12. Voucher Makan

1440 Words
"Kayaknya motor Nic udah nggak keramat lagi, " Kata Bian saat Nic dan Genta ada di rumahnya. "Nggak keramat lagi. Maksudnya? " Tanya Genta yang tidak mengerti. "Kemarin aku lihat Nic bonceng cewek." "Seriusan? " Genta kemudian beralih pada Nic yang duduk di sebelahnya. "Beneran itu Nic? " Nic yang fokus pada ponselnya hanya mengangguk santai. "Siapa ceweknya? Michelle, Namia, Rosali, Bitara atau ada yang lain? " Genta penasaran. "Bukan semuanya. Kamu nggak akan nyangka kalau Nic sama nih cewek. " "Siapa? Jangan bikin penasaran, dong. " "Yang sekarang sering sama Nic. " Bian memberi petunjuk. Genta berpikir sejenak. "Mika." Bian mengangguk membenarkan sambil tersenyum. "Astaga... Seriusan, Nic? Jadi cewek special itu Mika? " "Aku nggak pernah bilang kalau cewek yang naik motor aku harus cewek spesial." "Tapi dari dulu kamu nolak cewek-cewek yang mau nebeng sama kamu." "Aku hanya malas berurusan sama mereka. Apalagi kalau sampai mereka baper. Jadi menolak adalah cara yang paling bagus. " "Tapi kenapa Mika? " Kini Bian yang bertanya. "Karena kami sering keluar bareng jadinya mau nggak mau aku harus bonceng dia." Tidak tau kenapa Nic tidak yakin dengan jawabannya. "Kamu yakin nggak ada perasaan apa-apa sama Mika? " Jika ditanya apakah Nic menyukai Mika, Nic tidak tahu pasti jawabannya. Tapi yang ia tahu, dia suka saat bersama gadis itu. Senyumnya, tawanya, apalagi saat terlihat panik, Mika tampak lucu. "Aku nggak tau pasti ini rasa suka atau enggak." Nic meletakkan ponselnya diatas meja. "Aku seneng aja waktu sama dia. " "Hoho... Ternyata sohib kita sedang jatuh cinta." Genta senang ternyata Nic jatuh cinta. Dari mereka bertiga hanya Nic yang belum pernah pacaran. Kalau Genta dan Bian gebetan mereka banyak. "Biasanya cinta itu berawal dari mata turun ke hati tapi yang dialami Nic ini... Dari pasangan karnaval beralih ke perasaan. " Kikik Bian. Nic hanya tersenyum menikmati ocehan sahabat-sahabatnya. Kemarin sesampainya di rumah Nic mendapatkan pesan gambar dari Bian. Ternyata Bian memotret kebersamaan Nic dan Mika saat keluar dari toko buku. *** Mika tidak bisa tidur. Entah kenapa tapi biasanya tidak seperti ini. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Suara dengkuran halus Mutia pun terdengar. Kamar mereka temaram karena hanya menyalakan lampu tidur. Pandangan Mika beralih pada jaket yang ia gantung didekat jendela kamar. Itu jaket Nic yang ia pakai beberapa hari lalu. Anehnya dia sering lupa membawa jaket itu ke sekolah untuk di kembalikan pada pemiliknya. Mika tidak tahu kenapa Nic selalu berkelebat di kepalanya. Jantungnya kadang-kadang juga nakal karena berdetak berlebihan saat bersama cowok itu. Apalagi kemarin saat di cafe, Nic terus menatapnya. Mika menghela nafas, tidak mungkin dia menyukai Nic. Menyukak Nic sama saja cari penyakit. Cowok itu juga tidak mungkin menyukainya. Kalaupun 'misalnya suka' rasanya mereka tidak cocok. Nic memang baik, perhatian juga. Seharusnya Mika tidak boleh terbawa perasaan. Pastinya Nic juga baik dan perhatian pada gadis lain. Ternyata Mika sama saja dengan para gadis lainnya yang menyukai Nic. Pesona Nicholas Prambudi memang tidak bisa dianggap