*Halo, kita ketemu lagi di sini, ya hehehe.
***
“Karena hari ini toko libur, aku mau kalian semua membantuku membersihkan gudang.” Sandra berkata saat semua orang menyantap sarapan mereka di meja makan.
“Hmm, tapi, Bu—“
Belum selesai Kristal berbicara, Sandra sudah memotongnya. “Tidak ada tapi-tapian. Kalau kamu masih mau tinggal di rumah ini, dengarkan apa kata Ibu.”
“Astaga, yang benar saja. Ibu benar-benar mengerikan,” cibir Kristal tak habis pikir.
“Aku juga tidak bisa, soalnya hari ini aku ada janji latihan basket dengan—“ Bastian seketika merapatkan bibirnya begitu melihat ke mana garpu di tangan ibunya mengarah. Benda itu mungkin akan terbang ke kepalanya jika ia terus berbicara. “Baiklah, aku akan membantu, ” ujarnya pasrah.
“Kenapa tidak kak Ruby sendiri saja yang melakukannya? Dia kan pengangguran.” Kristal melirik Ruby yang tengah mengunyah roti bakarnya dengan lahap. Bahkan, selai kacang itu belepotan di sekitar mulutnya.
“Eh? Apa?” Ruby mendongak, menatap Kristal penuh tanya. “Siapa yang pengangguran?”
“Ya siapa lagi kalau bukan Kakak.”
“Enak saja. Aku bukan pengangguran. Aku punya pekerjaan. Kalian pikir uang dari mana untuk membeli ponsel-ponsel itu kalau bukan dari uang hasil kerjaku, heh?” Ruby dengan kesal menunjuk masing-masing ponsel di tangan kedua adiknya itu. "Dasar tidak tahu terima kasih.”
“Maksudku, Kakak itu punya jam kerja yang fleksibel, bisa dilakukan kapan saja. Nah, apa salahnya kalau Kakak meluangkan sedikit waktu saja untuk membantu Ibu membersihkan gudang. Kakak kan anak yang rajin dan mencintai kebersihan.”
“Dasar penjilat,” cetus Ruby dan mengerling.
“Sejak kapan dia mencintai kebersihan, lihat saja kamarnya seperti kapal pecah,” timpal Bastian.
“Berhenti bicara.” Sandra menengahi perdebatan kecil itu lalu memukul meja. “Ibu tidak mau tahu, kalian semua harus membersihkan gudang. Jika tidak, maka tidak ada makan malam hari ini.”
Keempat orang di meja makan itu akhirnya melengos malas.
***
“Kenapa kita harus membersihkan gudang ini?” tanya Kristal setelah membuka pintu gudang rumah mereka di samping rumah.
“Tidak tahu,” jawab Bastian dengan kesal. Apalagi ketika melihat tumpukan kardus di depan matanya. Itu semakin membuatnya bertambah kesal. Seharusnya, saat ini dia bermain basket dengan teman-temannya, bukannya berada di gudang yang sesak seperti ini.
“Sudah jangan protes, kerjakan saja.” Ruby berjalan dan mulai membongkar salah satu kardus di dalam sana untuk memeriksa isinya. Apakah ada barang-barang yang masih bisa dipakai lagi atau tidak. Jika tidak maka seharusnya dibuang saja.
Kristal menguap. “Rasanya menyebalkan sekali,” cetusnya lalu ikut mengambil salah satu kardus yang tertumpuk di belakang pintu.
Pada saat itulah tiba-tiba Kristal berteriak kaget dan serta merta dia menjatuhkan kardus di tangannya.
“Ada apa?” tanya Bastian terheran-heran.
“A-ada tikus di sana,” ujar Kristal sambil menunjuk kardus yang jatuh tepat di hadapan Ruby.
Ketika mereka sama-sama menoleh ke arah kardus tersebut, seekor tikus keluar dan berlari menaiki tubuh Ruby sehingga dia melompat-lompat dan menjerit ketakutan, apalagi sewaktu tikus itu masuk ke dalam pakaiannya, Ruby semakin berteriak ketakutan. Niat hati hendak keluar, dia justru menabrak lemari kayu yang ada di sana sehingga membuat tumpukan kardus di atasnya berjatuhan menimpanya.
