Chapter 5

1015 Words
“Apa lagi yang kamu pikirkan? Galaksi adalah pria yang tampan, punya pendidikan yang bagus, pekerjaan yang menjanjikan dan yang terpenting dia keluarganya kaya raya dan mereka setuju dengan perjodohan ini. Apa susahnya menjawab iya?” Sandra kembali membujuk Ruby. Setelah kedua orangtua Galaksi pergi, mereka kembali membicarakan tentang perjodohan itu. Pada saat ditanya tadi, Ruby belum memberikan jawaban pasti. Dia bilang akan pikir-pikir dulu karena pernikahan baginya hanya akan dilakukan sekali seumur hidupnya. Dia ingin menikah atas dasar cinta dengan orang yang tulus mencintainya. “Ibu, aku tahu itu. Tapi, setelah dewasa kami belum pernah bertemu lagi. Bagaimana kalau misalnya kami bertemu dan dia melihatku yang sekarang? Bisa-bisa dia kena serangan jantung.” “Itu makanya mulai sekarang jangan banyak makan dan hindari cokelat.” “Aku mungkin bisa tidak makan yang lain, tapi cokelat aku tidak yakin. Aku tidak bisa hidup tanpa cokelat.” Kristal mendengus. “Kakak, coba pikirkan baik-baik. Apa Kakak tidak mau punya suami yang tampan dan kaya seperti dia? Hidup kita akan berubah juga, Kak.” Bastian mengangguk setuju. “Paling tidak pikirkan masa depanmu, Kak. Uang bisa memberikan keajaiban untuk orang miskin seperti kita.” Ben mendesah. “Sebaiknya, biarkan dia berpikir dulu. Kita akan mendengarkan jawabannya besok. Bukan begitu, Ruby?” Ruby menatap sang ayah dengan lega. Selalu saja dia yang mengerti dirinya. “Iya.” “Mulai besok, aku akan mengawasi makanannya,” cetus Sandra ketika Ruby melintas di depannya. Ruby tidak menggubrisnya dan memilih lekas-lekas masuk ke dalam kamarnya. Di sana, dia merenung, menatapi langit malam yang penuh bintang. Apakah dia siap untuk menikah? Di usianya yang masih terbilang muda? Masalahnya adalah, bagaimana kalau Galaksi sama sekali tidak mau dengannya? Sejak dia menginjak remaja, tidak pernah ada satupun laki-laki yang menyukainya. Mereka bahkan cenderung mengejeknya karena memiliki tubuh sebesar gajah. Apa salahnya kalau gendut? Memangnya itu merugikan mereka? Kadang kala Ruby bertanya-tanya tentang itu. Sebenarnya menjadi kurus itu baik, tapi untuk memulainya butuh niat yang kuat. Sayang, Ruby tidak memilikinya sedikit pun karena sudah pasrah dengan keadaannya. Hmm, tapi, mengabaikan perjodohan ini juga bukan pilihannya karena kalau boleh jujur, Ruby tertarik dengan Galaksi yang kini sudah menjadi pria yang tampan. Galaksi persis sekali dengan karakter pria idaman yang dia tulis di dalam novelnya. Dan menikah dengannya, sepertinya akan membuat perubahan besar di dalam hidupnya. Mungkin saja kisah cintanya akan berakhir bahagia seperti kisah-kisah yang ditulisnya selama ini. Karena kebanyakan, cinta selalu datang belakangan setelah waktu berjalan cukup lama. Awal-awal mungkin agak sulit, tapi seperti kata pepatah, cinta akan tumbuh karena terbiasa. *** Keesokan harinya, Ruby menghampiri semua anggota keluarganya di meja makan dan berkata, “Aku setuju untuk menikah.” Sandra menatapnya dengan terkejut. “Apa kamu serius?” Bastian terbatuk-batuk. “Apa?” Kristal bertepuk tangan. “Aku sangat setuju!” Bastian meliriknya dengan sinis. “Dasar, pasti itu karena ada maunya.” “Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang, Ruby? Pernikahan ini bukan main-main, kamu harus mengabdi dengan suamimu seumur hidupmu. Siap melewati suka dan duka bersamanya,” ujar Ben memberinya nasehat. Ruby tersenyum. “Aku sudah yakin dengan keputusanku. Sudah waktunya aku pergi dari rumah ini karena aku sudah terlalu lama menjadi beban keluarga.” “Iya, itu benar. Kamu memang harus keluar dari rumah ini dan menjalani hidup baru seperti wanita normal,” cetus sang ibu sehingga membuat Ruby beranjak dan kembali ke kamarnya. Ruby duduk di depan layar laptopnya kemudian perlahan-lahan menangis terisak. Rasanya dia tidak rela harus pergi meninggalkan rumah, apalagi kamar ini. Ruby tidak tahu apakah dia sanggup atau tidak jauh dari kamarnya yang benar-benar sudah menjadi bagian dari hidupnya. Separuh umurnya dia habiskan di kamar ini dan di sini pula dia menemukan bakatnya menjadi seorang penulis. Tapi, cepat atau lambat, dia pun harus pergi meninggalkan tempat ini. Setelah menikah nanti, Ruby pasti akan tinggal di rumah suaminya dan bisa dibayangkan kalau kamar ini tidak akan terurus, atau bahkan lebih parah jika sampai salah satu adiknya yang mengambil alih. Baik Kristal maupun Bastian, keduanya sama saja. Air matanya tak kunjung berhenti mengalir membayangkan kalau dia akan menikah dan meninggalkan semua kenyamanan ini…. Apakah itu akan terganti nantinya? *** “Apa dia cantik?” tanya Ares pada Galaksi ketika sahabatnya itu mengeluh kalau dia akan segera menikah dengan wanita pilihan sang kakek. Galaksi menggeleng. “Sama sekali tidak. Difoto dia kelihatan sangat gendut, mungkin seratus kilogram.” “Yang benar saja. Sebesar itu?” tanya Ares tak percaya. “Begitulah. Kakek benar-benar kerterlaluan. Apa dia tidak bisa memilih perempuan lain? Di dunia ini ada banyak gadis tapi kenapa harus dia?” Ares sudah terbahak-bahak, membayangkan Galaksi bersanding di pelaminan dengan wanita itu. Tapi, setelah menyadari tatapan Galaksi yang menajam, tawanya pun reda. “Menurutku itu bukan masalah besar, Gal. Kamu bisa saja memintanya untuk diet nanti setelah menikah.” “Bukan masalah itu. Aku tidak menyukainya. Jadi, untuk apa aku terima perjodohan itu?” “Tapi bukannya kamu bilang kalau kamu menolak maka kamu akan jadi gembel di jalanan?” “Kalau itu terjadi, aku yakin ada banyak gadis yang mau menampungku.” “Hahaha, menampung pria miskin? Yang benar saja. Kalau aku jadi mereka, aku tidak akan mau.” Galaksi melempar bantal di tangannya ke wajah Ares dan mendelik malas. Ares ada benarnya. Di jaman seperti sekarang, para gadis ingin mendapatkan kekasih yang mapan. Semua butuh uang sekarang. Jadi, kalau sampai dia menjadi gembel, sudah pasti tidak akan ada gadis yang mau memungutnya. Menyedihkan sekali. “Jadi, apa menurutmu sebaiknya aku menikahi gadis itu?” Ares mengangguk. “Kamu memang tidak punya pilihan lain, Gal.” Galaksi mendesah dan mengedikkan bahunya. “Ya sudah.” “Ya sudah apa?” “Aku mau menikahinya.” “Hahaha, serius?” “Iya.” Ares menepuk-nepuk pundak Galaksi sambil berkata, “Tetap semangat.” “Aku tidak ingin mengecewakan siapa pun.” “Iya, aku tahu,” ucap Ares dan tersenyum penuh arti. “Tapi, sebelum aku benar-benar yakin, aku akan menemuinya dulu.” “Jadi, kamu akan ke Singapura?” Galaksi menggangguk. “Iya.” “Kapan?” “Secepatnya.” *** Fyi, aku belum bisa Update setiap hari, ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD