Ch. 12

1545 Words
"Kalian sudah akan pergi?" Sidra menoleh, mendapati Neneknya sudah bangun dan menyusul langkahnya keluar rumah. "Kami harus sampai sebelum siang, Nek. Mungkin sore nanti kamu baru pulang, tidak banyak yang harus kami antarkan." Sieana mengangguk. "Tunggu sebentar!" pintanya. Sidra dan Camilo saling pandang, tidak biasanya neneknya itu bangun sebelum pagi seperti ini. Dan ketika Seiana kembali keluar, mereka tahu bahwa ada yang ingin dimintai tolong oleh Neneknya itu. "Tolong antarkan ini ke tempat biasa. Dan ambil uang dari mereka," pesan Sieana. Nenek itu memberikan katung yang cukup besar, yang Sidra sendiri tidak tahu apa isinya. "Bilang saja jika kalian adalah anak-anakku, mereka sudah mendengar tentang kalian." Mengangguk, Sidra langsung melompat masuk ke dalam kereta. "Kalau begitu, kami pergi dulu!" Setelahnya Camilo langsung memacu kereta kudanya meninggalkan Sieana di dalam gubuk itu.  Mereka harus mengantarkan pesanan anggur untuk beberapa penjual yang memilih untuk tidak datang ke istana. Padahal hampir semua rakyat berlomba-lomba untuk bisa datang kesana walaupun harus mempertaruhkan apa yang mereka punya untuk menempuh perjalanan yang tidak dekat itu.  Mungkin masih banyak orang yang sama seperti mereka, yang sama sekali tidak tertarik untuk menghadiri upacara itu. Walaupun Camilo memang sempat ingin datang karena berpikir bisa bertemu dengan ibunya. "Jalanan sepi sekali," komentar Camilo dengan suara keras. Sidra lekas bangun, mengintip dari celah di dalam kereta ke arah luar. Pedesaan di dekat rumah mereka sudah tampak sangat sepi seakan tidak ada manusia lagi yang tersisa di tempat ini. Semua pintu tertutup, tidak ada manusia yang biasanya berlalulalang kesana-kemari. Entah sepenting apa arti upacara di istana itu bagi semua orang, namun melihat semuanya sampai berduyun-duyun pergi, sepertinya memang mereka sangat mementingkan upacara yang diadakan hanya saat Kaisar memiliki anak itu. "Aku jadi penasaran seperti apa isinya upacara itu sampai semua orang memilih pergi," kata Sidra masih dengan memperhatikan jalanan yang sepi. "Jika dari yang aku dengar, walaupun kita hanya rakyat biasa namun pihak istana sudah menyiapkan tempat bagi kita untuk bisa mengikuti upacara dengan nyaman. Selain itu kita juga dijamu dengan makanan yang enak dan juga anggur terbaik. Dan saat pulang kita akan mendapatkan cindera mata. Seperti itu lah," balas Camilo. Bunyi tapak kuda menjadi latar pembicaraan mereka di tengah suasana sunyi yang hanya terisi oleh angin dan juga suara air dari sungai kecil yang tidak jauh dari sana. "Bisa dibayangkan, orang-orang seperti kita yang jarang sekali makan makanan enak, tentu saja akan rela datang kesana dengan cara apapun. Bahkan ada banyak yang berangkat ke istana hanya dengan berjalan kaki." Sidra terkejut, "Apa kau serius? Bukan kah perjalanan mereka akan sangat jauh?"  "Mau bagaimana lagi? Mereka ingin datang namun tidak memiliki uang untuk menyewa kereta kuda atau menumpang di kereta kuda orang lain, sehingga jalan satu-satunya bagi mereka adalah dengan berjalan kaki hingga istana," kata Camilo dengan tawa rendah. Kepala Sidra menggeleng dengan tidak percaya. "Mereka bahkan mungkin bisa mati dalam perjalanan. Mengapa mereka sangat ingin makan makanan enak dan meminum anggur kualitas terbaik jika itu harus mempertaruhkan nyawa mereka," ujar Sidra tidak habis pikir. "Itu semua karena rumor yang mengatakan jika anggur istana adalah anggur yang terbaik yang pernah ada. Terlebih lagi, di sana banyak sekali bangsawan. Sehingga jika kau berhasil, maka mungkin saja kau akan bertemu dengan bangsawan yang baik hati dan dipekerjakan di rumahnya." Sejenak Sidra terdiam, kini dengan perlahan dirinya berjalan hingga ke bagian depan, untuk berbicara lebih banyak dengan Camilo. "Darimana kau mendengar semua itu?" tanyanya penasaran. Camilo tidak langsung menjawab, hanya bunyi hentakan kaki kuda yang terdengar. "Aku pikir kau bahkan lebih pendiam daripada aku, tapi ternyata kau tahu banyak tentang pesta di istana," lanjut Sidra dengan kekehan kecil. "Sesekali..aku mengobrol dengan paman ku saat dia pulang, itu pun harus aku lakukan diam-diam karena istri Pamanku sama sekali tidak menyukaiku." "Ah." Sidra langsung menutup kembali mulutnya dan duduk di dalam kereta dengan tenang. Dia tahu bahwa Camilo masih memiliki keluarga, yaitu seorang pria yang merupakan adik dari ayahnya. Namun istri pria itu sejak dulu tidak menyukai Camilo karena dia berpikir Ibu dari Camilo sempat menggoda suaminya. Padahal kenyataannya tidak begitu. * BRUK Suara benda berat yang jatuh, membuat perhatian Sidra teralih saat memindahkan barang dari kereta ke kedai pedagang. Dia memperhatikan seorang anak lelaki yang jatuh tersungkur dengan sekarung gandum yang sudah berserakan dimana-mana, sedang seorang pria berbadan tinggi besar berdiri tegak di depannya sambil menatap anak itu dengan tatapan yang tidak ramah. "Apa selain miskin dan gelandangan, kau juga kehilangan otakmu? Bagaimana bisa kau menabrak aku yang sebesar ini? Sekarang, aku tidak mau tahu. Kau harus mengganti rugi karena sudah sembarangan menabrakku!" Kening Sidra berkerut, keadaan di depannya sama sekali tidak masuk akal untuk dicerna.  Walaupun seandainya memang anak itu yang bersalah karena menabrak tubuh pria besar itu, namun yang menderita kerugian paling banyak adalah anak itu yang membawa gandum dan sekarang dalam keadaaan tercecer. Meskipun gandum itu dapat dimasukan kembali ke dalam karung, namun kualitasnya akan berkurang karena tercampur dengan tanah. Maka sama sekali tidak pantas bagi pria itu untuk meminta ganti rugi padahal dia sendiri tidak mengalami kerugian apapun. "Saya hanya kuli panggul, Paman. Saya tidak memiliki uang. Dan sekarang gandum milik orang ini dalam keadaan berantakan, saya akan dimarahi," kata anak itu dengan nada kebingungan. Sidra berdiri diam usai memasukan koyak anggur terakhir. Dia sengaja memperhatikan lebih lama untuk tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. "Kau pikir aku perduli? Kau sudah menabrakku, tentu kau harus bertanggung jawab! Jangan berkilah dan cepat berikan berapapun koin yang kau punya." Anak itu susah payah bangun dengan tubuh kurus keringnya. Kepalanya menggeleng berulang kali, mengatakan hal yang sama bahwa dirinya tidak memiliki uang. Sedangkan Sidra yang geram karena tidak ada seorang pun yang berani membela anak itu dan hanya menonton, akhirnya berdecak kesal dan berniat untuk maju. Namun langkahnya terhenti saat Camilo yang tadi sedang memarkirkan kereta kuda, tiba-tiba sudah ada di sana. "Apa Paman memiliki cacat sejak lahir?" tanya Camilo dengan wajah datarnya. Pria besar itu beralih menatap Camilo dengan tatapan bingung. "Apa maksud dari ucapan mu? Apa kau berniat untuk menghinaku?" Camilo menggeleng, matanya menoleh pada anak tadi yang sudah menunduk ketakutan. "Anak itu bahkan sudah terlihat sangat menyedihkan tanpa harus menjatuhkan gandum milik orang lain. Namun Paman sejak tadi terlihat sehat, badan Paman besar dan tubuh Paman tinggi. Paman meminta ganti rugi untuk apa? Jadi aku pikir mungkin Paman memiliki cacat yang tidak