"Toiletnya rusak? Sejak kapan toilet perempuan rusak? Bukannya tadi pagi, baik-baik aja...." gumam cowok berkacamata yang kini sedang berdiri di depan pintu toilet perempuan sambil mengernyitkan dahi.
Tok tok tok,
Cowok itu tiba-tiba terperanjat kaget saat mendengar suara ketukan pintu dari dalam. Pasalnya, dia baru saja keluar dari toilet laki-laki yang letaknya ada di sebelah kiri toilet perempuan. Lalu, ketika ia hendak melangkah untuk kembali ke kelas, perhatiannya pun tercuri pada sesuatu yang menempel di permukaan pintu toilet perempuan. Kemudian, kini ia dikagetkan oleh bunyi ketukan yang bahkan sama sekali tak diduganya sebelumnya.
"Tolong! Kalo ada orang di luar sana, tolong bantu aku keluar dari sini,"
Mata cowok itu membulat. Tampaknya ia seperti tidak asing saat mendengar suara perempuan yang berteriak dari dalam sana. Untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah, cowok itu pun sedikit memajukan langkah dan mengetuk kembali pintu tersebut.
"Ada orang di dalam?" tanyanya menunggu jawaban.
Tak lama kemudian, seseorang buru-buru menyahut seakan mendapatkan cahaya terang yang akan membawanya keluar dari kegelapan.
"Restu. Itu kamu kan? Res, ini aku Diary...." ujar suara dari dalam sana yang sontak berhasil menjawab keraguannya sesaat lalu.
"Diary, kamu lagi ngapain di sana?" tegur Restu mengernyit.
"Aku kekunci dari dalam, Res. Enggak tau ada yang jahil atau mungkin gak sengaja dikunci penjaga sekolah. Tapi yang jelas, tolong bantu aku keluar dari sini, Res. Kamu bisa kan?" pinta Diary penuh harap.
Untuk sesaat, cowok berkacamata itu menggaruk belakang telinganya. Dia bisa saja membantu Diary, tapi bagaimana caranya ia mendapatkan kunci agar bisa membuka pintunya? Apakah, Restu harus mendatangi Pak Man dan meminta kuncinya lalu kembali sendiri ke sini? Atau, dia ajak saja Pak Man sekalian agar bisa langsung membukanya tanpa perlu bolak-balik. Ya, hanya itu yang bisa Restu lakukan.
"Diary, kamu tunggu sebentar ya. Aku cari Pak Man dulu buat pinjem kuncinya," tukas Restu memberitahu. Sejurus kemudian, cowok itu pun langsung bergegas meninggalkan pintu yang masih terkunci demi menemukan Pak Man yang memegang semua kunci ruangan di sekolah ini.
Setelah beberapa detik Restu pergi berlari, Gerrald pun muncul dengan raut cemas yang menghiasi wajah tampannya. Langkahnya ia hentikan ketika dirinya tiba di depan pintu toilet. Tanpa sengaja, kakinya pun menginjak sesuatu yang tergelak di lantai. Sigap, ia pun memungut benda tersebut dan mengantonginya untuk dijadikan sebagai bukti ketika ia mendamprat si pelaku nanti.
Lantas, ketika ia menemukan juga secarik kertas bertuliskan sesuatu yang menjanggalkan, barulah dia sadar kalau seseorang atau lebih tepatnya lagi, si pemilik benda yang ditemukannya barusan telah dengan sengaja menjahili Diary yang kemungkinan besar sekarang masih berada di dalam.
Tok tok tok,
"Diary! Diary, kamu ada di dalam? Kalo iya, jawab aku...." seru Gerrald setelah mengetuk pintu 3 kali.
Lalu, dari dalam pun langsung terdengar suara yang membalas. "Gerrald? Gerrald, itu kamu kan? Ger, tolongin aku! Aku kekunci dari dalam. Kamu bisa bantu aku--"
"Menjauh dari pintu, Di! Aku mau dobrak pintunya," komando Gerrald tak membiarkan cewek itu menyelesaikan kalimatnya.
"Tapi, Ger. Tadi--"
"Aku bilang menjauh ya menjauh! Ayo Diary, cepat!" seru cowok itu tak sabar. Kemudian, ketika dia sudah merasa kalau Diary mematuhi perintahnya barusan, Gerrald pun mengambil ancang-ancang serta mengeluarkan seluruh tenaganya guna membuka pintu tersebut dengan paksa.
Hingga tak lama kemudian, saat hantaman dari bahu dan lengan atasnya berhasil mendorong pintu itu sampai terbuka, barulah dia pun menemukan Diary sedang berdiri sembari menutup kedua telinganya di dekat salah satu bilik toilet.
Menoleh ke arah sana, Gerrald pun berseru, "Diary!"
Lalu, ia pun melangkah lebar ke arah Diary dan refleks memeluk gadis itu bersamaan dengan datangnya Restu yang sudah sedikit terlambat sembari membawa anak kunci yang diberikan oleh Pak Man ketika ia menemukannya di tengah pencariannya beberapa saat lalu.
***
Setelah menggiring Diary dari toilet, kini Gerrald pun memasuki kelas dengan ekspresi wajah yang tak enak dipandang. Meskipun ketampanannya masih melekat, tapi tetap saja, raut garang yang dipancarkannya saat ini jauh lebih mendominasi dari paras tampannya. Kedatangannya yang diikuti Diary dalam jarak beberapa langkah di belakang sukses telak menyebabkan bisik-bisik mulai riuh di seisi kelas tersebut.
Brak.
Tahu-tahu, Gerrald menggebrak meja yang diisi oleh Prita. Membuat semua mata kini memandang spontan ke arah cowok itu dan Diary yang berdiri tak nyaman di belakangnya.
"Gerrald, apa-apaan sih?" protes Prita menatap heran.
"Elo yang apa-apaan!" balas cowok itu geram. Kemudian, ia pun melempar sebuah jepitan rambut yang diyakininya bahwa itu adalah milik Prita setelah beberapa kali sempat melihatnya memakai benda tersebut di rambut panjangnya.
"Maksud lo?"
"Lo sengaja kan kunci pintu toilet di saat Diary ada di dalamnya? Mau sampai kapan sih lo berkelakuan sejahat itu, hah? Apa lo gak bosen bikin orang lain terus menerus tertindas? Lo gak ingat dulu pun lo adalah salah satu dari mereka? Terus, kenapa justru sekarang lo malah jadi pihak penindas yang gak ada bosennya buat bersikap jahat, hah?" cerca Gerrald menggebu-gebu.
Untuk sesaat, Prita mengerjap beberapa kali. Dia sama sekali tidak menduga jika akan dilabrak oleh Gerrald seperti sekarang. Tapi, memangnya apa yang ia lakukan? Sampai-sampai, cowok itu marah bahkan dengan lancang mengingatkannya perihal masa lalu.
"Gue sama sekali gak paham sama apa yang udah lo omongin. Emangnya gue bikin kesalahan apa lagi? Kenapa tau-tau lo datang marahin gue kayak gini? Lo gak lagi ngigo kan, Ger?" sahutnya berusaha meminta klarifikasi.
"Lo nuduh gue ngigo? Dan lo ingat jelas kan kalo jepitan rambut itu milik lo?" lontar Gerrald membalikkan lagi ucapannya.
Prita menatap jepitan rambut miliknya yang tergeletak di atas meja. "Ini emang punya gue. Terus, apa hubungannya jepitan rambut sama lo yang tiba-tiba datang terus maki-maki gue?"
"Elo kan yang kunciin Diary dari luar toilet? Apa sih yang menjadikan lo benci sama dia? Emang selama ini dia punya salah apa sama lo?"
"Hah? Lo bilang apa? Gue kunciin si cupu itu dari luar toilet?" Kedua matanya membulat sempurna di tengah pekikkan terkejutnya.
"Apa perlu gue beberin semua masa lalu lo di hadapan semua orang yang ada di sini, hah? Apa harus sampe segitunya buat bikin lo mengakui kesalahan lo kali ini?" desak Gerrald berapi-api. Sementara itu, Diary mencoba untuk sedikit meredam kemarahan sang pacar dengan cara mengusap punggungnya begitu lembut.
"Lo mau beberin semua cerita masa lalu gue? Yakin? Kalo gitu lakuin aja! Toh gue gak ngerasa bersalah sampe gue harus mengakui kesalahan yang bahkan gak gue perbuat sama sekali. Asal lo tau! Gue emang gak pernah suka sama si cupu itu, tapi semenjak dia berubah jadi seperti sekarang apalagi mulai banyak penggemarnya di setiap sudut, gak ada sedikit pemikiran pun buat gue bertindak gegabah sama dia. Lo pikir gue bakal seteledor itu? Gue bahkan masih punya nurani untuk sekadar bersikap biasa aja di saat sejujurnya hati gue kesal ngeliat lo selalu berduaan. See? Sekalipun gue mau jahatin si cupu itu, gue gak akan mungkin meninggalkan jejak secuil pun yang berpotensi diketahui orang lain. Paham?" beber Prita panjang lebar. Lalu, ia pun memutuskan untuk melenggang pergi meninggalkan kelas guna menenangkan diri setelah dipermalukan habis-habisan oleh cowok yang di masa lalu justru sangat dielu-elukannya itu.
***
Bel istirahat sudah berbunyi sedari lima menit yang lalu. Tapi hal itu tidak mempengaruhi Gerrald yang justru masih termenung tak keruan di kursinya sendiri. Beruntung jam pelajaran sebelum istirahat tadi sedang kosong karena gurunya ada kepentingan mendadak, maka setelah ia memaki-maki Prita yang berujung dengan rasa penyesalan datang menghampiri pun lantas membuatnya hanya mampu termenung hingga sekarang.
Diary yang merasa serba salah dalam hal ini pun tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, sebelumnya ia sudah melarang Gerrald agar tidak langsung main labrak pada Prita. Tapi dengan emosi yang menguasai, cowok itu malah mengabaikan perkataan Diary. Entah kenapa, Diary pun merasa kalau Prita bukan pelaku yang sebenarnya. Kata hatinya berucap seperti itu, maka logika pun harus turut menyeimbangkan asumsi dari si hati yang jauh lebih memiliki andil dalam perkara ini.
"Ger," panggil Diary pelan. Tangannya yang sempat ingin menyentuh pundak cowok itu bahkan kembali ia tarik karena sedikit merasa tak enak jika seandainya Gerrald merasa tak suka diusik di tengah ia yang masih berupaya mencerna segalanya.
"Kamu kalo mau ke kantin, pergi duluan aja, ya! Ada sesuatu yang harus kuurus dulu agar semuanya baik-baik aja," tukas Gerrald melirik sekilas. Kemudian, ia pun langsung beranjak pergi meninggalkan Diary yang hanya tercenung tak menyangka.
Kepergian Gerrald menyisakan rasa perih di hati Diary. Entah kenapa, tapi Diary merasa ada sesuatu yang sedang Gerrald sembunyikan dari dirinya. Apa yang sebenarnya cowok itu rahasiakan? Apakah ucapan yang ia dengar saat menguping di dalam bilik toilet tadi memang benar adanya? Dosa di masa lalu.
Ah ya, Diary jadi kembali teringat dengan kalimat yang Gerrald lontarkan sewaktu melabrak Prita tadi. Bukankah ia juga menyeret soal masa lalu saat mencerca Prita? Apa mungkin dua hal yang ia dengar itu memiliki sangkut paut dan kesinambungan? Tapi jika memang benar, dosa apa yang Gerrald miliki? Lalu, masa lalu seperti apa yang pernah Prita lewati? Apakah di masa lalu mereka pernah saling mengenal?
"Diary,"
Sontak, gadis itu pun terkesiap saat namanya terpanggil. Didapatinya, Keyna sudah berdiri tegak tepat di samping meja dirinya.
"Oh, hai, Key? Ada apa?" tanya Diary mengulas senyum.
"Gerrald ke mana?" lontar Keyna mengedarkan pandang. Pasalnya, biasanya kan Gerrald selalu ada di samping Diary dimana pun mereka berada. Tapi, sekarang kenapa Keyna malah tidak bisa melihat Gerrald ada di sisi sepupunya itu.
"Oh, Gerrald tadi ke luar. Katanya dia pengen tenangin diri dulu," ujar Diary berusaha mengenyahkan perasaan aneh yang dirasakannya.
"Hah? Tenangin diri? Tanpa lo?" pekik Keyna memelotot.
Diary mengangguk. "Iya, Key. Memangnya kenapa? Nenangin diri gak harus selalu ditemenin sama seseorang juga kan?"
"Iya sih. Cuma gue heran aja,"
"Maksud kamu?"
Buru-buru Keyna pun menggeleng diikuti dengan senyuman penuh rahasianya. Diary sangat hafal betul jenis senyuman itu. Toh selama ini pun dia selalu menunjukkan senyuman seperti itu jika sedang menyembunyikans sesuatu dari pihak yang tak ingin ia mengetahuinya. Maka, tidak salah bukan jika Diary pun menyamaratakan kondisinya dengan perihal yang Keyna tunjukkan saat ini?
***
Prita terisak pelan. Sesekali, dia pun menghapus air mata yang berlinang membasahi pipi. Seandainya ada teman setia yang berkenan menemaninya di saat senang maupun susah, maka Prita akan merasa bahagia karena setidaknya, di saat situasi seperti sekarang dia masih memiliki orang yang bisa ia ajak bersedih bersama.
Setelah meninggalkan kelas satu jam yang lalu, dia memilih untuk berdiam diri di taman belakang sekolah. Tempat sepi yang hanya akan didatangi orang ketika ia sedang ingin menyendiri. Entah mengapa, Prita merasa sangat mudah terbawa perasaan hari ini. Seperti halnya yang sudah menimpa dirinya saat dilabrak Gerrald tadi. Padahal, ia moodnya sedang tidak baik. Didatangi Gerrald secara tiba-tiba dan memakinya di depan semua penghuni kelas tentu saja membuat moodnya semakin berantakan.
"Gue emang gak suka sama si Diary. Tapi gue juga gak rela kalo dituduh macem-macem kayak gitu. Dia pikir, gue akan seteledor itu? Mana mungkin gue ada pikiran ngunciin dia di toilet? Bagi gue, hal itu hanya bisa dilakukan sama orang yang masih amatiran. Bukan gue yang udah--"
Mendadak, Prita menghentikan kalimatnya di udara. Sebuah ingatan telah merasuki ke dalam kepalanya. Ingatan tentang seseorang yang berpotensi melakukan kejahilan seperti itu. Apalagi dengan meninggalkan secuil jejak yang tentu saja bukan miliknya pribadi.
"Berengsek! Jadi, dia mau mencoba mengambinghitamkan gue di tengah perlakuan jahatnya yang gak mau diketahui orang lain?" umpat Prita mengepal kuat. Kemudian, ia pun bertekad untuk mendatangi orang yang seharusnya patut disalahkan dalam hal ini. Namun saat baru saja ia berdiri dan berbalik, tiba-tiba tatapannya bertemu langsung dengan sepasang mata beriris cokelat terang milik sosok cowok yang sempat disukainya di masa lalu.
"Gerrald, elo-"