Ketika jam belum menunjukan pukul sepuluh, Nic mencari Mika di kelas. Tidak menemukan gadis itu di kelas Nic langsung menuju perpustakaan. Mika pasti ada disana.
Nic baru menaiki beberapa anak tangga ketika melihat Mika yang menuruni tangga.
"Tebakanku benar kamu pasti ada di perpustakaan," Kata Nic saat berhadapan dengan Mika.
"Ada apa? " Tanya Mika.
"Kita cari baju sekarang gimana?"
"Emangnya kamu nggak ada lomba lagi? " Mika tidak tahu jadwal pasti lomba yang diselenggarakan sekolahnya. Dia juga tidak ikut berpartisipasi mewakili kelasnya.
"Udah selesai."
"Oh. Menang? " Dari kabar yang Mika dengar kelasnya selalu kalah setiap mengikuti lomba.
"Menang, dong. Main basket mah kecil." Nic membanggakan.
Pantas seja menang. Rata-rata pemain basket sekolah ini berada di kelasnya. Termasuk Nic.
"Ya udah, kita pergi sekarang." Mika menyetujui.
"Oke."
"Aku ambil tas dulu di kelas."
"Nanti tunggu aku didepan sekolah."
"Iya."
Keduanya berbarengan menuruni tangga.
***
Mika menunggu Nic di tempat biasa. Tidak sampai lima menit Nic datang dengan motornya. Motor yang terkenal kramat di area sekolah.
"Nih." Nic memberikan helm pada Mika.
Pandangan Mika tertuju pada motor Nic. Motor merk scoopy berwarna cokelat.
"Kenapa? " Nic menyadari sikap Mika.
"Aku nggak naik motor iki, kan? " Mika memastikan.
"Memangnya kenapa? " Nic tahu, Mika pasti sedang berpikir tentang motornya yang terkenal keramat. Yang hanya boleh dinaiki oleh orang spesial. Sebenarnya bukan Nic yang menyebarkan rumor itu. Nic sendiri tidak tahu awalnya darimana. Nic hanya menolak setiap gadis yang ingin diboncengnya. Bukannya pelit, Nic tidak ingin gadis yang nebeng dengan-Nya akan baper kemudian memunculkan gosip yang tidak jelas. Apalagi mengaku ngaku sebagai pacarnya. Meski begitu Nic menikmati rumor tentang motornya.
"Aku nggak mau naik motor ini. " Tolak Mika. "Aku nggak mau dapat masalah lagi." Naik motor Nic sama saja mengundang masalah baru. Mika tidak ingin penghuni sekolah menganggapnya someone specialnya Nic. "Kenapa nggak pakek mobil yang kemarin aja, sih. "
"Jadi kamu lebih suka naik mobil? "
"Bukannya gitu. " Mika tidak mau dianggap matre. "Mending naik bus aja, lah. Nggak usah naik motor ini. "
"Kamu nggak mau naik motor ini karena takut di bully lagi sama anak-anak."
Tentu saja jawabnya iya tetapi Mika memilih diam. Mika rindu kehidupan damainya di sekolah.
"Kamu tenang aja. Nggak akan ada yang akan ngebully kamu."
Bukan hanya masalah di bully saja. Naik motor Nic sama saja menimbulkan gosip baru jika dirinya dan Nic pacaran. Mika tidak mau hal itu terjadi. Mika juga tidak mau memikirkan Nic yang kemungkinan menyukainya sebab itu tidak mungkin. Mika sadar diri, apalah dirinya yang kutu buku penghuni perpustakaan, tidak cantik, apalagi menarik. Mika tidak mau berpikiran berlebihan, yang akan membuatnya terbawa perasaan dan menganggap Nic menyukainya. Yang jadi keinginan Mika sekarang adalah mendapatkan baju adat dan meminimalisir berinteraksi dengan Nic.
"Kamu tau tentang motor kamu, kan? " Mika jujur saja.
"Motor kramat yang hanya boleh di naiki sama cewek spesial. " Terang Nic.
"Nah, itu. Aku nggak mau murid-murid yang lain beranggapan seperti itu. "
"Itu anggapan mereka sendiri. "
"Maksudnya? "
"Motorku ini. " Nic menunjuk motornya. "Bukan motor keramat. Ini motor biasa. Aku nggak pernah bilang kalau cewek yang naik motor ini harus orang spesial. Mereka saja yang membuat kabar seperti itu. Tapi aku menikmatinya. Setidaknya nggak ada cewek yang nebeng sama aku." Nic terkekeh.
Meski sudah di jelaskan Mika tidak perduli. Orang lain tidak perlu penjelasan sebab mereka percaya apa yang mereka lihat dan yakini.
"Ayo berangkat. Aku udah konfirmasi sama pemilik penyewaan baju, katanya baju adat malukunya ada. Kalau kelamaan nati bisa di sewa sama orang. "
"Seriusan? " Tampak binar di mata Mika.
"Iya."
"Alhamdulillah... Akhirnya ketemu juga. Yaudah, ayo berangkat. Eh, lupa pakai helm dulu. " Mika memakai helm yang tadi diberikan oleh Nic lalu naik keatas motor.
Nic tersenyum melihat tingkah Mika.
***
Mika tampak senang setelah menemukan baju adat yang ia cari. Beruntungnya juga ada sepasang.
Nic suka melihat Mika yang tersenyum. Selama mereka satu kelas Nic tidak pernah memperhatikan Mika. Yang ia tahu Mika adalah juara kelas, kutu buku penghuni perpustakaan dan tak punya teman.
"Kamu tau tempat ini dari mana? " Tanya Mika saat Nic memakai helmnya.
"Dari Bian, " Jawab Nic. "Dia juga sewa baju adat disini. "
"Oh."
Nic menyodorkan helm pada Mika. Mika menerimanya, memakainya kemudian naik ke boncengan motor Nic.
Mata Mika melihat langit yang berwarna hitam. Sepertinya akan turun hujan padahal tadi pagi lumayan cerah. Semoga saja tidak turun hujan sebelum ia sampai asrama.
"Nic, kayaknya mau turun hujan, " Kata Mika lumayan keras agar Nic bisa mendengarnya.
"Iya." Nic yang fokus menyetir menyadari hal itu.
Nic menambah laju kecepatan motornya. Berharap semoga tidak turun hujan dulu sebab dia tidak membawa mantel hujan. Ia harus mengantarkan Mika dulu ke asrama kemudian pulang barulah boleh turun hujan.
Manusia hanya bisa berharap tetapi Tuhan yang berkehendak. Belum juga lima menit perjalanan tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Mika mengajak Nic untuk berteduh. Nic yang setuju kemudian membelokkan motor ke sebuah mini market.
Hujan bertambah deras setelah mereka berteduh. Mika memandang hujan yang lebat itu kemudian duduk di kursi besi yang ada didepan mini market. Begitu juga dengan Nic.
"Hujannya tambah deras, " Kata Mika dengan pandangan masih tertuju pada derasnya hujan.
"Kayaknya hujannya bakalan lama." Timpal Nic.
"Kamu nggak bawa jas hujan? " Mika beralih menatap Nic.
"Enggak. Kalaupun bawa cuma satu. "
Keduanya duduk di kursi. Mika dengan pandangannya kearah hujan dan Nic yang sibuk dengan ponselnya.
Mika memegangi kedua bahunya karena hawanya terasa dingin. Nic yang melihatnya kemudian berdiri, menuju motornya lalu mengeluarkan sesuatu dari jok motornya.
"Pakai ini. " Nic menyodorkan hoodie berwana abu-abu pada Mika.
"Ini apa? " Tanya Mika polos.
"Kayaknya kamu kedinginan. Pakai ini biar nggak masuk angin. "
Mika mengambil benda itu karena dirinya memang kedinginan. Mika tampak enggan memakainya mungkin karena ada Nic disana.
"Aku masuk dulu. " Nic menunjuk kedalam mini market.
Mika hanya mengangguk kaku.
Setelah kepergian Nic, Mika baru memakai hoodie itu. Lumayan hangat dan dari hoodie itu pun Mika bisa mencium parfum Nic. Parfum yang sama yang selalu Mika cium saat bersama Nic.
Kalau gadis lain yang memakai hoodie ini, mungkin mereka akan merasa seperti di peluk oleh Nic. Mika bisa saja berpikir seperti itu namun dia masih waras. Berharap sesuatu yang tidak mungkin itu sama saja dengan menyiksa diri. Mika lebih menekankan untuk sadar diri lebih awal. Melihat sikap Nic yang baik serta perhatian pantas saja banyak gadis yang menyukainya.
Mika memukul kepalanya. Tidak seharusnya dia memikirkan Nic. Kalau di terus teruskan bisa-bisa dia akan menyukai Nic. Dalam hati Mika Berigstifar banyak-banyak.
Tanpa Mika tahu Nic melihat tingkah anehnya dan senyum kembali terukir di wajah Nic.