bisa dilihat dengan mata. Seperti...cacat mental atau cacat otak?" Sontak ucapan Camilo itu langsung membuat berang pria berbadan besar di depannya. Sedangkan Sidra yang melihat itu hanya bisa menahan tawa, tetap melihat aksi saudaranya yang berdiri dengan wajah tenang tanpa rasa takut. "Kurang ajar sekali! Apa kau tidak tahu siapa aku?" "Apa saya harus tahu setiap orang yang datang ke pasar ini?" Semakin geram, pria itu bergerak maju dan menyentuh kerah baju Camilo yang sudah sangat usang. Mata Sidra melotot, dia langsung menepuk dahinya ketika melihat kejadian itu. Pria besar itu tidak tahu bahwa dirinya dalam bahaya, karena Camilo sangat membenci siapapun yang berani menyentuh pakaiannya.  "Sepertinya, kesombongan mu ini akan menghilang jika sudah dihajar satu kali," kata pria itu. Camilo tanpa takut mengangguk. "Itu benar. Sepertinya Paman baru akan mengerti dan tidak lagi merendahkan orang lain, jika sudah dihajar berulang kali." Ucapan Camilo semakin menyulut emosi.  Pria besar itu langsung mengangkat tubuh kecil Camilo dan kemudian membantingnya dengan mudah.  Namun yang tidak diduga, Camilo justru bisa mendaratkan tubuhnya dengan baik tanpa terjatuh atau tersungkur di tanah. Saudara Sidra itu juga tidak membuang-buang waktu dan langsung mengeluarkan sebilah pedang kayu miliknya, mengayunkan dengan keras hingga mengenai dagu pria itu. Pria itu mengerang kesakitan, menggeram penuh amarah. Berlari kencang, pria itu berniat menendang Camilo saat Camilo sudah lebih dulu memukul perut pria itu dengan pedang kayunya. Pria itu terdorong kuat, menghantam sebuah kios pedagang yang tidak jauh dari sana. Suara pasar menjadi riuh, orang-orang yang sejak tadi hanya bungkam, diam dan berpura-pura tidak tahu akhirnya mulai berkomentar dan memojokkan pria berbadan besar itu. Bahkan Sidra jadi tahu bahwa pria itu adalah salah satu orang yang memiliki koneksi dengan pengawal istana, sehingga selalu berputar ke sepenjuru pasar dan meminta uang kepada kios-kios pedagang, diluar pajak yang sudah ditentukan. Entah kenapa, Sidra menjadi sangat marah melihatnya. Dia tidak bisa diam lagi. Saat melihat Camilo yang bergerak mundur setelah menerima satu tendangan dari pria yang bahkan tubuhnya dua kali lipat dari mereka, Sidra langsung berlari dan menendang balas pria itu. Dia tidak membuang waktu, langsung menghajar berulang kali pria itu hingga mengeluarkan darah dari hidungnya. Saat Sidra hendak menghunuskan pedang, pria itu sudah lebih dulu berlari terhuyung-huyung meninggalkan pasar dengan mengancam Sidra dan juga Camilo. "Seharusnya kau tak perlu ikut turun tangan," kata Camilo pada Sidra. Sidra tertawa kecil, ikut berjongkok untuk memunguti gandum yang berceceran di tanah. "Bagaimana mungkin aku diam saja melihat saudaraku kesulitan?" "Aku tidak kesulitan. Walaupun tubuhnya besar, namun aku berhasil menendangnya berulang kali." Lagi, Sidra tertawa. Dia juga tahu bagaimana kemampuan saudaranya itu. Walaupun mereka tidak dapat berlatih pedang dan perang dari tenaga yang berpengalaman, namun karena sejak kecil terbiasa untuk melakukan latihan setiap hari, membuat tubuh mereka terbiasa.  Lalu mata Sidra menoleh pada si anak lelaki yang sejak tadi hanya diam sambil memunguti gandum yang berjatuhan. "Apa kau akan mengantarkan ini?" tanya Sidra. Anak itu mendongak, dengan takut kemudian mengangguk pelan. "Aku harus mengantarkannya ke istana." Mendengar jawaban dari anak itu, Sidra langsung beradu pandang dengan Camilo. "Kami akan mengantarmu ke istana." __
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD