"Ada gosip baru, nih, " Kata Mutia saat berada di perpustakaan. Didepannya duduk Mika yang sedang sibuk mengerjakan tugas matematika.
"Ini perpustakaan bukan tempat bergosip. " Balas Mika yang masih fokus dengan tugasnya.
Mutia terkekeh. "Udah heboh loh kabarnya. Padahal kejadiannya baru kemarin. Aku aja kaget waktu dengernya. Tapi aku senang setidaknya ada juga cewek yang bisa merebut perhatian si Nic. Biasanya dia kan selalu nolak cewek-cewek."
"Bukannya kamu juga suka sama dia? "
"Suka, sih. Tapi masih dalam level sadar diri. Nggak mungkin juga orang modelan kayak Nic yang perfect dari ujung rambut sampai ujung kaki naksir sama aku ini yang cuma remahan rengginang." Mutia terkekeh.
"Nggak boleh menghina diri sendiri."
"Bukan menghina tapi sadar diri Mika. Tapi aku akui kamu berani banget nantangin si Michelle."
"Kenapa juga harus takut? Aku nggak salah apa-apa. Kalau mereka nyerang aku, mereka salah sasaran. Seharusnya mereka minta Nic buat mundur atau sekalian protes sama bu Dini. "
"Aku juga denger kalau si Michelle dan gengnya di panggil bu Dini tadi pagi."
"Ya, aku juga di panggil. Mereka disuruh minta maaf sama aku. Ya, kamu tau sendiri mana mau mereka minta maaf secara tulus. Mereka ketara banget minta maafnya terpaksa. Bu Dini bilang mereka juga akan kena skors kalau bertingkah lagi. Bu Dini juga bilang dia nggak akan merubah keputusannya."
"Wow, jadi kamu masih tetap berpasangan sama Nic. Aku jadi nggak sabar lihatnya."
Mika diam. Dalam hati berujar, kalau bisa menolak, dia tidak mau berpasangan dengan Nic.
***
Langkah Mika berhenti mendadak karena sosok yang tiba-tiba muncul si hadapannya.
"Kaget, ya? " Tanya Nic yang sadar sudah mengagetkan teman sekelasnya.
"Ada apa? " Mika tidak ingin menjawab pertanyaan Nic.
"Kita belum ngomongin soal kostum baju adat yang akan kita pakai saat karnaval nanti. "
"Karnaval masih lama kenapa juga ngomongin itu. "
"Hei, kita itu nggak karnaval sendiri. Kita karnaval barengan sama sekolah lain. Kalau nggak cari baju adat dari sekarang nanti nggak kebagian. Kamu pikir setiap orang punya baju adat yang bisa di pakai setiap hari. "
Mika diam namun setuju dengan ucapan Nic.
"Ya, udah. Nanti aku cari bajunya. "
"Jadi kamu mau cari'in baju juga buat aku? Bagus, deh, kalau begitu. Jadi aku nggak usah repot-repot buat cari. "
"Kamu cari baju sendiri, lah. "
"Lah, kok gitu? Daripada cari sendiri-sendiri mending cari bareng."
"Nggak, ah. " Mika tidak mau pergi bersama Nic. Di jadikan pasangan dalam karnaval saja sudah membuat hidupnya sengsara di sekolah maupun asrama. Apalagi kalau penggemarnya tahu mereka pergi berdua.
Nic menduga penolakan Mika karena tidak mau berurusan dengan para penggemarnya. "Kalau cari baju sendiri-sendiri takutnya nanti beda. Mending cari bareng. "
"Enggak." Kekeh Mika.
"Kenapa nggak mau? Kamu takut di bully lagi? Tenang, mereka nggak akan gangguin kamu lagi. Nanti pulang sekolah aku tunggu di depan gerbang."
"Tap-" Mika tidak meneruskan perkataannya sebab Nic pergi begitu saja.
Di sisi lain tempat itu ada Namia dan teman-temannya yang memperhatikan kedekatan antara Mika dan Nic. Kekesalan tentu saja menyelubungi Namia. Ingin marah pada Mika juga tidak bisa sebab Nic sudah memperingatkannya. Dia tidak mau terlihat buruk di mata cowok yang ia suka.
***
Mika sudah berdiri selama lima belas menit didepan gerbang sekolah. Tentu saja dia menunggu Nic namun batang hidung cowok itu belum kelihatan.
Sekolah juga sudah terlihat sepi. Hanya terlihat beberapa murid yang keluar dari area sekolah. Dalam hati Mika berkata kalau dalam lima menit Nic tidak muncul, dia akan pergi. Seenaknya sudah mengingkari janji padahal dia yang membuat janji.
Tubuh Mika berjengkit saat mendengar klakson mobil. Didepannya berhenti sebuah mobil berwarna putih. Tak lama pintu kaca mobil di turunkan dan tampak Nic di sana.
"Udah nunggu lama, ya? Sorry telat, " Kata Nic. "Ayo masuk."
Setahu Mika, Nic biasanya memakai motor tapi anehnya sekarang pakai mobil.
"Kita mau kemana? "
"Cari baju adat. "
"Iya, tau. Maksud aku cari baju kemana? "
"Ke tempat penyewaan baju, lah. Ayo masuk."
Mika pun menurut masuk kedalam mobil.
"Udah lama tadi nunggunya? " Nic mulai memutar stir kemudi.
"Lama. Sekitar lima belas menit."
"Sorry, lama. Tadi aku ada urusan." Urusan mengganti motor dengan mobil sebab motornya sedikit bermasalah.
Mika diam tidak perduli. Kalaupun Nic tidak datang, dia bisa langsung pulang. Tapi kalau di pikir Nic termasuk kurang ajar jika melupakan janjinya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tidak saling bicara. Mau bicara apa? Mereka tidak dekat. Mereka hanya teman sekelas yang tidak pernah saling berinteraksi. Mereka hanya tahu nama masing-masing.
Tidak sampai lima belas menit mereka sampai di sebuah toko penyewaan baju. Ketika sampai di sana mereka sedikit kecewa karena baju yang mereka cari tidak ada. Sudah di pinjam orang.
Di toko kedua pun mereka mengalami hal yang sama. Kali ini bukan bajunya yang di pinjam orang tetapi sang pemilik toko tidak mempunyai barang tersebut. Padahal toko yang Mika dan Nic datangi lumayan jauh.
"Ada rekomendasi tempat lain? " Tanya Mika yang sudah lelah bercampur lapar. "Aku cuma tau tempat yang kita datengin tadi."
Sebenarnya Nic tidak perlu bersusah-payah mencari baju adat bersama Mika seperti ini. Dia bisa meminta tolong assisten pribadi mamanya atau pegawai di rumahnya untuk mencarikan baju adat untuknya. Dia tinggal duduk manis dan barang yang dia inginkan akan tersedia. Tapi bagaimana dengan Mika?
Dari Genta, Nic tahu jika Mika berasal dari keluarga tidak mampu. Gadis itu mendapat beasiswa di sekolah dan tinggal di asrama. Dari sahabatnya juga dia tahu jika Mika kadang-kadang mengajar les privat pada anak-anak SD. Nic bisa saja menawarkan bantuan untuk mencarikan baju tapi dia yakin, Mika pasti akan menolak.
"Nggak ada, " Jawab Nic.
"Terus kita cari kemana? "
Sebenarnya Nic tahu penyewaan baju lengkap tapi ia ragu untuk mengajak Mika kesana karena harga sewanya yang pastinya akan tampak mahal dalam pandangan gadis itu.
"Coba nanti aku tanya sama temen-temenku yang lain. Kamu juga tanya temen-temen kamu."
"I-" Belum juga Mika melengkapi ucapannya, tiba-tiba terdengar perutnya berbunyi. Bukan hanya sekali tapi terdengar beberapa kali. Mika merasa malu sekali. Sedari tadi dia memang belum makan.
"Kamu laper? " Tanya Nic.
"Enggak." Elak Mika.
"Tapi perut kamu bunyi."
"Perut bunyi bukan tanda seseorang itu lapar." Elak Mika lagi.
Setahu Nic perut berbunyi itu tanda seseorang sedang lapar. Anehnya tidak berselang lama perutnya juga ikut-ikutan berbunyi.
"Kamu lapar? " Mika balik bertanya.
"I-" Nic enggan mengakui. "Perut bunyi bukan tanda lapar. " Nic membalikkan kata-kata Mika. Padahal dia sekarang juga lapar.
Tahu Nic yang sedang lapar Mika mengeluarkan sebungkus roti dalam tasnya lalu membaginya menjadi dua.
"Nih." Mika menyodorkan potongan kue itu pada Nic.
Nic memandang roti itu. Dia pernah melihat roti itu di kantin sekolah yang harganya tidak sampai lima ribu. Dan jujur saja dia tidak pernah memakan makanan itu.
"Ayo, ambil. " Suruh Mika.
Dengan enggan Nic mengambilnya.
"Buat ganjel perut dulu sebelum makan. Ayo makan, nggak usah malu-malu. "
Nic memandang Mika yang ada di sebelahnya. Gadis itu memakan dengan lahap roti yang dibagi dengannya. Sebenarnya Nic bisa menahan lapar tapi gadis disebelahnya begitu baik. Mika rela membagi sebuah roti yang tidak akan membuatnya kenyang dengan orang lain.