dalam menanggung berbagai macam penderitaan, dan
ketika datang saat yang paling berbahaya dan pasukan
Islam telah terkepung di mana jiwa Rasul saw telah
terancam, mereka justru mencurahkan darah mereka
bagaikan lautan yang menenggelamkan orang-orang
kafir dan mereka mampu melindungi sang Rasul saw dan
mengubah jalan peperangan serta menyelamatkan akidah
tauhid.
Peperangan Uhud bukanlah pengorbanan pertama yang
dilakukan oleh kaum Muslim dan bukanlah merupakan
peperangan yang terakhir. Ia adalah satu peperangan di
antara cukup banyak peperangan yang dilalui oleh Islam
untuk menyebarkan kalimat Allah SWT di muka bumi
dan membimbing hamba-hamba-Nya. Begitu juga
pengorbanan Rasul saw, dan peperangan Uhud bukanlah
pengorbanan yang pertama terhadap Islam dan bukan
juga yang terakhir. Rasulullah saw telah hidup setelah
diutusnya kepada manusia di mana beliau telah
memberikan semuanya untuk kehidupan dan untuk
dakwah; beliau tidak memiliki dirinya sendiri; beliau
tidak memboroskan waktunya dengan sia-sia bahkan
beliau beristirahat sedikit saja. Semua kehidupan beliau
diberikan kepada dakwah dan untuk Islam. Beliau
menjalani berbagai macam peperangan dan beliau
memikul berbagai macam penderitaan dan belum lama
beliau lari dari suatu problem kecuali beliau berhadapan
dengan problem yang baru dan lain; belum lama beliau
menyelesaikan suatu krisis kecuali beliau menghadapi
189
krisis yang lain. Demikianlah kehidupan sang Nabi saw
di mana beliau selalu memberikan kontribusi dan
sumbangannya demi kepentingan agama Allah SWT.
Silakan Anda mengamati kehidupan sang Rasul saw dari
sudut manapun yang Anda inginkan niscaya Anda tidak
akan menemukan sudut dari sudut-suduut kehidupan
beliau kecuali dimulai dan dipenuhi dengan pergulatan
yang hebat.
Rasulullah saw telah melalui pergulatan militer dalam
berbagai macam pertempuran yang silih berganti yang
beliau lakukan. Beliau memulai pergulatan politiknya
yang terwujud dalam perundingan-perundingan dan
surat-surat yang beliau kirimkan kepada penguasa dan
para raja di berbagai negara agar mereka memeluk Islam,
bahkan beliau melakukan pergulatannya dalam masalah
pribadi di rumah tangga. Rumah tangga beliau pun tidak
kosong dari pergulatan. Beliau adalah pejuang sejati
dalam setiap waktu. Kalau kita mengenal Nabi Ibrahim
sebagai seorang musafir di jalan Allah SWT, maka
Muhammad bin Abdillah adalah seorang pejuang di jalan
Allah SWT. Belum lama peperangan Uhud berakhir
sehingga pengaruh-pengaruh buruknya berbekas pada
kaum Muslim. Orang-orang Arab Badui mulai berani
bersikap kurang ajar kepada mereka, demikianjuga
orang-orang Yahudi, apalagi orang-orang munafik dan
tidak ketinggalan orang-orang Quraisy pun mulai
menyudutkan kaum Muslim.
190
Kemudian datanglah utusan dari kabilah Arab kepada
Rasul saw dan mereka mengatakan kepada beliau bahwa
mereka mendengar tentang Islam dan mereka ingin
memeluknya, maka hendaklah beliau mengutus kepada
mereka beberapa dai dan mubalig untuk mengajari
mereka tentang dasar-dasar agama. Nabi saw mengutus
bersama mereka sekelompok para dai yang dipimpin
oleh ’Ashim bin Tsabit. Ternyata orang-orang itu
berkhianat atas para sahabat-sahabat yang berdakwah itu
dan mereka pun dibunuh. Bahkan tiga di antara mereka
ditawan dan dijual di Mekah. Dijualnya mereka di
Mekah berarti mereka diserahkan pada kelompok orang-
orang Quraisy yang telah lama menunggu untuk
menangkap kaum Muslim. Kaum Quraisy Mekah
membunuh tiga tawanan kaum Muslim itu. Orang-orang
Muslim sangat sedih mendengar dai-dai Allah SWT itu
terbunuh dengan cara yang begitu tragis.
Ketika datang kepada Nabi saw orang-orang yang minta
pada beliau agar dikirim utusan dari kalangan mubaligh
untuk menyebarkan Islam untuk para kabilah kaum
Najd, maka Nabi kali ini betul-betul mempertimbangkan
antara kepentingan menyebarkan Islam dan perlindungan
terhadap kehormatan manusia. Lalu beliau memilih
untuk kepentingan dakwah Islam. Beliau menyadari
bahwa beliau mengutus para sahabatnya dalam bahaya;
beliau memberitahu mereka bahwa mereka akan
menghadapi suatu keadaan yang misterius yang tiada
mengetahuinya kecuali Allah SWT. Namun bahaya
191
tersebut sudah menjadi bagian dari cita rasa kehidupan
yang selalu meliputi dakwah Islam.
Ketika Nabi saw mengutarakan kekhawatirannya
terhadap para sahabatnya yang bakal diutusnya di tengah
kabilah itu, orang-orang yang meminta beliau untuk
mengutus para sahabatnya menyakinkan beliau bahwa
mereka akan melindungi sahabat beliau. Kemudian Nabi
saw memerintahkan tujuh puluh orang pilihan dari
sahabatnya untuk pergi dan berjihad di jalan Allah SWT
serta mengajak manusia untuk mengikuti Islam. Lalu
pergilah para sahabat yang kemudian dikenal dengan
sebutan al-Qurra' (yaitu orang-orang yang pandai
membaca Al-Qur'an dan menghapalnya). Mereka adalah
para dai yang terbaik yang diutus Nabi di mana pada
siang hari mereka memikul kayu bakar dan pada malam
hari mereka sibuk dalam keadaan salat. Ketika datang
perintah Rasulullah saw kepada mereka untuk pergi dan
berdakwah mereka pun pergi dalam keadaan gembira
karena mereka diajak untuk berjihad di jalan Allah SWT.
Mereka melangkahkan kaki dengan mantap di tanah
orang-orang munafik dan para penghianat sehingga
mereka sampai di suatu sumur yang bernama sumur
Ma'unah. Kemudian mereka mengutus salah seorang di
antara mereka untuk menemui pemimpin orang-orang
kafir di negeri itu. Mubalig dari sahabat Rasulullah saw
itu menyampaikan surat Nabi yang dibawanya di mana
beliau mengharapkan agar masyarakat di situ masuk
Islam, tetapi ia dikagetkan dengan adanya pisau yang
192
menembus punggungnya. Mubaligh itu berteriak saat ia
tersungkur: "sungguh aku beruntung demi Tuhan
pemelihara Ka’bah."
Kemudian pemimpin orang-orang kafir itu mengangkat
senjata dan mengumpulkan para kabilah untuk
memerangi para mubaligh di jalan Allah SWT itu
sehingga sahabat-sahabat terbaik yang berdakwah di
jalan Allah SWT itu pun gugur di sumur Ma'unah. Jasad-
jasad mereka menjadi makanan dari burung nasar dan
burung-burung yang lain. Dari tujuh puluh orang yang
dikirim itu hanya seorang yang selamat yang kembali
kepada Nabi saw. Ia menceritakan apa yang dialami oleh
fuqaha-fuqaha Muslimin di mana mereka dikhianati.
Ketika mendengar berita tentang tragedi itu, Nabi sangat
terpukul dan sedih. Kemudian beliau mengangkat
kepalanya dan berkata kepada sahabat-sahabatnya:
"Sungguh sahabat-sahabat kalian telah terbunuh dan
mereka telah meminta kepada Tuhan mereka. Mereka
mengatakan, Tuhan kami, berikanlah kami ujian sesuai
dengan kehendak-Mu dan ridha-Mu. Apa saja yang
menjadi kepuasan-Mu kami pun akan merasakan
kepuasan."
Sungguh penderitaan yang dialami oleh Islam sangat
berat, terutama yang menimpa para sahabat yang gugur
sebagai syahid di sumur Ma'unah. Nabi saw sangat sedih
mendengar sikap orang-orang Arab dan orang-orang
kafir terhadap Islam. Mereka telah mengejek dan
merendahkan kaum mukmin sampai pada batas ini.
193
Kemudian beliau menetapkan akan kembali mengangkat
kewibawaan Islam dengan tindak kekerasan.
Dalam keadaan seperti ini, bergeraklah orang-orang
Yahudi untuk membunuh Rasulullah saw. Pada suatu
hari beliau pergi ke Bani Nadhir untuk menyelesaikan
suatu urusan. Kemudian mula-mula mereka
menampakkan persetujuan atas apa yang diucapkan
beliau. Mereka mendudukkan Nabi di bawah naungan
benteng-benteng mereka, lalu mereka bersekongkol
untuk melenyapkan beliau; mereka menetapkan untuk
melemparkan batu yang berat dari atas benteng itu saat
beliau duduk dan tidak membayangkan akan terjadinya
kejahatan yang direncanakan padanya. Namun Allah
SWT mengilhami Rasul-Nya akan datangnya bahaya
kepada beliau, lalu beliau bangun sebelum pelaksanaan
tipu daya itu. Lalu beliau segera pergi menuju rumahnya.
Beliau berpikir saat beliau kembali ke rumahnya dengan
membawa penderitaan yang baru. Pembangkangan dan
pengkhianatan tersebut tidak akan dapat berhenti kecuali
setelah Islam menunjukkan taringnya. Islam ingin
mengembalikan kewibawaannya dengan cara
mengangkat senjata.
Rasul saw mengutus utusan ke Bani Nadhir dan
memerintahkan mereka untuk keluar dari Madinah,
bahkan Rasul saw memberi waktu kepada mereka hanya
sepuluh hari. Kemudian orang-orang munafik yang ada
di Madinah bersatu bersama orang-orang Yahudi dan
mereka sepakat untuk memerangi Islam. Namun ketika
194
berhadapan dengan Islam, orang-orang Yahudi menelan
kekalahan. Kemudian turunlah surah al-Hasyr yang
menyebutkan pengusiran orang-orang Yahudi dan
menyingkap kedok orang-orang munafik. Setelah
kemenangan yang meyakinkan ini. Rasul saw keluar
bersama sahabatnya untuk membalas kejadian yang
menimpa sahabat-sahabatnya yang dikenal dengan al-
Qurra' itu. Rasul saw ingin mengembalikan kewibawaan
Islam. Kemudian pasukan Rasul saw itu mampu
membuat para pengkhianat dari orang-orang Arab
ketakutan. Hanya sekadar mendengar nama pasukan
Muslim, maka serigala-serigala gurun yang dulu bengis
itu pun ketakutan laksana tikus-tikus yang panik yang
bersembunyi di bawah lobang-lobang gunung. Orang-
orang Quraisy mendengar kegiatan pasukan Islam.
Pasukan Quraisy menarik diri saat mereka mendekati
Dahran, sementara pasukan Muslim berada di Badar.
Mereka menunggu pertemuan yang disepakati di Uhud.
Orang-orang Muslim menyala-kan api selama delapan
hari sebagai bentuk tantangan dan menunggu kedatangan
kaum kafir sehingga ketika mereka (kaum kafir) telah
pergi, maka citra kaum Muslim pun terangkat setelah
mereka menerima kepahitan dalam peperangan Uhud.
Kaum Muslim menoleh ke arah utara jazirah Arab
setelah menetapkan kewibawaan mereka di selatan.
Kabilah di sekitar Daumatul Jandal dekat dengan Syam
merampok di tengah jalan dan merampas kafilah yang
berlalu di situ, bahkan kenekatan mereka sampai pada
195
batas di mana mereka berpikir untuk menyerbu Madinah.
Oleh karena itu, Rasulullah saw keluar bersama seribu
orang Muslim yang mereka bersembunyi di waktu siang
dan berjalan di waktu malam, sehingga setelah lima
belas malam beliau sampai ke tempat yang dekat dengan
tempat tinggal musuh-musuh mereka lalu mereka
menggerebek tempat itu. Pasukan kafir itu dikagetkan
dengan kedatangan kaum Muslim yang begitu cepat.
Kita akan mengetahui bahwa alat komunikasi yang
dimiliki oleh Rasulullah saw sangat unggul sebagaimana
alat pertahanan beliau pun sangat unggul. Serangan
mendadak yang dilakukan oleh pasukan Rasulullah saw
menunjukkan bahwa mereka memiliki pertahanan yang
luar biasa. Sistem pertahanan yang luar biasa
sebagaimana kedatangan pasukan yang secara tiba-tiba
itu menunjukkan kemampuan pasukan Islam untuk
menyusup.
Demikianlah, terjadilah hari-hari pertempuran militer.
Belum lama Nabi saw meletakkan baju besinya, dan
beliau kembali membangun pribadi kaum Muslim
sehingga beliau terpaksa kembali memakai baju besinya
dan kembali berperang. Ketika musuh-musuh Islam yang
berada di sekelilingnya melihat bahwa kemampuan
militer mereka tidak dapat menandingi kemampuan
kaum Muslim, maka mereka sengaja melakukan cara-
cara baru untuk memerangi Islam. Yaitu peperangan
psikologis atau peperangan urat syaraf dengan cara
menyebarkan berbagai macam isu atau apa yang
196
dinamakan Al-Qur’an al-Karim dengan peristiwa al-
Ifik (kebohongan). Setelah peperangan Bani Musthaliq
yaitu peperangan yang membawa kemenangan yang
cepat bagi kaum Muslim, terjadilah kesalahpahaman dan
pertengkaran di antara sahabat-sahabat yang biasa
mengambil air di mana salah seorang mereka berteriak:
"wahai kaum Muhajirin," dan yang lain berteriak:
"Wahai kaum Anshar."
Peristiwa yang sangat sepele itu dimanfaatkan oleh
pemimpin kaum munafik yaitu Abdullah bin Ubai.
Abdullah bin Ubai memprovokasi orang-orang Anshar
untuk menyerang kaum Muhajirin. Ia ingin
membangkitkan luka-luka jahiliah yang lama yang telah
dibuang dan telah dikubur oleh Islam, Salah satu yang
dikatakan oleh Ibnu Ubai adalah, "sungguh mereka telah
menyaingi kita dan mengambil kebaikan dari dan
seandainya kita telah kembali ke Madinah niscaya orang-
orang yang mulai akan dapat mengusir orang-orang yang
hina di dalamnya."
Zaid bin Arqam menyampaikan kalimat si munafik itu
kepada Nabi saw, di mana kalimat itu berisi provokasi
terhadap orang-orang Anshar untuk menyerang kaum
Muhajirin. Ubai menginginkan agar mereka berpecah
belah dan agar kesatuan mereka runtuh. Si Munafik itu
segera datang kepada Rasul saw dan menafikan apa yang
dikatakannya. Orang-orang Muslim secara lahiriah
membenarkan perkataan si munafik itu dan mereka
justru menuduh Zaid bin Arqam salah mendengar. Tetapi
197
hakikat peristiwa itu tidak tersembunyi dari Nabi saw
sehingga peristiwa itu sangat menyedihkan beliau. Lalu
beliau mengeluarkan perintah agar para sahabat pergi ke
suatu tempat yang tidak biasanya mereka lalui.
Kemudian beliau pergi bersama sahabat di hari itu
sampai waktu malam menyelimuti mereka. Dan kini,
mereka memasuki waktu pagi. Kepergian yang singkat
dan tiba-tiba itu mampu menepis kebohongan yang
dirancang oleh si Munafik, Abdullah bin Ubai. Yaitu
kebohongan yang bertujuan untuk membakar persatuan
kaum Muslim ketika ia berusaha untuk menyalakan api
di tengah-tengah rumah sang Nabi saw.
Ketika Nabi masih memiliki kekuatan yang menakutkan
bagi yang mencoba melawannya, maka mereka pun
melakukan berbagai penipuan dan, makar. Dan salah
satu yang menjadi obyek tipu daya itu adalah istri beliau,
yaitu Aisyah. Alkisah, Aisyah pada suatu hari pergi
untuk memenuhi hajatnya lalu dilehernya terdapat
anting-anting. Setelah ia memenuhi hajatnya, anting-
anting itu terjatuh dari lehernya dan ia tidak mengetahui.
Ketika Aisyah kembali dari kafilah yang telah siap-siap
untuk pergi, ia kembali mencari kalungnya sampai ia
menemukannya. Sementara itu orang-orang yang
membawanya dalam tandu (haudaj) mengira Aisyah
sudah berada di dalamnya. Mereka tidak ragu dalam hal
itu karena memang berat badan Aisyah sangat ringan.
Pasukan Nabi berjalan dan membawa tandu, sedangkan
Aisyah tidak ada di dalamnya. Aisyah kembali dan tidak
198
mendapati pasukan di mana mereka telah pergi. Aisyah
merasa heran atas kepergian pasukan yang begitu cepat.
Aisyah merasa takut saat ia berdiri sendirian di padang
gurun. Aisyah berusaha bersikap baik, ia duduk di
tempatnya di mana di situlah untanya duduk juga.
Aisyah melipat-lipat pakaiannya sambil berkata dalam
dirinya: Mereka akan mengetahui bahwa aku tidak ada
dan karena itu mereka akan kembali mencariku dan akan
menemukan aku.
Sementara itu, Sofwan bin Mu'athal juga tertinggal
karena ia melakukan keperluannya. Ia berjalan dari arah
yang jauh lalu ia melihat bayangan orang yang tidak
begitu jelas. Sofwan mendekat dan tiba-tiba ia
mengetahui bahwa ia sedang berdiri di hadapan Aisyah.
Ia melihat Aisyah sebelum diwajibkannya perintah
memakai hijab (jilbab) atas istri-istri Nabi. Ketika
melihatnya, Sofwan berkata: "Sesungguhnya kita milik
Allah SWT dan kepadanya kita akan kembali,... istri
Rasulullah Aisyah tidak menjawab.
Sofwan mundur dan mendekatkan untanya kepadanya
sambil berkata: "Silakan Anda menaikinya." Aisyah pun
menaikinya. Kemudian Sofwan membawanya pergi dan
mencari pasukan yang telah meninggalkannya.
Sementara itu, pasukan Nabi sedang beristirahat. Para
sahabat mengira bahwa Aisyah masih berada dalam
tandu. Tiba-tiba mereka terkejut ketika Aisyah datang
kepada mereka bersama Sofwan yang menuntun
untanya.