Setelah bunyi yang keras itu, keheningan pun memberangus mereka. Tepat pada saat itu, sebuah amplop berwarna usang melayang turun dan jatuh tepat di bawah kaki Bastian.
“Apa ini?”
Ruby bangun dari tumpukan kardus yang menimpanya sambil meringis kesakitan. “Tikus kurang ajar!” makinya.
Kristal terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Membayangkan bagaimana tadi tikus itu membuat kakaknya ketakutan setengah mati sampai kejatuhan tumpukan kardus, membuatnya tidak bisa berhenti tertawa.
Karena kesal, Ruby melempar sendalnya ke arah Kristal. “Ini semua gara-garamu, tahu!”
Kristal masih tertawa dan baru berhenti ketika Bastian menempelkan selembar kertas ke wajahnya.
“Apa ini?” tanyanya dan membaca isi selembar kertas tersebut. “Ya ampun, apa ini serius?”
Ruby menatap kedua adiknya itu dengan kening berkerut. “Ada apa?”
“Ayaaah! Ibuuu!” Kristal berteriak beberapa kali sampai kedua orangtuanya datang.
“Ada apa? Kenapa berteriak?” tanya Sandra setibanya di dalam gudang. “Astaga, kenapa jadi semakin berantakan begini?”
“Ayah, baca ini!” Kristal menyodorkan selembar kertas itu pada ayahnya.
“Hah? Memangnya ini apa?” Ben menerimanya dengan bingung.
“Sudah, baca saja!”
Ben lalu mengangguk dan membaca isi kertas tersebut dengan suara yang cukup keras sehingga Ruby bisa mendengarnya dengan jelas.
“Aku memiliki seorang teman di Indonesia, tepatnya di Bali. Kami bersahabat sejak lama dan kurasa kalian tahu kalau dulu semasa di Indonesia aku sering menemuinya. Sebelum dia pergi meninggalkan dunia ini, dia meminta satu hal padaku sebagai keinginan terakhirnya, yaitu… dia menginginkan Ruby untuk menjadi istri cucunya yang bernama Galaksi. Oleh karena itu, jika nanti kalian menemukan surat ini setelah aku tiada, tolong wujudkan keinginanku untuk menikahkan Ruby dengan Galaksi. Katakan pada Ruby kalau aku sangat menyayanginya dan ingin melihatnya bahagia. Tolong, kabulkan permintaan terakhirku.”
Semua mata tertuju pada Ruby yang hanya bisa membisu di tempatnya.
***
“Apa pria bernama Galaksi itu seusia kak Ruby?” Kristal bertanya setelah mereka berada di ruangan keluarga.
“Sepertinya begitu.”
Ruby mendesah. “Dia bocah yang menyebalkan.”
“Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?” tanya Sandra tak percaya.
“Dulu kakek pernah mengajakku ke rumahnya.”
“Apa dia orang berada?” Giliran Bastian yang bertanya.
Ruby mengangguk. “Seingatku, rumahnya sangat besar, seperti istana.”
“Woaaah, kalau begitu, Kakak menikah saja dengannya! Kita bisa jadi orang kaya!” seru Kristal sambil bertepuk tangan.
Ruby langsung melemparkan bantal kursi ke wajah adiknya itu dan mendelik kesal. “Enak saja.”
“Yang benar saja. Memangnya pria yang bernama Galaksi itu mau dengannya? Mana ada laki-laki yang mau dengan perempuan gendut seperti dia,” kata Bastian dan melirik Ruby dengan tatapan mengejek.
“Heh!”
“Tapi, ini adalah keinginan kakekmu yang terakhir, Ruby. Sebaiknya kamu menurutinya,” ujar sang ayah kemudian.
Ruby berdiri tegak. “Apa Ayah tidak menyayangiku? Kenapa dengan mudahnya Ayah memintaku menikah dengan orang yang tidak aku kenal dan aku sukai sama sekali? Apa Ayah mau aku hidup menderita?”
Sandra mendesah lalu menaruh surat wasiat itu ke atas meja dan menatap Ruby dengan tatapan tajam. “Menikahlah, kamu harus keluar dari kamarmu itu dan melihat dunia yang sebenarnya.”
“Apa yang Ibu katakan? Aku hidup seperti orang normal. Aku juga keluar rumah.”
“Iya, itupun malam hari,” cibir Kristal. “Kenapa Kakak cuma keluar di malam hari? Apa Kakak takut dengan sinar matahari? Sebenarnya Kakak ini manusia apa kalelawar?”
Ruby memberengut. Pertanyaan itu sudah sering dilontarkan padanya tapi dia enggan menjawabnya. Sebenarnya, Ruby malas keluar rumah karena merasa tidak nyaman dengan keramaian. Dia lebih senang berada di dalam kamarnya seharian, rebahan dan bekerja. Ruby sama sekali sekali tidak berminat melakukan aktifitas di luar rumah seperti gadis normal pada umumnya. Ruby sudah terbiasa dengan hidup seperti itu sejak dia menginjak usia remaja. Sejak, menyadari bahwa tidak ada satupun orang yang mau berteman dengannya. Mungkin karena disebabkan penampilan fisiknya yang benar-benar tidak good looking. Bahkan tak sedikit dari mereka yang melakukan body shaming terhadapnya. Itu sungguh mengenai mentalnya sehingga dia lebih nyaman mengurung diri di dalam kamar sepanjang hari.
Tapi, bukan berarti dia seperti manusia primitif yang tidak tahu apa-apa. Meski seharian ada di dalam kamar, Ruby juga update mengenai apa pun yang ada di dunia ini lewat internetnya yang tidak pernah mati.
Jadi, yaaa… dia itu sama saja seperti gadis lainnya. Tapi, ibunya saja yang terlalu khawatir.
“Aku cuma merasa tidak nyaman saja.”
“Tapi, mau sampai kapan kamu seperti itu? Gadis seusiamu biasanya sudah memiliki pacar.”
“Memangnya ada yang mau denganku?” tanya Ruby kesal. “Pokoknya, aku tidak mau menikah dengan pria itu ataupun dengan yang lainnya sampai kapan pun.”
“Kalau begitu caranya, bagaimana kamu bisa memberikan ayah dan ibu cucu?”
“Aku bisa memberikan anak tanpa harus menikah.”
Bastian menatap kakaknya itu dengan tatapan tak percaya. “Hah? Bagaimana caranya?”
Sebuah bantal langsung menghantam wajah Ruby.
“Jaga bicaramu di depan adik-adikmu!” seru Sandra kesal.
Pada saat yang sama, terdengar suara bel berbunyi yang menandakan adanya tamu. Ben melirik Bastian dan memintanya untuk melihat siapa yang datang.
“Siapa pula itu? Sudah jelas-jelas di depan ada tulisan kalau toko itu sedang tutup, kenapa masih ada juga yang datang.” Sandra memijat pelipisnya, antara kesal dan lelah. Kesal karena kenapa dia baru menemukan surat wasiat itu dan lelah karena tidak tahu lagi harus membujuk Ruby dengan cara apa lagi.
Sebagai seorang ibu, meskipun mereka sering bertengkar, tapi Sandra ingin yang terbaik untuknya. Dia khawatir melihat Ruby sepanjang hari berada di dalam kamar. Dia hanya akan keluar pada malam hari untuk membeli sesuatu dan itu pun hanya beberapa kali dalam sebulan. Terkadang, ada rasa sedih di hatinya ketika melihat anak-anak perempuan tetangganya pergi bersama teman-temannya, bersenang-senang , seperti ke bioskop, atau sekedar pergi ke tempat-tempat yang sedang populer di kota mereka. Tapi, Ruby-nya, lebih memilih menghadap layar laptopnya setiap hari sambil tidak berhenti makan sehingga itu membuat tubuhnya semakin besar.
Seiring berjalannya waktu, usia Ruby terus bertambah dan kekhawatirannya pun semakin besar. Jika terus begitu, kapan Ruby akan menikah?
“Ibu, ada yang ingin bertemu dengan ayah dan ibu,” ujar Bastian setelah dia kembali.
Ben mendongak. “Siapa?”
“Tidak tahu. Tapi, katanya mereka datang dari Indonesia.”
“Indonesia?” Sandra dan Ben saling menatap. “Siapa?”
***
Kedua orang itu adalah sepasang suami istri. Dari penampilannya, sudah terlihat jelas kalau mereka bukan orang sembarangan. Seperti orang kaya pada umumnya. Memakai pakaian yang bagus dan barang-barang mahal. Bahkan Ruby sekalipun tercengang begitu melihat jam tangan yang dipakai oleh pria paruh baya itu. Jam tangan itu berharga miliaran dan tidak banyak orang yang memilikinya. Belum lagi tas branded yang dipakai sang istri. Itu harganya juga miliaran.
Astaga, apa itu tidak membuang-buang duit namanya? Benar-benar tidak penting membeli barang semahal itu! pikir Ruby tak habis pikir.
Lagipula, siapa mereka ini? Kenapa bisa datang ke rumahnya?
Setelah memperkenalkan diri, pria yang bernama Abimana itu pun mengatakan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah ini.
“Kami memiliki seorang anak. Namanya, Galaksi.”
Mereka yang mendengarnya langsung menegakkan bahu, terkejut. Lebih-lebih Ruby.
“Ga-Galaksi?” cicit Sandra, mulai memikirkan suatu kemungkinan.
“Iya, kedatangan kami ke sini karena adanya surat wasiat dari ayah saya yang mana beliau menjelaskan kalau beliau memiliki seorang sahabat bernama Wicaksono. Apakah benar ini rumahnya keluarga dari beliau?” tanya Abimana.
Sandra mengangguk. “Ya, benar, beliau adalah ayah saya. Tapi, dia sudah meninggal sekitar tiga tahun yang lalu.”
“Maaf, kami tidak tahu soal itu.”
“Tidak masalah. Lalu?” tanya Sandra tidak sabaran.
“Dalam surat wasiatnya, ayah saya menginginkan Galaksi menikahi anak Anda yang bernama Bianca Ruby.”
Ruby menegang seketika, apalagi ketika kedua orang itu menatapnya, seolah sudah tahu kalau dialah yang bernama Bianca Ruby.
“K-kami juga baru menemukan surat wasiat dari ayah saya. Ini suratnya.” Sandra menggeser surat di atas meja ke hadapan Abimana.
Abimana lalu membaca surat itu dan dia tersenyum. “Mereka benar-benar kompak,” katanya dan tergelak. “Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah perjodohan ini akan dilanjutkan? Kami menunggu persetujuan dari pihak keluarga ini karena pihak kami sendiri sudah setuju.”
Sandra memukul meja dengan semangat. “Lalu, tunggu apa lagi? Kita nikahkan saja mereka secepatnya!”
Ruby membuka mulut karena panik. “I-ibu! Ba-bagaimana bisa? Aku bahkan tidak mengenalnya!”
“Tapi katamu kamu pernah bertemu dengannya.”
“Iya, tapi itu dulu! Aku tidak tahu seperti apa wajahnya yang sekarang.”
Kartika mengeluarkan selembar foto dan menaruhnya tepat di atas meja sehingga mereka semua bisa melihatnya dengan jelas.
“Ya ampun, tampan sekali!” seru Ruby tak disangka-sangka sehingga membuat mereka semua menatapnya.
“Jadi, apa kamu setuju menikah dengannya?” tanya Sandra dengan tatapan penuh harap.
Ruby mengerjapkan matanya, lalu kembali fokus pada selembar foto yang baru diambilnya.
Galaksi sangat tampan. Dia punya tubuh yang bagus dan juga mata yang indah. Meski tidak tersenyum, dia terlihat… menggemaskan.
Setuju atau tidak, ya? Ruby benar-benar bingung sekarang.
***