6. Kiriman

1162 Words
"Mama," Kata Nic saat melihat ibunya berada di rumah. Pemuda itu baru menuruni tangga, menuju meja makan untuk makan malam. "Hai, sayang... " Sapa Anin, ibu Nic. "Mama, kok, udah ada di rumah? Bukannya mama baru pulang besok." "Nenek keadaannya sudah membaik, makanya mama pulang." Hampir seminggu ibu Nic berada di Australia. Menjenguk neneknya yang sedang sakit. "Mama nggak tega ninggalin kamu sama papa sendirian. Jadinya mama pulang." Lanjut Anin. "Aku sama papa bisa urus diri sendiri, ma." "Kamu bisa, tapi papa kamu? " Ya, ucapan mamanya memang benar. Selama mamanya pergi papanya selalu mencari sang istri. Dari mencari dasi, arloji, minta kopi, sampai urusan makan. Ketika diingatkan jika sang istri sedang berada di luar negeri, ayah Nic hanya berkata 'lupa'. Padahal di rumah sudah ada para pelayan yang siap melayani tetapi pak Zaky selalu mencari istrinya. "Papa terlalu manja sama mama." Anin tersenyum. Anaknya benar, suaminya memang manja padanya. "Ayo, kita makan malam. " Ajak sang mama. Nic mengangguk. Ibu dan anak itu berjalan ke meja makan. Di sana sudah tersedia menu makan malam yang telah disiapkan oleh para pelayan di rumah mereka. "Kabar nenek gimana, ma? " Tanya Nic. "Alhamdulillah, sudah baik. Kemungkinan besok sudah bisa pulang." "Aku seneng dengernya." Nic menerima piring yang sudah berisi nasi yang disodorkan ibunya. "Makan yang banyak. " Suruh sang ibu. "Iya, ma." Nic mengambil ayam goreng dan udang asam manis. Anin memandang sang anak bungsu sesaat kemudian berucap. "Kamu tadi ke restoran? " Mendengar pertanyaan ibunya Nic sedikit kaget. "Iya, ma." Kemudian Nic memandang mamanya. "Mama, kok, tau? " Wanita itu tersenyum. Disaat itu Nic sadar, pasti ada salah satu pegawai di restoran keluarganya yang melapor. "Tadi ada yang bilang ke mama kalau kamu pergi ke restoran sama cewek. Benar itu?" " Iya, ma." Nic membenarkan. "Pacar kamu? " "Bukan, ma. " Elak Nic cepat. "Dia teman aku, bukan pacar." "Padahal mama udah seneng, loh, dengar kamu ke restoran sama cewek. Biasanya kalau jalan sama Genta dan Bian." "Bukan, ma. Dia itu teman sekelas aku. Aku sama dia dipasangin jadi pasangan saat karnaval nanti. Aku sama dia cari baju adat tapi belum dapet. Tadi pas jalan, aku sama dia sama-sama laper jadinya aku ajak dia makan." "Oh, begitu." Anin tidak Melanjutkan obrolan lagi namun dalam diamnya dia senang anaknya jalan dengan lawan jenis, meski katanya berteman. Yang Anin tahu, anaknya dari dulu tidak pernah dekat dengan gadis manapun, apalagi pacaran. Dari sahabat-sahabat anaknya dia juga tahu jika Nic selalu menolak para gadis yang mendekatinya. Bahkan anaknya melarang gadis manapun naik di motornya. Bagi Nic hanya gadis spesial yang boleh menaiki motornya itu. *** Minggu ini Mika pulang ke rumahnya. Rumah kecil nan sederhana diantara pemukiman padat penduduk. Mika tinggal bersama ayah, ibu, dan adiknya yang masih berusia tujuh tahun. Keluarga Mika termasuk dalam kategori biasa. Ayahnya bekerja sebagai buruh pabrik. Sedangkan ibunya membuka toko kelontong di rumah sebagai kesibukan. Keluarga mereka memang tidak kaya tetapi kedua orang tua Mika berusaha mengusahakan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Kedua orang tua Mika sangat senang dan bangga saat tahu anaknya mendapat beasiswa di SMA Nusantara. Padahal semua orang tahu jika sekolah itu sangat mahal dan hanya bisa di jangkau oleh orang-orang yang berkantong tebal. "Assalamu'alaikum... Ibu," Kata Mika saat sampai didepan rumah. Gadis itu melihat ibunya baru selesai melayani pembeli. "Waalaikumsalam... " Balas Jamila senang saat melihat putrinya pulang lalu keluar rumah untuk menyambut putri sulungnya. "Kamu pulang, Mika. " "Iya, bu. " Mika mencium punggung tangan ibunya. Dia merindukan keluarganya. Sudah sekitar tiga minggu dia tidak pulang sebab di akhir pekan dia memilih bekerja menjadi guru privat. Minggu ini dia mendapat jatah libur karena bocah yang biasa ia ajar sedang ada acara keluarga. "Ayo, masuk." Bu Jamila mengajak anaknya masuk rumah. "Ibu senang kamu pulang. Tapi ibu belum masak makanan kesukaan kamu. Jangan balik dulu, ya sebelum ibu masak. " "Iya, bu. Oia, ayah mana? " "Ayah lagi lembur." "Kalau Mahen? " Mahen adalah adik Mika yang berusia tujuh tahun. "Tadi main ke rumah temannya." Mika ada di rumah sampai sore hari. Beruntungnya ia bisa bertemu ayah serta adiknya sebelum kembali ke asrama. Sebelum pulang tadi ibunya memberi uang untuk keperluan Mika. Gadis itu awalnya menolak dan berkata dia masih punya uang simpanan. Namun ibunya memaksa. Ayahnya pun memberi uang. Sama seperti ibunya ayahnya pun memaksa Mika untuk menerimanya. Sepanjang perjalanan kembali ke asrama dengan naik bus Mika sudah mempunyai rencana untuk membeli minuman kesukaannya. Biarpun irit, tidak masalah membeli apa yang ia suka sekali-kali. Barang yang ia inginkan pun tidak sampai membuatnya kehilangan banyak uang. Dia hanya ingin membeli minuman alpukat kocok. Mika turun di halte yang tidak jauh dari asramanya. Penjual minuman kesukaannya pun berada tidak jauh dari sana. Gadis itu memesan alpukat kocok toping keju. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, gadis itu berjalan menuju asramanya. Belum juga berjalan jauh dari kedai minuman tiba-tiba ada seseorang yang menabrak Mika dan membuat minuman kesukaannya jatuh dan tumpah. Dari dalam sebuah mobil yang berhenti karena lampu merah, seseorang sedang memperhatikan Mika. Tampak wajah Mika yang sedih karena minumannya jatuh. Minuman itu pun kini sudah di hampiri seekor kucing yang menjilatnya. Nic pikir, Mika akan mengusir kucing itu dan mengambil barang yang sudah jatuh ke trotoar. Sayangnya dugaannya salah. Mika duduk berjongkok bukan untuk mengambil atau mengusir kucing itu. Yang membuatnya terkejut adalah, Mika malah mengelus kepala kucing itu sayang. *** "Ini ada kiriman buat kamu. " Mutia yang baru masuk kedalam kamar menyodorkan bungkusan berupa Plastik kresek yang berisi minuman. "Apa itu? " Tanya Mika yang tidak mengerti. "Ada kiriman minuman buat kamu." "Tapi aku nggak merasa beli. " Mika melihat minuman yang ada didalam bungkusan plastik itu. Dari logo gelas dan bungkusnya dia tahu minuman itu tidak dibeli di kedai pinggir jalan. Meski tidak pernah membeli minuman di cafe mahal tapi dia tahu cafe yang sedang hits dan sering di kunjungi teman-temannya yang mempunyai uang berlebih. "Tadi pas aku dateng ada kurir yang nganterin. Katanya buat Mikayla Anjani. Seingat aku itu nama kamu." "Tapi aku nggak ngerasa pesan." "Ini alpukat kocok. Ini di kirim buat kamu, Mika. " "Terus siapa yang kirim? " "Mana aku tau. Dari tempat minuman ini di jual aja, udah ketauan yang beli orang kaya. Jangan-jangan ini kiriman dari Nic." "Mana ada." Elak Mika. Tidak mungkin Nic yang mengirim. Memang hubungan mereka apa sampai cowok itu mengiriminya dua gelas alpukat kocok. Memangnya Nic tahu tadi minumannya jatuh? Terus tahunya dari mana? Telapati atau Nic punya pekerjaan sampingan jadi cenayang. "Terus siapa? " Tanya Mutia. "Mana aku tau. Bisa jadi kurir yang kirim salah alamat. Bisa aja di asrama ini ada yang namanya Mika selain aku." "Setahuku nggak ada." "Terus siapa yang kirim? " Mutia mengangkat kedua bahunya. "Ya udah, lah, kita minum aja daripada mubadzir." "Jangan. Nanti kurirnya balik lagi buat ambil barang gimana? " "Iya, juga, ya. " Tak lama terdengar notifikasi pesan di ponsel Mika berbunyi. Gadis itu meraih ponselnya dan membukanya. Nic Minuman itu buat kamu. Jangan sampai minumannya jatuh lagi. "Astaga... " "Kenapa, Mik? "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD