"HIAAT!"
Sidra mengayunkan pedangnya, menebas sebuah potongan kayu besar yang sengaja dia bawa dari hutan untuk latihannya hari ini.
Sudah tiga hari dirinya menggunakan pedang dari pemberian seseorang yang tidak dia ketahui. Dan selama itu pula dirinya selalu terkagum-kagum, karena sebelumnya sama sekali tidak pernah membayangkan dapat memiliki pedang asli yang bagus dan sangat mudah digunakan.
"Jika kau terus menggunakannya tanpa henti, pedang itu akan mulai terkikis dan rusak."
Berbalik badan, dia tersenyum pada Camilo yang baru datang dengan membawakan air minum.
"Rasanya aku bahkan tidak ingin berhenti. Pedang ini sungguh luar biasa!"
Camilo melangkah mendekat, duduk di atas sebatang kayu yang masih utuh. Pedang miliknya masih terbalut sarung dan tergantung di pinggangnya.
"Memang seperti itu. Aku juga langsung menyukainya saat pertama kali kugunakan."
Matanya menunduk, menatap dengan senyum pedang miliknya.
"Tapi rasanya juga kurang tepat setiap kali aku menggunakannya. Karena bagaimana pun, kita tidak tahu siapa orang yang memberikan pedang ini. Aku memang tidak mengerti soal pedang, tapi aku sangat yakin jika pedang ini tidak dibuat dengan harga yang murah."
Meneguk habis teko air yang tadi dibawakan oleh Camilo, Sidra kemudian ikut duduk di samping saudaranya itu.
"Aku juga tidak tahu, tapi setidaknya aku bersyukur karena bisa memiliki pedang. Selama ini aku bosan berlatih dengan pedang kayu yang bahkan tidak bisa membelah pohon. Sekarang, coba kau lihat! Batang pohon sebesar itu saja berhasil aku belah menjadi dua!"
Pandangan Camilo tertuju pada apa yang ditunjuk oleh Sidra, dia kemudian menatap pada saudaranya itu lagi.
"Sepertinya keahlian pedang mu meningkat," komentarnya.
Sontak Sidra tersenyum bangga.
"Benar, kan? Aku juga merasakan seperti itu. Dan lagi aku seperti merasa bahwa tubuhku menjadi semakin kuat hari ke hari sehingga aku berpikir mungkin aku akan bisa mengangkat gunung dengan satu tangan?"
Camilo langsung tertawa, kepalanya menggeleng sambil menatap aneh pada Sidra.
"Aku memang memujimu tadi, tapi bukan berarti kau bisa membanggakan dirimu dengan tidak masuk akal seperti itu."
"Tapi aku berkata benar. Rasanya aliran darahku juga menjadi lebih cepat, dan seluruh tenagaku terpacu setiap kali aku berlatih pedang. Apa mungkin, ini karena kita juga akan menjadi seorang tingkat satu?"
Menatap Sidra dengan serius, Camilo menepuk pundak saudaranya itu dengan wajah prihatin.
"Itu akan jadi masuk akal jika kau adalah Pangeran Arderl yang memiliki darah Kaisar Agung dan juga merupakan keturunan Naga emas. Jika kau adalah dia, maka aku akan dengan senang hati mempercayai ucapanmu," ledek Camilo.
Sidra berdecak, dia memilih mengalihkan pandangan karena merasa kesal dengan Camilo yang menganggapnya membual.
"Omong-omong, aku tadi keluar ke balai desa dan melihat tidak banyak orang yang tersisa di desa ini," kata Camilo.
"Mungkin mereka sudah pergi ke istana untuk menyaksikan upacara itu."
"Apakah sebegitu mudah untuk datang kesana? Mengapa dari mereka tidak ada yang mau mengajak kita?" tanya Camilo.
Kini Sidra yang terkekeh.
"Memangnya kita ini siapa? Walaupun Nenek disegani karena memiliki banyak harta, namun semua orang tahu jika kita sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan Nenek. Sehingga di mata mereka, sejak awal kita ini hanyalah anak buangan yang tidak berguna dan tidak menguntungkan. Jika kau mau kita dipandang dengan pandangan terhormat, maka kita harus menjadi kaya raya," balasnya dengan kekehan yang lebih keras.
Camilo tersenyum sambil menunduk. Dia sendiri membenarkan ucapan Sidra tentang hal itu.
Sejak awal, mereka tidak dekat dengan penduduk desa. Karena tidak ada dari mereka yang mau berusah payah untuk bersikap ramah pada mereka ini.
Padahal Camilo adalah anak dari salah satu penduduk asli desa ini, namun begitu penduduk desa tahu bahwa Ayah Camilo dihukum mati karena dianggap sebagai pemberontak, maka Camilo juga mendapatkan perlakuan yang seperti penjahat dari semua penduduk.
"Aku akan berlatih sedikit lagi. Kau siapkan anggur yang sudah kita ambil dari kebun, setelah aku berlatih kita bisa langsung mengolahnya untuk dibawa ke pasar nanti pagi," pinta Sidra.
Tanpa membantah, Camilo langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke dalam rumah.
*
Selama tiga hari menjelang upacara tingkat satu bagi Pangeran, istana mengadakan pesta khusus yang hanya bisa dihadiri oleh para bangsawan.
Pesta itu bertujuan sebagai wadah politik untuk para utusan ataupun juga pejabat tinggi Negara, bahkan sampai Raja dari Negara lain untuk saling mengenal bangsawan dari berbagai kalangan. Biasanya di dalam pesta ini, semua orang akan berlomba-lomba menjalin relasi dengan seseorang yang dianggap paling berpengaruh.
Dan malam ini yang menjadi bintang di malam kedua pesta adalah Chastine yang merupakan calon pewaris Raja Laut dan juga Eiden, seorang Putra Mahkota dari Negara musim dingin yang menjadi bahan perbincangan di kalangan masyarakat karena memenangkan perang yang paling sulit dalam menghadapi para golem.
Chastine menjadi gadis paling cantik yang diincar oleh banyak orang, entah untuk dijadikan sebagai Ratu atau juga menantu dari Kerajaan mereka.
Sedangkan Eiden yang baru menginjak usia dua puluh tahun, nyatanya sudah ditunangkan dengan seorang gadis yang masih kerabat jauhnya. Sehingga kebanyakan orang yang mendekatinya berniat untuk menjadikan Eiden sebagai sekutu mengingat kekuatan dan ketangguhan pria itu.
"Saya benar-benar terkejut saat mendengar jika para golem itu menyerbu ke Negara Snowyta, padahal seharusnya ratusan Golem itu sudah lama terkubur ke dasar bumi semenjak ada peristiwa gempa bumi yang maha dashyat ribuan tahun lalu saat Naga hitam masih hidup," ujar salah seorang pria yang kini sedang mengelilingi Eiden.
Eiden masih bersikap tenang dengan meneguk anggur berkualitas tinggi di gelas yang dipegangnya.
Sejujurnya dia sangat muak, karena sejak tadi orang-orang ini terus membahas hal yang bahkan Naga yang baru menetas pun pasti sudah tahu.
"Untung ada Pangeran Eiden, atau Snowyta benar-benar dalam masalah. Betapa beruntungnya Snowyta memiliki Putra Mahkota seperti ini," timpal yang lainnya.
"Benar. Kalau saja kita terlahir sebagai manusia, maka kita bisa hidup di Snowyta. Sayang sekali karena kita harus hidup di tanah ini, dimana sepertinya tanah ini telah dikutuk karena Ratunya tidak bisa mencintai Kaisar. Padahal seharusnya jika mengingat dari ramalan yang tersebar dulu, di pemerintahan Kaisar Lauda lah keturunan Naga Hitam akan lahir."
Mengernyit samar, Eiden mulai tertarik dengan apa yang sedang dibahas oleh seseorang di depannya. Dia menurunkan gelasnya, memberikan pada seorang pelayan untuk membawa gelas kosongnya itu pergi. Lalu dia memasang senyum ramah.
"Ramalan? Ramalan macam apa itu?" tanyanya.
Semua orang di sana saling pandang, sebelum seorang pria yang sebelumnya membahas perihal ramalan itu, sedikit menunduk untuk menyamarkan volume suaranya.
"Menurut Nenek saya dulu, katanya ada seorang peramal yang menadi pendatang di Negara ini. Peramal itu adalah seorang manusia biasa yang ditolong oleh Kaisar Lauda saat Kaisar masih lah seorang Putra Mahkota. Berkat kebaikan Sang Kaisar, peramal itu dengan senang hati meramalkan nasib sang Kaisar. Ramalannya adalah tentang kelahiran Naga Hitam yang selama ini menjadi legenda. Katanya, Naga Hitam itu akan memiliki darah Kaisar Lauda di dalamnya. Makanya semua orang percaya jika Pangeran Arderl terlahir sebagai Naga Hitam. Namun..." ucapannya menggantung. Dia tertawa sumbang sambil memperhatikan keadaan sekitar.
"Seperti yang semua orang ketahui sekarang, bahwa Pangeran Arderl tumbuh sebagai Naga Emas dan bukan lah Naga Hitam. Sedangkan Ratu katanya tidak bisa lagi mengandung. Banyak orang yang berkata bahwa ini semua karena sejak dulu Ratu tidak mencintai Yang Mulia Kaisar, Ratu justru jatuh cinta pada seorang prajurit yang dulu mengawalnya sebelum menikah."
Eiden terdiam. Cerita yang baru saja dia dengar terasa seperti dongeng, namun juga membuatnya takjub.
Bukan karena dia tidak percaya, justru karena dia sangat percaya dan sangat mengagumi kisah tentang Naga Hitam yang ada di legenda.
Betapa menakjubkannya jika Naga itu benar-benar terlahir di waktu saat dirinya masih hidup, dengan begitu Eiden akan merasa bahwa hidupnya luar biasa beruntung. Sayang sekali bahwa ternyata ramalan itu tidak terbukti dan anak dari Kaisar yang sekarang justru terlahir sebagai Naga Emas.
"Menarik sekali," komentar Eiden.
Dia menebar senyum ramah pada semua orang yang masih berdiri mengelilinginya.
"Namun, bukan kah tidak sopan membicarakan sesuatu tentang Tuan Rumah yang dengan baiknya sudah mengundang kita kesini?" lanjut Eiden masih mempertahankan senyum di wajahnya.
Sontak semua orang itu langsung menunduk canggung, terutama pria yang sejak tadi semangat sekali membicarakan tentang ramalan dan kekecewaannya pada Putra Mahkota yang ternyata bukan lah seekor Naga Hitam.
Mata Eiden mulai bosan, dia membiarkan netranya memperhatikan area sekitar, tersenyum miring saat melihat wanita yang katanya merupakan wanita paling cantik, sedang dikerumuni banyak orang yang mengajaknya untuk berdansa pertama kali.
Namun bagi Eiden itu tidak menarik sama sekali. Dia justru terpikat pada seorang gadis berambut hitam dengan gaun berwarna hijau, sedang berdiri di pojok sambil memegangi gelas anggur yang sama dengan milik Eiden tadi.
Eiden berjalan meninggalkan semua orang, mendekat pada gadis itu.
Padahal gadis itu tampak biasa saja jika dibandingkan dengan Chastine, wanita tercantik yang ada di istana ini, namun Eiden malah terpikat dengan keanggunan gadis yang sedang berdiri seorang diri, tanpa ada satu pun yang menemani.
"Selamat malam, Nona!" sapa Eiden.
Dia tersenyum, membungkuk dengan meletakkan satu tangannya di d**a.
"Di saat semua orang tengah sibuk saling berbincang dan bercanda, mengapa Nona malah berdiri sendirian disini?" tanyanya ramah.
Gadis itu mengangkat wajah, tampak terkejut melihat sosok Eiden yang ada di depannya.
Lekas dia membungkuk, hingga enggan mengangkat kembali kepalanya.
"Salam hormat saya, Putra Mahkota Snowyta!"
Eiden mengulum senyum, tidak pernah dia merasa sesenang ini mendengar ada orang yang menyapa gelarnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Nona. Mengapa kau seorang diri disini?"
Belum sempat gadis itu menjawab, sebuah seruan membuat fokus Eiden teralih. Kedatangan sosok Pangeran yang baru memasuki tingkat satu hidupnya menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir.
Tapi Eiden tidak perduli. Sayangnya, setelah dia menoleh kembali, gadis yang sedang dia ajak bicara tadi sudah menghilang, tanpa sempat memperkenalkan dirinya.
__