Mika sudah berulang kali berkata jika kakinya tidak apa-apa. Meski kakinya sakit, dia yakin setelah pergi ke tukang urut semuanya akan baik-baik saja.
Tapi yang namanya Nicholas Prambudi tidak berpikir seperti itu. Dengan sedikit memaksa, Nic membawa Mika ke rumah sakit.
Menurut Mika, Nic berlebihan. Di serempet motor saja kenapa harus ke rumah sakit. Pergi ke rumah sakit pastinya butuh biaya. Mika tidak mau mengeluarkan biaya untuk penanganan luka yang bisa sembuh dalam hitungan hari.
Setelah di periksa oleh dokter dan kakinya di perban oleh perawat, Mika menunggu Nic yang pergi entah kemana. Di otaknya sekarang penuh dengan berapa total biaya yang harus di bayar setelah pemeriksaan. Uang dari ayah dan ibunya mungkin akan habis untuk membayar perawatan, atau bisa jadi uangnya akan kurang. Kepala Mika sekarang benar-benar pusing.
Tirai pembatas tempat Mika di periksa terbuka. Muncul Nic yang membawa kursi roda.
"Ayo, pulang." Ajak Nic.
"Pulang. Aku belum urus administrasi. Mana boleh pulang. "
"Semuanya udah beres. "
"Hah? Kok bisa? Aku, kan, belum bayar."
"Gratis."
"Mana Ada gratis." Protes Mika. "Luka sekecil apapun kalau dibawa ke rumah sakit pastinya bayar. Di dunia ini nggak ada rumah sakit yang membebaskan biaya penanganan pasien kecuali punya BPJS. Aku, kan, nggak punya."
Melihat Mika yang terus mengomel mambuat Nic tersenyum. Nic pikir gadis didepannya itu pendiam tapi ternyata tidak. Lucu kalau terlihat panik, apalagi soal uang.
"Eh-" Mika terkejut saat tubuhnya diangkat oleh Nic untuk di pindahkan ke kursi roda.
"Aku bisa jalan sendiri. Kenapa juga harus pakai kursi roda. " Dumel Mika saat Nic mendorong kursi roda yang ia duduki.
"Aku nggak kuat kalau harus gendong kamu sampai depan rumah sakit. " Gurau Nic.
Mika menoleh ke belakang memandang Nic. "Aku bisa jalan sendiri. Kenapa juga harus gendong aku."
Nic menghentikan laju kursi roda. Tubuhnya sedikit di condongkan kebawah. Pandangannya beradu dengan mata Mika. "Kamu yakin bisa jalan sendiri? "
Dari jarak seperti ini, Mika bisa melihat wajah Nic begitu dekat dan ini bukan yang pertama kalinya. Wajah Nic begitu tampan. Kulitnya bersih, hidungnya mancung, Iris matanya berwarna coklat. Pantas saja semua gadis di sekolah menyukainya. Sekarang Mika mengakui hal itu.
Masih dikuasai kesadaran, Mika langsung menghadap kedepan. Dia tidak mau bertatap tatapan dengan Nic, apalagi ini di tempat umum.
Melihat reaksi Mika, Nic tersenyum kemudian menegakkan tubuhnya kembali.
"Ayo pulang. " Ajak Mika.
"Oke." Dan Nic kembali mendorong kursi roda yang diduduki teman sekelasnya.
Ketika sudah didepan rumah sakit terdengar ponsel Nic berbunyi. Nic mendorong kursi roda Mika ke pinggir agar tidak menganggu orang yang keluar masuk gedung rumah sakit.
"Hallo... " Nic menyapa orang yang meneleponnya.
Mika tidak tahu siapa yang menelepon Nic. Itu juga bukan urusannya.
"Iya, ma. "
Ternyata yang menelepon adalah ibunya Nic.
"Aku baik-baik saja, ma. Yang sakit itu teman aku. Aku cuma nganterin dia periksa ke rumah sakit."
Sepertinya Ibu Nic tahu kalau anaknya ada di rumah sakit dan mengira terjadi sesuatu pada Nic.
"Beneran, mama... Aku nggak bohong."
Ibu manapun akan takut bercampur khawatir jika tahu anaknya berada di rumah sakit.
"Iya... Aku akan pulang setelah nganterin teman aku."
Mika merasa sudah merepotkan Nic hari ini.
Nic mematikan ponselnya kemudian memasukkannya ke dalam saku celana. "Pasti ada yang lapor sama mama." Gumam Nic yang masih didengar oleh Mika.
"Kamu tunggu disini dulu, ya. Aku mau ambil mobil dulu."
Mika hanya mengangguk kaku.
***
Nic menghentikan mobilnya agak jauh dari asrama. Mika melarangnya menurunkannya didepan asrama. Terakhir kali Nic mengantarkannya kemarin sudah membuat satu asrama heboh.
"Kamu yakin mau turun disini?" Tanya Nic yang tidak yakin dengan pertanyaannya sendiri.
Mika meminta di turunkan sedikit agak jauh dari asrama. Agar tidak ada yang melihat dirinya diantar oleh Nic. Mika tidak ingin ada kehebohan lagi.
"Ini jaraknya lumayan, loh, dari asrama kamu. Kamu yakin bisa jalan sendiri? "
"Aku bisa, kok, " Jawab Mika.
"Tapi akunya yang nggak yakin. Kalau dipaksain jalan, kaki kamu pasti lebih sakit." Mika pastinya akan berjalan terpincang-pincang hingga masuk kedalam asrama.
"Enggak akan. " Mika mencoba meyakinkan. "Aku akan baik-baik saja. "
"Kalau kaki kamu tambah sakit gimana? "
"Kaki aku akan baik-baik aja. Terima kasih atas bantuannya." Mika berniat membuka pintu mobil.
"Setidaknya biarin aku anterin kamu sampai depan pintu asrama."
Mika langsung menoleh dengan tatapan tidak suka. Haruskah Mika menjelaskan lebih rinci agar cowok itu mengerti. Mengantarkannya sampai depan pintu asrama sama saja dengan memberinya masalah baru.
"Enggak." Mika kekeh menolak. "Sampai disini aja. "
"Ok, kalau kamu nggak mau." Percuma juga terus khawatir kalau yang dikhawatirkan terus menolak.
Mika lega mendengarnya.
"Tapi... Setidaknya kamu cari seseorang untuk membantu kamu jalan."
Itu saran yang lebih baik daripada Nic mengantarkannya kedepan asrama.
"Oke. Aku akan panggil teman aku. " Dan yang terlintas di kepala Mika adalah Mutia.
***
"Jadi... "
Mika merasa aneh saat Mutia melihatnya sambil senyum senyum "Apa? "
"Kamu... sama Nic. Ada sesuatu diantara kalian. "
"Sesuatu apa? " Mika tidak mengerti.
"Ayolah... Jujur aja. Kamu sama Nic pacaran, kan? "
"Mana ada. " Bantah Mika. "Aku sama Nic nggak ada hubungan apa-apa."
"Masa' sih? Kalau iya juga nggak apa-apa."
"Aku sama Nic urusannya cuma cari baju adat buat karnaval."
"Itu aku tau. Tapi kemungkinan itu selalu ada. Disaat kalian bersama, bisa saja tumbuh bunga-bunga asmara. "
Mika menggeleng pelan mendengar pemikiran Mutia. "Kamu kebanyakan nonton sinetron. "
"Sekarang nggak jamannya sinetron, Mika... Tapi drama Korea. " Disusul dengan tawa.
"Yang jelas aku nggak ada apa-apa sama, Nic. Jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh. "
"Aku nggak berpikiran yang aneh-aneh Mika... Aku hanya bicara tentang kemungkinan. Kita kan nggak tau apa yang akan terjadi sama kamu sama Nic kedepannya. "
"Seperti aku jadian sama Nic." Mika menggelengkan kepala. "Kalau aku sama Nic jadian, itu sama aja aku cari masalah. Lagian orang kayak Nic nggak mungkin suka sama aku. Cewek di sekolah banyak yang cantik. Yang ngejar-ngejar dia tambah banyak lagi."
Mutia terkekeh. "Di dunia ini apa, sih, yang nggak mungkin. Kata orang cinta itu buta. Jadi kemungkinan antara kamu dan Nic itu bisa terjadi sesuatu. Apalagi kamu dan Nic sering menghabiskan waktu bersama."
"Aku sama Nic cuma cari baju bareng. Kalau bajunya udah ketemu aku nggak akan pergi terus sama dia. Masalahnya baju adat yang kami cari susah banget di carinya. Sejak di pasangin sama Nic buat karnaval, hidup aku yang tenang malah jadi runyam. Udah di bully sama anak-anak lain, harus pergi sama Nic terus, dan yang menyebalkan baju yang aku cari nggak ketemu-ketemu."
Mutia meringis. "Kalau aku jadi kamu, aku malah bersyukur. Aku nggak perduli omongan orang lain. Yang terpenting aku bisa sama-Sama Nic."
"Andai aja aku bisa tukeran posisi sama kamu, bakalan aku kasih."
Mutia tertawa.
"Jadi gimana ceritanya kaki kamu luka? "
Mika menceritakan kronologi kejadian yang ia alami. Dari keserempet motor, di paksa Nic ke rumah sakit, sampai Nic yang maksa untuk mengantarkannya masuk asrama.
"Dia perhatian banget sama kamu Mika, " Ucap Mutia.
"Dia bukan perhatian sama aku Mutia... Tapi dia kasihan sama aku."