Kutukan Baru

2017 Words
Jangan menilai suatu hal hanya dari sampulnya. Hanya itu yang bisa aku ucapkan jika bertemu dengan orang lain. Bukannya aku orang yang tidak melihat tampang, tetapi tampang bisa berubah kapan saja, isi hati yang tidak bisa berubah. Jika orang itu berkata tidak suka, mungkin dia tidak akan suka pada hal itu, kecuali dia berubah pikiran. Kebanyakan siswa yang memasuki SMA Angkasa sudah termakan omongan gosip palsu yang memperindah reputasi SMA itu. Walau banyak juga kebenaran yang terjadi—kemenangan olimpiade astronomi, olimpiade geografi, debat, dan hampir semua cabang olahraga yang ada di SMA Angkasa—tetap saja yang namanya gosip pasti berlebihan. Pada akhirnya, semuanya terbongkar setelah kami memasuki sekolah yang katanya keren. Kenyataannya tidak lebih dari sekolah yang berisikan banyak murid-murid nakal yang hobi menjahili guru BK atau guru piket untuk bolos pelajaran. Bayangkan saja, banyak sekali murid yang tidak sopan untuk berteriak dan mengatakan hal seperti, “Dasar guru jahil, orang lagi nongkrong malah diganggu! Kayak nggak pernah muda aja!” Halo? Apa ada psikiater di sekitarku kali ini? Rasanya mereka memang harus dibawah ke tempat itu, pasti ada organ tubuhnya yang bergeser. Mereka itu guru, orang yang seharusnya dihormati, disanjung, dicontoh, bukannya malah diledeki dan dijahati seperti itu. Namun, sudahlah, tidak akan mungkin mereka mengerti apa yang diucapkan oleh aku seorang siswi culun. Sekolah ini terletak di pinggiran kota yang masih jarang sekali rumah. Bangunannya yang sudah tua dan tidak pernah direnovasi membuatnya tampak lebih mirip seperti bangunan tak berpenghuni. Aku heran, kemana perginya biaya kebersihan kami yang selama ini ditarik sejumlah seratus ribu per bulan sampai-sampai rumput di belakang sekolah bisa setinggi pinggangku? Kalau ada penarikan biaya kebersihan, seharusnya tidak perlu ada piket kelas, tidak kotor juga lingkungan sekolahnya. Yah, itu juga salah satu buruknya sekolahku. Pasti uang itu dikorupsi. Jangan tanya padaku siapa yang mengorupsi, berhubungan dengan guru di sekolah ini saja rasanya aku enggan. Biarlah mereka yang menanggung dosa, nanti juga akan kena akibatnya sendiri. Walaupun tampang sekolah ini jelek, tetap saja biaya per bulannya tidak akan mampu aku bayar sendiri. Banyak teman-temanku yang berusaha masuk ke sana walaupun orangtuanya banting tulang sampai memakan nasi dengan garam agar bisa membayar uang bulanan. Semua itu mereka lakukan karena sekolah ini banyak menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan besar. Banyak alumni yang kerja di salah satu perusahaan itu karena memiliki kemampuan yang bagus. Oleh karena itu, mereka semua berharap bisa bekerja juga di salah satu perusahaan yang menjalin kerja sama. Padahal perusahaan juga pasti melihat prestasi dan nilai akademik, bagaimana mereka akan dipilih kalau terlalu sering bolos dan menyontek? Kalau soal ilmu pengetahuan, guru di sana memang paling keren menurutku. Cara mengajar mereka membuatku senang berada di kelas, kecuali Pak Gani, guru BK kami. Pak Gani tidak akan segan-segan melempar siswa yang tidak menurut padanya dengan rotan yang selalu ia bawa. Apalagi kalau ada murid bodoh dan nakal, pasti akan menjadi target utama Pak Gani. Kalau kata beliau, “Nakal sedikit boleh, tapi harus pintar juga! Kalau udah malas dan bodoh, itu kayak paket lengkap! Jangan pernah harap kamu bisa sukses kalau malas tapi bodoh! Berusaha, setidaknya kamu bisa melakukan satu hal yang berguna.” Untung saja aku pintar, aku tidak perlu takut jika berhadapan dengannya. Walaupun pernah sekali aku bertemu dengannya di ruang guru, justru Pak Gani yang kikuk. Mungkin karena wajahku yang kelewat dingin. Yah, hanya kepintaran saja yang bisa aku banggakan dari sekian banyak partikel di tubuh. Bukannya aku tidak mau membanggakan yang lainnya, tetapi aku sedikit takut kalau terlalu membanggakan, bisa jadi sombong. Wajahku tidak terlalu cantik, walau senyumku terlihat manis. Itu juga omongan beberapa teman lama yang berhasil melihatku tersenyum. Akibat wajah yang selalu datar, banyak siswa yang gagal paham dalam membaca suasana hatiku. Sebenarnya merupakan suatu keuntungan, aku tidak perlu khawatir mereka melihatku senang, sedih, bahagia, haru, atau semacamnya. Pasti repot kalau ada orang yang berpura-pura peduli jika aku terlihat sedih. Omong-omong, namaku Jesika. Orang-orang memanggilku dengan sebutan Jes, Ika, atau nama panggilan yang disebut beberapa cowok nakal, Jes si Kutu buku. Aduh, aku sudah malas kalau berhubungan dengan mereka semua, sepertinya ingin sekali menggorok leher mereka dengan apa pun asal tidak bisa melihatnya lagi di dunia. Bukannya aku terlalu kejam, justru mereka yang terlalu jahat. Semua murid di SMA Angkasa menjuluki aku sebagai cewek kutu buku. Itu semua memang benar, karena aku lebih senang membaca buku dibanding berbicara dengan orang lain. Bukannya aku tidak senang berteman, aku hanya menjaga jarak dari siswa lainnya. Menurutku kebanyakan dari mereka terlihat jahat ketika sedang berteman. Jika ketahuan sekali saja menikung, pasti akan dikucilkan oleh satu sekolahan. Makanya aku lebih senang ke perpustakaan, menyendiri, dan menikmati buku bacaan. Bukan berarti aku tidak memiliki teman. Aku memiliki dua teman dekat, Vina dan Berly. Vina adalah temanku dari awal MOS. Kami bertemu ketika sama-sama terlambat dan mendapatkan hukuman yang sama. Untung saja aku berteman dengan Vina yang menjadi anggota OSIS, karena kalau tidak, aku tidak akan pernah dikenal oleh siswa lain. Siapa yang mau berteman dengan siswa kutu buku dan tidak bisa dibanggakan dari segi apa pun seperti aku? Pasti namaku langsung mereka coret setelah mengetahui kalau itu adalah daftar orang yang harus menjadi teman mereka. Kalau dari cara biacaranya, Vina terlihat seperti orang yang ceria. Kepintarannya memikat hati teman sekelas membuat aku juga kecipratan keuntungan juga. Mereka semua bisa mengenalku tanpa perlu aku memperkenalkan diri. Hal yang paling menarik di diri Vina hanyalah sikapnya. Wajahnya biasa saja, sama dengan manusia lainnya yang memiliki hidung dengan dua lubang, dua bola mata, satu bibir disertai gigi di dalamnya. Walaupun lubang hidung Vina besar sebelah, itu bukan masalah untuk diperdebatkan kalau dia manusia atau bukan, kan? Vina sudah tidak jomblo lagi, sebelumnya jomblo sepertiku. Sekarang dia memiliki pacar yang bernama Riko, cowok dengan tampang paling ganteng se-SMA Angkasa (menurut riset anak mading). Walaupun begitu, Vina bukanlah cewek paling cantik se-SMA Angkasa, bahkan Vina bisa dibilang biasa saja (justru menurutku aku lebih cantik). Yah, namanya juga cinta, bisa merubah rasa kotoran ayam menjadi sebatang coklat yang manis. Temanku yang berikutnya adalah Berly. Nah, kalau Berly ini boleh dibilang cewek paling cantik di sekolah. Kulit putihnya yang selalu dia padukan dengan blush on merah tipis membuatnya seperti bule-bule yang terkena terik matahari. Bando hitam yang selalu menahan poninya adalah ciri khas dari seorang Berly. Satu lagi yang menjadi ciri khas seorang Berly, dia tidak suka menggunakan benda berwarna cerah seperti peach, merah muda, biru muda, dan warna-warna yang mirip dengan itu. Agak heran kalau seorang Berly yang cantik tidak memiliki pacar sampai kelas XII, tetapi memang itu kenyataannya. Berly masih memasang status jomblo di WA, sama seperti aku. Awalnya dia enggan memasang status jomblo, dia lebih memilih kata single di statusnya. Karena menurutnya jomblo itu nasib, single itu prinsip. Menurutku keduanya sama saja, sama-sama tidak memiliki pacar! Sekarang aku sedang menikmati buku bacaan sebelum pulang ke rumah. Sebenarnya bukan alasan tiada hari esok yang aku gunakan, aku hanya tidak ingin berada dalam kegaduhan siswa yang pulang sekolah. Satpam sekolah ini kan terlalu pelit membuka pagar. Bayangkan saja, hampir seribu siswa keluar sekolah dalam waktu bersamaan dan gerbang hanya dibuka paling-paling cukup untuk dua orang yang berjalan bersamaan. Hal itu kan justru menghambat dan membuat keributan saling dorong dan saling tabok. Jadi, dari pada menjadi salah satu dari mereka, lebih baik aku membaca buku di perpustakaan. Omong-omong di dekatku ada Vina dan Berly, mereka sedang bertingkah aneh sekarang. Biasanya mereka akan langsung keluar dan menunggu di warung Mpo Rodiyah, mengapa mereka di perpustakaan sekarang? Sudah begitu tatapannya seperti cewek yang sedang menjahili aku. “Kenapa, sih?” tanyaku dengan sedikit berbisik, aku tidak lupa kalau sedang berada di perpustakaan. Mereka berdua malah tertawa dengan suara tertahan. “Lo kayak nggak pernah lihat gue baca buku di perpustakaan aja, sih? Ngeliatinnya kayak ngeliat ratu yang sedang menyendiri aja.” “Idih! Pede banget lo kayak ratu! Dilihat-lihat juga lebih cocok jadi pengurus perpus yang culu!” tukas Vina dengan gaya yang berbisik. Wajar saja, kami sedang berada di perpustakaan, tidak boleh berisik. “Jes, lo semakin hebat dalam membaca buku!” kata Berly yang berusaha menghentikan tawanya. “Kalau dilihat-lihat, lo lebih cocok jadi ilmuwan gila yang berani bunuh orang untuk eksperimennya.” Aneh sekali, baca buku dibilang hebat. Bagaimana kalau aku menciptakan robot yang bisa berbicara? Pasti mereka sudah memujaku. Lagi pula, mereka ini bukannya itu membaca buku malah asik tertawa. Awas saja sampai penjaga perpustakaan yang juteknya mengalahkan ibu tiri melihat, pasti dia langsung menyinyir. “Iya, kalian berdua yang akan jadi kelinci percobaan gue. Lihat aja nanti, muka kalian akan gue uji coba dengan sabun cuci muka yang banyak cairan asam agar muka kalian bolong-bolong!” sahutku rada sewot. Jelas saja, mereka menguji kesabaranku. “Baca buku dibilang hebat, terus kalau gue menang lomba basket dibilang apa?” “Lo sabar dulu, Jes! Jangan marah-marah. Lagian, lo emang paling hebat kalau dalam baca buku. Kalau jadi pemenang lomba basket, mungkin itu biasa aja,” sahut Vina sambil tersenyum. Dia menepuk buku yang sedang aku pegang. “Karena baca buku lo satu ini berbeda. Masa baca buku yang terbalik?!” Aku langsung menatap buku bacaan, dan ternyata memang benar terbalik. Ini semua pasti gara-gara aku lelah. Mereka berdua langsung tertawa terbahak-bahak dan melupakan kalau sedang berada di perpustakaan. Pasti sedikit lagi Mirna sang penjaga perpus dari kelas XI akan datang menegur kami. “Lo masih lama baca bukunya, Jes? Es Mpok, yuk!” ajak Vina. “Jangan baca mulu, gue lihat tadi udah sepi gerbangnya. Nggak ramai seperti biasanya. Ayo, Jes!” Sebenarnya aku ragu dengan ucapan Vina. Apa benar gerbang sudah lumayan sepi? Sepertinya baru beberapa menit setelah bel pulang berbunyi, sepertinya masih ramai dengan siswa yang lain. Namun, raut wajah Vina dan Berly seolah meyakinkanku kalau itu benar dan aku harus menuruti kemauan mereka. Biarlah, kalau memang tidak benar, setidaknya aku bersama mereka berdua. “Ayo! Gue lagi males baca buku kali ini, udah ilang mood buat baca buku karena kalian berdua.” Aku merapikan buku bacaan di sudut meja agar dibalikkan ke tempat semula oleh Mirna. Bukannya aku malas, hanya saja buku yang sudah dibaca tidak boleh diletakkan asal-asalan, nanti merepotkan pengunjung lain. Oleh karena itu, dibuatlah peraturan setelah membaca buku harus meletakkan di atas meja, biar penjaga perpus yang merapikannya. Setelah itu kami bertiga langsung keluar dari perpustakaan. Suasana depan perpustakaan sudah sepi, karena memang terletak di belakang sekolah. Kami berjalan beriringan dengan obrolan santai yang menurutku wajar diperbincangkan, seperti kelas yang kotor, siswa yang senang bermain game di kelas saat kelas berakhir, atau beberapa siswa tampan yang sedang bermain alat musik serta bernyanyi di kelasnya. Setelah sampai di dekat lapangan, aku semakin sadar kalau Vina memang bermulut manis. Aku terpikat oleh omongannya yang mengatakan gerbang sudah sepi, padahal aku baru duduk di perpustakaan kurang dari lima menit, sesuai dengan dugaanku. Anak itu sedang tertawa jahil dengan mata yang dia sipitkan. “Gue heran sama lo, Vin. Riko nggak kesel kalau lo kerjain terus?” tanya Berly. “Kalau gue jadi Riko, mungkin gue akan jadi orang yang paling stress di dunia ini, Vin! Menghadapi kejahilan lo yang setiap hari nambah terus kadarnya.” “Nggak akan kesel, karena gua nggak pernah jahilin dia. Masa pacar gue usilin? Nggak romantis, dong!” jawab Vina sambil berjalan mendahului kami. “Untungnya pacar gue sabar, nggak emosian seperti Berly!” Yah, kalau sudah seperti ini aku memang harus keluar dari sekolah secepatnya dengan metode saling dorong dan saling tabok. Semoga saja aku yang menabok mereka, jangan aku yang ditabok mereka. Pasti sakit. Lagi pula, aku sedang memegang buku tebal di tangan. Kalau mereka bermain kasar, aku akan memukulnya dengan buku itu. Aku jamin, mereka akan kesakitan. Dari posisiku sekarang, bisa terlihat Siska dan gengnya yang berjalan keluar gerbang. Cewek itu bertindak seolah dirinya ratu, semua yang menghalanginya langsung ia pukul dengan payung yang ia bawa. Makanya, kami bertiga tidak ingin berdekatan dengannya, dari pada malu. Akhirnya kami bisa keluar dari gerbang dengan cepat. Ternyata pemikiranku tentang saling dorong dan saling bacok salah besar. Tidak ada yang seperti itu, justru semuanya kompak berjalan teratur. Kalau begitu aku tidak perlu lagi ke perpustakaan setiap pulang sekolah besok-besok. “Berly!” pekik seorang pria dari belakang kami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD