Hari ini karnaval sekolah diadakan. Semua yang mengikuti karnaval sudah memakai baju yang ditentukan oleh sekolah masing-masing. Rombongan karnaval dari setiap sekolah atau umum berkumpul di sebuah taman kota. Start diawali dari sana dan berakhir di gedung olahraga.
Mika sudah memakai kostum adat Maluku. Penampilannya agak berbeda karena menggunakan make up. Hanya make up tipis yang di bantu oleh Mutia. Teman sekamarnya itu pandai bersolek. Berbeda dengan Mika kurang bisa.
"Kamu cantik. Nic pasti pangling saat lihat kamu, " Kata Mutia.
Mendengar hal itu, Mika memutar bola matanya. Kenapa bahasanya selalu Nic.
Mika sudah berkumpul dengan teman-teman sekelasnya yang lain namun dia belum melihat Nic.
"Sepertinya pasangan kamu belum datang." Suara itu menarik perhatian Mika. Dihadapannya berdiri seorang cowok yang memakai baju serba putih. Dilihat dari pakaiannya cowok itu masuk dalam pasukan paskibraka. Mika mengenal cowok itu. Cowok itu bernama Varo, anak kelas sebelah.
"Dia belum datang." Balas Mika. Sebenarnya Mika kurang suka dengan kedatangan Varo. Akhir-akhir ini Varo sering muncul dihadapannya. Menyapa Mika, mengajak ngobrol. Padahal mereka tidak saling kenal. Mika tahu cowok itu tetapi sepertinya Varo tidak mengenalnya. Siapa juga yang tidak tahu salah satu playboy di sekolah.
Mika hanya menanggapi Vero sekilas. Rasanya tidak nyaman ada Varo didekatnya.
"Bagaimana kalau dia tidak datang. "
Mika tidak suka ucapan Vero tetapi dia berusaha bersikap normal.
"Dia pasti datang. " Mika yakin Nic akan datang. Kalaupun tidak datang itu terserah Nic. Tapi jika diingat usaha mereka untuk mendapatkan baju adat, tidak mungkin Nic tidak ikut karnaval. Dan kalaupun benar-benar tidak datang Nic pasti akan mendapat hukuman dari sekolah.
Nic yang baru datang bersama Bian tiba-tiba menghentikan langkah.
"Kenapa Nic? " Tanya Bian yang juga ikut berhenti.
Nic menunjuk kearah Mika dan Varo dengan dagunya.
"Sepertinya ada udang di balik rempeyek." Bian ikut memperhatikan Vero dan Mika.
"Ngapain Mika sama Varo? "
"Mau pendekatan mungkin, " Jawab Bian asal yang tentu saja membuat Nic tidak suka.
"Bian... " Panggil seorang gadis yang memakai baju adat sulawesi Selatan.
"Pasangan aku datang. Aku tinggal dulu, ya, bro... " Bian menepuk pundak Nic pelan sebelum pergi.
Nic menghampiri Mika yang masih bersama Varo. Dahaman Nic yang cukup keras membuat Mika dan Varo menoleh kearahnya.
"Hai, Mika." Sapa Nic.
Nic terpaku sesaat saat melihat Mika. Gadis itu tampak berbeda dari biasanya. Cantik.
Melihat kedatangan Nic membuat Mika lega. Namun sebisa mungkin ia bersikap normal.
"Aku kira kamu nggak datang, " Kata Varo.
"Kalau aku nggak datang kenapa? Kamu mau gantiin? "
Varo tidak mengindahkan ucapan Nic dan pergi begitu saja.
Nic tidak tahu maksud Varo mendekati Mika. Bukan kali ini saja dia melihat cowok itu menghampiri Mika. Di sekolah beberapa kali Nic mendapati Varo yang menghampiri Mika.
"Tadi Varo ngomong apa sama kamu? "
"Nggak ngomong apa-apa. "
Jawaban Mika malah membuat Nic semakin kesal. Seharusnya gadis itu memberitahunya kenapa Varo mendatanginya.
Bu Dini datang dengan seorang guru laki-laki sambil membawa payung berwana putih. Bu Dini memberikan satu payung pada setiap pasangan. Setelah itu bu Dini mengajak murid-murid dari kelas Mika untuk foto bersama sebagai kenang-kenangan.
"Ayo kalian semua ambil barisan. Sebentar lagi kelompok SMA akan di berangkatkan." Perintah bu Dini dengan suara yang cukup keras.
Semua murid pun mengambil barisan. Tak lupa mencari pasangan mereka masing-masing.
***
Nic bagaikan artis sepanjang perjalanan karnaval. Banyak orang terutama para gadis yang memanggil namanya. Bahkan ada yang mendekat untuk mengajak Nic selfie namun pemuda itu menolak.
Mika pikir yang mengagumi Nic hanya gadis-gadis yang ada di sekolah mereka. Ternyata Mika mainya kurang jauh sampai tidak mengetahui hal itu. Mika pun memikirkan perasaannya. Gadis yang menyukai Nic sangatlah banyak. Wajah mereka pun cantik-cantik, menarik, dan pastinya gaul. Kalau di bandingkan denganya yang biasa saja, tidak menarik, serta kutu buku pastilah tidak ada apa-apanya. Tidak mungkin Nic yang sekarang ada di sampingnya, yang sedari tadi memegang payung menyukainya. Mika harus sadar diri dan meyakinkan hati jika semua yang dilakukan Nic padanya selama ini bukanlah rasa suka melainkan karena Nic memang orang yang baik dan perhatian. Mika harus membuang perasaan sukanya jauh-jauh sebelum bertambah parah.