remeh. Mika tengkurap menengelamkan wajah di bantal. Meredam teriakan dengan tangan dan kaki yang bersamaan memukul ke ranjang. Dia tidak boleh menyukai Nic. *** Jam istirahat Nic, Bian dan Genta pergi ke kantin. Seperti biasa tempat itu ramai. Bian menemukan meja kosong untuk mereka sedangkan Genta bertugas memesan makanan untuk mereka. Ketika sudah duduk Nic melihat Mika disalah satu meja kantin. Senyum kecil langsung terbit di wajah Nic. "Astaga... Mie lagi, " Kata Nic yang sudah duduk didepan Mika. Mika terbatuk batuk saat melihat Nic ada dihadapanya. Mutia yang ada disamping Mika menepuk punggung teman sekamarnya pelan. "Mie lagi. Perasaan kemarin baru makan bakso." Setelah meredakan batuknya, Mika langsung bertanya "Ngapain kamu disini? " "Ini kantin. Memangnya aku nggak boleh kesini? " Tentu saja Nic boleh ke kantin. Tempat itu bebas untuk semua penghuni sekolah tapi yang salah tidak seharusnya Nic duduk di mejanya. Mika melihat sekeliling dan benar saja banyak mata yang memperhatikan mereka. "Boleh tapi meja kamu bukan disini. " Mika tidak berani menatap Nic langsung. Kinerja jantungnya sekarang berlebihan ditambah lagi cowok itu menatapnya terus. Mika memilih memakan mienya tapi anehnya tidak bisa menikmatinya. Dalam hati Mika mengutuk diri kenapa jadi seperti ini gara-gara Nic. Dia tidak boleh seperti ini. Tidak boleh suka sama Nic apalagi jatuh cinta. Menghembuskan nafas pelan, Mika kemudian menatap Nic. "Jangan duduk disini Nic. Lebih baik kamu kembali ke meja kamu." "Kamu takut kita di gosipin? " "Digosipin? Ya, nggak, lah." Elak Mika. Yang ia takutkan adalah hatinya. "Takut di bully? " Sejak Nic memberi peringatan pada orang-orang yang membully Mika, tidak ada yang berani melakukannya. Meski tatapan benci masih ketara ada. "Enggak." "Lalu.. " Mika tidak mau berterus terang. Mau ditaruh dimana mukanya kalau Nic tahu dia mulai tertarik pada cowok itu. Mika memilih diam saja. "Kamu takut anak-anak tau kalau kamu naik motor aku." Kalimat Nic membuat Mutia yang sedari tadi tidak dianggap keberadaannya langsung batuk-batuk setelah tersedak minumannya. Pengakuan Nic barusan terlalu mengejutkan. "Hati-hati, Mutia, kalau minum. " Mika megelus-elus punggung teman sekamarnya. "Jadi Mika naik motor kamu? Jadi cewek spesial itu Mika? " Mutia langsung berucap cukup keras setelah batuknya mereda. Mika memukul bahu Mutia agak keras. Berharap temannya itu mengerti agar mengecilkan suaranya. Mika yakin orang-orang disekitar mereka pasti dengar. "Berarti motor kamu udah nggak keramat lagi, dong. Astaga.. ternyata gadis spesial itu Mika." Mutia beralih melihat Mika. "Selamat, ya, Mika. Aku itu udah curiga pasti ada sesuatu diantara kalian." Mutia senang dengan kedekatan Mika dan Nic. Meski dia salah satu penggemar Nic. Ingin sekali Mika membungkam mulut Mutia dengan kaos kaki. Kenapa mulut Mutia ember sekali. "Jadi jaket yang ada dikamar itu punya kamu, ya, Nic? Pantesan kok nggak asing. Kemarin di pake sama Mika, dipandangin terus. Untungnya jaket kamu nggak sampek bolong karena dilihatin terus sama Mika." Mika benar-benar malu sekarang. Ditempatnya Genta dan Bian tertawa melihat tingkah Mutia. Nic sendiri santai santai saja dengan ocehan