Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para
malaikat: 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka
teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah
174
beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke
dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala
mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.
(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena
sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya;
dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka
sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. Itulah
(hukum dunia yang ditimpakan atasmu), maka
rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-
orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka."( QS. al-
Anfal: 12-14)
Lalu orang-orang kafir pun mengalami kekalahan.
Setelah peperangan itu, terbunuhlah tujuh puluh kafir
dan tujuh puluh tawanan dari mereka dan sebagian
pasukan melarikan diri. Runtuhlah tokoh-tokoh
kebencian dan kelaliman di peperangan tersebut.
Hancurlahlah Abu Jahal, pemimpin pasukan, dan
pahlawan-pahlawan Mekah kini terkapar.
Rasulullah saw berdiri di depan bangkai-bangkai orang-
orang kafir dan berkata: "Wahai Utbah bin Rabi'ah,
wahai Syaibah bin Rabi’ah, wahai Umayah bin Khalf,
wahai Abu Jahal bin Hisam, apakah kalian menemukan
apa yang dijanjikan oleh tuhan kalian kepada kalian.
Sungguh aku telah menemukan apa yang dijanjikan
Tuhanku." Orang-orang Muslim berkata: "Ya
Rasulullah, apakah engkau memanggil kaum yang sudah
mati?" Rasulullah berkata: "Kalian tidak mengetahui apa
yang aku katakan kepada mereka, tetapi mereka tidak
175
mampu menjawab perkataanku." Rasulullah saw tinggal
tiga malam di Badar kemudian beliau kembali ke
Madinah. Di depan beliau terdapat tawanan-tawanan
perang dan ganimah.
Kaum Muslim sangat menanggung beban berat dengan
banyaknya tawanan perang. Mula-mula Rasulullah saw
bermusyawarah dengan sahabat Abu Bakar dan Umar.
Abu Bakar berkata: "Ya Rasulullah, mereka adalah
keturunan dari saudara-saudara dan keluarga, dan aku
melihat lebih baik engkau mengambil fidyah (tebusan)
dari mereka sehingga apa yang engkau ambil tersebut
merupakan kekuatan bagi kita terhadap orang-orang
kafir, dan mudah-mudahan Allah SWT memberi
petunjuk kepada mereka sehingga mereka menjadi
tulang punggung kita."
Kemudian Rasulullah saw menoleh kepada Umar bin
Khattab sambil berkata, "bagaimana pendapatmu wahai
Ibnul Khattab?" Lelaki itu berkata: "Demi Allah, aku
tidak sependapat dengan apa yang dikatakan Abu Bakar
tetapi aku berpendapat, seandainya aku mampu untuk
bertemu dengan salah seorang kerabatku, maka aku akan
memukul lehernya, dan seandainya Ali mampu bertemu
dengan keluarganya, maka ia pun akan memukul
lehernya begitu Hamzah sehingga Allah SWT
mengetahui bahwa tidak ada di hati kita kelembutan
kepada kaum musyrik."
176
Pasukan Madinah dan pasukan Mekah terdiri dari
keluarga-keluarga yang terikat hubungan kekerabatan,
namun kehendak Allah SWT menetapkan terjadinya
peperangan sesama keluarga: antara anak dan orang
tuanya. Umar menginginkan agar keadaan demikian
terus berlanjut sehingga orang-orang musyrik
mengetahui bahwa Islam tidak ingin berdamai.
Kemudian Selesailah urusan itu dan terjadi peperangan
di jalan Allah SWT dan mengangkat senjata dan
berperang adalah suatu kewajiban yang tiada keraguan di
dalamnya. Nabi saw menoleh kepada kaum Muslim dan
mendapati sebagian besar mereka cenderung kepada
pendapat Abu Bakar. Nabi saw mengikuti pendapat
mayoritas saat itu. Pendapat mayoritas salah dan hanya
Umar yang benar.
Ini adalah peperangan pertama yang dilalui oleh Islam.
Hendaklah kaum Muslim harus meninggalkan dorongan
kemanusiaan mereka, yakni orang-orang kafir harus
dibunuh agar musuh-musuh Allah SWT mengetahui
bahwa Islam telah memilih darah. Allah SWT telah
mendukung Umar bin Khattab dalam Al-Qur’an sehingga
Nabi saw dan Abu Bakar menangis ketika keduanya
menyadari kesalahan mereka pada hari berikutnya, lalu
Umar memergoki mereka dalam keadaan menangis dan
ia bertanya, "apa yang menyebabkan Rasulullah saw dan
temannya di gua menangis?" Kemudian Rasulullah saw
membaca Al-Qur'an:
177
"Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan
sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.
Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan
Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau
sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari
Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena
tebusan yang hamu ambil." (QS. al-Anfal: 67-68)
Kedua ayat itu mengatakan bahwa ini bukan saatnya
melindungi para tawanan dan berusaha untuk menebus
mereka. Waktu Demikian belum saatnya. Nabi tidak
berhak memiliki tawanan kecuali jika ia telah melakukan
banyak peperangan dan banyak berjihad dan telah
banyak membunuh dan dakwahnya telah mapan.
Kedua ayat tersebut menyingkap tujuan di balik
penebusan tawanan: "Kamu menghendaki harta benda
duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat
(untukmu)."
Demikianlah pemikiran yang mempertimbangkan
keadaan-keadaan aktual yang sulit. Itu adalah pemikiran
yang bersifat taktik sebagaimana yang kita ungkapkan
dalam istilah modem dan bukan pemikiran yang bersifat
strategis. Kemudian para tawanan tersebut bukan
tawanan biasa tetapi menurut istilah modern mereka
adalah penjahat-penjahat perang. Oleh karena itu, nyawa
mereka harus ditumpahkan saat mereka dapat ditangkap,
meskipun mereka memiliki kekayaan yang banyak atau
178
kedudukan yang tinggi. Islam tidak mengakui kekayaan
atau kedudukan, yang diakuinya adalah keimanan,
sedangkan pertimbangan-pertimbangan duniawi lainnya
tidak dihiraukan oleh Islam.
Nas Al-Qur’an memperingatkan orang-orang yang
menang bahwa kesalahan mereka bisa berakibat pada
datangnya siksaan yang bakal mereka terima tetapi Allah
SWT mengampuni mereka dan menurunkan rahmat-
Nya: "Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah
terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang
besar karena tebusan yang kamu ambil."
Siksaan tersebut memang lebih dekat daripada pohon
yang dekat ini, kemudian Allah SWT mengampuni
mereka dan Allah SWT mengampuni sahabat-sahabat
yang terjun di perang Badar, baik dosa yang lalu maupun
dosa mereka yang akan datang. Demikianlah Al-Qur'an
ingin mendidik kaum Muslim agar mereka tidak banyak
mempertimbangkan urusan manusiawi saat berperang.
Jadi, Islam memulai peperangannya yaitu peperangan
yang hanya ditujukan kepada Allah SWT dan hendaklah
peperangan tersebut dihilangkan dari pertimbangan-
pertimbangan yang sulit sehingga sahabat-sahabat Nabi
mengetahui bahwa kecenderungan kepada kesenangan
duniawi akan berakibat pada kekalahan mereka.
Dalam peperangan Uhud jumlah kaum musyrik tiga ribu
sedangkan jumlah kaum Muslim tiga ratus pasukan
setelah pemimpin orang-orang munafik Abdullah bin
179
Saba' mengundurkan diri pasukan. Kaum Muslim
diletakkan di gunung dan Rasulullah saw membuat
rencana yang jitu untuk memenangkan pertempuran di
mana beliau membagi pasukan pemanah di puncak
gunung untuk melindungi punggung kaum Muslim dan
melinduingi mereka dari serangan dari arah belakang.
Rasulullah saw memberi pengertian kepada pasukan
panah itu agar mereka tetap di tempatnya baik kaum
Muslim menang maupun kalah. Yakni bahwa pasukan
pemanah tidak boleh turun dari gunung dan meski
berusaha untuk melindungi kaum Muslim. Rasulullah
saw berkata kepada mereka, "lindungilah punggung-
punggung kami. Jika kalian melihat kami sedang
bertempur, maka kalian tidak usah turun darinya dan
tidak usah menolong kami, dan jika kalian melihat kami
memperoleh kemenangan dan mengambil ganimah,
maka kalian tidak boleh ikut serta bersama kami."
