"Kamu hebat. " Puji Mika pada Arjun. Arjun adalah bocah delapan tahun yang Mika les privat.
Bocah laki-laki itu tampak senang karena berhasil menyelesaikan tugas matematika yang diberikan oleh Mika.
"Untuk hari ini belajarnya sampai disini dulu, ya."
"Iya, kak."
Setelah berpamitan pada Ibu Arjun, Mika keluar dari rumah besar itu. Mika berjalan menyusuri jalan untuk sampai di gerbang perumahan. Setelah itu ia bisa naik angkot untuk kembali ke asrama.
Mika berjengkit saat mendengar klakson motor. Gadis itu menoleh dan melihat Nic.
"Butuh tumpangan, mbak? " Tanya Nic bercanda.
Mika mendengus pelan kemudian melanjutkan langkah.
"Hei, aku serius." Nic menarik tuas motor pelan agar laju motornya sama dengan langkah Mika.
"Aku nggak butuh tumpangan. Kamu bisa pergi. " Mika tidak tahu kenapa bisa bertemu Nic disini. Atau mungkin cowok itu tinggal di area perumahan ini.
"Ayo bareng sama aku aja. Lagian lebih enak naik motor dari pada jalan kaki. Kamu juga bisa irit ongkos buat naik angkot. "
Ucapan Nic ada benarnya juga.
"Ya udan aku ikut tapi nanti turunin di tempat yang yang kemarin. Yang agak jauh dari asrama."
"Oke."
Mika baru berniat naik ke boncengan motor Nic, Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Aku nggak jadi nebeng. " Mika membatalkan niatnya.
"Kenapa? "
"Aku harus pergi ke suatu tempat dulu sebelum balik ke asrama. "
"Kemana? "
"Toko buku. " Sejak bulan kemarin Mika ingin membeli buku yang berisi kumpulan soal-soal yang bisa membantunya untuk belajar namun belum sempat dibelinya.
"Ya, udah, sekalian aja."
"Enggak, ah. Nanti malah ngerepotin kamu. "
"Engga ada yang di repotin. I am free... Jadi bebas mau pergi kemana aja."
Kalau Nic sudah berkata seperti itu, kenapa Mika tidak memanfaatkannya.
"Oke." Mika pun naik ke motor Nic.
***
Toko buku itu tampak sepi seperti biasanya. Terlihat hanya beberapa pengunjung. Mika suka tempat seperti ini, sepi.
Mika berada di rak buku yang dia inginkan. Nic sendiri berdiri agak jauh dari Mika. Mengamati deretan buku yang ada didalam rak. Entah buku tentang apa.
Setelah melihat lihat buku yang ada disana. Nic menghampiri Mika yang sedang membolak-balikkan halaman sebuah buku.
"Udah dapet bukunya? " Tanya Nic yang sudah berada di sebelah Mika.
"Udah." Mika meletakkan kembali buku yang tadinya ia pegang kedalam rak kemudian mengambil buku lain yang sudah menjadi incarannya. "Kamu nggak cari buku? "
"Enggak."
"Kamu pasti bosan disini? "
"Enggak juga."
"Aku mau lihat-lihat buku yang lain dulu. "
"Oke."
Mika pikir Nic akan pergi ke area lain toko buku itu tapi ternyata malah mengikutinya saat melihat lihat buku. Nic memang tidak menanggungnya tapi rasanya tidak nyaman saja.
"Kalau kamu mau pergi duluan, aku nggak masalah. " Mika membuka percakapan.
"Enggak. Enakan disini, adem. Di luar panas. "
Mika tersenyum kecil mendengarnya dan hal itu tidak luput dari pandangan Nic.
"Disini membosankan, Cuma ada buku. Nggak ada yang menarik."
"Kata siapa toko buku nggak menarik. Itu hanya berlaku untuk orang-orang yang memang tidak menyukai buku."
"Jadi kamu suka buku? "
"Suka."
"Buku tentang apa? "
"Komik."
Mendengar jawaban Nic membuat Mika mendengus pelan. Komik memang buku tapi maksud Mika bukan buku yang seperti itu.
Terdengar kekehan Nic. "Komik juga termasuk buku, kan? "
Mika memilih melihat-lihat kembali buku daripada mengajak Nic bicara.
Keluar dari toko buku Nic mengajak Mika makan. Mika awalnya menolak tetapi ketika mengatakan dia yang akan bayar tentu saja Mika langsung mau.
Meminimalisir pengeluaran adalah hal terpenting bagi Mika tetapi untuk buku itu pengecualian.
"Jangan makan kayak di restoran kemarin, ya, " Kata Mika saat diatas motor.
"Kenapa? "
"Enggak kenapa-napa. Mahal kayaknya."
Nic yang megemudiakan motor menahan senyum. "Padahal aku mau ngajak kamu kesana lagi. Menunya banyak banget disana. Nggak cuma steak aja. " Gurau Nic.
"Enggak, ah. Kalau tetep kesana nggak jadi aja."
"Jangan. Ya udah, kita cari makan di tempat lain."
Bagi Mika itu jawaban yang tepat.
"Nggak salah kita ke tempat ini? " Mika memandang rumah makan yang besar itu. Belum lagi pelataran parkir yang berisi banyak mobil.
"Emangnya kenapa? Ini rumah makan bukan pos satpam. "
"Aku tau, Nic. Maksud aku kenapa kita makan di tempat kayak gini. "
"Ini rumah makan yang menunya masakan nusantara. Nggak ada steaknya disini."
Nic sepertinya tidak mengerti maksud Mika. Mika tahu Nic orang kaya. Pastinya juga sudah biasa makan di restoran elit tetapi Mika merasa tidak enak kalau harus makan gratis di tempat yang mahal.
"Kenapa kita nggak makan makanan anak remaja normal lainya."
"Memangnya makanan di tempat seperti ini nggak normal? "
"Normal, kok, tapi bayarnya yang nggak normal buat aku. "
"Kan aku yang bayar."
"Mending kita makan mie ayam, bakso, baso aci atau seblak. "
"Seblak. Apa itu seblak? "
"Kamu nggak tau seblak? "
Nic menggelengkan kepala. "Enggak."
Mika ingin tertawa. Ternyata Nic yang tampan, cowok populer di sekolah ternyata tidak tahu seblak. Tiba-tiba Mika ingin mengusili teman sekelasnya itu.
"Yuk makan seblak. Aku yakin kamu pasti suka."
Mika ingin tertawa keras saat Nic menyetujui ajakannya.
***
Nic tampak ngeri melihat makanan didepannya. Kuah merah dengan isian krupuk lembek, sosis, dan isian lainnya. Mika sebisa mungkin menahan tawa. Lucu melihat ekspresi Nic seperti itu.
"Ini seblak? " Tunjuk Nic pada mangkuknya.
"Cobain, deh. Enak. Kamu pasti suka."
Tidak. Nic tidak mau mencobanya. Makanan itu tampak lembek dan Nic tidak suka. Ditambah lagi bau pedas menguar kuat darisana.
"Enggak. Aku nggak mau. " Nic mendorong mangkuk berisi seblak ke tengah meja.
"Coba dulu." Bujuk Mika.
Nic menggelengkan kepala dengan mulut yang terkatup rapat. Mika tidak bisa menahan tawanya karena itu lucu.
Nic suka dengan tawa Mika. Cantik.
"Aku pesan makanan yang lain aja. Aku bisa berakhir lama di kamar mandi kalau makan itu."
"Iya, deh. Seharusnya aku nggak ngajak kamu kesini. Kamu nggak cocok makan makanan rakyat biasa."
"Bukannya begitu. Aku bisa makan bakso ataupun mie. Tapi seblak? Visualnya aja udah mengerikan begitu apalagi rasanya."
"Kamu belum coba aja. Pedes, sih, tapi nggak mengerikan, kok, rasanya."
"No way."
"Jadi pesan apa? "
"Bakso aja. Sama kayak kamu."
"Oke."
Mika mengangguk kemudian memanggil salah seorang pelayan disana untuk memesan bakso.
"Kami sendiri nggak pesan seblak? "
Mika hanya tersenyum nyengir.
Langit sudah gelap saat Mika dan Nic keluar dari kedai bakso yang tidak hanya menjual bakso tetapi mie ayam, mie pangsit, baso aci, sampai seblak.
"Pulang, yuk." Ajak Mika. "Udah malem ini."
"Oke."
Belum terlalu lama motor Nic berjalan tiba-tiba sang pengendara menepikan motornya dan berhenti.
"Kenapa? " Tanya Mika. Khawatir jika motor Nic rusak.
"Kamu tau cafe itu? " Nic menghentikan motornya tepat didepan cafe bertema outdoor itu.
"Tau." Balas Mika. Mika sering melewati tempat itu. Dia juga sering mendengar teman-temannya membahas cafe itu karena cafe itu sedang hits dikalangan anak muda.
"Pernah kesana? "
Pertanyaan Nic membuat Mika ingin tertawa kencang. Masuk ke kafe itu sama saja dengan meghambur hamburkan uang.
"Kesana, yuk! " Ajak Nic.
"Hah? "
"Aku belum pernah kesana. Gimana kalau kita kesana? "
Tawaran yang mengiurkan. Kalau biasanya Mika akan menolak tapi kali ini Mika akan menerimanya. Jujur saja Mika juga ingin masuk ke tempat itu.
"Yuk."
Jawaban Mika terlalu mengagetkan Nic tapi dia senang. Biasanya gadis itu akan menolak sebelum mengatakan iya.
Mika dan Nic sudah duduk di salah satu meja cafe. Benar saja tempat itu asyik buat nongkrong. Tempatnya nyaman, menunya juga enak, ditambah lagi ada live music.
Pandangan Mika tertuju pada panggung kecil yang ada disana. Seorang penyanyi sedang melantunkan sebuah lagu diiringi petikan gitar. Mika pernah mendengar lagu itu tetapi tidak tahu judulnya.
"Tadi kamu darimana? " Suara Nic mengalihkan pandangan Mika.
"Maksudnya? "
"Tadi kamu jalan kaki itu darimana? "
"Oh, itu. Aku dari rumah anak yang aku les privat. Kamu sendiri darimana? "
"Dari rumah Bian."
"Aku kira kamu tinggal di perumahan itu."
"Enggak."
Mika kembali melihat kearah panggung.
"Kamu suka tempat ini? "
Mika menoleh lalu berkata " Suka. Makasih, ya, udah ajak aku kesini." Tak lupa dengan senyum manisnya.
"Sama-sama." Nic suka melihat Mika yang tersenyum.
Pandangan Nic masih tertuju pada Mika.
Mika sadar jika Nic memandangnya dan hal itu berakibat tidak baik-baik saja untuk kinerja jantung Mika.