bersama Tuhanmu dan berperanglah,
sesungguhnya kami di sini hanya duduk-duduk saja."
Namun kaum Muslim menyatakan bahwa seandainya
Rasul saw memerintahkan mereka untuk melalui lautan
dengan berjalan kaki di atas ombaknya niscaya mereka
akan melakukan hal itu walaupun berakibat pada
tenggelamnya mereka dan kematian mereka dan tak
seorang pun yang akan menentang perintah Rasul saw
tersebut.
Akhirnya, kaum Muslim bersiap-siap untuk memasuki
kancah peperangan lalu mereka membuat kemah-kemah
yang di situ ditentukan tempat peristirahatan dan
pergerakan tentara Islam. Tempat itu ditentukan oleh
Rasul saw. Allah SWT membiarkan Rasul-Nya
melakukan kesalahan dalam memilih tempat sehingga itu
akan dapat menjadi pelajaran bagi kaum Muslim dalam
166
kaidah umum dari kaidah-kaidah peperangan yaitu sikap
pemimpin pasukan untuk mengambil suatu kebijakan
yang penting yang berdasarkan pengalaman. Kemudian
datanglah Habab bin Mundzir kepada Rasulullah saw
dan bertanya kepadanya, "apakah tempat yang kita
jadikan sebagai pusat pergerakan tentara kita merupakan
pilihan dari Allah SWT dan Rasul-Nya hingga kita tidak
dapat mendahuluinya dan mengakhirinya yakni kita
tidak dapat memberikan pendapat kita ataukah itu hanya
masalah yang bersifat tehnik yakni itu terserah pada
pendapat kita dan sesuai kebijakan saat perang dan ia
merupakan tipu daya semata?"
Rasulullah saw berkata: "Tetapi itu adalah pendapat
pribadi, peperangan, dan tipu daya." Habab berkata: "Ya
Rasulullah ini adalah tempat yang tidak tepat." Sahabat
yang sarat pengalaman ini memilih tempat di mana
pasukan Madinah dapat minum darinya sedangkan
pasukan Mekah tidak dapat mengambil darinya.
Kemudian berpindahlah pasukan Muslim menuju tempat
yang telah ditentukan oleh pengalaman militer.
Sampailah pasukan Mekah di mana jumlah mereka
mendekati seribu tentara dan mereka akan berhadapan
dengan tiga ratus tujuh belas pasukan Muslim. Pasukan
Quraisy berada di tempat yang jauh dari lembah.
Pasukan kafir terdiri dalam perang Badar dari pemuka-
pemuka Quraisy dan pahlawan-pahlawan mereka,
sedangkan pasukan Muslim terdiri dari keluarga-
167
keluarga, ipar-ipar dan keluarga dekat dari pasukan kafir.
Allah SWT telah menentukan agar seorang anak bertemu
dengan ayahnya, saudara bertemu dengan sesama
saudara dan sesama ipar bertemu di medan peperangan.
Mereka semua dipisahkan dengan suatu prinsip di mana
mereka ditentukan oleh pedang. Akhirnya, peperangan
Badar pun terjadi dan kaidah utama adalah kaidah
persaudaraan sesama Muslim. Dan ketika pasukan
Muslim berpegang teguh di atas dasar Islam, maka
pasukan kafir mulai terpecah belah namun keadaan
tersebut mereka sembunyikan.
Lalu ’Utbah bin Rabi’ah berbicara di tengah-tengah
pasukan Mekah dan mengajak mereka untuk menarik
kembali dari peperangan. ’Utbah memberikan pernyataan
sesuai dengan tuntutan akal sehat, "wahai orang-orang
Quraisy demi Allah, jika kalian harus memerangi
Muhammad, maka kalian akan menyesal karena kita
berhadapan dengan saudara-saudara kita sendiri. Boleh
jadi kita akan membunuh anak paman kita, atau salah
seorang dari kerabat kita. Mengapa kalian tidak
membiarkannya saja?"
Kalimat yang rasional tersebut cukup menggoncangkan
pasukan Mekah. Sebagian tentara merasa puas dengan
pernyataan tersebut karena mereka melihat bahwa tidak
ada gunanya peperangan itu. Namun kebohohan justru
memadamkan kalimat yang rasional itu. Abu Jahal
menuduh bahwa yang mengucapkan kata-kata adalah
orang yang penakut. Kemudian Abu Jahal lebih memilih
168
pendapatnya untuk menetapkan terus memerangi kaum
Muslim.
