2. Penolakan

966 Words
"Kamu sekarang terkenal di sekolah," Kata Mutia teman sekamar Mika di asrama. Sejak masuk sekolah di SMA Nusantara, Mika juga masuk ke asrama sekolah yang berada di sebelah gedung sekolah. Ini tahun kedua Mika menjadi penghuni asrama. Selama itu juga Mika sekamar dengan Mutia. Meski saat di sekolah mereka tidak satu kelas tetapi mereka berteman baik. "Kamu beruntung banget bisa jadi pasangannya Nic. " Lanjut Mutia. Ingin sekali Mika memutar bola matanya. Itu adalah kalimat yang sama yang diucapkan Mutia. Mungkin yang keseratus yang diucapkan teman sekamarnya sejak kemarin. Beruntung? Mika malah merasa sial karena harus berpasangan dengan Nic. Dia merindukan kehidupannya yang damai di sekolah. Karnaval sekolah akan di laksanakan pada tanggal dua puluh lima. Masih lama karen sekarang masih awal bulan. Sepertinya ia bisa mencoba bernego dengan bu Dini ataupun Nic agar bisa berganti pasangan. *** "Kasihan, tuh, si Mika. Di bully sama anak-anak cewek gara-gara di pasangin sama Nic, " Ucap Genta salah satu teman Nic. "Bu Dini pinter pasangin Nic sama Mika." Lanjut Bian. "Kalau nggak diatur kayak gitu, pasti semua cewek di kelas rebutan mau jadi pasangannya Nic. " Yang di bahas anteng-anteng saja sambil menikmati siomay di kantin sekolah. "Lagian si Mika bukan salah satu pemuja Nic. Gadis itu terlalu pendiam. Sibuk terus sama buku-bukunya." Lanjut Bian. "Namanya juga juara kelas." Timpal Genta. "Eh, Nic, kamu nggak masalah di pasangin sama Mika? " Bian bertanya. "Aku nggak masalah di pasangin sama siapapun. " Balas Nic setelah menyeruput es jeruknya. "Tapi kasian juga si Mika." Lanjut Genta. Nic tahu jika Mika di musuhi teman-teman sekelasnya. Belum lagi bullyan verbal dari siswi yang lain. Sebenarnya Nic kasihan juga tapi harus bagaimana? Berpasangan dengan Mika adalah keputusan yang tepat. Gadis itu jelas tidak menyukainya seperti gadis-gadis penghuni sekolah lainnya. Jadinya Mika tidak akan caper apalagi baper jika berpasangan dengannya. Ketika kembali ke kelas bersama Genta dan Bian, Nic melihat Mika yang duduk di bangkunya dikerubungi beberapa siswa dari kelas sebelah. Nic mengenali salah satunya, Namia. "Jangan diem aja, dong." Bentak Namia. "Bilang sama bu Dini kalau kamu nggak mau dipasangin sama Nic." Mika tampak tak perduli dan fokus pada bukunya. Kesal karena tidak dipedulikan, Namia mengambil buku yang sedari tadi di tekuri oleh Mika lalu membuangnya asal. "Kamu b***k, ya! " Mika yang sedari tadi diam kini menatap Namia. Diam adalah pilihan Mika karena dia tidak ingin membuat masalah dengan siapapun. Tapi menurutnya Namia sudah keterlaluan. "Namia." Panggil Nic. Namia dan teman-temannya kaget melihat Nic yang ada di sana. Berbeda dengan Mika yang merasa semuanya jauh lebih baik saat Nic muncul. Cowok itu pasti bisa menenangkan salah satu gebetannya karena tantrum. "Hai, Nic. " Namia sudah berganti mode jinak setelah melihat cowok yang di taksir. "Ada apa kamu kesini? " Nic mendekati Namia dan teman-temannya. "Eee... Itu. Aku ada sedikit urusan sama Mika." Mendengar itu Mika mendengus pelan. Benar, Namia memang ada urusan dengannya. Urusan kecil yang sedari tadi berisi pemaksaan, makian, dan hinaan. Mika memutuskan berdiri dari tempat duduknya. Pergi dari sana lebih baik daripada melihat drama antara Namia dan Nic. Dia tidak perduli apa yang akan di katakan Namia pada Nic. Yang jelas bisa di tebak bukan kejadian yang sebenarnya. "Permisi, " Ucap Mika. Ketika Mika melintas di depan Nic, dia dibuat kaget karena tiba-tiba Nic memegang pergelangan tangannya. Pandangan mereka bertemu dan selanjutnya Nic menariknya keluar kelas. Semuanya yang ada didalam kelas tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Nic membawa Mika pergi sambil mengandeng tangannya. Di luar kelas semua murid-murid yang lain juga dibuat melongo, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. "Nic, lepasin. " Pinta Mika. "Kamu mau bawa aku kemana? " Tidak ada tanggapan dari Nic. Cowok itu terus berjalan. Mika tidak tahu Nic akan membawanya kemana. Genggaman di tangannya pun begitu kuat. Setelah berjalan agak lama akhirnya mereka sampai di ruangan tak terpakai yang ada disebelah ruangan Laboratorium yang ada di lantai dua. Mika memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit karena sedari tadi di genggam oleh Nic. "Maaf, kalau sakit, " Ucap Nic yang merasa tidak enak. "Kenapa kita kesini? " Tanya Mika. Gadis itu melihat sekeliling ruangan yang berisi bangku-bangku rusak tak terpakai yang di tumpuk. Jangan lupa debu yang sudah lumayan menebal dan jaring Laba-laba yang ada di setiap sudut tempat itu. Nic juga tidak tahu kenapa ia membawa Mika kesana. Tetapi saat melihat gadis itu ditindas oleh Namia dan teman-temannya ia tidak suka. Sudah cukup perlakuan buruk yang diterima Mika oleh teman-temannya yang lain. "Ngapain Namia samperin kamu? " Tanya Nic. "Nggak ada apa-apa, " Jawab Mika. Ini adalah kali pertama Nic dan Mika saling berbicara. Meskipun mereka teman satu kelas. Mika tidak mau berkata yang sebenarnya. Menurutnya tidak penting. Yang dialaminya sudah biasa. Di maki, di caci, di hina, di rendahkan, di bully, sudah menjadi makanannya setiap hari. Sejak Mika kecil, dia dan keluarganya sering mengalami hal seperti itu sebab mereka adalah orang miskin. Diam adalah pilihan terbaik. Dia juga tidak suka menarik simpati orang lain, apalagi di kasihani. "Dia nyuruh kamu buat nolak berpasangan sama aku, kan? " "Aku pergi dulu. " Mika lebih memilih menghindar. Tidak penting membahas Namia dan teman-temannya. Mika menghentikan langkah saat pergelangan tangannya di cekal oleh Nic lagi. Pandangan Mika tertuju pada tangannya sesaat. "Aku lagi ngajak kamu ngomong." "Lepasin dulu tangan aku. " Pinta Mika. "Sorry." Nic melepaskan cekalan tangannya. "Kamu pastinya sudah tau apa yang Namia dan teman-temannya mau. Aku nggak masalah kalau nggak jadi pasangan kamu saat karnaval nanti." "Tapi bu Dini minta kita jadi pasangan saat karnaval." "Aku belum menghadap bu Dini. Aku bisa bicara sama bu Dini untuk merubah keputusannya. Atau kita bisa menghadap bu Dini berdua supaya lebih meyakinkan." "Tapi aku nggak mau." "Kalau kamu nggak mau, aku bisa menghadap bu Dini sendiri." "Bukan itu maksud aku." Mika mengernyitkan dahi. "Aku tetap mau kamu jadi pasangan aku saat karnaval nanti."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD