Tokoh munafik Abdullah bin Ubai segera memanfaatkan
kesempatan emas ini. Ia membuat kisah bohong yang
terkesan menuduh istri Nabi melakukan pengkhianatan.
Abdullah bin Ubai pandai memilih beberapa sahabat
yang dikenalinya sebagai orang-orang yang mudah
percaya dan cenderung membenarkan hal-hal yang
bersifat lahiriah, atau ia mengetahui bahwa di antara
mereka dan Aisyah terdapat kedengkian sehingga
mereka suka jika tersebar kebohongan yang berkenaan
dengan Aisyah.
Demikianlah pemimpin munafik itu berhasil menjerat
beberapa sahabat dalam tali kebohongannya, di
antaranya Hasan bin Sabit. Musthah, dan seorang wanita
yang dipanggil Hamnah binti Jahasv. yaitu saudara
perempuan Zainab binti Jahasy istri Rasulullah saw.
Ketiga orang itu tertipu dengan kebohongan tersebut lalu
mereka menyebarkannya sehingga orang-orang yang
terjerat dalam kebo hongan itu mengatakan apa saja yang
mereka inginkan. Akhirnya, pasukan pun berguncang
dengan isu itu. Sementara itu, Aisvah tidak mengetahui
sedikit pun tentang hal tersebut. Isu tersebut bertujuan
untuk menjatuhkan Islam dan melukai perasaan
RasuhiHah saw dan itu termasuk peperangan menentang
Rasulullah saw dan ajaran yang dibawanya. Begitu juga
ia bertujuan menunjukkan bahwa kaum Muslim tidak
konsekuen dengan akidah yang mereka yakini dan secara
tidak langsung ia juga menyerang kesucian rumah tangga
Aisyah.
200
Pasukan kembali ke Mekah dan Aisyah jatuh sakit,
namun ia tidak mengetahui isu-isu yang dikatakan
tentang dirinya. Kemudian Rasulullah saw mendengar
hal itu sebagaimana ayahnya Abu Bakar dan ibunya pun
mendengarnya, namun tak seorang pun di antara, mereka
yang memberitahu Aisyah. Begitu juga Rasul saw tidak
menceritakan peristiwa itu di hadapan Aisyah. Namun
sikap beliau berubah di mana beliau tidak lagi
menunjukkan perhatiannya seperti biasanya saat Aisyah
sakit. Ketika beliau menemui Aisyah dan saat itu ibunya
ada di situ, beliau berkata: "Bagaimana keadaanmu?"
Beliau tidak lebih dari mengucapkan kata-kata itu.
Ketika Aisyah melihat perubahan sikap Rasul saw, ia
mulai marah. Pada suatu hari ia berkata pada Nabi:
"Seandainya engkau mengizinkan aku, niscaya aku akan
pindah ke tempat ibuku." Beliau menjawab: "Itu tidak
ada masalah."
Aisyah pun pindah ke tempat ibunya dan ia tidak
mengetahui sama sekali apa yang sebenarnya terjadi
padanya. Setelah melalui lebih dari dua puluh malam,
Aisyah sembuh dari sakitnya dan ia pun belum
mengetahui hal-hal yang dikatakan tentang dirinya.
Umul mu'minin Aisyah menceritakan bagaimana ia
mengetahui isu bohong tersebut dan bagaimana Allah
SWT membebaskannya dari isu itu, ia berkata:
"Kami adalah kaum Arab di mana kami tidak mengambil
di rumah kami tanggung jawab ini yang biasa di ambil
oleh orang-orang Ajam. Kami membencinya. Kami
201
keluar untuk menikmati keluasan kota. Sementara itu
para wanita keluar pada setiap malam untuk memenuhi
hajat mereka. Pada suatu malam, aku keluar bersama
Uinmu Musthah untuk memenuhi sebagian keperluanku.
Lalu ia berkata: "Tidakkah kau sudah mendengar suatu
berita wahai putri Abu Bakar?" Aku bertanya, "berita
apa itu?" Lalu ia memberitahukan padaku apa-apa yang
dikatakan oleh para penyebar kebohongan. Aku berkata:
"Apa ini memang benar?" Ia menjawab: "Demi Allah, ini
benar-benar terjadi." Aisyah berkata: "Demi Allah, aku
tidak mampu memenuhi hajatku." lalu aku pulang. Demi
Allah, aku tetap menangis sampai-sampai aku mengira
bahwa tangisanku akan merusak jantungku dan aku
berkata kepada ibuku, mudah-mudahan Allah SWT
mengampunimu, banyak orang berbicara tentangku
namun engkau tidak menceritakan sedikit pun kepadaku.
Ia berkata: "Wahai anakku, sabarlah demi Allah jarang
sekali wanita yang baik yang dicintai oleh seorang lelaki
yang jika ia memiliki istri-istri yang lain (madunya)
kecuali wanita itu akan diterpa oleh berbagai isu."
Aisyah berkata: "Rasulullah saw berdiri dan
menyampaikan pembicaraannya pada mereka dan aku
tidak mengetahui hal itu." Beliau memuji Allah SWT
kemudian berkata: "Wahai manusia, bagaimana keadaan
kaum lelaki yang menyakiti aku melalui keluar gaku dan
mereka mengatakan sesuatu yang tidak benar. Demi
Allah, aku tidak mengenal mereka kecuali dalam
kebaikan. Lalu mereka mengatakan hal itu pada seorang
202
lelaki yang aku tidak mengenalnya kecuali dalam
kebaikan di mana ia tidak memasuki suatu rumah dari
rumah-rumahku kecuali ia bersamaku."
Kemudian Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Thalib
dan Usamah bin Zaid dan bennusyawarah dengan
keduanya. Usamah hanya melontarkan pujian dan
berkata: "Ya Rasulullah aku tidak mengenal istrimu
kecuali dalam kebaikan dan berita ini hanya kebohongan
dan kebatilan," sedangkan Ali berkata: 'Ya Rasulullah
masih banyak wanita yang lain yang dapat kau percaya."
Kemudian Rasulullah saw memanggil Burairah dan
bertanya kepadanya, lalu Ali berdiri kepadanya dan
memukulnya dengan keras sambil berkata: "Jujurlah
kepada Rasulullah saw," lalu wanita itu berkata: "Demi
Allah, aku tidak mengetahui kecuali kebaikan. Aku tidak
pernah mencela Aisyah kecuali pada suatu waktu aku
sedang membikin adonan roti lalu aku
memerintahkannya untuk menjaganya namun Aisyah
tertidur dan datanglah kambing lalu adonan itu dimakan
olehnya."
Aisyah berkata: "Kemudian datanglah kepadaku
Rasulullah saw dan saat tu aku bersama kedua orang
tuaku dan seorang wanita dari kaum Anshar. Aku
menangis dan wanita itu pun turut menangis. Rasulullah
saw duduk lalu memuji Allah SWT dan berkata: "Wahai
Aisyah, sungguh kamu telah mendengar sendiri apa yang
dikatakan orang-orang tentang dirimu, maka bertakwalah
kepada Allah SWT dan jika engkau telah melakukan
203
keburukan seperti yang diucapkan orang-orang itu, maka
bertaubatlah kepada Allah SWT karena sesungguhnya
Allah SWT menerima taubat dari hamba-hamba-Nya."
Aisyah berkata, "demi Allah, itu tidak lain hanya
kebohongan yang dialamatkan kepadaku sehingga
membuat air mataku kering. Aku sama sekali tidak
seperti yang mereka katakan," lalu aku menunggu kedua
orang tuaku untuk mengatakan tentang diriku namun
mereka justru terdiam. Aisyah berkata, "demi Allah aku
merasa sebagai seorang yang hina yang tidak layak
diturunkan Al-Qur’an dari Allah SWT berkenaan
denganku, tetapi aku hanya berharap agar Nabi saw
melihat kebohongan yang dialamatkan kepadaku itu
sehingga ia memastikan terbebasnya aku darinya."
Aisyah berkata: "Ketika aku tidak melihat kedua orang
tuaku berbicara aku berkata kepada mereka tidakkah
kalian menjawab apa yang dikatakan Rasuullah saw?"
Mereka berkata: "Demi Allah kami tidak mengetahui apa
yang harus kami jawab." Aku mengetahui bahwa aku
bebas dari tuduhan itu. Tiba-tiba Rasulullah saw
mengusap keringat dari wajahnya sambil berkata:
"Bergembiralah wahai Aisyah karena sesungguhnya
Allah SWT telah menurunkan ayat yang membebaskan
kamu dari tuduhan itu," lalu aku berkata: "Segala puji
bagi Allah SWT." Kemudian beliau keluar menemui
para sahabat dan membacakan kepada mereka ayat
berikut ini:
204
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita
bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah
kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu.
Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari
dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka
yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran
berita bohong itu, maka baginya azab yang besar. " (QS.
an-Nur: 11)
Jibril turun kepada Nabi saw untuk menyampaikan
terbebasnya Aisyah dari segala tuduhan yang ditujukan
kepadanya. Dan gagallah peperangan psikologis
menentang kaum Muslim dan rumah tangga Rasulullah
saw, dan kelompok-kelompok kafir meyakini bahwa
mereka harus menggunakan cara baru lagi untuk
menentang Islam. Kemudian Rasulullah saw kembali
memasuki pergulatan menentang peperangan fisik.
Peperang Khandaq termasuk contoh peperangan fisik
yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Orang-orang
Yahudi menyerahkan urasan mereka kepada kaum
musyrik, dan Dimulailah rangkaian persekongkolan dan
sumpah di antara tokoh-tokoh Yahudi dan pemimpin-
pemimpin kaum musyrik, bahkan pendeta-pendeta
Yahudi berfatwa bahwa agama Quraisy yang
disimbolkan dengan penyembahan berhala lebih baik
daripada agama Muhammad yang penyembahan hanya
layak ditujukan kepada Tuhan Yang Esa sebagaimana
tradisi jahiliah lebih baik daripada ajaran Al-Qur’an.
205
Politik kaum Yahudi berhasil menyatukan kelompok-
kelompok orang kafir dan mengerahkannya untuk
menentang kaum Muslim. Kemudian mereka akan
menyerang Madinah dengan jumlah kekuatan sepuluh
ribu tentara. Akhirnya, berita itu sampai ke Nabi saw.
Beliau tidak heran ketika mendengar orang-orang
Yahudi bersatu—padahal mereka mempunyai azas
agama yang menyeru kepada tauhid—bersama kaum
musyrik menentang agama tauhid. Nabi saw mengetahui
bahwa perjanjian telah lama membelenggu orang-orang
Yahudi sehingga hati mereka menjadi keras dan hari
telah menjauhkan antara mereka dan sumber yang jernih
yang dipancarkan oleh Musa. Akhirnya, mereka menjadi
buah yang rusak yang kulitnya bergambar tauhid namun
isinya bergambar kepahitan syirik. Dan yang lebih
penting dari itu adalah kesamaan kepentingan kaum
Yahudi dan kaum musyrik.
Nabi saw menyadari bahwa beliau sekarang menghadapi
ancaman dan pasukan yang besar. Pertempuran secara
terbuka tidak memberi keuntungan bagi Muslimin.
Beliau mulai berpikir bagaimana cara mempertahankan
Madinah tanpa harus keluar darinya. Kali ini taktik
militernya berubah di mana sebelum itu beliau keluar
dari Madinah dan menjauhinya serta menyerang
kelompok-kelompok yang berencana menyerbu
Madinah. Kali ini bentuk ancaman berbeda dan tentu
pikiran Nabi pun berubah karena mengikuti perbedaan
ancaman itu.
206
Kemudian beliau mengadakan pertemuan militer
bersama para tentaranya. Beliau ingin mendengar
berbagai usulan tentang bagaimana cara
mempertahankan Madinah. Lalu Salman al-Farisi
mengusulkan agar Nabi menggali suatu parit yang dalam
di sekeliling Madinah yaitu parit yang seperti bendungan
alami yang dapat menahan laju banjir yang ingin maju,
suatu parit yang pasukan berkuda tidak akan mampu
melewatinya dan kaum Muslim dapat mempertahankan
diri dari belakangnya. Mula-mula usulan itu terkesan
agak mustahil diwujudkan namun pada akhirnya Nabi
menyetujui usulan Salman itu. Melalui sensilitas
militernya yang mengagumkan, beliau mengetahui
bahwa situasi cukup genting dan karenanya ia menuntut
usaha keras untuk dapat melaluinya. Nabi saw
memerintahkan para sahabat untuk menggali parit di
sekitar Madinah. Pekerjaan itu sangat berat dan saat itu
musim dingin di mana udara sangat dingin. Di samping
itu, kaum Muslim sedang mengalami krisis ekonomi
yang mengancam Madinah, meskipun demikian,
penggalian parti tetap dilaksanakan, bahkan Rasulullah
saw terjun langsung untuk membuat galian dan memikul
tanah.
Kaum Muslim dengan semangat yang luar biasa dapat
menyelesaikan penggalian parit itu meskipun kehidupan
sangat keras dan mereka merasakan kelaparan karena
kekurangan harta. Namun semangat pasukan Islam tetap
207
meninggi. Mereka percaya akan datangnya kemenangan
dan pertolongan dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-
golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: 'Inilah
yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan
benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu
tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan
ketundukan." (QS. al-Ahzab: 22)
Pasukan Quraisy mulai mendekati Madinah dan tiba-tiba
Madinah berubah menjadi jazirah cinta di tengah-tengah
lautan kebencian, lautan itu mulai menghantam jazirah
dan berusaha menenggelamkannya dari dalam.
Kemudian bertebaranlah panah-panah kaum Muslim
untuk menghalau pasukan kafir yang cukup banyak.
Pasukankafir mulai berputar-putar di sekeliling parit
dalam keadaan bingung: apa gerangan yang telah
dilakukan pasukan Islam, bagaimana mereka dapat
menggali parit ini?
Kuda-kuda musuh berusaha melalui parit itu namun
pasukan Muslim segera menyerangnya. Demikianlah
peperangan Ahzab terus berlangsung. Pada hakikatnya ia
adalah peperangan urat syaraf. Pasukan musuh
mengepung Madinah selama tiga minggu di mana
serangan demi serangan terus dilakukan sepanjang siang
dan mata mereka tetap terjaga sepanjang malam. Bahkan
saking dahsyatnya pertempuran itu sehingga kaum
Muslim tidak mengetahui apakah pasukan musuh
berhasil menduduki Madinah atau tidak, dan apakah para
musuh berhasil menembus lubang yang mereka bangun?
Allah SWT menggambarkan keadaan peperangan A h / ah
dalam firman-Nya:
"(Yaitu) ketiha mereka datang kepadamu dari atas dan
dari bawahmu, dan ketiha tidak tetap lagi
penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke
tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah
dengan bermacam-macam persangkaan. Di situlah diuji
orang-orang mukmin dan digoncangkan hatinya dengan
goncangan yang dahysat." (QS. al-Ahzab: 10-11)
Keadaan semakin buruk di mana orang-orang Yahudi
membatalkan perjanjian mereka dengan kaum Muslim
dan mereka bergabung dengan al-Ahzab. Demikianlah
Bani Quraizhah membatalkan perjanjiannya dan mereka
lupa terhadap pengkhianatan bani Nadhir dan
pembalasan Nabi saw terhadap mereka. Setiap hari
keadaan semakin buruk.
Kaum Muslim benar-benar mengalami ujian yang berat
di mana pikiran mereka benar-benar kacau. Ketika
keadaan mencapai puncaknya kaum Muslim bertanya
kepada Rasul saw, "apa yang harus mereka katakan?"
Rasulullah saw memberitahu agar mereka mengatakan:
"Ya Allah, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami
untuk mengatasi mereka."
209
Doa tersebut keluar dari mulut-mulut kaum yang telah
melaksanakan kewajiban mereka dan telah membuat
mukjizat mereka dalam menghalau serangan. Jadi,
mereka tidak memiliki apa-apa selain doa dan Allah
SWT-lah Yang Maha Mendengar permintaan hamba-
Nya dan Dia yang mengabulkannya. Dia mengetahui
orang yang melaksanakan kewajibannya dan akan
mengabulkan orang yang berdoa.
Akhirnya, kaum Muslim benar-benar mendapatkan
rahmat Allah SWT. Kemudian perjalanan pertempuran
bergerak dengan cara yang tidak bisa dipahami. Para
penyerang menyadari bahwa mereka sebenarnya telah
kalah di mana mereka telah menyerang selama tiga
pekan namun serangan tersebut tidak memberikan hasil
apa pun. Mereka telah mencurahkan berbagai upaya
namun tanpa memberikan hasil yang diharapkan dan
boleh jadi mereka akan tetap begini selama tiga tahun.
Kemudian datanglah suatu malam di mana kaum Muslim
belum pernah melihat malam segelap itu dan angin
sekencang itu, bahkan saking kerasnya angin sampai-
sampai suaranya laksana halilintar. Bahkan saking
gelapnya malam itu sehingga tak seorang pun di antara
umat Islam yang mampu melihat jari-jari tangannya atau
berdiri dari tempatnya karena saking dinginnya cuaca.
Kemudian Nabi saw datang menemui Hudaifah bin
Yaman. Beliau tidak mampu melihatnya meskipun
beliau berdiri di sebelahnya. Nabi saw bertanya: "Siapa
ini?" Hudaifah menjawab: "Aku adalah Hudaifah." Nabi
210
saw berkata: "Oh, kamu Hudaifah." Hudaifah tetap
tinggal di tempatnya karena ia khawatir jika ia berdiri ia
akan tidak mampu karena saking dinginnya dan akan
menabrak Rasul saw. Rasul saw berkata kepada
Hudaifah, "Aku kehilangan berita penting tentang
keadaan kaum yang menyerang kita."
Hudaifah sebagai mata-mata dari pasukan Islam
merasakan ketakutan di mana ia tidak mampu menahan
cuaca yang begitu dingin, lalu bagaimana ia dapat berdiri
dan keluar dari Madinah menuju ke tempat pasukan
musuh dan menyusup di tengah barisan mereka lalu
kembali kepada Nabi saw dengan membawa berita
tentang mereka. Hudaifah bangkit dari tempatnya ketika
Nabi saw selesai dari pembicaraannya. Nabi saw
memberikan doa kebaikan kepadanya. Hudaifah pun
pergi dan kehangatan keimanannya mengalahkan
kegelapan malam dan kedinginan cuaca. Ia keluar dari
Madinah dan menyusup di tengah-tengah pasukan
musuh. Nabi saw memerintahkannya untuk tidak
melakukan tindakan apa pun selain mendapatkan berita
dan kembali. Inilah tugas utamanya. Hudaifah sampai di
tengah-tengah musuh. Mereka berusaha menyalakan api
namun angin segera mematikannya sebelum menyala
dan di dekat api itu terdapat seorang lelaki yang berdiri
sambil mengulurkan tangannya ke arah api dengan
maksud untuk menghangatkannya. Lelaki itu adalah
pemimpin kaum musyrik yaitu Abu Sofyan.
211
Melihat itu, Hudaifah segera memasang anak panah pada
busur yang dibawanya dan ia ingin memanahnya.
Seandainya ia berhasil membunuhnya, maka kaum
Muslim dapat merasa tenang dengannya, namun ia ingat
pesan Rasulullah saw kepadanya agar ia tidak melakukan
tindakan apa pun. Kemudian ia kembali meletakkan anak
panahnya dan menyembunyikannya.
Abu Sofyan berkata: "Wahai orang-orang Quraisy situasi
saat ini tidak menguntungkan bagi kalian, maka pergilah
kalian karena aku pun akan pergi." Abu Sofyan
melompat ke atas untanya lalu mendudukinya dan
memukulnya sehingga unta itu bangkit.