"Kenapa? " Nic menangkap basah Mika yang memandangnya.
"Nggak apa-apa. " Mika mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Aku pasti ganteng banget makanya kamu lihatin aku terus," kata Nic setengah bercanda.
Mika mendengus.
Sepanjang perjalanan Nic banyak mengajak Mika mengobrol. Nic pandai membangun obrolan. Ada saja hal yang membuat Mika tersenyum dan tertawa. Mika suka saat ini. Dimana ia bisa dekat dengan Nic diantara banyak orang.
"Sini payungnya biar aku pegang. " Pinta Mika. Sejak awal keberangkatan Nic yang terus memegang payung.
"Biar aku aja. " Tolak Nic.
"Emangnya kamu nggak capek? "
"Megang payung gini aja capek. Ya nggak, lah." Padahal sebenarnya tangan Nic juga pegal.
"Beneran? "
"Iya."
Bian yang ada dibelakang Mika dan Nic memutar kedua bola mata. Perkataan teman baiknya yang tidak capek memegang payung itu omong kosong. Bian yakin benar tangan Nic pegal.
Bu Dini membagikan air minum pada para siswanya. Ada yang menerima ada juga yang tidak. Mika menerima botol minuman yang diberikan oleh gurunya sebab ia haus.
"Kamu nggak haus?" Tanya Mika karena Nic tidak mengambil minuman yang diberikan oleh gurunya.
"Enggak."
Perjalanan yang lumayan jauh ditambah dengan terik matahari yang cukup terang membuat Nic mulai kehausan.
"Aku boleh minta minumnya? " Tanya Nic setelah melihat Mika meneguk air dari botol minumnya.
Mika bingung menjawab sebab botol air yang ia pegang adalah bekas minumnya. Kalau masih baru dan bersegel tentu saja Mika akan memberikannya. "Tap-tapi... Air minum ini bekas aku."
"Memangnya kenapa kalau bekas kamu? "
"Kan, bekas. Bukan baru. "
"Bukanya kamu suka berbagi? Jadi nggak masalah, kan, kalau aku minta. "
Nic yang tidak mempermasalahkan botol bekas minumnya, jadi Mika memberikannya saja.
"Thanks." Nic langsung meminumnya.
Setelah sampai Finnish. Lebih tepatnya di gedung olah raga. Para murid banyak mencari tempat berteduh di bawah pohon yang tumbuh di sekitar gedung olahraga. Cuaca sangat sangat. Mika menunggu Mutia untuk pulang bersama. Ia juga sudah mengabari Mutia dimana posisinya sekarang.
"Mika." Panggil Varo yang berjalan menghampiri Mika.
Mika berharap yang datang adalah Mutia bukannya Varo.
"Kamu nggak balik? " Tanya Varo.
"Iya tapi masih nunggu teman." Timpal Mika.
"Siapa? Nic. "
"Bukan."
"Gimana kalau kamu pulang bareng sama aku? " Tawar Varo.
Mika tidak mau menerima tawaran Varo. Di sekolah Varo terkenal playboy. Ceweknya banyak dan juga suka tebar pesona.
"Makasih. Tapi aku nunggu teman aku." Balas Mika berusaha masih sopan padahal dia sudah malas meladeni Varo.
"Kita bisa nunggu teman kamu terus bilang ke dia kalau kamu pulang sama aku."
"Enggak. Makasih."
"Mika... " Panggil Mutia.
Mika lega saat melihat Mutia. Setidaknya ia bisa langsung pergi.
"Hai, Varo. " Sapa Mutia.
Mutia heran saat melihat Varo bersama Mika.
"Hai." Balas Varo singkat.
Mutia dan Varo adalah teman sekelas.
"Yuk, balik. " Ajak Mika.
"Jadi teman yang kamu tunggu itu Mutia? " Varo bertanya.
"Iya."
"Itu malah lebih bagus. Kamu bisa bilang ke Mutia kalau kamu pulang sama aku. "
Mika masih berusaha menakan kekesalannya. Cowok di depannya sungguh bebal. Sudah di tolak kenapa masih maksa.
"Aku sudah bilang, aku nggak mau pulang sama kamu."
"Kalau nggak mau kenapa harus maksa. " Terdengar suara yang amat dikenal Mika. Nic. Cowok itu sudah berdiri disebelahnya. "Kamu pastinya punya kuping dan dengar kalau Mika nolak kamu. "
Varo menatap tajam Nic.
"Mutia, Mika pulang sama aku, " Kata Nic seraya memegang tangan Mika kemudian menariknya pergi.
"Oke." Balas Mutia. "Hati-hati, ya... "
"Eh-eh...tap-tapi... " Seharusnya Mika menolak tapi anehnya dia malah pasrah saat tangannya di tarik oleh Nic.