Di asrama sekolah, tatapan benci, tidak suka, sindiran, bahkan makian sering Mika dapatkan. Tidak berlaku hanya di sekolah saja.
"Nggak makan, Mik? Tanya Mutia.
" Enggak, nanti aja. " Balas Mika dengan tatapan fokus pada buku yang ada di hadapannya.
"Aku mau cari makan di luar. Apa kamu mau ikut atau nitip? "
"Enggak."
Sebisa mungkin Mika menghemat pengeluaran. Dia harus berhemat. Tidak ingin membebani orang tua yang ada di rumah. Biasanya Mika selalu makan di asrama tapi hari ini ia malas keluar, tentu saja alasannya sama. Seluruh penghuni asrama seolah membencinya. Mika sebenarnya sudah terbiasa dengan kebencian, hinaan, makian tetapi kalau dialami setiap hari rasanya juga tidak enak. Apalagi kemarin malam ada yang sengaja menabraknya sampai jatah makannya jatuh ke lantai.
Sepeninggal Mutia perut Mika beberapa kali bersuara. Memberi alarm jika perutnya minta di isi. Mengindahkan pasti akan di bully lagi, Mika akhirnya datang ke kantin asrama untuk makan malam.
Seperti biasa Mika mengambil nasi, lauk, segelas air minum yang ia letakkan diatas nampan kemudian duduk di salah satu meja kosong. Jauh dari teman-teman asramanya yang lain. Pandangan tidak suka serta bisik-bisik kebencian masih ia lihat tetapi Mika tidak memperdulikannya.
Baru lima suap nasi yang masuk kedalam mulut Mika, Tiba-tiba ada air yang mengucur ke dalam tempat makannya. Kejadian itu di sertai dengan gelak tawa beberapa orang.
Tentu saja air itu tidak muncul begitu saja. Ada yang melakukannya. Mika mendongak dan melihat Michelle yang melakukannya. Salah satu teman asramanya yang juga menyukai Nic.
"Makannya tambah enak, kan?" Tanya Michelle sok baik. "Ini baru air biasa. Coba kalau di kasih air comberan pasti lebih enak." Disusul gelak tawa teman-teman Michelle yang lain.
Mika diam saja. Gadis itu masih melanjutkan makan. Makan dengan kuah air tidak terlalu buruk. Dulu ketika masih kecil ia sering menahan lapar. Makan dengan nasi dan krupuk, nasi dan garam pun juga pernah.
Melihat Mika yang tidak perduli malah membuat Michelle marah. Gadis itu malah membuang makanan Mika ke lantai yang berakhir berantakan.
"Kamu itu b**o atau apa? Seharusnya kamu marah bukannya diem aja. Atau kamu memang terlalu lapar? Sampai makan makanan yang seperti itu. Dasar miskin. "
Mika berani menatap Michelle yang sedang marah. "Ya, aku memang lapar. Aku juga memang miskin. Kamu pikir dengan perlakuan kamu seperti itu bikin aku takut sama kamu. ENGGAK! "
"Kamu-" Geram Michelle.
"Kamu pikir dengan ganggu dan ngancem aku, aku bakal takut sama kalian. " Tunjuk Mika pada Michelle dan teman-temannya. "Kalau dengan ngebully aku kalian pikir aku akan mundur untuk berpasangan sama Nic saat karnaval kalian salah. Aku nggak akan mundur. Kalau berani suruh Nic yang mundur. Bukan aku."
Orang-orang yang ada di kantin asrama, yang sedari tadi menjadi penonton mengakui keberanian Mika yang menantang Michelle dan teman-temannya.
Michelle tentu saja murka dan berakhir menjambak rambut panjang Mika. Terjadilah aksi jambak menjambak. Tentu saja Mika kalah karena Michelle di bantu teman-temannya yang berjumlah empat orang untuk melawannya.
***
Nic baru turun dari motornya yang ia parkir di parkiran sekolah. Teman-temannya menyebut motor itu adalah motor kramat karena Nic melarang gadis mana pun untuk menaikinya. Sudah tidak terhitung berapa banyak gadis yang ingin di bonceng dengan motor itu tetapi Nic melarangnya. Dia selalu mengatakan jika hanya gadis spesial yang boleh menaikinya.
Ketika ingin menuju kelasnya Nic melihat Mika. Rasanya ada yang berbeda dengan wajah gadis itu pagi ini. Ia mendekat lalu mencegat langkah Mika.
"Itu kenapa? " Tunjuk Nic pada plester yang menempel di dahi Mika.
Mika meraba plester yang ada di dahinya. "Nggak kenapa-kenapa. Minggir." Mika menggeser Nic agar ia bisa lewat.
Nic hanya menatap Mika yang semakin jauh meninggalkannya.
"Hai, bro. " Sapa Genta seraya menepuk pundak sahabatnya. "Lagi lihatin siapa, sih? " Genta mengikuti arah pandangan Nic.
"Bukan siapa-siapa." Bohong Nic.
"Eh, kamu udah tau videonya si Mika nggak? "
Dahi Nic mengernyit. "Video Mika? Video tentang apa? "
"Sebentar." Genta merogoh ponsel yang ada didalam saku celananya. "Kasian banget si Mika di bully sama Michelle dan teman-temannya." Genta membuka ponsel lalu memberikannya pada Nic.
Rahang Nic mengeras saat melihat kejadian yang tampak di ponsel sahabatnya. Bisa-bisanya Michelle berbuat seperti itu dan semua itu karenanya. Ditambah lagi mengeroyok Mika bersama teman-temannya. Pantas saja dahi Mika sampai terluka.
"Aku dapat video itu tadi pagi. " Jelas Genta setelah Nic mengembalikan ponselnya. "Kamu nggak dapet? "
Nic menggeleng pelan.
***
Sepanjang pelajaran berlangsung Nic tidak fokus. Pandangannya selalu terarah pada Mika. Gadis itu terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa padanya. Padahal semalam gadis itu baru saja di bully habis-habisan.
Nic tidak menyangka jika keputusan bu Dini untuk memasangkan mereka dalam karnaval malah membuat Mika jadi bahan bullyan teman-temannya yang lain. Ia kira teman-temannya hanya menggosip, menyindir. Tidak sampai bermain fisik. Tapi nyatanya apa? Mika malah di kroyok. Tadi ia juga melihat ada video Mika yang sengaja di tabrak sampai makanannya jatuh.
Melihat itu semua Nic merasa ragu, apakah ia harus lanjut atau berhenti untuk berpasangan dengan Mika untuk karnaval sekolah. Kalau di teruskan kasihan Mika akan terus di bully. Tapi kalau tidak dengan Mika ia malas harus berurusan dengan para gadis yang akan caper serta baper saat berpasangan dengannya.
Meski mengkhawatirkan Mika, Nic mengakui jika gadis itu tangguh.
Bel istirahat berbunyi. Semua murid keluar kelas setelah guru keluar terlebih dahulu. Pandangan Nic tertuju pada Mika yang juga keluar kelas.
"Yuk, bro, ke kantin. " Ajak Bian yang satu bangku dengan Nic.
Nic mengangguk sebagai jawaban. Nic kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ketika berjalan menuju kantin sekolah langkahnya terhenti saat melihat seorang di cegat didekat tangga.
Tampak Namia, Michelle, dan gengnya menghadang Mika. Tanpa pikir panjang Nic mendekat. Nic memegang tangan Mika yang tentu saja membuat gadis itu terkejut. Begitu juga dengan Namia, Michelle, dan lainnya.
"Kalau kalian gangguin Mika. Kalian akan berurusan sama aku. " Nic memperingatkan sebelum menarik Mika pergi bersamanya.