Minggu ini Nic dan Mika janjian untuk mengembalikan baju adat ke toko penyewaan.
"Jadi habis ini kita kemana? " Tanya Nic sambil memasang helm.
"Pulang." Balas Mika yang juga memasang helm.
"Yakin mau pulang? Ini hari minggu Mika. "
"Apa hubungannya sama hari minggu?" Tanya Mika polos.
"Dari pada bengong di rumah."
Minggu ini Mika libur mengajar les. Pulang ke rumah orang tuanya pun malas karena capek. Kemarin setelah karnaval kakinya pegal karena berjalan cukup jauh.
"Kaki aku pegal. Mending pulang terus istirahat."
"Ketara banget nggak pernah olahraga." Sindir Nic.
"Pulang aja, ah. " Mika naik ke boncengan Nic.
"Jalan aja gimana? Pulangnya nanti aja."
"Kamu ngajak jalan aku sama aja dengan ngajak ngedate. "
"Emang aku ngajak kamu ngedate. "
"Hah? "
***
Mika berpikir jika Nic menyukainya namun di sisi lain dia juga berpikir jika cowok itu hanya bercanda. Tidak mungkin Nic menyukainya. Dia bukan Namia atau Michelle yang cantik serta menarik dari ujung kaki sampai ujung kepala. Mika berusaha sadar diri.
Nic membawa Mika ke Timezone. Disana mereka bermain sampai puas. Banyak permainan yang mereka mainkan. Senyum dan tawa tak terelakkan saat mereka bersama.
Setelah Timezone, Nic mengajak Mika ke bioskop. Itu kali pertama Mika ke bioskop. Nic menyuruh Mika menentukan film apa yang akan di tonton. Mika tidak tahu harus menonton film apa. Ada film horror, action, romance. Mika maunya nonton film comedy namun tidak ada. Mika tidak suka horror apalagi yang isinya hantu lokal. Action juga tidak suka karena isinya kebanyakan perkelahian. Jadi pilihannya jatuh pada romance.
"Nggak apa-apa lihat film romance? "
"Nggak apa-apa."
"Biasanya cowok nggak suka film romance. "
"Nggak juga. " Nic sebenarnya tidak suka romance karena alurnya yang termenye-menye. Tapi kali ini pengecualian sebab ia sedang bersama Mika.
"Berarti kamu suka film romance? "
"Enggak juga. Tergantung alur filmnya gimana. "
Mika mengangguk mengerti.
Sebelum masuk ke bioskop Nic memesan tiket untuk mereka. Memilih tempat di bagian tengah. Tak lupa membeli popcorn dan juga minuman.
Awal film mereka di suguhi kekocakan dua orang teman sekolah yang awalnya saling mebenci kemudian jatuh cinta. Setelah lulus SMA mereka berpisah karena mengejar pendidikan masing-masing. Si cowok kuliah di luar negeri sedangkan si cewek kuliah di Indonesia. Si cowok meminta agar si cewek agar menunggunya karena dia akan kembali menemuinya. Namun setelah hampir delapan tahun menunggu si cewek akhirnya tahu jika si cowok telah meninggal.
Mika sampai menangis karena film itu.
"Aku ngga mau lihat film romance lagi, " Kata Mika setelah keluar dari ruang teater.
"Kenapa? " Tanya Nic yang ada disebelahnya.
"Takut sad ending. Poster filmnya manis banget tapi ujung-ujungnya di pisahin sama takdir. Kasihan banget sama ceweknya. Apalagi pas dia tau si cowok udah meninggal."
"Masih mau nangis lagi?"
Mika menggelengkan kepala. "Aku benci sad ending. " Lanjut Mika.
"Ya udah lain kali kita lihat film komedi aja biar ketawa terus. " Nic menenangkan. "Yuk, cari makan. Aku laper."
Mika mengangguk karena dia juga lapar.
Mika dan Nic pergi ke restoran yang ada di lantai dua mall.
"Kamu pesan apa? " Tanya Nic.
Mika memandang papan menu yang ada di salah satu otlet saat mengantri.
"Nasi goreng sama lemon tea, " Jawab Mika.
"Nasi goreng biasa atau nasi goreng seafood? "
"Biasa aja. "
"Seafood aja, ya? " Tawar Nic.
"Aku alergi seafood. "
"Kamu alergi seafood? "
"Iya." Bohong Mika. Padahal alasan Mika menolak tawaran Nic karena harganya yang lebih mahal. Mika memang suka barang gratisan ataupun di traktir. Meski begitu Mika masih tahu batasan dalam meminta suatu barang. Tidak pantas jika sudah di traktir tapi malah memilih barang yang lebih mahal.
Dari mall Nic mengajak Mika ke taman kota. Disana ada teman-teman Nic yang sedang berlatih basket.
"Cewek kamu? " Tanya salah seorang teman Nic saat Nic menghampirinya di pinggir lapangan.
Nic menoleh kearah Mika yang duduk di undakan tangga tidak jauh darinya.
"Manis juga. "
"Jangan di gangguin. " Nic memperingatkan.
Teman Nic tertawa mendengarnya. Ini pertama kalinya Nic datang dengan seorang gadis. Nic kemudian kembali menghampiri Mika lalu duduk di sebelah gadis itu.
"Nggak ikut main? " Tanya Mika.
"Nanti."
"Aku pikir yang main basket itu teman-teman kamu di sekolah. "
"Enggak. Mereka itu teman-teman aku di luar Sekolah."
"Oh."
Mika melihat kearah lapangan basket. Tampak teman-teman Nic sedang bertanding. Rata-rata dari mereka tingginya sama seperti Nic. Sekitar 175 sampai 180 cm.
Jika Mika melihat kearah lapangan, berbeda dengan Nic yang malah memandang Mika. Dan Mika sadar akan hal itu.
"Wajah aku bisa bolong kalau kamu pandangin terus, " Ujar Mika tanpa menoleh.
Nic tersenyum lalu pandangannya beralih ke lapangan. "Ketauan, ya. "
Mika menoleh kearah Nic memandang wajah tampan cowok itu dari samping. Tak lama Nic pun menoleh dan pandangan mereka bertemu.
"Nic... " Panggil seseorang dari tengah lapangan.
Nic maupun Mika menoleh ke tengah lapangan.
"Ayo main."
Nic mengangguk sebagai persetujuan.. "Aku kesana dulu." Pamit Nic.
"Oh, oke."
Setelah Nic pergi Mika menghembuskan nafas dari mulut. Bertatapan dengan Nic sangat menganggu kinerja jantungnya.
Dari tempat duduknya Mika memperhatikan Nic yang memainkan bola basket bersama teman-temannya. Nic sangat hebat dalam memainkan bola bundar itu. Mendrible, shooting yang tepat sasaran, serta merebut bola dari lawan. Mika pun sampai bertepuk tangan saat Nic berhasil memasukkan bola berulang kali.
Mika yang tadinya senang karena Nic berhasil mencetak beberapa poin dibuat terkejut karena kehadiran seseorang yang kini duduk disebelahnya.
"Hai, " Sapa Varo.
"Hai, " Balas Mika yang masih tampak terkejut.
"Kaget, ya, lihat aku disini? "
"Iya."
"Aku juga kaget pas lihat kamu disini sama Nic. Apa kalian pacaran? "
"Apa? " Pertanyaan Varo tentu saja mengagetkan Mika.
"Semoga tebakanku salah." Varo tersenyum. "Kalau kamu dan Nic nggak ada hubungan, aku boleh kan duluan? "
"Mika mengernyitkan dahi. " Maksudnya? "
"Aku suka sama kamu. "
Pengakuan yang tentu saja membuat Mika terkejut luar biasa.
Dari tengah lapangan Nic memperhatikan keduanya. Dia tidak suka Varo yang mendekati Mika.
***
"Si Varo kayaknya deketin Mika, " Kata Nic saat berkumpul bersama teman-temannya.
"Kamu cemburu? " Tanya Bian yang tangannya mengotak atik rubrik.
"Si Varo pasti suka sama Mika. " Sambung Genta.
Nic tidak suka mendengar kalimat Genta.
"Kemungkinannya cuma dua." Bian meletakkan rubiknya diatas meja.
"Apa? " Genta ingin tahu. Begitu juga dengan Nic.
"Yang pertama Varo mendekati Mika karena dia benci sama kamu." Pandangan Bian tertuju pada Nic. "Kita semua tau Varo nggak suka sama Nic dan menganggap Nic adalah saingan. Cewek yang kebanyakan didekati Varo semuanya menyukai Nic. Kemungkaran Varo mendekati Mika hanya untuk membuat Nic kesal. Varo penasaran sama Mika karena Nic menyukainya."
"Terus yang kedua? " Genta ingin tau kemungkinan kedua."
"Varo benar-benar menyukai Mika. Tapi kayaknya nggak mungkin. Aku lebih yakin sama kemungkinan yang pertama."
Nic juga sependapat.
"Kalau Mika suka sama Varo gimana? " Tanya Genta.
"Pastinya ada yang cemburu." Bian dan Genta tertawa.
"Varo deketin Mika terus." Ucap Nic. "Pas aku tanya Varo ngomong apa sama dia. Mika selalu bilang nggak ngomong apa-apa. "
"Kalau Mika ngomong kayak gitu berarti Varo nggak penting buat dia. " Genta menyimpulkan.
"Kemungkinan Mika juga suka sama kamu. " Terang Bian. "Aku bisa lihat kamu suka sama Mika. Dari kedekatan kalian aja udah jelas kelihatan. Iya, kan, Genta? " Bian mencari dukungan.
"Yoi, bro."
Semakin hari Mika dan Nic bertambah dekat. Mereka tak ragu berjalan berdua di Koridor sekolah, makan di meja yang sama di kantin sekolah, duduk semeja waktu mengerjakan tugas di kelas saat jam istirahat, pergi ke perpustakaan berdua, pulang bersama, bahkan Nic menjemput Mika di asrama untuk berangkat sekolah bersama.
"Kalau kamu suka sama Mika mending tembak aja. " Saran Bian. "Daripada nanti keduluan sama Varo."
"Bian bener, bro." Genta sepakat dengan Bian.
Nic hanya diam tak memberi jawaban.
***
Semakin hari Varo lebih berani mendekati Mika sampai menghampiri Mika ke kelasnya. Tentu saja hal itu membuat Nic kesal.
Mika sendiri tidak suka dengan Varo yang mendekatinya. Apalagi setelah cowok itu mengutarakan perasaannya.
Varo memang tidak meminta jawaban langsung tetapi Mika sudah memberi jawaban jika ia menolak cowok itu. Bukan merasa sok cantik atau kepedean karena menolak Varo. Satu sekolah juga tahu bagaimana track record seorang Varo.
Nic memikirkan perkataan Bian jika lebih baik ia mengatakan perasaannya pada Mika. Di tolak ataupun di Terima itu adalah resiko daripada setiap hari dia dibuat uring uring-uringan dengan melakukan Varo yang terus mendekati Mika.
"Mika." Panggil Nic setelah Mika turun dari motor.
"Ya? " Jawab Mika.
Siang itu Nic mengantarkan Mika pulang ke asrama.
"Besok temui aku di perpustakaan. Ada yang mau omongin sama kamu. "
"Iya."
Sebelum pergi Nic mengelus kepala Mika sambil tersenyum. Perbuatan sederhana itu langsung mebuat Mika membeku.
"Aku balik dulu, ya. " Pamit Nic.
"I-iya. Hati-hati. "
Nic menarik tuas motornya. Berjalan semakin menjauhi Mika. Mika memandang kepergian Nic hingga sosok itu hilang dari pandangannya.