Meski dengan kaki yang sakit dan jalan yang agak terpincang-pincang, Mika tetap masuk sekolah. Setelah meletakkan tasnya di kelas, Mika pergi ke perpustakaan. Tempat yang sering ia kunjungi selama di sekolah, serta tempat ternyaman untuk belajar dan menyendiri.
Dari kaca jendela besar perpustakaan yang ada di lantai dua, Mika bisa melihat lapangan sekolah yang tampak ramai. Disana sedang berlangsung pertandingan sepak bola antar kelas. Sepertinya sekarang giliran kelasnya dan kelas sepuluh. Tampak Nic dan Bian berada di lapangan.
Mika kembali menekuri buku yang tadi ia baca. Mika tidak tahu jika seseorang melihatnya dari area lapangan.
Mika mendongak saat mendengar suara kursi yang di geser. Matanya melebar saat tahu siapa yang duduk didepannya.
"Ngapain kamu disini? " Pertanyaan itu langsung meluncur dari mulut Mika.
"Kamu lagi baca buku." Nic menyentuh buku yang di baca Mika untuk melihat judulnya. "Nggak bosen belajar terus. Sekarang itu bebas pelajaran. Kenapa juga harus belajar kimia."
Mika mengambil buku yang di pegang Nic. "Nggak seharusnya kamu disini. Bukannya kamu harus ikut lomba sepak bola. "
"Sudah selesai. Kelas kita kalah."
Mika tidak perduli jika kelasnya menang atau kalah dalam lomba.
"Kenapa kamu masuk sekolah? Bukannya kaki kamu masih sakit."
"Kaki aku nggak apa-apa."
"Seharusnya kamu istirahat nggak usah masuk sekolah dulu. Lagian nggak ada pelajaran juga."
Tidak masuk sekolah karena luka yang tidak seberapa itu tidak perlu. Mika merasa dirinya baik-baik saja, makannya dia masuk sekolah. Diam didalam kamar asramanya seharian akan membuat kepalanya sakit.
"Kenapa juga nggak masuk sekolah. Kaki aku baik-baik aja. Ini akan membaik setelah beberapa hari."
"Mencegah kan lebih baik daripada mengobati. Siapa tahu makin parah karena kamu tetap nekat pergi ke sekolah."
"Kamu do'ain kaki aku makin parah. " Nada suara Mika naik satu tingkat. Yang malah membuat Nic tertawa kecil.
"Enggak gitu. Seharusnya kamu istirahat. Apa, sih, susahnya libur sekolah sehari. Sekolah ini juga nggak akan pindah kalau kamu absen sehari."
Mika tidak pernah absen sekolah. Kecuali dia benar-benar sakit ataupun ada urusan keluarga.
"Kamu minum, kan, obat dari dokter? "
"Iya." Mana mungkin Mika tidak meminum obat dari dokter. Sudah obatnya gratis, pemeriksaanya juga gratis. Mika sadar pasti Nic yang membayar semua tagihan rumah sakit.
"Makasih, ya. "
Nic mengangkat sebelah alis. "Makasih buat apa? "
"Aku tau yang bayar tagihan rumah sakit itu kamu, kan? "
"Kalau bukan? "
"Mana ada orang yang datang ke rumah sakit, di periksa dokter, di kasih obat tapi gratis. Pokoknya aku makasih. Kalau nggak mau Terima, ya, terserah. "
Nic terkekeh. Mika terlihat lucu.
Mika bangkit dari tempat duduknya. Berjalan menuju rak buku untuk mengembalikan buku yang tadi ia baca. Nic mengikutinya dari belakang.
"Udah tau kaki sakit masih aja naik tangga ke lantai dua, " Kata Nic yang berada di belakang Mika. Mereka menuruni anak tangga menuju lantai bawah. "Kalau makin parah gimana? "
"Nggak akan. Kaki aku baik-baik saja."
Nic yang khawatir pada Mika langsung mendekat dan mensejajarkan langkah. "Aku bantu, biar nggak jatuh. " Nic menyentuh pundak Mika. Berniat membantunya berjalan.
"Kamu ngapain?" Mika otomatis menghendaki langkah. "Bantu kamu jalan."
" Enggak usah. " Mika menyingkirkan tangan Nic yang bertengger di pundaknya.
"Nanti kalau jatuh gimana?"
"Ngga akan. "
"Ya, udah, kalau gitu aku gendong aja. "
Mika langsung mendelik karena ucapan Nic.
"Kenapa malah melotot gitu? Kamu pikir aku takut. Kamu malah kelihatan lucu kalau lagi marah gitu."
Sudahlah. Mika malas kalau meladeni Nic. Ia langsung bergegas meninggalkan cowok itu. Mika pikir, Nic akan membiarkannya pergi tapi nyatanya malah terus mengikutinya sampai kantin sekolah.
"Seharusnya kamu nggak disini, " Kata Mika sambil mengaduk mienya.
"Kenapa? " Tanya Nic yang duduk didepannya.
"Kamu nggak lihat semua mata penghuni kantin ini sedang mengarah kesini." Mika masih fokus mengaduk mienya.
Nic melihat sekeliling. Dan benar saja semua mata yang ada berada di area kantin tertuju pada mereka.
"Biarin aja. " Timpal Nic cuek.
Mika mendesah lalu memandang cowok yang duduk didepannya. "Mereka bukan nggak suka sama kamu tapi mereka nggak suka lihat kamu sama aku. "
"Itu urusan mereka kalau nggak suka lihat aku sama kamu."
Mika memilih diam. Tidak perlu menjelaskan alasannya. Pastinya Nic juga tahu. Mika memilih menikmati mienya.
"Kenapa, sih, harus makan mie? " Nic melihat Mika menikmati mienya.
"Kamu mau." Mika menyodorkan mienya.
Nic menggelengkan kepala. "Di kantin banyak pilihan makanan tapi kenapa malah makan mie. "
Mika tahu di kantin banyak sekali pilihan makanan. Dari nasi campur, bakso, mie ayam, siomay, nasi goreng, dan beberapa menu lainnya. Tapi bagi Mika, Mie yang dibungkus dengan styrofoam dengan bentuk gelas besar adalah pilihan makanan yang murah, yang masih bisa di jangkau oleh kantongnya. Makan mie seperti itupun tidak setiap hari.
"Ini yang paling murah." Jujur Mika.
"Tapi keseringan makan mie, kan, nggak baik."
Tentu saja Mika tahu kalau keseringan makan mie instan itu tidak baik. Tapi mau bagaimana lagi. Itu yang bisa ia beli saat melewatkan sarapan di asrama.
"Aku tau. Tapi aku belum pernah dengar ada orang mati karena makan mie."
Nic tertawa. Dia suka dengan Mika yang banyak bicara.
"Aku kira kamu itu pendiam. Ternyata aku salah."
"Yang terlihat kadang bisa menipu sebelum tau aslinya. "
"That's true." Tiba-tiba Nic mengambil mie Mika.
"Eh-"
"Jangan makan mie lagi. " Nic tidak suka melihat Mika makan mie. Itu bukan kali pertama Nic melihat Mika makan mie.
"Kembaliin." Mika ingin mengambil mienya tetapi Nic menjauhkannya.
"Pesan makanan yang lain. Jangan makan mie lagi."
"Kamu kenapa, sih? Itu mie aku, aku yang bayar. Aku nggak mau pesan makanan yang lain. "
"Kalau soal uang. Biar aku yang bayar. Kamu harus makan makanan yang baik biar sehat. "
"Aku nggak mau. Kembaliin mie aku. " Mika masih berusaha mendapatkan mienya kembali.
Dan terjadilah adegan rebut merebut mie antara Nic dan Mika. Kejadian itu tidak luput dari pengunjung kantin.
Di salah satu meja kantin ada Mutia yang memperhatikan mereka sambil tersenyum. "Masih mengelak kalau nggak ada sesuatu diantara kalian, " Gumamnya.