Pemimpin pasukan kafir yaitu Abu Jahal mengetahui
bahwa Muhammad tidak pernah berbohong. Kitab-kitab
sejarah menceritakan bahwa Akhnas bin Syuraif
menyendiri dalam perang Badar bersama Abu Jahal
sebelum terjadinya peperangan tersebut dan bertanya
kepadanya, "wahai Abui Hakam, tidakkah engkau
melihat bahwa Muhammad pernah berbohong? Abui
Hakam menjawab: "Bagaimana mungkin ia berbohong
atas Allah, sedangkan kami telah menamainya al-Amin
(orang yang dapat dipercaya)." Peperangan tersebut
bukan sebagai usaha untuk mendustakan Rasul saw
tetapi itu hanya semata-mata untuk menjaga
kepentingan-kepentingan sesaat dan keadaan ekonomi.
Demikianlah orang-orang kafir mempertahankan nilai
yang paling rendah yang ada di muka bumi yang juga
dipertahankan oleh binatang, sementara kaum Muslim
justru mempertahankan nilai yang paling tinggi di bumi
dan di langit yang ikut serta di dalamnya para malaikat.
Kemudian datanglah waktu malam menyelimuti dua
kubu. Tiga ratus tentara yang mukmin sudah bersiap-siap
dan mendekati seribu tentara musyrik. Orang-orang
musyrik datang dengan menunggangi tunggangan
mereka dan tampak mereka memiliki persenjataan yang
lengkap, sedangkan setiap orang Muslim datang di atas
satu kendaraan. Pakaian yang dipakai orang-orang
musyrik tampak masih baru dan pedang-pedang mereka
169
tampak mengkilat serta baju besi yang mereka gunakan
sangat unggul dan kuat. Alhasil, mereka memiliki
persiapan yang sangat mengagumkan sedangkan pakaian
yang dipakai orang-orang Muslim tampak sudah usang
dan pedang-pedang kuno pun mereka gunakan dan baju
besi yang mereka gunakan tampak tidak sempurna. Nabi
melihat keadaan pasukannya lalu hati beliau tampak
sedih melihat pasukan tersebut. Beliau berdoa kepada
Tuhannya: "Ya Allah, Sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang lapar, maka kenyangkanlah mereka.
Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah orang-orang
yang tanpa alas kaki, maka tolonglah mereka. Ya Allah,
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak
berpakaian, maka berilah mereka pakaian."
Kemudian rasa kantuk menghinggapi mata kedua
pasukan lalu mereka beristirahat di tengah-tengah
malam. Jatuhlah hujan kecil yang membuat tempat itu
basah sehingga kelembaban mengitari kaum Muslim.
Hujan tersebut membasuh tanah perjalanan dan
menghilangkan debu-debu kepayahan serta menyucikan
hati dan membangkitkan kepercayaan atas kemenangan
dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk
sebagai suatu penenteram dari-Nya, dan Allah
menurunkan hujan dari langit untuk menyucikan kamu
dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu
170
gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan
hatimu dan memperteguh dengannya telapak
kaki (mu). ” (QS. al-Anfal: 11)
Datanglah waktu pagi di Badar lalu kaum Quraisy mulai
menyerang, lalu Nabi memerintahkan pasukan Muslim
untuk bertahan. Rasulullah saw bersabda: "Jika musuh
mengepung kalian, maka usirlah mereka dengan panah
dan janganlah kalian menyerang mereka sehingga kalian
diperintahkan."
Demikianlah ketetapan militer yang sangat jitu yang
berarti hendaklah kaum Muslim membentengi mereka di
tempat-tempat mereka agar orang-orang musyrik
mendapatkan kerugian dari serangan yang mereka
lakukan. Kita mengetahui dari ilmu militer saat ini
bahwa seorang yang menyerang memerlukan tiga atau
tiga kali lipat dari jumlah yang biasa dilakukan sehingga
serangannya betul-betul efektif; kita mengetahui bahwa
jumlah pasukan musyrik tiga kali lipat dibandingkan
dengan tentara Muslim. Kaum musyrik dilihat dari segi
jumlah sangat memadai untuk memenangkan
peperangan, dan persenjataan mereka lebih lengkap dari
persenjataan kaum Muslim. Jumlah hewan yang mereka
miliki pun sama dengan jumlah mereka, sedangkan tiap
tiga orang Muslim berperang di atas satu tunggangan.
Keadaan saat itu sangat menguntungkan kaum musyrik.
Tanda-tanda kemenangan tampak menyertai bendera
kaum musyrik, tetapi kemenangan peperangan bukan
171
karena kebesaran jumlah pasukan dan persenjataan yang
lengkap. Terkadang peperangan justru dimenangkan oleh
unsur spiritual yang tidak kelihatan. Spiritualitas tentara
dan keimanannya tentang persoalan yang
dipertahankannya serta keinginannya untuk
mendapatkan dua kebaikan: kemenangan atau kematian
dan hasratnya yang tinggi untuk meneguk madu
syahadah, semua itu dapat mengubah seorang tentara
menjadi makhluk yang tidak terkalahkan. Boleh jadi ia
akan merasakan kematian tetapi jauh dari kekalahan.
Demikianlah keadaan pasukan Muslim.
Sementara itu debu-debu berterbangan di atas kepala
pasukan yang bertempur dan kaum Muslim
mencurahkan tenaga yang keras dalam peperangan itu.
Ketika dua pasukan saling bertemu dan bertempur. Nabi
saw melihat mereka, lalu Nabi saw menyaksikan
pasukannya terjepit. Pasukan yang berjumlah sedikit
dengan persenjataan yang tidak lengkap itu kini ditekan
oleh orang kafir. Dalam keadaan demikian, Nabi saw
meminta pertolongan kepada Tuhannya: 'Ya Allah,
kirimkanlah bantuan dan pertolongan-Mu. Ya Allah,
wujudkanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika
kelompok ini dihancurkan, maka Engkau tidak akan
disembah setelahnya di muka bumi." Renungkanlah,
bagaimana kesedihan Nabi saat terjadi peperangan itu.
Oleh karena itu, kita dapat memahami mengapa Nabi
saw meminta agar pasukannya dimenangkan.
172
Pemimpin pasukan tertinggi Muhammad bin Abdillah
keluar berperang di jalan Allah SWT dan saat ini
kematian sedang mengitari kaum Muslim, lalu apa yang
dipikirkan oleh Nabi saw pada keadaan yang sulit
tersebut? Pemikiran Nabi saw melebihi hal yang
sekarang dan menuju pada hal yang akan datang, dan
yang menjadi fokus Nabi adalah penyembahan Allah
SWT di muka bumi: "Ya Allah, jika kelompok ini
dihancurkan, maka Engkau tidak akan disembah
setelahnya di muka bumi."
Nabi tidak terlalu mengkhawatirkan kehancuran kaum
Muslim karena Nabi justru mengkhawatirkan sesuatu
yang lebih besar dari itu. Yang beliau khawatirkan
adalah penyembahan kepada Allah SWT akan berhenti
di muka bumi. Oleh karena itu, Nabi meminta tolong
kepada Tuhannya dan mengingatkan kembali kepada
Tuhannya dan Allah SWT lebih tahu dari hal itu.
Kemudian turunlah bala tentara malaikat yang dipimpin
oleh Jibril.
Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada
Tuhanmu, lalu diperkenankankan-Nya bagimu:
'Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan
kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang
berturut-turut.' Dan Allah tidak menjadikannya
(mengirim bantuan itu), melainkan sebagai kabar
gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya.
173
Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS. al-Anfal: 9-10)
Setelah itu Nabi saw menghampiri sahabat Abu Bakar
dan berkata: "Sampaikan berita gembira wahai Abu
Bakar, sesungguhnya telah datang kepadamu bantuan
dari Allah SWT."
Turunnya para malaikat merupakan cara untuk
meneguhkan kaum Muslim dan berita gembira kepada
mereka. Mukjizat itu bukan terletak pada penyertaan
para malaikat dalam peperangan, namun melalui nas-nas
ditegaskan bahwa peranan malaikat tidak lebih dari
sekadar membawa berita gembira dan memberikan
dukungan moril serta memenuhi hati dengan ketenangan.
Kami kira bahwa Allah SWT ingin agar para malaikat
menyaksikan manusia-manusia malaikat yang
mempertahankan akidah tauhid.
Demikianlah Allah SWT mewahyukan kepada malaikat
bahwa Dia bersama mereka. Oleh karena itu, hendaklah
orang-orang yang beriman merasa tenang dan kebenaran
akan tertancap pada hati mereka sedangkan orang-orang
kafir pasti akan merasakan ketakutan.