Chapter 11

1424 Words
Chapter 11 Kemarin malam, Ruby bermimpi indah. Pernikahannya diadakan di tepi pantai dengan pelaminan yang penuh bunga berwarna putih. Galaksi sangat tampan hari itu, layaknya pangeran dari negeri antah berantah. Baju yang Ruby kenakan pun bertabur berlian dan mutiara. Resepsi itu dirayakan dengan penuh sukacita dan semua orang memberi selamat. Dan ketika Galaksi akan menciumnya, saat itulah Ruby merasakan adanya guncangan hebat. Rupanya sewaktu dia membuka matanya, tampak Kristal berdiri di depannya dengan raut kesal. “Menjijikkan,” ucap Kristal kemudian. Ruby mengambil posisi duduk lalu memegangi kepalanya. “Apa barusan ada gempa?” Kristal mendelik. “Apa Kakak sedang bermimpi jorok?” “H-huh?” “Dari tadi Kakak tidak berhenti mengerucutkan bibir, seperti sedang mau mencium sesuatu. Memangnya sedang mimpi apa? Hm?" Ruby mengerjapkan mata dan seketika dia merasakan otaknya tidak bisa bekerja dengan baik, begitu pula dengan bibirnya yang tidak mengeluarkan jawaban apa pun. Hanya diam menatap Kristal yang juga menatapnya dengan curiga. “Apa Kakak sedang bermimpi mencium kak Galaksi?” Ruby menggeleng cepat. “Tidak! Yang benar saja!” Kristal melipat tangan di depan d**a dan tertawa mendengus. “Astaga….” Ruby mengambil bantal lalu melemparnya ke arah Kristal. “Kenapa ke kamarku? Sudah, sana pergi!” “Kak Galaksi akan pergi. Apa tidak mau mengatakan sesuatu?” “Pergi? Ke mana?” “Memangnya dia tidak bilang?” Ruby menggeleng pelan. “Dia akan kembali ke Indonesia hari ini.” Ruby mengerjapkan matanya sekali lagi karena terkejut. “Apa?” “Kupikir Kakak sudah tahu.” “Di mana dia sekarang?” “Mungkin sudah pergi.” Ruby serta merta turun dari ranjang dan berlari keluar kamar dan menuruni tangga dengan tak sabar. Tentu saja hal itu membuat bangunan rumah bergetar seolah-olah sedang terjadi gempa. Setibanya di lantai bawah, Ruby seketika berhenti berlari setelah dilihatnya Galaksi berdiri di muka pintu toko sambil membawa sebuah tas di punggungnya. “Mau ke mana?” tanya Ruby tanpa basa-basi. Dia tak lagi peduli dengan rambutnya yang berantakan dan muka bantalnya. Galaksi tersenyum. “Aku harus kembali ke Bali hari ini untuk mengurus pernikahan kita.” Ada perasaan sedih di hati Ruby ketika mendengar hal itu langsung dari Galaksi. Rasanya dia tidak rela jika Galaksi harus meninggalkannya di saat dia sudah merasakan sesuatu di hatinya. “Kenapa tidak bilang?” tanya Ruby setengah kecewa. Galaksi masih tersenyum ketika menjawab. “Kamu tidur terlalu nyenyak, aku tidak mau mengganggu. Maaf, ya?” Ruby mengangguk sedih. “Kalau begitu, hati-hati.” “Aku akan mengabari kamu. Sampai bertemu lagi nanti.” “Kapan?” Galaksi menatapnya, tepat di matanya. “Secepatnya.” “Aku akan menunggu.” Galaksi mengangguk. Dia lalu mengangkat satu tangannya untuk menepuk-nepuk puncak kepala Ruby lalu berkata, “Jaga kesehatanmu, beruang madu yang manis.” Pipi Ruby terasa panas mendengarnya dan dia langsung salah tingkah. “I-iya.” “Aku pergi dulu.” Galaksi lalu beranjak. Kepergiaannya seakan membawa kebahagiaan Ruby ikut bersamanya. Kesedihan seketika menyelimuti dan rasa kehilangan pun menjadi nyata. Punggung itu kemudian menghilang di balik pintu. Galaksi pergi menaiki mobil yang mana sudah ada seseorang menunggunya di dalam sana. Kedua adiknya yang berdiri di depan pintu melambaikan tangan sambil berteriak sampai jumpa lagi dan Galaksi membalas mereka dengan lambaian tangan dan senyuman manis. Sementara kedua orangtuanya, beranjak dari meja kasir lalu menghampiri Ruby. “Apa kamu merasa sedih?” tanya Sandra, penasaran. “Apa kamu sekarang benar-benar jatuh cinta dengannya?” “A-apa yang Ibu bicarakan? Kami baru bertemu beberapa hari, mana mungkin secepat itu aku jatuh cinta.” “Tapi, kami bisa lihat dari matamu. Kamu seperti mau menangis melihatnya pergi.” Ruby cepat-cepat memalingkan wajahnya dan bergegas pergi dari hadapan kedua orangtuanya. Ini adalah kali pertama dia dekat dengan seorang pria dan di saat yang bersamaan, orangtuanya tahu siapa pria itu. Ruby senang karena apa yang terjadi sekarang ini didukung oleh orangtuanya dan juga orangtua Galaksi. Namun, di sisi lain, dia merasa malu jika ditanya tentang perasaannya terhadap Galaksi. Sejak dulu, Ruby tidak terbiasa terbuka dengan siapa pun, termasuk mengenai masalah pribadinya. Jadi, hari ini pun dia masih tidak transparan soal perasaannya pada Galaksi. “Katanya, dia akan kembali satu bulan lagi. Setelah itu, dia akan langsung mengajakmu tinggal bersamanya di Bali,” ucap Sandra sebelum Ruby menaiki anak tangga. Ruby mengulum senyum namun tidak mengatakan apa pun. Sebulan, ya? Baiklah, Ruby akan menunggu. ** Dua minggu berlalu. Selama itu pula, Ruby tidak menerima pesan apa pun dari Galaksi. Dia memang tidak berjanji akan menghubungi Ruby. Dan dia juga tidak mengatakan kalau mereka akan berkomunikasi melalui telepon atau pesan teks di kemudian hari. Galaksi hanya bilang, sampai ketemu nanti. Kata ibunya dia akan kembali sebulan lagi. Tapi, tidak bisakah mereka saling berkomunikasi di tengah penantian itu? Ruby sudah menaruh harapannya, dia hanya takut kecewa saja. Bagaimana kalau ternyata Galaksi berubah pikiran? Kalau memang begitu, sebenarnya ada bagusnya bukan? Ruby tidak mau terjebak di dalam sebuah pernikahan yang tidak didasarkan oleh cinta. Galaksi mungkin sudah berjanji akan membuatnya bahagia jika mereka menikah nanti, tapi Ruby ragu kalau ucapan itu berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam. Namun, kenapa Ruby masih berani menyimpan harapan untuknya jika dia meragu? Entahlah, Ruby sendiri tidak memahami hatinya. Ruby mendesah lalu menengadah menatap langit yang penuh bintang. Apa yang sedang Galaksi lakukan sekarang? Apa dia pernah memikirkan Ruby walau hanya sesaat? Sayang, sebelum pergi, Ruby lupa meminta nomor ponselnya. Kristal dan Bastian juga tidak memiliki nomornya. Rasanya semua menjadi sulit. Galaksi pun benar-benar jauh dari jangkauannya. Sekarang, yang bisa Ruby lakukan hanya menunggu. Ya, menunggu. *** “Ini sudah satu bulan lebih, tapi kak Galaksi belum juga kembali ataupun mengabari kita soal rencana pernikahannya dengan kak Ruby. Apa sebenarnya keluarga mereka membatalkan perjodohan itu?” tanya Kristal di meja makan pada pagi hari itu. Ruby berhenti mengunyah nasinya dan mendongak. Kini semua orang tengah menatapnya. “Jangan bicara sembarangan! Dia pasti kembali,” tutur Sandra, meskipun tak terdengar nada meyakinkan dari suaranya. “Tapi, mungkin saja pihak mereka membatalkan perjodohan itu setelah kak Galaksi melihat kak Ruby.” “Galaksi sudah melamarnya di depan semua orang, mana mungkin dia membatalkan perjodohan itu begitu saja,” bela sang ayah, berusaha agar Ruby tidak merasa tertekan. “Itu salah kak Ruby karena dia tidak bisa mengurus dirinya dengan benar. Coba saja kalau dia bertubuh langsing dan pintar merawat diri, mungkin kak Galaksi tidak akan berubah pikiran,” ucap Kristal lagi, menatap Ruby dengan pandangan kesal. “Kenapa menyalahkanku?” tanya Ruby, tersinggung. “Memangnya salah kalau aku gendut?” Kristal dan Bastian sama-sama mengangguk. “Seorang pria punya standar tinggi untuk mencari wanita yang akan dijadikannya kekasih,” kata Bastian. “Coba saja kalau Kakak bertubuh langsing dan berwajah cantik seperti aku, pasti kak Galaksi akan kembali secepatnya ke sini,” tambah Kristal dengan penuh percaya diri. Ruby mendelik malas. “Kalian berdua itu benar-benar penjilat. Apa yang kalian harapkan dari perjodohan ini?” “Tentu saja menjadi orang kaya, apa lagi?” jawab Bastian dengan lantangnya sampai-sampai Sandra langsung memukul kepalanya dengan mata melotot. “Berhenti bicara yang tidak-tidak. Kalau nanti Galaksi kembali ke sini dan kakakmu menikah dengannya, maka kita tidak akan ke mana-mana.” “Apa maksud Ibu?” “Iya, apa maksudnya? Apa Ibu tidak mau kembali ke Indonesia lagi?” Sandra menggeleng. “Biarkan dia menjalani hidupnya sendiri di sana. Tidak ada yang boleh mengganggu dan menjadi beban untuk suaminya.” “Ya ampun, Ibu, yang benar saja?” Kristal mendengus malas. “Kapan lagi kita bisa merasakan hidup seperti orang kaya, Bu?" Sandra mendesis. "Sudah diam, jangan membantah. Makan lalu cepat pergi dari sini." Kristal cemberut sembari menaruh sendoknya. "Aku pergi sekolah dulu." "Aku juga." Bastian ikut beranjak. Ruby hanya mendesah dalam hati melihat kelakuan kedua adiknya itu. "Bagaimana kalau kak Galaksi tidak kembali ke sini?" tanya Kristal pada Bastian. "Ya kita gagal jadi orang kaya," jawab Bastian acuh tak acuh. "Ya ampun, padahal aku berharap ikut tinggal bersama kak Ruby di Bali nanti." "Iya, tentu saja itu bisa terjadi. Di mimpimu," ujar Bastian lagi dan tergelak. Kristal menjambaknya sambil mengucapkan sumpah serapah. Pada saat itulah, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan toko roti mereka. "Diam!" ucap Kristal pada Bastian yang mengeluh kesakitan. Kristal mengarahkan kepala Bastian ke mobil tersebut sambil berkata, "Lihat, siapa yang datang!" Sepasang kaki yang mengenakan sepatu hitam mengkilap turun dari mobil tersebut. Meski belum melihat si pemilik kaki itu sepenuhnya, tapi mereka sudah bisa mengira siapa orang itu. "Kak Galaksi?!" Galaksi yang merasa terpanggil pun menoleh. Dia melepas kacamata hitamnya kemudian melambaikan tangan. "Hai," sapanya dan tersenyum manis. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD