Setelah berkunjung ke beberapa tempat wisata lainnya, karena sudah menjelang malam, mereka mampir ke Singapore river yang malam hari itu sudah dipadati oleh pengunjung. Sungai itu merupakan tempat wisata yang terkenal bagi wisatawan dan Ruby sudah beberapa kali datang ke tempat itu bersama sang kakek ketika beliau masih hidup. Selama beberapa tahun, Ruby tidak pernah lagi datang ke sana. Dan malam ini, adalah yang pertama baginya setelah sekian lama. Tidak banyak yang berubah, suasananya masih tetap sama.
"Ayo, kita naik perahunya," kata Galaksi yang berdiri di sampingnya, sambil menunjuk bumboat yang baru saja berhenti.
Ruby menggeleng. "Aku tidak ikut. Kalian saja."
"Kenapa?"
"Aku tunggu di sini saja." Ruby hendak duduk di kursi yang ada di dekat sana tapi tiba-tiba saja Galaksi menarik tangannya.
"Ayo, ikut!" ucapnya dan membawa Ruby menuju perahu itu. Bastian dan Kristal sudah ada di sana sambil ber-selfie ria.
Sejak dulu Ruby memang takut berada di atas perahu. Biasanya dia akan merasa gemetaran dan keringat dingin. Tapi, rupanya ada yang lebih menakutkan dari menaiki perahu, yaitu sentuhan tangan Galaksi di tangannya. Itu membuat kedua lutut terasa lemas dan jantung berdebar hebat. Ruby khawatir dia akan terkena serangan jantung kalau Galaksi terus menerus membuatnya merasa seperti itu.
Melalui perahu bertenaga listrik tersebut, mereka dibawa menyusuri sungai untuk melihat pemandangan kota Singapura. Bahkan dari sana, tempat-tempat yang sebelumnya mereka kunjungi, terlihat di kejauhan bersama dengan bangunan megah lainnya, seperti Merlion Park maupun Marina Bay Sands. Pemandangan kota jadi terlihat sangat indah jika dilihat di malam hari karena lampu-lampu yang menyala.
Ruby tersenyum lebar, merasa tempat ini adalah yang terbaik dari tempat-tempat sebelumnya. Di sini dia menemukan kenyamanan ketika dia melihat langit penuh bintang dari tempatnya duduk.
"Hari ini menyenangkan," cetus Galaksi di sampingnya.
Ruby mengangguk. "Iya, terima kasih. Maaf kalau adik-adikku merepotkan."
Galaksi tersenyum tipis. "Santai saja. Mereka juga akan menjadi adik-adikku nantinya."
Ruby mengerjapkan matanya kemudian memilih tidak merespon lagi. Galaksi selalu saja mengucapkan kata-kata yang membuat Ruby berpikir keras tentang apa maksudnya.
Ruby hanya tidak mau dia merasa kalau Galaksi sedang memberinya harapan karena dia tahu, seorang Galaksi tidak mungkin tulus untuk menjalin sebuah ikatan dengannya.
Namun, siapa sangka, akhirnya Galaksi melakukan sesuatu yang tidak pernah Ruby kira sebelumnya.
****
Pada pukul sepuluh malam itu, jalanan di depan toko mereka masih sangat ramai. Para tetangga yang masih berada di luar rumah tampak sedang mengobrol dengan Sandra.
Ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti, perhatian orang-orang langsung tertuju ke sana. Tepat pada saat Ruby turun dari mobil dan hampir tiba di depan pintu, terdengar suara Galaksi memanggilnya.
Ruby langsung membalikkan tubuh dan terkejut sewaktu melihat Galaksi sedang berlutut di hadapannya dengan seikat bunga berwarna merah.
A-apa-apaan itu?
"Aku tahu kita baru bertemu, tapi ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan."
Bastian dan Kristal juga tampak terkejut melihat itu. Orang-orang yang kebetulan ada di sana segera mendekat ingin mencari tahu apa yang terjadi.
"Aku berjanji akan membuat kamu bahagia. Aku akan menerima semua kekurangan kamu dan aku berjanji tidak akan membuat kamu sedih. Jadi, Bianca Ruby, maukah kamu menikah denganku?"
"Ya ampuuun!" Kristal menutup mulutnya. "Apa kak Galaksi sedang melamarnya?"
“Dia melamar putrimu? Ya ampun, beruntung sekali,” ucap para tetangga pada Sandra. Tak bisa dipungkiri, ketika dia melihat itu, dia menjadi terharu. Meski Ruby tak seperti gadis lainnya, tapi seorang pria setampan dan sekaya Galaksi mau melamarnya.
Orang-orang terus berdatangan yang akhirnya membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi Ruby dan Galaksi.
Saat itu, Ruby masih terdiam membeku di tempatnya berdiri, tidak bisa berpikir dengan baik. Dia terkejut bukan main mendengar apa yang Galaksi katakan.
Apa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya?
“Aku berjanji akan membuat kamu bahagia,” ucap Galaksi lagi dan tersenyum. “Menikahlah denganku.”
Mata Ruby melirik sekeliling dan dia mendadak gemetaran. “A-aku…”
“Ayo, Kak, terima! Bilang iya!” seru Kristal dengan semangat.
“Iya, Kak, terima saja! Kak Galaksi orang yang baik.” Bastian menambahkan.
“Iya, terima saja!” seru orang-orang di sana sambil bertepuk tangan.
Tak tahan dengan euforia itu dan berpikir kalau itu harus diakhiri, Ruby akhirnya mengambil satu buket bunga itu dari tangan Galaksi lalu berkata, “I-iya, aku mau.”
“Mau apa?” tanya Galaksi dengan kedua alis terangkat.
“Aku mau menikah dengan kamu.”
Semua orang bertepuk tangan. Para tetangga mengucapkan selamat kepada Sandra. Kristal dan Bastian saling melempar pandang penuh arti lalu berpelukan.
“Kita akan jadi orang kaya!” bisik Bastian di telinga Kristal.
Kristal mengangguk. “Iya, benar! Hari ini, kamu sukses menjadi penjilat!”
Bastian lalu mendorong Kristal dan menoyor kepalanya. “Bukan cuma aku, tapi kamu juga.”
Kristal terkikik geli mendengarnya.
Sementara itu, Galaksi segera bangkit dengan senyum lebar. “Terima kasih. Aku akan segera mengurus pernikahan kita.”
Ruby mengangguk. “I-iya.”
Tanpa berkata apa pun lagi, Ruby berlari masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam kamar, dia langsung menggenggam erat buket bunga berwarna merah itu dengan perasaan penuh haru.
Entahlah, meski di satu sisi dia meragukannya, namun sulit untuk menolak fakta kalau dia juga merasa senang mendengar ucapan Galaksi tadi. Bukan hanya di depannya, tapi juga di depan banyak orang.
Ruby lalu menaruh buket bunga tersebut ke mejanya, berdampingan dengan buku Romeo & Juliet yang diberikan kakek Galaksi padanya. Ruby menarik kursi lalu bertopang dagu dan menatap keduanya dengan senyum lebar.
Seharian tadi, Galaksi memang melontarkan ucapan-ucapan yang membuat Ruby merasa tersipu. Rasanya berbeda dan mendebarkan. Mungkinkah Galaksi benar-benar menyukainya?
Mereka baru saja bertemu, mana mungkin semudah itu Galaksi menaruh hati padanya. Apalagi jika mengingat sosok Ruby yang jelas-jelas tidak cantik seperti gadis lainnya. Bertubuh gemuk dan berjerawat. Apa iya, Galaksi sungguh-sungguh dengan ucapannya?
Tapi, Ruby sudah bilang iya tadi. Benarkah dia akan menikah dengan Galaksi? Rasanya sulit dipercaya.
Ruby memegang dadanya yang terasa bergemuruh. Menikah dengan pria tampan dan kaya adalah impian banyak gadis, mana Ruby kira dia akan menjadi salah satu yang beruntung dari mereka. Kisah ini persis seperti yang sering ditulisnya di buku-bukunya. Ada seorang pria kaya yang jatuh hati pada gadis sederhana lalu mereka menikah dan hidup bahagia setelah melewati beberapa ujian cinta. Mungkinkah kisahnya juga akan seperti itu?
Ruby memejamkan matanya dan berdoa dalam hati. Semoga saja keputusan ini benar dan dia tidak akan pernah menyesalinya.
***
Sumpah ini cerita yang benar-benar parah banget bangun mood-nya. Pantesan sepi, hiks