Setelah membuat keputusan tersebut, Rasulullah saw
kembali ke pasukan yang lain, lalu beliau membikin
suatu rencana untuk menyerang. Dan Dimulailah
peperangan kemudian pasukan Islam mendorong
pasukan musyrik laksana angin yang kencang yang
memporak-porandakan ribuan kaum musyrik. Pada
tahapan pertama pasukan Islam tampak menguasai
medan dan berhasil menyapu kaum musyrik sehingga
pasukan Mekah tampak berputus asa meskipun mereka
unggul secara bilangan dan meskipun mereka memiliki
kuatan persenjataan yang lengkap, pasukan Mekah justru
180
dikagetkan dengan ketangguhan pasukan Muslim yang
dapat memukul mundur mereka hingga mereka
membayangkan balwa mereka tidak dapat memenangkan
peperangan atau dapat bertahan di hadapan pasukan
Muslim.
Debu-debu peperangan mulai berterbangan yang
menyertai tanda-tanda kekalahan pasukan Mekah.
Sementara itu, para pemanah yang diletakkan Rasulullah
saw di suatu tempat yang strategis berpikir untuk
memperoleh ganimah. Pasukan Mekah telah kalah dan
mereka telah melarikan diri dari pasukan Muslim, maka
bagaimana seandainya para pemanah turun dari tempat
mereka untuk mengumpulkan harta rampasan dan
ganimah. Rasulullah saw telah mengingatkan mereka
agar jangan meninggalkan tempat mereka, apa pun yang
terjadi tetapi pasukan pemanah itu justru berkhianat dan
menentang perintah Nabi saw setelah mereka
membayangkan bahwa peperangan telah selesai dan
keuntungan akan diperoleh pasukan Madinah yang
beriman.
Pasukan pemanah mengira bahwa Allah SWT akan
menutupi kesalahan mereka dan akan melindungi
mereka sehingga mereka berhasil mengambil harta
rampasan dan ganimah. Sungguh keikhlasan telah
tercabut dari hati sebagian pasukan. Belum lama hal
tersebut berlangsung sehingga terjadilah perubahan yang
drastis pada peperangan. Pemimpin pasukan berkuda
musyirik dalam peperangan Uhud yaitu Khalid bin
181
Walid yang kemudian ia menjadi tokoh Muslim adalah
orang yang sangat jenius dalam peperangan. Begitu ia
melihat pasukan pemanah lari dari tempat mereka, maka
ia melihat celah yang terbuka di tengah-tengah kaum
Muslim, sehingga ia segera memutarkan kudanya dan
disertai pasukan yang mengikutinya. Kemudian ia
menyerang kaum Muslim dari belakang. Serangan yang
dilakukan Khalid itu sangat cepat dan sangat
mengejutkan. Orang-orang musyrik mengambil
kesempatan emas. Mereka yang tadinya lari, kini mereka
menarik diri dan justru menyerang kembali.
Pasukan Muslim dikepung dari dua arah oleh pasukan
berkuda: satu dari belakang dan yang lain dari depan.
Kemudian berjatuhanlah korban-korban dari pasukan
Muhammad bin Abdillah. Banyak di antara mereka yang
mati sebagai syahid saat mempertahankan dan
melindungi Rasulullah saw, bahkan sang Nabi pun
hidungnya terluka dan giginya pun runtuh dan kepala
beliau yang mulia terluka sehingga beliau mengucurkan
darah.
Kemudian tersebarlah isu bahwa Muhammad saw telah
meninggal. Ketika mendengar itu, kaum Muslim sangat
terpukul dan sangat sedih sehingga kaum Muslim pun
terpecah-pecah. Sebagian mereka kembali ke Mekah dan
sekelompok yang lain ke atas gunung dan mereka tetap
menjaga Nabi saw yang mulia. Ketika mendengar
kematian Nabi, Anas bin Nadhir berkata kepada
kaumnya: "Bangkitlah kalian dan matilah seperti
182
kematiannya. Apa yang kalian lakukan setelah kalian
hidup sesudahnya."
Pasukan Muslim tetap bertahan dan melakukan
peperangan, lalu tekanan kaum musyrik semakin berat
kepada Nabi saw dan para sahabatnya. Kemudian
terjadilah kejadian yang paling sulit dalam sejarah umat
Islam. Nabi saw berteriak saat melihat kaum musyrik
menekannya dan berusaha membunuhnya: "Barangsiapa
yang dapat mengusir mereka dariku, maka baginya
surga."
Mendengar perkataan itu, kaum Muslim segera mengitari
Nabi saw dan melindungi beliau sehingga banyak dari
mereka berguguran sebagai syahid. Bahkan sahabat-
sahabat Abu Juanah melindungi Nabi saw sampai-
sampai punggungnya dipenuhi dengan anak-anak panah.
Ia bagaikan baju besi yang dipakai kepada Nabi saw dan
ia tetap kokoh melindungi sang Nabi saw. Kemudian
berubahlah keadaan karena keteguhan dan keberanian
yang diperlihatkan oleh kaum Muslim. Pasukan Mekah
merasa puas dan mereka memilih untuk menarik diri.
Saat itu orang-orang Quraisy tidak lebih sedikit
penderitaannya daripada orang-orang Muslim.
Setelah peperangan yang dahsyat itu, kaum musyrik
menarik diri setelah mereka berhasil membunuh
beberapa orang Muslim, bahkan mereka berhasil melukai
pemimpin pasukan yaitu sang Nabi saw. Semua itu
terjadi karena satu kesalahan yaitu kesalahan terletak
183
pada penentangan dan pembangkangan para pemanah
terhadap perintah sang Rasul saw dan usaha mereka
untuk meninggalkan tempat mereka.
Ketika sebagian kelompok dari sahabat kehilangan
pengorbanan dan kehilangan sikap ikhlas dalam hati
mereka, maka kesalahan tersebut harus dibayar oleh
tentara yang paling berani dan mulia di antara mereka
yaitu sang Nabi saw. Langit tidak ikut campur untuk
menyelamatkan pasukan Islam itu. Kesalahan kaum
Muslim itu harus dibayar oleh Rasul saw di mana wajah
beliau pun terluka bahkan keluar darah yang cukup deras
dari luka beliau sehingga setiap kali dituangkan air di
atas luka itu, maka darah pun semakin deras mengucur.
Darah itu tidak berhenti kecuali setelah dibakarkan
potongan tembikar lalu dilekatkan di atasnya.
Luka beliau bukan hanya bersifat materi tetapi luka
spiritual beliau dan ruhani beliau pun semakin
bertambah. Ini beliau rasakan ketika mendengar bahwa
pamannya Hamzah gugur sebagai syahid dan tidak
cukup dengan itu, bahkan istri Abu Sofyan yaitu Hindun
membelah perutnya dan mengeluarkan jantungnya serta
mengunyahnya dengan mulutnya. Semua itu semakin
menambah kesedihan sang Nabi.
Kaum Quraisy menguasi pasukan Muslim dan mereka
memberlakukan dan menekan kaum Muslim secara
aniaya. Seandainya bukan karena rahmat Allah SWT
niscaya kaum Muslim akan mengalami kekalahan yang
184
telak. Kemudian turunlah dalam Al-Qur'an al-Karim
ayat-ayat yang mendidik kaum Muslim agar mereka
benar-benar ikhlas dan memahamkan mereka bahwa
kekalahan mereka sebagai akibat dari adanya pasukan di
antara mereka yang menginginkan dunia meskipun di
antara mereka ada sebagian yang menginginkan akhirat.
Jika terjadi demikian, maka tidak adajalan untuk
memperoleh kemenangan. Ini bukanlah hal yang
diinginkan oleh pasukan Muslim, yang diharapkan
adalah hendaklah semua pasukan tertuju untuk mencapai
ridha Allah SWT dan hanya mengharapkan akhirat. Jika
demikian halnya, maka Allah SWT akan memberi
mereka dunia dan akhirat.
Allah SWT berfirman dan menceritakan peperangan
Uhud dalam surah Ali ’lmran:
"Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan
di antara kamu ada orangyang menghendaki akhirat.
Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk
menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah
memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang
dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman." { QS. Ali
’lmran:: 152)
Allah SWT memaafkan hal itu. Orang-orang Muslim
kini menghitung jumlah korban mereka dan mengobati
orang-orang yang terluka. Rasulullah saw bertanya
tentang pamannya Hamzah, dan ketika beliau
mendapatinya di tengah-tengah sahabat yang gugur, dan
185
orang-orang kafir telah merusak jasadnya, maka beliau
berkata dalam keadaan menangis: "Tidak akan ada orang
yang akan tertimpa sepertimu selama-lamanya."
Kemudian Nabi saw berdiri dan memuji Allah SWT lalu
beliau memerintahkan untuk mengembalikan orang-
orang yang terbunuh dari kaum Muslim ke tempat asal
mereka di mana mereka terbunuh. Saat itu keluarga
mereka telah membawanya ke kuburan kemudian Nabi
saw mengumpulkan kedua orang laki-laki dari
pahlawan-pahlawan Uhud dalam satu pakaian dan beliau
bertanya siapa di antara keduanya yang paling banyak
mengambil manfaat dari Al-Qur’an. Jika diisyaratkan
kepada salah satunya, maka beliau akan
mendahulukannya untuk dimasukan dalam liang lahad.
Rasulullah saw juga memerintahkan agar mereka
dikebumikan dengan darah mereka dan beliau pun tidak
mensalati mereka, serta tidak memandikan mereka.
Allah SWT ingin memperlihatkan bagaimana mereka
dibangkitkan pada hari kiamat lalu beliau bersabda:
"Tiada seorang pun yang terluka di jalan Allah SWT
kecuali Allah SWT membangkitkannya di hari kiamat
dalam keadaan di mana lukanya akan mengucur darah.
Warna itu adalah warna darah dan baunya seperti
minyak misik."
Bukanlah penderitaan yang dalam yang merupakan
pelajaran yang harus dimengerti kaum Muslim dari
peperangan Uhud sebagai akibat dari pembangkangan
186
mereka dari perintah Rasul saw dan ketidaktaatan
mereka kepadanya, tetapi wahyu juga menurunkan
berbagai pelajaran yang lain yang dapat dimanfaatkan.
Pelajaran yang terpenting setelah pelajaran kesetiaan
adalah penjelasan tentang Central utama yang di situ
kaum Muslim berkumpul. Pribadi Rasulullah saw
bukanlah markas yang di situ kaum Muslim berkumpul
yang ketika pribadi Rasulullah saw yang mulia pergi
karena satu dan lain hal, maka orang-orang Muslim akan
pergi dan meninggalkan beliau. Tidak seharusnya pribadi
Rasul saw menjadi markas atau Central tetapi yang
menjadi Central dari semuanya adalah pemikiran beliau.
Itulah yang paling penting.
Demikianlah bahwa Al-Qur’an al-Karim mencela orang-
orang yang meletakkan senjatanya ketika tersebar isu
terbunuhnya Nabi saw. Islam tidak akan mencapai
puncaknya ketika kaum Muslim berkumpul di sisi
Rasulullah saw saat beliau masih hidup namun ketika
beliau terbunuh atau mati, maka mereka murtad di mana
mereka membuang senjatanya dan pergi mengurusi diri
mereka sendiri. Orang-orang Islam adalah orang-orang
yang mengikuti prinsip bukan mengikuti pribadi.
Muhammad bin Abdillah memang seorang pemimpin
manusia dan Imam para rasul dan penutup para nabi, dan
sebagai makhluk Allah SWT yang paling mulia, namun
ini semua tidak membenarkan bahwa seorang Muslim
diperbolehkan untuk meletakkan senjatanya ketika Rasul
saw wahfat atau terbunuh. Hendaklah seorang Muslim
187
memanggul senjatanya dan tidak membuang dari
tangannya kecuali dalam dua keadaan: pertama ketika ia
telah memperoleh kemenangan dan kedua ketika ia telah
mati.
Nas Al-Qur’an menjelaskan secara gamblang hubungan
kaum Muslim dengan akidah Islam, bukan dengan
pribadi sang Rasul saw. Allah SWT berfirman:
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.
Apakahjika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke
belakang (tnurtad)? Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maha ia tidak dapat mendatangkan mudarat
kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi
balasan kepada orang-orangyang bersyukur." { QS. Ali
'Imran: 144)
Demikianlah bahwa peperangan Uhud telah membawa
dampak yang luar biasa terhadap kaum Muslim,
utamanya terhadap Nabi saw. Orang-orang yang
terbunuh di perang Uhud adalah sahabat-sahabat yang
paling mulia dan paling banyak imannya. Mereka adalah
pilihan dari orang-orang Muslim yang pertama; mereka
memikul beban dakwah di saat-saat yang sulit bahkan
mereka harus berhadapan dan memusuhi kerabat mereka
dan teman-teman mereka; mereka menjadi terasing saat
menyatakan keislaman mereka sebelum hijrah dan
sesudahnya; mereka telah menginfakkan harta; mereka
berjuang di jalan Allah SWT; mereka telah bersabar