Rahmadi dan Lilis berjalan bersisian di bawah terik matahari. Angin kencang mengibarkan kerudung laksana panji selepas upacara senin pagi. Rahayu beru saja mengabari mereka bahwa ada pengusaha dari kota yang berminat membeli tanah ayahnya di kampung hilir. Haji makmur, membutuhkan truk baru untuk operasional peternakan. Karenanya lelaki tua itu menjual salah satu tanah miliknya untuk membeli truk. Kebetulan teman kuliah Rahayu yang kini manjadi pengusaha resort ingin membeli sebidang tanah untuk resort barunya. “Kenapa mesti jual tanah, sih?” protes Lilis. “Tabungan Ayah pasti banyak, tuh, gak sayang apa? Kan nilai tanah dari tahun ke tahun terus meningkat.” “Tabungan ayah kan deposito, belum bisa di ambil dalam waktu dekat. Lagi pula itu tanah tadinya mau ayah kasihkan sama Rendra. Tap