Mutia. Sekarang pandangannya hanya tertuju pada Mika yang tampak malu. Kabar jika Mika adalah cewek spesial untuk Nic berembus dengan cepat di sekolah. Tentu saja banyak yang patah hati, ditambah lagi kebencian terhadap Mika. *** Mika berjengkit saat mendengar klakson motor didekatnya. Setelah dilihat ternyata Nic pelakunya. "Nggak jantungan, kan? " Canda Nic. Merasa kesal Mika melanjutkan langkah menuju keluar area sekolah. "Marah? " Nic mengimbangi langkah Mika dengan mengendarai motornya pelan. Mika bukanya marah tetapi kesal. "Yuk, jalan." "Enggak. Aku balik sendiri. " Bukannya tidak suka dengan ajakan Nic. Mika hanya takut akan perasaannya pada cowok itu. "Padahal aku mau ngakak kamu makan. Aku punya dua voucher makan gratis di Big Chicken." Nic mengeluarkan dua voucher makan berwarna kuning dari dalam saku bajunya. Sebenarnya voucher makan itu dari Genta dan jumlahnya ada tiga. Genta ingin mengajak teman-temannya makan disana. Karena Genta mendadak mendapat telepon dari ibunya jika neneknya datang dari purwokerto, Genta disuruh cepat pulang. Bian sendiri harus pergi karena gebetannya ngambek minta diajak jalan. Nic sebenarnya tidak perduli jika voucher itu hangus. Beberapa saat kemudian ia teringat akan Mika. Gadis itu pasti senang kalau di ajak makan, apalagi makannya gratis. Melihat voucher makan gratis tentu saja membuat Mika tertarik. Apalagi yang mengajak Nic. Seharusnya Mika menghindari Nic untuk menjaga hatinya Tapi dia juga tidak memungkiri jika ia ingin dekat dengan Nic. "Oke." Mika tidak perduli jika Nic menganggapnya gadis yang suka barang gratisan. Untuk saat ini dia hanya ingin menuruti hatinya. Besok ketika karnaval telah usai, mungkin mereka akan menjadi asing. Jika perasaannya pada Nic adalah kesalahan. Biarlah menjadi kesalahan yang pernah ia buat karena menyukai Nicholas Prambudi. Perasaannya pun hanya akan menjadi rahasia. Dua Piring nasi dengan ayam goreng tepung jumbo tersaji diatas meja. Tak lupa dengan dua gelas es teh jumbo. Bau ayam goreng menguar sedap ingin segera di santap. "Mari makan... " Ajak Mika. "Sepertinya ada makanan selain mie yang kamu suka. " "Aku suka semua makanan. Di traktir teman kayak gini juga rejek. Jadi harus di syukuri." "Teman, " Kata Nic. Ada yang aneh saat mendengar Mika mengucapkan kata teman. "Ada yang salah? Bukankah kita teman satu kelas." Mika benar. Mereka hanya teman satu kelas. Sebelum ada tugas berpasangan saat karnaval, Nic tidak pernah menganggap Mika ada. Yang ia tahu mereka hanya teman sekelas. Berinteraksi pun tidak pernah. Namun seiring dengan kebersamaan mereka, Nic sadar jika gadis yang duduk didepannya kini sudah menarik perhatiannya. "Ya, kita teman sekelas." Nic akhirnya mengucapkan kalimat itu. Mika kembali menyantap makanannya. Dia sadar Nic sering melihat kearahnya. Mika sebiasa mungkin bersikap biasa meski jantungnya mulai berdetak nakal. Berusaha menikmati makanannya yang terasa aneh. "Itu ada... " Nic menunjuk wajah Mika. "Didekat bibir. " Mika mengelap bibirnya dengan tangan. "Masih ada." Mika yang akan mengelap mulutnya kembali seketika membeku saat tangan Nic yang sudah terulur di sudut bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD