Mika melihat Nic dan teman-temannya keluar dari lapangan setelah mengikuti lomba tarik tambang antar kelas. Kelas mereka kalah dengan kelas sebelah karena kalah tenaga. Seminggu ke depan tidak akan ada pelajaran karena fokus pada lomba untuk memperingati hari kemerdekaan negara Indonesia.
Mika ingin mendekati Nic untuk mengucap Terima kasih. Mika tidak mengirim pesan balasan pada cowok itu kemarin. Mika terlalu kaget karena kiriman minuman itu. Mika juga bertanya-tanya darimana Nic tahu jika minumannya jatuh.
Berbeda dengan Mika yang kaget, Mutia malah heboh dengan kiriman minuman itu. Gadis itu juga memberondongnya dengan banyak pertanyaan tentang hubungannya dengan Nic.
Hubungan macam apa yang Mutia maksud. Setahu Mika, dia dan Nic hanya teman. Teman sekelas dan tidak lebih dari itu.
"Nic." Panggil Mika yang memberanikan diri menghampiri pemuda itu. Nic berada di pinggir lapangan bersama teman-temannya.
"Ya." Balas Nic. "Ada apa? "
"Bisa bicara sebentar. "
Pemuda itu mengangguk.
"Tapi bicaranya nggak disini." Disekitar mereka sudah banyak mata yang memperhatikan. Tentu saja Mika tidak mau jadi tontonan.
"Oke." Nic mengikuti Mika. Gadis itu mengajaknya ke koridor kelas yang agak sepi.
"Ada apa? " Tanya Nic yang berdiri di hadapan Mika.
"Terima kasih untuk kiriman minuman kemarin."
"Oh, itu. Sama-sama. "
Hening.
Anehnya Mika tidak tahu harus berkata apa lagi. Sedangkan Nic menunggu gadis dihadapannya berbicara lagi.
"Ada lagi? " Tanya Nic.
"Eee... Itu." Mika berusaha berpikir. "Kenapa kamu kirimi aku alpukat kocok?"
"Itu karena minuman kamu jatuh. "
"Darimana kamu tau minuman aku jatuh? "
"Aku lihat sendiri. "
"Hah? Jadi kamu lihat? "
"Iya."
Mika tidak menyangka jika Nic melihat kejadian kemarin. Berarti cowok itu ada disekitar tempat kejadian. "Oh, begitu. Sekali lagi, Terima kasih."
"Sama-sam-" Nic tidak meneruskan ucapannya saat tubuhnya tidak sengaja terdorong oleh seseorang yang sedang berkejar kejaran dengan teman-temannya. Yang mengakibatkan tubuhnya maju ke depan dan mengakibatkan jaraknya dan Mika begitu dekat. Tahu posisinya salah Nic langsung memberi jarak.
"Ak-aku pergi dulu, " Ucap Mika yang masih kaget dengan kejadian barusan.
"Iya. Mika. " Panggil Nic.
"Ya? "
"Jangan lupa nanti kita pergi cari baju adat."
Mika mengangguk kaku.
Mika berjalan meninggalkan Nic. Ia meraba d**a kirinya yang sepertinya aneh karena berdetak lebih kencang dari biasanya. Nic sendiri menatap kepergian Mika. Dia tersenyum mengingat kejadian barusan.
***
Jam pulang sekolah lebih awal dari biasanya selama ada lomba di sekolah. Mika menunggu Nic didepan sekolah.
Sebuah mobil berwarna putih berhenti didepan Mika. Gadis itu menebak itu adalah mobil Nic dan tebakannya benar. Setahu Mika, Nic selalu membawa motor ke sekolah namun selama pergi dengannya cowok itu selalu menggunakan mobil. Mika pun ingat, jika motor Nic tidak boleh dinaiki gadis sembarangan. Kecuali gadis yang dianggap spesial oleh Nic. Semua penghuni sekolah tahu akan hal itu.
"Ayo, masuk." Suruh Nic setelah menurunkan kaca mobil.
Mika pun masuk kedalam mobil.
"Jadi kita mau cari baju kemana? "
Nic menoleh sesaat kearah Mika sebelum kembali fokus pada kemudi. Nic menyebutkan nama sebuah toko penyewaan baju.
"Temenku juga ngasih tau tempat itu. Ada tempat satu lagi tapi kita ke tempat yang kamu sebutin tadi dulu."
"Oke."
Tidak ada percakapan diantara keduanya. Tidak tahu kenapa Mika teringat kejadian saat di sekolah tadi. Gadis itu menggeleng, mencoba mengusir bayangan di kepala. Kejadian itu tidak di sengaja dan tidak seharusnya ia berpikir yang aneh-aneh. Apalagi berujung baper pada Nic. Cowok di sebelahnya memang menarik, tampan tapi sudahlah... Tidak perlu di bahas.
Sampai di toko keduanya harus kecewa karena baju yang mereka cari baru saja di sewa oleh orang lain. Nic dan Mika kemudian memutuskan untuk ke toko yang disebutkan oleh teman Mika.
"Ada mbak bajunya tapi tinggal buat yang cowok. Yang cewek baru aja di sewa orang. " Jelas pegawai toko.
Mika harus kecewa lagi. Padahal tempat yang mereka kunjungi lumayan jauh. Ia pun menyuruh Nic menyewa baju itu tetapi anehnya cowok itu menolak.
"Kenapa? " Mika bingung.
"Soalnya pasangannya nggak ada. " Terang Nic.
"Aku bakal tetep cari kok bajunya."
"Kalau nggak dapet? "
"Pasti dapat." Optimis Mika. "Mending kamu sewa baju itu."
"Enggak."
"Kenapa? "
Bisa saja Nic menyewa baju itu dan membiarkan Mika mencari baju adat sewaan sendiri. Tapi dia tidak tega. Rasanya egois sekali jika ia melakukan hal itu. Sebenarnya kemarin sang mama sudah menawarkan bantuan untuk mencari baju adat. Wanita paruh baya itu mempunyai kenalan yang mempunyai stok baju adat yang lengkap. Nic sebenarnya mau-mau saja tetapi ia teringat pada Mika. Kalau ia menerima bantuan mamanya takutnya bajunya tidak akan serasi dengan Mika. Bu Anin tentu saja akan menyewa satu set pakaian adat Maluku. Bukan hanya yang akan dipakai oleh anaknya. Sayangnya Nic ragu untuk menawarkan baju itu untuk Mika. Takutnya gadis mandiri itu menolak.
"Cari dimana lagi, ya? " Tanya Mika yang ingin menyebrang jalan.
Nic tidak tahu jika Mika sudah berjalan mendahuluinya. Nic sendiri fokus pada ponselnya. Membalas pesan pesan yang masuk kedalam ponselnya. Sampai sebuah suara benda terbentur mengalihkan perhatiannya. Tampak Mika terduduk di aspal jalan. Seorang pengendara motor turun dari motornya untuk menolong Mika.
Tanpa pikir panjang Nic langsung menghampiri Mika.
"Kamu kenapa, Mika? "
"Maaf, mas. Saya nggak sengaja nabrak mbaknya. " Jelas si pengendara motor. "Kita ke rumah sakit, ya, mbak? "
"Enggak usah, pak. Saya nggak apa-apa."
Dalam hati Nic menggerutu, apanya yang baik. Beberapa bagian tubuh Mika lecet dan yang dikhawatirkan Nic adalah kaki Mika terluka, yang mengakibatkan Mika tidak bisa berjalan. Dan benar saja, gadis itu meringis saat berdiri.
"Bisa jalan? "
"Kaki aku sakit. "
Mobil Nic terparkir tidak jauh dari mereka. Kasihan dengan Mika yang kesakitan tiba-tiba Nic berjongkok membelakangi gadis itu.
"Ayo, naik. " Suruh Nic.
"Kamu ngapain?"
"Ayo, naik. Aku gendong."
"Hah? Gendong. Enggak-enggak. Aku masih bisa jalan sendiri. "
"Udah, ayo, naik. Ini di tengah jalan Mika. Nanti kalau di tabrak motor lagi gimana? "
Mobil Nic ada di perempatan jalan itu sebab tidak bisa masuk kedalam gang. Jaraknya juga masih lumayan.
Terpaksa Mika naik ke gendongan Nic. Kakinya memang benar-benar sakit. Sepertinya dia harus datang ke tukang urut yang ada dibelakang asramanya. Pijatannya ampuh sebab Mutia pernah kesana dan selang beberapa hari kakinya sembuh.
"Pasti berat, ya? "
Tidak ada jawaban dari Nic.
"Maaf udah ngerepotin."
Berada dalam gendongan Nic membuat Mika bisa mencium aroma parfum cowok itu. Wangi dan dia suka baunya.
Andai para penggemar Nic tahu apa yang dialami Mika sekarang. Mereka pasti akan menghabisinya tanpa ampun.