Kami bertiga membalik badan, melihat Fajar yang sedang berlari ke arah kami. Aneh, tidak biasanya dia memanggil Berly, biasanya memanggil aku saja. Ada apa dia memanggil temanku?
“Ada apa, Jar? Tumben banget lo manggil gue, biasanya cuma manggil si Jesika,” kata Berly. “Lo nggak lagi naksir sama gue, kan? Soalnya gue masih suka sama si Gibran. Kalau mau, ngantri aja dulu!”
Fajar sedang mengatur napasnya, “Siapa yang naksir sama lo? Gue mau bilang lo hati-hati, ya! Walaupun gue nggak percaya kutukan itu nyata, tetep aja gue takut kalau lo celaka. Walaupun mulut lo kadang nyebelin, tetep aja kita temenan udah lama. Pokoknya kalau ada hal yang mengganggu di luar sana, panggil gue aja, ya?”
Sebentar, kutukan apa yang Fajar bicarakan? Sepertinya aku ketinggalan berita di sekolah hari ini, biasanya rumor cepat beredar di SMA Angkasa. “Bentar, maksudnya kutukan itu apa, ya?”
“Jesika, lo kudet banget, sih!” sahut Vina. “Tadi Siska si Nenek Lampir berantem sama Berly—“
Aku yang geram dengan Berly langsung memotong Vina, “Aduh Berly! Lo cari gara-gara aja, deh! Udah dibilang kalau sama dia cari aman aja. Udah tau mulut dia itu super lemes. Lo nggak ada yang kenapa-kenapa, kan?”
“Ya maaf, habisnya dia ngeselin banget, Jes! Mata gue sampai perih karena dia cipratin kuah bakso pedes!” kilah Berly. Dia terlihat murung sekarang, mungkin karena perdebatan tadi. Siska bukan siswa yang sekali masalah langsung selesai, pasti ada beberapa kejadian lain yang akan mengancam Berly.
“Intinya kalau ada masalah di jalan, kabari gue, Ber! Kalau gue bisa, pasti gue tolong,” sambung Fajar. Dia mengusap bahu Berly dengan pelan. “Gue balik duluan, ya! Bye!”
Aku langsung menggandeng tangan Berly serta Vina untuk segera ke warung Mpo Rodiyah. Mereka harus menjelaskan secara terperinci tentang kejadian yang sebenarnya. Bisa-bisanya mereka berdua tidak cerita padahal hari ini aku bersama mereka terus.
Kini kami sudah di warung Mpo Rodiyah yang terletak sekitar 250 meter dari sekolah. Berly dan Vina sudah duduk sedangkan aku masih berjalan sambil membawa pesanan mereka, es blender yang dicampur oreo dan boba.
“Jadi, bagaimana ceritanya? Kenapa kalian bisa bertengkar begitu, sih?” tanyaku yang mulai penasaran. Berly meminum es yang sudah tersedia, lalu menatapku dan Vina bergantian. Mereka tidak ada yang berani berbicara, saling menatap satu sama lain. Aku semakin geram. “Ceritain, Ber! Gue penasaran dan geram juga sama si Nenek lampir itu!”
Berly menarik napas panjang sebelum bercerita. “Tadi itu gue lagi liatin Gibran sama yang lainnya makan.”
Berly menghentikan omongannya. Semakin geram saja mendengar ceritanya yang tidak lengkap. “Ceritain yang lengkap!” tegasku.
“Terus Siska dateng marah-marah. Dia nggak suka kalau gue ngeliatin Gibra. Padahal, dia bukan siapa-siapanya Gibran juga, kan? Ya, gue bantah terus omongan dia. Terus mungkin dia kesel karena gue ngelawan melulu. Mata gue sampe kena cipratan kuah bakso gara-gara dia mukul meja.”
Lagi-lagi dia berhenti berbicara. Berly menatap Vina sebentar, lalu kembali menatapku. “Terus ya gue ikut marah juga, gue siram dia pakai air mineral. Terus gue kata-katain aja dia sampai makin kesel.”
Aku menyilangkan tangan di d**a dan menatapnya dengan tajam. “Kemudian? Apa yang terjadi setelah lo kata-katain dia?”
“Terus gue ditampar sama dia. Tangan gue dipegangin sama temen-temennya, abis itu gue sukses dibuat malu sama dia. Ya, gue nggak terima, gue lawan lagi dia sama omongan gue yang pedes. Sialnya, Siska bilang kalau gue akan mampus sebentar lagi. Walaupun gue nggak percaya kutukan, tetep aja rumor yang beredar membuat gue takut. Gue masih inget banget kejadian Andi yang mati karena dikutuk Kevin. Bagaimana kalau selanjutnya gue?”
Vina menatapku dengan tatapan sendu, aku juga bingung menanggapinya. Akhirnya, kami hanya bisa memeluknya, menyalurkan kehangatan untuk Berly merasa lebih tenang. “Kalau bisa lo langsung pulang aja sekarang, izin aja nggak perlu kerja. Kalau sampai lo kerja malem, gue takut kenapa-kenapa, Ber.”
“Nggak bisa, Vin! Gue udah izin tiga hari kemarin lantaran tugas dari Bu Dio,” sanggah Berly. “Kalau gue nambah izin lagi, bisa-bisa gue dipecat. Surat peringatan udah keluar dua kali, ketiga kalinya itu surat pemecatan.”
Benar, Berly mengerjakan projek yang Bu Dio perintahkan untuk membuat simulasi pompa hidrolik, bersamaku dan Vina juga waktu itu. Kami sampai menginap bersama tiga malam berturut-turut. Aku sudah menyuruhnya untuk kerja saja, tetapi dia menolak.
“Ya sudah, mudah-mudahan tidak ada masalah apa-apa nanti,” kataku untuk menenagkan Berly, dia semakin sendu. Aku jadi bingung bagaimana harus menyikapinya.
“Iya, Ber! Mana Berly yang ceria? Biasanya kalau ada masalah, lo selalu bilang gue akan baik-baik aja!” sahut Vina.
Berly tersenyum tipis. “Iya, gue akan baik-baik aja. Terima kasih udah nenangin gue.”
Setelah beberapa obrolan kecil yang kami lakukan, aku menyadari kalau ada beberapa orang yang memasuki warung Mpo Rodiyah juga.
“Ber, ada Gibran!” kata Vina. Sontak aku ikut menoleh. Bukan karena aku juga naksir dengan Gibran, melainkan pada temannya yang lain. Mereka, kan, cowok-cowok ganteng. Apalagi Samuel. Aduh, aku kelepasan. Tidak apa-apa, Samuel juga bukan orang yang aku incar banget kok. Aku hanya kagum saja, dan cinta padanya.
“Gila! Makin hari makin ganteng aja dia, minum pil apa, sih, sampai ganteng banget?” tanya Berly dengan tatapan memuja ke Gibran. “Kalau gue jadi istrinya, bisa diabetes dadakan ditambah nggak bisa napas setiap hari. Ganteng dan manisnya itu buat gue meleleh melulu.”
“Pil KB!” sahutku tidak peduli. Ada-ada saja menggunakan pil. Mereka tampan itu anugerah dari Tuhan, bukan buatan. Kalau saja Samuel tahu aku tertarik padanya, mungkin dia akan merasa tidak enak, karena harus berhubungan dengan perempuan kutu buku.
“Sayang dia nggak pernah peka sama kehadiran gue, padahal gue siap terima pernyataan cintanya.” Aku dan Vina langsung tertawa mendengar perkataan Berly yang sangat berharap. Kadang-kadang kasihan kalau melihat perjuangan Berly mengejar cowok satu itu. Rasanya aku ingin sekali berteriak di depan wajahnya agar dia tersadar.
“Mimpi, Bu? Mending bangun, dari pada jatuh waktu udah tinggi banget!” ejek Vina. Sontak saja Berly langsung memajukan bibir bawahnya.
“Kalau lo yang cinta banget, kenapa nggak lo aja yang nyatain cinta lo ke dia?” tanyaku. “Lo cantik, pinter juga, jago dalam beberapa hal, tegas, nggak terlalu manja juga, Gibran pasti ....” Aku belum melanjutkan omonganku, Vina sudah menutup mulutku dengan tangannya yang basah karena es. Aku baru sadar kalau omonganku terlalu keras, padahal warung ini sedang sepi.
Benar saja, Gibran langsung menoleh ke arahku yang baru saja membicarakannya. Bukan hanya Gibran, ketiga temannya yang lain pun ikut menoleh. Aduh, dia malah datang sekarang. Gawat, Berly bisa serangan jantung, nih.
“Santai, jangan kayak cacing kepanasan, Ber!” tegurku berbisik. Sementara Vina langsung menahan tawanya.
Setelah Gibran datang, dia mulai berdiri di belakangku dan menghadap ke Berly. “Tadi ada yang nyebut nama gue, kenapa?” tanya Gibran dengan nadanya yang lembut. Senyumannya pasti bisa membuat Berly semakin tak berdaya. Gawat, bisa-bisa Berly menunjukkan sikap perempuan yang meleleh karena ditatap, disenyumi, dan diajak berbicara dengan pujaan hatinya.
“Oh, tadi Jesika bilang lo cowok paling ganteng di sekolah. Iya kan, Jes?” jawab Vina seadanya. Tiba-tiba Marko langsung duduk di sampingku. Mengapa suasananya menjadi ramai? Dasar mulut ember! Kalau saja aku tidak berbicara keras-keras, mungkin mereka semua tidak akan datang ke sini.
“I-iya, begitu ...,” jawabku kikuk. Habisnya aku bingung mau jawab jujur atau bohong. Kalau jujur, pasti Berly akan malu, kalaupun berbohong, itu kan bukan hal yang baik.
“Boleh gue duduk di samping lo?” tanya Gibran ke Berly. Astaga, Berly terlihat seperti anak kecil yang kaget karena melihat monster. Mulutnya menganga dan matanya membulat. Vina langsung menyenggol lengan Berly agar mengubah cara pandangnya. “Boleh, silakan.”
Hal yang terjadi selanjutnya adalah Samuel berjalan ke arah kami, lalu mengambil posisi diantara aku dan Marko. Telapak tanganku langsung berkeringat, degup jantung juga semakin cepat. Aku tidak berani menatap ke depan, samping, atau atas. Karena di sampingku ada Samuel yang ganteng, dan tidak mungkin ke atas, memangnya aku sedang berdoa. Wangi parfum Samuel langsung terhirup oleh hidungku. Rasanya aku ingin berpindah tempat saja.
“Kalian sering ke sini saat pulang sekolah?” tanya Marko, cowok yang lumayan ganteng. Aku baru pertama kali melihatnya tersenyum, memang benar kata anak cewek yang bergosip di kamar mandi, manis sekali senyumnya. “Kayaknya kami jarang ketemu kalian kalau di sini.”
“Kami sering ke sini kalau pulang sekolah, tetapi nunggu sekolah sepi dan warung ini sepi juga,” jawab Vina dengan semangat. “Soalnya kami nggak punya tempat nongkrong pribadi seperti kalian.”
Mereka berempat mulai memandang satu sama lain. Sepertinya ada yang aneh, mengapa mereka seperti kebingungan? Omong-omong, tempat nongkrong pribadi yang Vina maksud aku juga tidak tahu. Yah, Vina, kan, memang cewek paling mengerti di sekolah, wajar saja dia mengetaui hal yang tidak orang lain ketahui.
“Maksudnya tempat ganti baju klub basket?” tanya Gibran yang omong-omong semakin menempel ke Berly.
“Bukan! Ruang ekskul klub basket!” jawab Vina setengah berteriak.
Aku memandang Vina dengan tatapan tidak mengerti. Maksudku, ruang itu, bahkan gedung ekstra kurikuler itu tidak pernah ramai kalau sedang sekolah. Mungkin ramai jika ada yang ingin mengikuti lomba. Mengapa dia sampai berpikir ke tempat itu?
“Kok, lo tahu kami sering nongkrong di situ?” tanya Willy dengan suara yang dingin dan terkesan kejam. Bisa dibilang sifat aku mirip dengannya, tetapi mungkin aku bisa lebih ramah kepada orang yang baik. “Lo nggak mantau kami dari CCTV, kan?”
“Tahu, dong! Apa sih yang Vina nggak tahu dari sekolah ini? Kalian sering nongkrong di toilet gedung basket juga gue tahu,” sahut Vina sedikit pongah. Walau memang benar dia tahu banyak hal di sekolah, tetapi tidak seharusnya dia sombong. “Makanya jangan pernah rahasia-rahasiaan sama gue. Kalau kalian ada masalah, bisa gue aduin ke guru kalau kalian nyembunyiin banyak rahasia!”
“Lho, kenapa jadi ngancam kami? Perasaan tadi nggak ada masalah. Kami ngobrol santai aja, kan?” tanya Marko yang mulai tersulut emosi.
“Ya, lagian, si Willy nanya ke gue kayak orang mau bunuh aja. Suara rendah sambil natap gue dengan matanya yang menyipit begitu!” sahut Vina.
Bisa jadi Vina ketakutan, karena Willy memang lumayan menyeramkan. Dia pendiam, tetapi akan menyakitkan hati orang kalau sudah berbicara. Walaupun aku jarang berbicara dengannya, tetapi kami pernah satu ruangan bersama dalam berlatih olimpiade. Aku akui kalau dia memang pintar.
“Ber!” panggil Marko. Berly langsung menoleh menatapnya. “Jangan gerogi gitu deket Gibran, bukannya lo naksir berat sama Gibran?” Gibran langsung menoyor kepala Marko yang berbicara seperti itu. Kami hanya tertawa melihatnya.
Makanya deketin dong temen lo sama temen gue!” sahut Vina.
“Buat apa dideketin? Mereka aja udah samping-sampingan sekarang,” sahut Samuel. Astaga, aku semakin meleleh mendengar suaranya yang berat dan serak-serek becek seperti tadi.
“Permisi, aku ingin pulang ....” Berly menarik tasnya dan menyampirkan ke punggung.
Aku sampai lupa memerhatikan Berly yang semakin canggung di samping Gibran. Dari tempatku sekarang, keringat Berly mulai terlihat dan hampir memenuhi dahi dan tangannya. Dasar Berly, baru duduk di samping Gibran saja sudah seperti manusia yang pengin bertemu kematian.
“Yah, kok pulang, Ber? Baru sebentar kita ngobrol,” sahut Marko dengan wajah memelas. “Kalau minuman lo udah abis, minum punya gue aja. Masih banyak, nih! Nanti aja baliknya.”
“Boleh gue antar?” tanya Gibran dengan nada halus. Kalau aku jadi Berly, aku akan mengangguk dan meloncat kegirangan. Habisnya, jarang sekali seorang Gibran memboncengi cewek.
“Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri. Aku juga harus ke tempat kerja,” jawabnya.
Aduh! Seharusnya dia setuju untuk diantar. Berly seharusnya memanfaatkan hal itu sebagai ajang pendekatan dengan sang Idolanya. Kalau aku jadi Berly, mungkin aku akan menyetujuinya.
“Lo kerja di mana? Biar gue antar aja, sudah sore nanti telat kerja, loh,” sahut Gibran. “Lo nggak mau telat kerja, kan? Lagian nebeng sama gue nggak harus bayar, kok! Lo tinggal duduk di belakang gue, terus berdoa agar selamat sampai tujuan.”
Wajah Berly berubah semakin merah seperti kepiting rebus. Dilihat-lihat, sepertinya Gibran juga punya perasaan dengan Berly. Tidak mungkin baik sampai ingin mengantar pulang seorang cewek, kan? Apalagi ini pertama kalinya ia memboncengi cewek—seingatku.
“Ayo! Kita harus buru-buru!” Gibran menarik tangan Berly agar menjauh dari kami semua. Aku melihat wajah Berly yang semakin beloon ketika kaget. Kami semua sampai tertawa.
“Dasar Berly, gitu aja dia ketakutan. Pasti dia lagi malu banget sama Gibran,” kata Vina. “Ngomong-ngomong, si Gibran udah pergi. Kalian nggak ikutan pergi juga?”
“Kita semua juga mau pamit, kalian jaga diri, ya!” kata Marko. Mereka berdiri dan meninggalkan kami. Samuel sempat menoleh menatapku, lalu berjalan kembali meninggalkan warung.
Yah, aku jadi kehilangan Samuel sekarang. Mereka semua meninggalkan aku dan Vina yang masih setia dengan minuman segar di depan kami. Seharusnya tadi aku meminta nomor WA dia, atau setidaknya minta follow back IG aku.
“Gue juga mau ke ruang OSIS, ada hal yang harus gue lakukan! Dah, Jes!” kata Vina sambil berjalan menjauhiku.
“Dah!”
Sekarang tinggal aku sendiri. Aku juga ingin balik, dari pada harus berdiam diri sendirian. Bisa dibilang gila nanti. Baru saja berdiri, getaran ponsel membuatku duduk kembali. Akhirnya aku buka terlebih dahulu, barangkali penting.
Samlazuardi started following you!