"Ini dimana? " Mika memandang keluar mobil.
Nic memberhentikan mobilnya di sebuah pelataran restoran. Seharusnya cowok itu mengantarkannya pulang ke asrama.
"Kita makan dulu sebelum pulang. " Jelas Nic.
"Makan. Di sana? " Tunjuk Mika ke arah restoran. " Enggak-enggak. Aku nggak mau. Jujur aja aku nggak punya uang buat bayar makanan di sana. Pastinya makanannya mahal-mahal. " Ingin makan mie ayam yang ada di pinggir jalan saja Mika harus berpikir beberapa kali.
"Udah, ayo turun." Ajak Nic.
"Enggak. Aku nggak mau. Lebih baik kamu anterin aku balik ke asrama."
Nic tidak menanggapi kemudian turun dari mobilnya. Memutari mobil lalu membuka pintu mobil untuk Mika.
"Pulang aja, Nic. Nggak usah makan." Pinta Mika.
"Tenang, aku yang traktir. "
Mendengar kata traktir tentu saja menarik untuk Mika. Makan gratis tanpa harus susah - susah membayar. Yang terpenting perutnya kenyang dan uangnya utuh.
"Udah, ayo keluar. " Ajak Nic lagi.
Dengan sedikit ragu Mika keluar dari mobil. Mengikuti Nic yang masuk kedalam restoran. Restoran itu sangat bagus. Interiornya sangat mewah. Dalam hati Mika menduga kalau makan disana pasti setiap menunya harganya mahal.
Nic dan Mika duduk di salah satu meja yang ada di tepi. Seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan buku menu.
Mata Mika melebar saat membaca deretan harga menu yang ada di sana. Uang sakunya selama satu bulan akan hilang dalam sekejap mata jika dibuat makan di sana. Bahkan ada juga menu yang lebih mahal.
"Pesan steak sama mineral water, " Kata Nic. "Kamu mau pesan apa? " Pertanyaan itu di tujukan pada Mika.
"Hah? " Mika bingung harus menjawab apa? Di menu itu banyak sekali pilihan makanan. Dan jujur saja harganya membuatnya ngeri. "Ak-"
Nic sepertinya tahu jika teman sekelasnya itu bingung.
"Dua steak dan dua mineral water. " Kalimat itu ditujukan pada sang pelayan.
"Baik." Balas si pelayan sebelum pergi.
Mika ngeri mendengar Nic memesan steak. Tadi sekilas ia melihat harganya yang terbilang mahal.
"Nic." Panggil Mika pelan lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan meja.
"Ada apa? " Nic juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama.
"Kamu yakin kita makan disini? Pergi, yuk! Sebelum makanannya datang. Aku takut kamu nggak bisa bayar."
Mendengar itu membuat Nic ingin tertawa namun ia tahan. Ini pertama kalinya ia pergi makan dengan seseorang dan mengajaknya kabur karena takut tidak bisa membayar.
"Tenang aja."
"Kamu yakin? Kamu harus mastiin uang kamu cukup buat bayar. Takutnya nanti kalau uang kamu nggak cukup. Uang aku juga nggak bakalan cukup buat nambahin."
Sumpah. Nic tertawa sekarang namun tertawa didepan orang yang sedang khawatir itu sangat tidak sopan.
"Kalau nggak bisa bayar nanti kita pasti disuruh kerja disini. Kalau nggak jadi pelayan, ya, di suruh cuci piring di dapur. Itu, sih, mending... Tapi kalau di laporin ke polisi gimana? "
"Kamu kebanyakan nonton film. "
"Aku nggak pernah nonton film."
"Jadi kamu belum pernah pergi ke bioskop? "
Mika menggeleng. Hidupnya kebanyakan di isi dengan belajar. Main bersama teman pun bisa di hitung dengan jari sebab temannya tidak banyak. Apalagi setelah masuk SMA. Nyaris dia tidak punya teman kecuali Mutia. Teman sekamarnya. Meski sekamar Mika tidak terlalu dekat dengan Mutia.
"Enggak. Aku pernah lihat film di tv." Aku Mika.
Menarik. Di jaman seperti ini masih ada orang yang belum pernah datang ke bioskop. Rata-rata teman Nic pasti ke bioskop jika ada film baru. Di rumahnya saja ada teater mini.
Pesanan mereka datang. Ini kali pertama Mika makan steak. Melihat makanan itu Mika tidak tega untuk memakannya. Gadis berambut panjang itu langsung teringat pada keluarganya. Andai saja ayah, ibu, serta adiknya ada disini. Mereka pasti senang bisa menikmati makanan yang sekarang tersaji di hadapannya.
"Mika, kamu kenapa? " Suara Nic menyadarkan Mika dari lamunan.
Dengan cepat Mika menggeleng.
"Ayo, makan. " Suruh Nic.
Mika mengangguk. Dalam hati ia berharap semoga suatu hari ia bisa mengajak keluarganya bisa makan steak seperti ini.
***
Beberapa penghuni asrama melihat Mika pulang diantar sebuah mobil bagus. Mereka lebih terkejut lagi saat tahu si pengendara mobil adalah Nicholas Prambudi.
Sebelum turun dari mobil Nic berkata pada Mika kalau besok mereka akan kembali mencari baju adat. Mika pun menyetujuinya.
Nic sadar jika ada yang memperhatikan mereka. Ia pun berujar pada Mika jika ada yang mengganggunya, dia harus bilang pada Nic.
Tidak ada tanggapan dari Mika. Gadis itu hanya berkata Terima kasih sebelum pergi.
Nic sadar Mika tidak akan takut dengan gangguan dari orang-orang yang tidak menyukainya tetapi dia kasihan melihat gadis itu jika dalam kesulitan.
"Ayo, cerita. " Pinta Mutia yang duduk di tepi ranjangnya.
Mika yang duduk di tepi ranjang setelah mandi mengernyit. Tidak mengerti maksud teman sekamarnya.
"Ayolah, Mika. Jangan pasang muka nggak tau begitu." Protes Mutia.
"Emang aku nggak tau maksud kamu." Jujur Mika.
Mutia berdecak. Gadis itu menaikkan kedua kakinya keatas ranjang untuk bersila. Pandangannya tertuju pada Mika. "Satu asrama heboh. Katanya tadi kamu dianterin Nic pulang. Apa itu benar? Kalau itu benar, gimana rasanya? Ayo cerita... "
Mika melihat Mutia aneh. Bagaimana bisa teman sekamarnya itu terlihat antusias dengan kabar itu. Sedangkan dirinya yang pergi dengan Nic biasa-biasa saja.
"Kok diem aja? Berita itu bener atau nggak? "
Mika mengangguk kaku.
"Terus gimana rasanya? "
"Maksudnya? "
"Gimana rasanya pergi sama Nic? Terus kalian ngapain aja? Kamu tau, kan, pergi sama Nic itu impian semua cewek yang ngidolain dia. Kamu beruntung banget tau, Mik. "
Dalam diam Mika berpikir, apakah dia beruntung? Sepertinya tidak. Di pasangkan dengan Nic dalam karnaval saja sudah mengusik ketenangannya dan memberikannya banyak masalah.
"Jadi kalian tadi pergi kemana? " Tampak raut penasaran Mutia.
Sebaiknya Mika menjawab pertanyaan teman sekamarnya itu daripada mendengar Mutia yang terus bertanya.
"Aku sama Nic pergi cari baju adat buat karnaval." Aku Mika.
"Lucky you. Bisa jalan sama Nic. Terus habis itu? "
"Habis itu makan."
"Makan. Oh, my god... Kamu diajak makan sama Nic. Makan dimana terus makan apa? " Reaksi Mutia yang heboh membuat Mika merasa aneh.
"Kamu kenapa jadi aneh gitu, sih? Aku yang jalan sama Nic tapi kenapa kamu yang heboh."
"Hehehe... Penasaran aja gimana rasanya jalan sama idola sekolah. Tapi kamu yang aneh. Masa jalan sama idola sekolah tapi reaksinya biasa-biasa aja. "
"Emang biasa aja. Nggak ada heboh-hebohnya kayak kamu."
"Hehehe... Ya, gimana, ya... Kami penggemar Nic berharap bisa dekat, pergi bareng, jalan bareng, makan bareng sama dia tapi nggak pernah kejadian. Sedangkan kamu yang biasa-biasa aja sama Nic bisa pergi sama dia. Lucky you, Mika."
Lucky you, lucky you... Ngawur.