Chapter 6

1576 Words
“Aku akan pergi ke Singapura untuk menemui gadis itu,” tutur Galaksi di depan kedua orangtuanya malam itu yang sedang menikmati makan malam mereka. Keduanya juga tampak terkejut mendengar ucapannya. “Yang benar? Apa kamu yakin, Gal?” tanya sang Ibu, sedikit khawatir. “Hmm, mungkin nanti kamu akan sedikit terkejut melihatnya.” “Aku sudah bisa membayangkannya. Jadi, apa aku boleh pergi ke sana?” Abimana tersenyum. “Tentu saja, kamu boleh pergi menemuinya. Ayah akan memberikan alamat rumahnya. Sebentar….” Abimana mengambil dompet dari saku dan menarik secarik kertas dari dalamnya lalu menyerahkannya pada Galaksi. “Ini alamatnya. Tolong bersikap baik pada anggota keluarga itu. Mereka semua orang baik.” Galaksi melihat kertas berisi tulisan tangan itu dan mengangguk. “Iya.” “Kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba kamu memutuskan ingin bertemu dengannya lebih dulu? Kalian kan bisa bertemu nanti di acara pertunangan.” “Aku ingin mengenalnya lebih dekat.” Kartika mengulum senyum. “Percayalah, Sayang, Ruby itu gadis yang baik. Meskipun dia tidak cantik seperti gadis lainnya, hmmm, seiring berjalannya waktu, Ibu yakin kamu bisa menerimanya.” Galaksi tersenyum tipis. “Semoga saja.” “Gal.” “Ya?” Galaksi melirik ayahnya dengan kedua alis terangkat. “Terima kasih. Kamu tidak pernah mengecewakan kami.” Kali ini senyum Galaksi melebar seperti bulan sabit. “Ya.” “Pulang dari sana, kami ingin mendengar kabar baiknya.” Galaksi mengangguk. “Iya, tunggu saja kabarnya.” **** Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun lamanya, Ruby akhirnya mau keluar rumah pada keesokan harinya. Hal Itu tentu saja membuat semua anggota keluarganya terkejut begitu melihat kemunculannya. Seperti melihat sesuatu yang langka, mereka menatap Ruby dengan mata memelotot. “Kenapa kalian melihatku seperti itu? Apa aku tidak kelihatan seperti mahkluk bumi?” Kristal mengerjapkan matanya. “Kakak mau ke mana?” “Aku mau cari udara segar.” “Udara segar jam dua belas siang? Apa kamu mau kulitmu gosong, Kak?” tanya Bastian tak percaya. Ruby melirik jam dinding. “Oh, iya, ini sudah siang.” “Pergilah, Sayang. Pergi ke mana pun yang kamu mau. Udara sangat cerah dan bersenang-senanglah. Yaaa?” Sandra mendorong Ruby keluar rumah dengan semangat. Ruby mendesis. “Iya, kalau begitu aku pergi dulu.” Sandra melambaikan tangannya. “Hati-hati di jalan!” “Ibu, apa Kakak akan baik-baik saja? Dia kan tidak pernah keluar rumah. Bagaimana kalau nanti dia nyasar?” “Apa menurutmu dia sebodoh itu?” “Tidak.” “Ya sudah, biarkan dia pergi untuk melihat dunia yang sebenarnya itu seperti apa.” *** Keringat dingin, canggung, dan rasa takut kini dirasakan oleh Ruby. Dia tidak tahu kapan terakhir kali dia keluar rumah pada siang hari. Mungkin sekitar 6 atau 7 tahun lamanya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk keluar pada malam hari saat di luar tidak ada banyak orang, cenderung sepi. Dan sekarang dia kebingungan berjalan sendirian di trotoar sementara di jalanan kendaraan sedang padat merayap. Ruby tidak biasa dengan suara bising itu. Para gadis yang berselisih dengannya menoleh menatapnya sambil tertawa. Ruby merapatkan sweater-nya dan terus berjalan menunduk. Mereka pasti sedang membicarakan penampilannya, khususnya bentuk tubuhnya. Sekarang Ruby merasa seperti anak gajah yang sedang lepas ke jalanan. Semua orang menatapnya seakan-akan dia sedang melakukan sesuatu pertunjukkan. Keputusannya untuk pergi hari ini adalah untuk melatih mentalnya. Tidak mungkin setelah menjadi seorang istri dia tetap mengurung dirinya di kamar seharian. Ruby harus terbiasa dengan semuanya, tatapan orang dan ejekan mereka. Ruby tiba di minimarket langganannya. Tentu saja jika dia datang ke sana pada malam hari, saat mereka akan tutup. Jadi, ketika melihat kedatangan Ruby, mereka yang mengenalnya pun terkejut. “Ruby, kan?” tanya gadis yang bertugas menjaga kasir. Ruby mengangguk dan segera mengangsurkan beberapa bungkus cokelat ke meja kasir. “Ini pasti pertama kalinya kamu keluar rumah setelah ribuan tahun. Iya, kan?” “Memangnya aku ini monster yang hibernasi,” cetus Ruby dengan wajah memberengut. Gadis itu tergelak. “Kelihatannya aneh saja melihatmu di siang hari. Apa ada sesuatu?” Meski sudah mengenalnya, tapi Ruby tetaplah Ruby, dia tidak mudah menceritakan masalahnya pada orang lain. “Tidak ada apa-apa. Ini uangnya, kembaliannya ambil saja,” ucap Ruby dan meraih cokelat-cokelatnya kemudian pergi dari sana secepat mungkin. Gadis itu mengambil uang yang diberikan Ruby dan mengerjap. “Kembalian apanya? Ini saja kurang. Huh, dasar.” *** Semua terasa asing ketika didatangi pada siang hari. Tempat-tempat yang sering Ruby lewati pun menjadi terasa tidak nyaman karena ada banyak orang di sana. Salah satunya toko buku terdekat yang dia kunjungi setiap malam harinya di pukul 10 malam, seperti biasanya, saat toko akan tutup. Tentu saja keramaian itu membuat Ruby menjadi insecure. Dia merasakan semua orang menatap dirinya dan menertawakannya. Ruby cepat-cepat berjalan menuju rak dengan ratusan judul novel bergenre romansa dewasa. Ruby mengambil salah satunya dan melihat-lihat sebentar. “Ini, Kak.” Seorang remaja perempuan tiba-tiba datang menghampirinya dan mengangsurkan sebuah buku bersampul merah muda padanya. “Yang ini bagus.” Ruby menatap buku itu dan ada perasaan haru ketika melihatnya. Itu kan salah satu buku yang dia tulis… “Oh, ya?” “Aku sudah membacanya lebih dari seratus kali. Ceritanya bagus. Aku suka.” Ruby tersenyum lebar dan entah kenapa rasanya dia mau menangis saat itu. Mendengar langsung ada seseorang yang menyukai bukunya merupakan suatu kebahagiaan tersendiri untuknya. “Pinkerbells adalah penulis favoritku. Aku juga mengikutinya di salah satu aplikasi baca. Aku suka semua cerita yang dia tulis,” kata gadis itu dengan mata berbinar-binar. “Terima kasih,” ucap Ruby tanpa sadar. “Hah?” “Ma-maksudku, terima kasih karena sudah menunjukkan buku ini padaku.” Gadis itu tersenyum. “Iya.” Saat dia hendak beranjak, Ruby menahan pergelangan tangannya. “Kalau boleh tahu, siapa namamu?” “Rose. Kalau Kakak?” Ruby mengulurkan tangannya. “Ruby. Senang bertemu denganmu. Pinkerbells juga pasti akan senang kalau bisa bertemu dengan pembaca sepertimu.” “Aku juga ingin bertemu dengannya dan melihat seperti apa wajahnya karena selama ini dia satu-satunya penulis yang sangat misterius.Semoga saja, suatu saat aku bisa bertemu dengannya langsung.” Ruby mengangguk. “Ba-bagaimana kalau dia ternyata tidak seperti yang kamu bayangkan. Misalnya, dia tidak cantik, mungkin?” “Kenapa harus melihat penampilan seseorang untuk menyukainya? Orang yang tulus akan menerima kekurangan orang yang dia sukai, kan?” “Iya, itu benar.” “Aku pergi dulu karena teman-temanku sudah menunggu. Sampai jumpa lagi.” Rose kemudian beranjak dengan membawa dua buku di tangannya. Ruby lalu melihat buku berjudul “Something” yang tadi diberikan Rose padanya. Sebuah buku yang menceritakan kisah seorang pria tampan yang jatuh cinta dengan gadis biasa saja. Cerita itu merupakan karya terbaiknya yang juga paling banyak dibaca di aplikasi tempatnya menulis. Ruby lalu mendekap buku itu. Dengan buah pikirannya, ternyata ada orang-orang yang mengaguminya. Sayang, sejak pertama kali memublikasikan hasil karyanya, Ruby memang merahasiakan profil aslinya. Jadi, tidak ada satu pembaca pun yang tahu siapa dirinya. ** Setelah keluar dari toko buku, Ruby memutuskan untuk makan siang di salah satu tempat makan yang saat itu dipenuhi oleh banyak orang. Sepertinya sedang ada sebuah perayaan di sana. Dan Ruby menyesali langkahnya yang dengan ringannya masuk ke dalam tempat itu. Astaga! Rugy membeku ketika matanya bertatapan dengan seorang gadis di tengah keramaian itu. Itu kan…. “Bianca Ruby, bukan?” tanya gadis itu sehingga semua teman-temannya kini menoleh padanya. “Wah, benar, itu kan Ruby!” “Lihat dirinya, semakin besar saja, hahaha!” Gadis yang bertanya tadi ikut tertawa mendengar seloroh para sahabatnya. Dan sialnya, kini dia berjalan menghampiri Ruby. “Lama tidak bertemu, apa kabar?” Ruby menatap gadis itu dengan berani. “Baik. Aku pergi dulu.” Gadis itu tahu-tahu menjegal kaki Ruby sehingga Ruby akhirnya terjatuh menabrak meja yang berisi banyak minuman. Basah dan berserakan . Yang menyedihkan adalah, semua orang menertawakannya. Rasanya, mau menangis. Mereka mengulangi apa yang pernah Ruby rasakan ketika di SMA dulu. Ruby pikir setelah tidak lama bertemu, maka teman-temannya itu akan berubah. Tapi, nyatanya… tidak. “Ya ampun, Ruby, kenapa masih belum berubah juga? Kamu selalu mengacaukan apa pun,” ujar yang lainnya. Ruby mengerjapkan matanya, menatap bajunya yang kini basah karena tumpahan air. Pelan-pelan, Ruby mencoba bangkit, namun agak kesulitan dikarenakan beban tubuhnya yang berat. Ruby perlu berpegangan pada sesuatu atau seseorang, namun dia tahu tidak akan ada yang mau menolongnya. “Ayo, berdiri!” Seorang pria tiba-tiba datang dan mengulurkan tangan padanya. “Siapa dia?” “Tampan sekali.” Para gadis mulai bertanya-tanya ketika melihat kemunculan orang tersebut. Entah siapa dan datang dari mana dia. Yang pasti, kedatangannya membuat semua orang terperangah. Selain tampan, dia juga memiliki daya tarik yang seakan bisa menyihir gadis-gadis di sana. Sementara itu, Ruby tak kalah terkejut ketika melihat siapa orang yang kini berdiri di hadapannya. Apa dia tidak salah lihat? “Ayo! Aku tidak mungkin menggendongmu, kan?” seru orang itu lagi. Ruby mengedipkan matanya berkali-kali, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Galaksi?” ucap Ruby pelan. “Iya, ini aku.” Gadis yang tadi menjegal kaki Ruby pun mendekat dan seketika bersikap manis padanya. “Ayo, kubantu. Seharusnya tadi kamu berhati-hati.” Ruby akhirnya berdiri setelah dibantu oleh teman masa sekolahnya itu dan dua orang lainnya. “Ruby, siapa dia?” bisik mereka pada Ruby. Ruby melirik Galaksi yang menatapnya dengan sebuah senyum manis. “Dia… dia….” “Aku calon suaminya.” “Hah???” Ruby memelotot, tak percaya dengan apa yang baru saja Galaksi katakan. Sebelum dia sempat berkata-kata, Galaksi sudah menariknya dari sana dan membawanya pergi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD